Review: Touring menggunakan Yamaha X-Ride 2016

Saya menggunakan Yamaha X-Ride untuk melakukan touring Bandung-Ciletuh-Bandung selama 2 hari sejauh 500 kilometer. Berikut beberapa poin yang saya ambil.

Si EXO (X-Ride Orange)

Si EXO (X-Ride Orange)

Underpowered

Ya, motor ini sangat underpowered! Saya mengalami kesulitan untuk menyalip kendaraan-kendaraan yang ada di depan saya. Untuk mencapai 60 km/jam saja rasanya lambat sekali. Hampir 80% perjalanan dari Bandung-Ciletuh-Bandung saya mainkan bukaan gas di atas 3/4, artinya saya selalu memuntir grip throttle mendekati maksimal…tapi tetap saja laju X-Ride seakan tertahan sesuatu. Bahkan saya kalah oleh Honda Revo di jalanan lurus maupun jalanan berkelok. Panas hati ini rasanya! Walau begitu, X-Ride ini mampu menanjak dengan baik, lho.

Konsumsi BBM: Boros

Selama touring, saya mengisi BBM 2.5 kali full tank. Kalau saya hitung, konsumsi BBM rata-rata yang saya dapatkan adalah 42 km per liter. Itu pun sudah saya gaspol terus-terusan. Sebagai perbandingan saja, konsumsi BBM yang beda tipis (40 km per liter) didapatkan oleh teman saya yang menggunakan Honda CBR 250R. Teman saya yang lain menggunakan Yamaha NMAX, konsumsi BBM nya juga beda tipis dengan saya (39 km per liter)…konsumsi BBM sebuah motor 115cc nyaris sama dengan motor 155cc bahkan 250cc..saya pikir X-Ride boros ya.

Boncengan empuk

Teman saya ingin mencoba motor saya, ya sudah saya kasih pinjam, saya dibonceng. Jalan yang dilalui batuan lepas besar-besar. Eh, ternyata empuk sekali bantingan untuk boncengers. Saya tidak merasa terguncang sama sekali, padahal jalannya jelek. Sebagai informasi saja, berat badan saya 77 kg, dan teman saya 70 kg. Cocok nih buat membonceng.

Ground clearance tinggi; hajar segala medan!

Ini yang paling nikmat. Di saat teman-teman menghajar jalan rusak secara perlahan, saya dengan pede nya menghajar jalan rusak tersebut dengan cepat. Ground clearance yang tinggi juga sangat membantu; saya tidak perlu khawatir deck motor saya mencium bebatuan atau aspal. Pokoknya hajar, bleh!

Riding position nyaman

Ini lebih nikmat lagi. Selama perjalanan 500 km, saya tidak mengalami pegal-pegal sedikit pun. Setang lebar dan cenderung tegak ke atas membuat posisi berkendara sangat nyaman rileks.


Andai saja Yamaha X-Ride ini memiliki mesin yang lebih bertenaga dan bagasi yang lebih luas, tentulah motor ini akan menjadi motor yang paling cocok untuk memenuhi kebutuhan saya.

Overall, X-Ride layak untuk dipakai touring santai…tapi untuk touring cepat rasanya akan susah mengimbangi motor lain.

Review: 2016 Yamaha X-Ride

Karena sesuatu dan lain hal, si putih Honda Vario 125 saya ‘hibahkan’ ke bapak saya dan sebagai penggantinya, saya memutuskan untuk meminang Yamaha X-Ride berwarna Titanium Gold. Langsung saja saya review luar dalam.

Desain

Lagi males foto, jadi seadanya aja :D

Lagi males foto, jadi seadanya aja 😀

First things first, masalah desain adalah masalah selera, jadi sudah pasti bersifat subjektif. Menurut saya, desain oke. Sebagian orang berpendapat bentuknya aneh, tapi bagi saya malah terkesan unik.

Saya tekan-tekan bagian body motor…terasa keras dan kaku, tidak ada bunyi apapun dan tidak ada plastik yang ‘mleot-mleot’ (halah, bahasa resminya apa yah, pokoknya tidak ada yang tertekan sampai bentuknya berubah gitu lah 😀 ). Bagus.

Desain speedometernya saya sangat suka! Bentuk membulat, background gelap, dengan tulisan angka yang bentuknya kaku berwarna oranye ditambah garis penunjuk berwarna putih. Simple, tegas dan enak dipandang.

Saya kurang suka sama bentuk behelnya, kenapa sih harus bergelombang begitu. Ditambah lagi desain velg khas matic Yamaha…entah sampai kapan Yamaha akan memakai desain yang sama, dari jaman Mio gen 1 sampai sekarang masih begitu-begitu aja bentuknya. Ban Continue Reading

Enam kali empat (6×4)

Salah satu teman saya nge-share foto ini di news feed Facebook-nya:

Catatan dari pemilik foto:

Biasanya murid yang melakukan kesalahan, tapi kali ini saya merasa bahwa guru adek saya lah yg melakukan kesalahan. Mungkin secara konsep sang guru benar, tapi apa salahnya jika seorang murid yang belum tahu konsep yang sudah ada dari dulu menggunakan konsep lain yang saya rasa lebih mudah untuk dipahami anak SD, hasilnya pun juga sama, sama-sama benar. Kalo ada yang mudah kenapa dipersusah? Semoga kualitas pendidikan di Indonesia dapat meningkat.

