Review 10.000 km Yamaha X-Ride 2016

Baca juga: Review: Touring menggunakan Yamaha X-Ride 2016

Bulan Desember tahun 2017 kemarin, si Exo alias Yamaha X-Ride saya sudah menempuh 10.000 kilometer lebih dan di waktu yang sama sudah berumur 1 tahun lebih sedikit. Langsung saja si Exo saya bawa ke bengkel untuk servis rutin. Bengkel yang saya kunjungi adalah bengkel Yonk Jaya yang berlokasi di Jl. Cicadas Kota Bandung.

10.000 km!

Bearing (laher) roda depan minta ganti

Sebenarnya ini sudah saya rasakan di kilometer 9.000-an. Terasa roda depan tidak mantap, sedikit goyah dan ada bunyi khas bearing oblak. Saya pun meminta ganti ke bengkel tapi sayangnya, bengkel tidak memiliki stok laher untuk si Exo. Saya sebenarnya agak heran…masa sih bengkel resmi tidak memiliki stok bearing roda depan? Motor saya ini kan bukan motor yang langka, banyak kok pemakainya. Ya sudah deh nanti saja gantinya (mungkin juga saya sudahi saja servis di bengkel ini, mau coba bengkel lain saja).

Bunyi berdecit di CVT

Bunyi berdecit khas motor matic mulai saya dengar pada saat odometer sudah menyentuh angka 10.000. Bunyi ini sangat jelas terdengar jika mesin motor masih dalam keadaan dingin. Setiap saya berangkat kerja jam 6.15 pagi, motor saya hidupkan lalu saya jalan, dan terdengarlah bunyi “cit,cit,cit” di area CVT. Jika mesin sudah panas atau sudah menempuh jarak yang agak jauh, bunyi berdecit ini berkurang.

Saya tidak tau pasti penyebab bunyi berdecit di CVT ini. Mungkin karena si Exo ini pernah terendam saat menerobos sungai atau gara-gara saya sering betot gas secara extreme, hahaha. Akhirnya saya serahkan ke mamang mekanik untuk menyelesaikan permasalahan ini. Mekaniknya malah menawarkan untuk servis CVT saja sekalian, ya sudah saya setujui saja, toh sudah menyentuh 10.000 kilometer ini, tidak ada salahnya. Setelah dibongkar cover CVT-nya, ternyata filter udara si Exo sudah kotor sekali..ya sudah saya minta ganti saja.

Herannya, setelah diservis CVT bunyi berdecit ini malah makin jelas terdengar. Entah mekaniknya nggak becus atau memang ada part yang harus diganti, saya tidak tahu. Akan saya coba periksa lagi di servis berikutnya di bengkel yang berbeda.

Tidak banyak penggantian komponen

Selama perjalanan saya dari meminang si Exo sampai sekarang, tidak banyak penggantian komponen yang saya lakukan. Komponen-komponen yang pernah saya ganti diantaranya adalah kampas rem depan, stop lamp, filter udara dan bearing (laher) yang seharusnya sudah diganti di servis 10.000 kilometer ini jika bengkel yang saya kunjungi memiliki stok bearing yang saya butuhkan. Komponen lain yang saya ganti adalah ban dalam yang bocor melulu. Entah karena medannya banyak paku tersembunyi, atau karena bobot pengendara yang semakin gendut 😛 , atau karena saya memakainya extreme, atau memang bannya payah. Yang jelas untuk komponen ban, saya berencana untuk menghabiskan ban standar ini lalu menggantinya dengan ban tubeless, supaya tidak mudah bocor. Sempat mau langsung diganti ban tubeless, tapi sayang, ban standar ini umurnya masih panjang..jadi saya manfaatkan dulu sampai habis deh.

Si Exo. (EX-ride Orange)

Performa mantap

Saya merasa performa si Exo lebih mantap setelah menempuh 10.000 kilometer bila dibandingkan dengan pada saat si Exo masih dalam kondisi baru. Saya pikir memang wajar sih, karena komponen-komponen mesin sudah membentuk groove tersendiri, sehingga gerakan mesin lebih luwes dan lebih ringan. Tidak ada penurunan performa yang saya rasakan. Tidak ada getaran setang yang mengganggu, saya pakai nyaman-nyaman saja. Velg pun masih OK. Padahal saya termasuk yang extreme memakai si Exo ini. Sering terabas jalan berlubang dan jalan yang nggak rapih dengan kecepatan agak tinggi, hehehe. Disuruh Ride Extreme sih di sticker bodinya X-Ride, ya sudah saya pakai secara Extreme juga 😀 Padahal velg matic Yamaha kan terkenal mudah peyang, tapi alhamdulillah velg si Exo baik-baik saja.


Baca juga: Review: Touring menggunakan Yamaha X-Ride 2016
Super short review: 2016 KTM Duke 250
Review: Kawasaki W175
Review: 2016 Yamaha X-Ride
Advertisements

Touring: Pantai Cijeruk (Bagian 2 dari 2)

Lanjutan dari bagian pertama


Hari sudah gelap dan tenda-tenda sudah terpasang. Kami-kami yang bermaksud menginap di penginapan, merebahkan diri di teras warung warga. Tak lupa kami menunaikan sholat maghrib di musholla dekat warung. Kami wudhu di tempat mandi, dan di sini airnya harus dipompa dulu dengan pompa manual. Ya, kami harus memompa air sendiri, semacam pompa dragon tapi ini buatan sendiri, hahaha. Airnya bersih dan segar.

Suasana tenda dan teras warung warga. Lelah…

Selesai sholat, kami sadar perut kami sudah lapar. Kami pesan ikan bakar. Ikan tuna sebanyak 4kg, dan ikan kuwe (Giant Trevally, disingkat jadi GT) sebanyak 3kg. Selain itu, kami juga pesan nasi liwet sebanyak 4kg. Saya tidak ingat berapa total biaya yang dikeluarkan untuk makan, tapi yang saya ingat untuk ikan bakar, semuanya 80ribu rupiah.

Tio pun pesan ikan bakar ke warga lokal. Katanya, ikan harus diambil ke tempat penyeberangan sungai tadi. Kami pun bingung. Siapa yang berani mengambil ikan bakar, melewati jalur yang tricky dan gelap. Jalan di hari yang terang saja, kami kesulitan. Apalagi jalan di malam hari, hahaha. Saya, Tio dan Pak Edi akhirnya memberanikan diri untuk mengambil pesanan.

Sambil menunggu ikan, beberapa dari kami membuat api unggun. Ada yang istirahat di tenda, ada juga yang ngobrol di teras warung. Sudah 2 jam kami menunggu, tapi belum ada kabar dari tukang ikan bakar. Saya sudah lapar dan khawatir maag kambuh. Roti yang saya bawa dari rumah sudah saya habiskan semenjak kami sampai di lokasi ini. Saya makan biskuit marie…tapi tetap saja lapar.

Selagi kami menunggu, hujan turun dengan deras. Perut sudah merengek minta diisi, tak bisa kompromi lagi. Akhirnya saya pesan mie rebus saja ke warung. Saya pun lahap memakan mie rebus. Rupanya suara saya menyeruput mie rebus dan aroma mie rebus yang khas, ditambah suasana hujan, menggoda beberapa dari kami. Akhirnya warung pun kebanjiran order mie rebus, hahaha. Selesai makan mie rebus, mulut terasa asam. Saya pun pesan bajigur. Lagi-lagi suara saya menyeruput dan aroma bajigur menggoda beberapa dari kami. Akhirnya mereka pun pesan berbagai macam minuman, hahaha.

Selesai makan, saya pun berbaring di teras warung warga. Kami masih menunggu ikan bakar, tapi tak kunjung datang. Kami memutuskan untuk membayar seorang warga untuk mengambil ikan bakar pesanan kami jika sudah siap. Lelah menunggu, kami pun terlelap. Beberapa saat kemudian, datanglah seorang warga membawa ikan bakar pesanan kami. Kami semua bangun, dan segera menyantap ikan bakar dan nasi liwet. Semua makan dengan lahap, tidak ada suara obrolan sedikitpun dari kami. Nampaknya semua sudah kelaparan, hahaha.

Kenyang menyantap ikan bakar dan nasi liwet, kami kembali ke tempat istirahat masing-masing. Kami langsung terlelap, kelelahan setelah berjalan jauh.

***


Minggu, 20 Agustus 2017 Continue Reading

Review: Touring menggunakan Yamaha X-Ride 2016

Januari 2018: Update!  Review 10.000 km Yamaha X-Ride 2016

Saya menggunakan Yamaha X-Ride untuk melakukan touring Bandung-Ciletuh-Bandung selama 2 hari sejauh 500 kilometer. Berikut beberapa poin yang saya ambil.

Si EXO (X-Ride Orange)

Si EXO (X-Ride Orange)

Underpowered

Ya, motor ini sangat underpowered! Saya mengalami kesulitan untuk menyalip kendaraan-kendaraan yang ada di depan saya. Untuk mencapai 60 km/jam saja rasanya lambat sekali. Hampir 80% perjalanan dari Bandung-Ciletuh-Bandung saya mainkan bukaan gas di atas 3/4, artinya saya selalu memuntir grip throttle mendekati maksimal…tapi tetap saja laju X-Ride seakan tertahan sesuatu. Bahkan saya kalah oleh Honda Revo di jalanan lurus maupun jalanan berkelok. Panas hati ini rasanya! Walau begitu, X-Ride ini mampu menanjak dengan baik, lho.