agar tidak timbul kesalahpahaman, akan saya ceritakan kronologis kejadiannya

suatu malam adek saya kelas 2 SD mendapat PR dari gurunya, soal 4+4+4+4+4+4 = x =
karena adek saya belom paham maksud dari soal tersebut, akhirnya adek saya bertanya kepada saya. saya pun bertanya kepada adek saya apakah PR tersebut sudah diajarkan sebelumnya atau pun ada contoh cara mengerjakannya. adek saya pun menjawab belom pernah diajarkan sebelumnya dan di buku tulisnya pun gak ada contoh cara mengerjakannya.
dari situ saya berpikir, oh mungkin gurunya ingin muridnya mandiri, ingin muridnya mengerjakan dengan caranya sendiri, ingin mengetahui seberapa besar kemampuan nalar/logika muridnya.
mulai lah saya mengajarkan adek saya cara perkalian yang menurut saya lebih mudah dipahami oleh anak kelas 2 SD, 4+4+4+4+4+4 = 4 x 6 = 24, dengan alasan empatnya ada enam kali. saat itu saya tidak berpikir posisi angka 4 dan 6, toh hasilnya sama saja, toh soalnya “=….x….=”
berhubung adek saya belom bisa perkalian, maka saya suruh dia menambahkannya dengan cara (4+4)+(4+4)+(4+4) = (8+8)+8 = 16 + 8 = 24
singkat cerita selesailah 10 soal PR adek saya itu.

di malam berikutnya, adek saya bilang ke saya bahwa PRnya yang kemaren dapet nilai 20. sontak saya kaget karena saya yakin jawaban adek saya benar semua.
saya lihat kembali pekerjaanya. ternyata yang membuat dia disalahkan adalah karena posisi angka 4 dan 6 terbalik. jawaban yang benar cuma 8×8 dan 4×4, mau dibolakbalikpun sama aja.
saya yakin kalo salah satu angka di soal 8×8 dan 4×4 diganti, adek saya bakal dapat nilai 0. hehehe

dari kejadian tersebut saya berpikir, apakah pepatah “seribu jalan menuju roma” benar adanya? Kan belom diajari juga, masa’ harus sama dg cara gurunya –“

oke saya dapet contoh soal lagi

1/2 x 4 = … saya akan mengajarkan cara, 1/2.nya ada empat, jadi 1/2 + 1/2 + 1/2 + 1/2.. bisa dikatakan 1/2 x 4 = 1/2 + 1/2 + 1/2 + 1/2
kalo hanya berpatok pada 1 konsep, gimana jadinya bila soalnya 1/2 x 4 = 4 + ?

oke bila soalnya diganti pun jadi 4 x 1/2, saya tetep bakal ngajari 1/2 + 1/2 + 1/2 + 1/2, karena apa? karena itu cara termudah.

dengan begitu kan sudah jelas bahwa 4 x 1/2 = 1/2 x 4 = 1/2 + 1/2 + 1/2 + 1/2.

yang perlu diperhatikan disini, saya tak mau ngotot menggunakan 1 cara saja, kan ada seribu jalan menuju roma..

hehehe

nb: bila anda membahas konsep2, silahkan baca kolom komentar di post ini. mohon maaf bila ada rekan-rekan semua yang tersinggung, saya hanya berpikir kritis. mohon kembali diingat, saya bukan manusia sempurna, dan anda juga bukan manusia sempurna juga. jadi alangkah baiknya kita saling berpikir terbuka, saling menghargai pendapat masing-masing.

Teman saya yang nge-share foto ini pun sependapat dengan pemilik foto, bahwa 4+4+4+4+4+4=4×6=24. Namun, saya malah sependapat dengan Ibu Guru di foto tersebut, bahwa 4+4+4+4+4+4=6×4.

Mari kita saksikan bersama. 6×4. Enam kali empat. Enam-kali empat. Empat diulang enam kali. Berarti angkat empat ada enam. Jadi, 6×4=4+4+4+4+4+4 kan?

Mari kita coba pakai bahasa lain, bahasa inggris aja deh. 6×4. Six times four. Six-times four. Four is multiplied six times. Therefore, 6×4=4+4+4+4+4+4.

Saya post komen seperti itu di postingan teman saya. Dia pun membalas komentar saya, bagaimana kalau ‘Six multiplied by four’?

Six multiplied by four. Enam dikali empat. Kalau begitu seharusnya ditulis 6 dix 4 dong, bukan 6×4. (x=kali, dix=dikali) Kalau ditelusuri lagi, enam dikali empat tuh berarti enam-nya ada empat. 6+6+6+6. Nah kalo begitu harusnya empat kali enam kan.

Memang kalau lihat hasil sih, 4×6=6×4=24. Tapi kan artinya berbeda. Apakah empatnya ada enam, atau enamnya ada empat?

Berkomunikasi lewat tulisan itu penting loh, baik membaca maupun menulis. Kalau salah tulis, pembaca bisa salah paham. Kalau salah memahami tulisan, pembaca juga jadi salah paham dan tidak mendapatkan pesan yang ingin disampaikan penulis.

Sekian dari saya. Bagaimana pendapat Anda?