Konsumsi BBM: Boros

Selama touring, saya mengisi BBM 2.5 kali full tank. Kalau saya hitung, konsumsi BBM rata-rata yang saya dapatkan adalah 42 km per liter. Itu pun sudah saya gaspol terus-terusan. Sebagai perbandingan saja, konsumsi BBM yang beda tipis (40 km per liter) didapatkan oleh teman saya yang menggunakan Honda CBR 250R. Teman saya yang lain menggunakan Yamaha NMAX, konsumsi BBM nya juga beda tipis dengan saya (39 km per liter)…konsumsi BBM sebuah motor 115cc nyaris sama dengan motor 155cc bahkan 250cc..saya pikir X-Ride boros ya.

Boncengan empuk

Teman saya ingin mencoba motor saya, ya sudah saya kasih pinjam, saya dibonceng. Jalan yang dilalui batuan lepas besar-besar. Eh, ternyata empuk sekali bantingan untuk boncengers. Saya tidak merasa terguncang sama sekali, padahal jalannya jelek. Sebagai informasi saja, berat badan saya 77 kg, dan teman saya 70 kg. Cocok nih buat membonceng.

Ground clearance tinggi; hajar segala medan!

Ini yang paling nikmat. Di saat teman-teman menghajar jalan rusak secara perlahan, saya dengan pede nya menghajar jalan rusak tersebut dengan cepat. Ground clearance yang tinggi juga sangat membantu; saya tidak perlu khawatir deck motor saya mencium bebatuan atau aspal. Pokoknya hajar, bleh!

Riding position nyaman

Ini lebih nikmat lagi. Selama perjalanan 500 km, saya tidak mengalami pegal-pegal sedikit pun. Setang lebar dan cenderung tegak ke atas membuat posisi berkendara sangat nyaman rileks.


Andai saja Yamaha X-Ride ini memiliki mesin yang lebih bertenaga dan bagasi yang lebih luas, tentulah motor ini akan menjadi motor yang paling cocok untuk memenuhi kebutuhan saya.

Overall, X-Ride layak untuk dipakai touring santai…tapi untuk touring cepat rasanya akan susah mengimbangi motor lain.

Baca juga:

Review: 2016 Yamaha X-Ride
Januari 2018: Update! Review 10.000 km Yamaha X-Ride 2016
Super short review: 2016 KTM Duke 250
Review: Kawasaki W175

Review: 2016 Yamaha X-Ride

Januari 2018: Update! Review 10.000 km Yamaha X-Ride 2016
Baca juga: Review: Touring menggunakan Yamaha X-Ride 2016
Review: Kawasaki W175
Super short review: 2016 KTM Duke 250

Karena sesuatu dan lain hal, si putih Honda Vario 125 saya ‘hibahkan’ ke bapak saya dan sebagai penggantinya, saya memutuskan untuk meminang Yamaha X-Ride berwarna Titanium Gold. Langsung saja saya review luar dalam.

Desain

Lagi males foto, jadi seadanya aja :D

Lagi males foto, jadi seadanya aja 😀

First things first, masalah desain adalah masalah selera, jadi sudah pasti bersifat subjektif. Menurut saya, desain oke. Sebagian orang berpendapat bentuknya aneh, tapi bagi saya malah terkesan unik.

Saya tekan-tekan bagian body motor…terasa keras dan kaku, tidak ada bunyi apapun dan tidak ada plastik yang ‘mleot-mleot’ (halah, bahasa resminya apa yah, pokoknya tidak ada yang tertekan sampai bentuknya berubah gitu lah 😀 ). Bagus.

Desain speedometernya saya sangat suka! Bentuk membulat, background gelap, dengan tulisan angka yang bentuknya kaku berwarna oranye ditambah garis penunjuk berwarna putih. Simple, tegas dan enak dipandang.

Saya kurang suka sama bentuk behelnya, kenapa sih harus bergelombang begitu. Ditambah lagi desain velg khas matic Yamaha…entah sampai kapan Yamaha akan memakai desain yang sama, dari jaman Mio gen 1 sampai sekarang masih begitu-begitu aja bentuknya. Ban Continue Reading

Enam kali empat (6×4)

Salah satu teman saya nge-share foto ini di news feed Facebook-nya:

Catatan dari pemilik foto:

Biasanya murid yang melakukan kesalahan, tapi kali ini saya merasa bahwa guru adek saya lah yg melakukan kesalahan. Mungkin secara konsep sang guru benar, tapi apa salahnya jika seorang murid yang belum tahu konsep yang sudah ada dari dulu menggunakan konsep lain yang saya rasa lebih mudah untuk dipahami anak SD, hasilnya pun juga sama, sama-sama benar. Kalo ada yang mudah kenapa dipersusah? Semoga kualitas pendidikan di Indonesia dapat meningkat.

agar tidak timbul kesalahpahaman, akan saya ceritakan kronologis kejadiannya

suatu malam adek saya kelas 2 SD mendapat PR dari gurunya, soal 4+4+4+4+4+4 = x =
karena adek saya belom paham maksud dari soal tersebut, akhirnya adek saya bertanya kepada saya. saya pun bertanya kepada adek saya apakah PR tersebut sudah diajarkan sebelumnya atau pun ada contoh cara mengerjakannya. adek saya pun menjawab belom pernah diajarkan sebelumnya dan di buku tulisnya pun gak ada contoh cara mengerjakannya.
dari situ saya berpikir, oh mungkin gurunya ingin muridnya mandiri, ingin muridnya mengerjakan dengan caranya sendiri, ingin mengetahui seberapa besar kemampuan nalar/logika muridnya.
mulai lah saya mengajarkan adek saya cara perkalian yang menurut saya lebih mudah dipahami oleh anak kelas 2 SD, 4+4+4+4+4+4 = 4 x 6 = 24, dengan alasan empatnya ada enam kali. saat itu saya tidak berpikir posisi angka 4 dan 6, toh hasilnya sama saja, toh soalnya “=….x….=”
berhubung adek saya belom bisa perkalian, maka saya suruh dia menambahkannya dengan cara (4+4)+(4+4)+(4+4) = (8+8)+8 = 16 + 8 = 24
singkat cerita selesailah 10 soal PR adek saya itu.

di malam berikutnya, adek saya bilang ke saya bahwa PRnya yang kemaren dapet nilai 20. sontak saya kaget karena saya yakin jawaban adek saya benar semua.
saya lihat kembali pekerjaanya. ternyata yang membuat dia disalahkan adalah karena posisi angka 4 dan 6 terbalik. jawaban yang benar cuma 8×8 dan 4×4, mau dibolakbalikpun sama aja.
saya yakin kalo salah satu angka di soal 8×8 dan 4×4 diganti, adek saya bakal dapat nilai 0. hehehe

dari kejadian tersebut saya berpikir, apakah pepatah “seribu jalan menuju roma” benar adanya? Kan belom diajari juga, masa’ harus sama dg cara gurunya –“

oke saya dapet contoh soal lagi

1/2 x 4 = … saya akan mengajarkan cara, 1/2.nya ada empat, jadi 1/2 + 1/2 + 1/2 + 1/2.. bisa dikatakan 1/2 x 4 = 1/2 + 1/2 + 1/2 + 1/2
kalo hanya berpatok pada 1 konsep, gimana jadinya bila soalnya 1/2 x 4 = 4 + ?

oke bila soalnya diganti pun jadi 4 x 1/2, saya tetep bakal ngajari 1/2 + 1/2 + 1/2 + 1/2, karena apa? karena itu cara termudah.

dengan begitu kan sudah jelas bahwa 4 x 1/2 = 1/2 x 4 = 1/2 + 1/2 + 1/2 + 1/2.

yang perlu diperhatikan disini, saya tak mau ngotot menggunakan 1 cara saja, kan ada seribu jalan menuju roma..

hehehe

nb: bila anda membahas konsep2, silahkan baca kolom komentar di post ini. mohon maaf bila ada rekan-rekan semua yang tersinggung, saya hanya berpikir kritis. mohon kembali diingat, saya bukan manusia sempurna, dan anda juga bukan manusia sempurna juga. jadi alangkah baiknya kita saling berpikir terbuka, saling menghargai pendapat masing-masing.

Teman saya yang nge-share foto ini pun sependapat dengan pemilik foto, bahwa 4+4+4+4+4+4=4×6=24. Namun, saya malah sependapat dengan Ibu Guru di foto tersebut, bahwa 4+4+4+4+4+4=6×4.

Mari kita saksikan bersama. 6×4. Enam kali empat. Enam-kali empat. Empat diulang enam kali. Berarti angkat empat ada enam. Jadi, 6×4=4+4+4+4+4+4 kan?

Mari kita coba pakai bahasa lain, bahasa inggris aja deh. 6×4. Six times four. Six-times four. Four is multiplied six times. Therefore, 6×4=4+4+4+4+4+4.

Saya post komen seperti itu di postingan teman saya. Dia pun membalas komentar saya, bagaimana kalau ‘Six multiplied by four’?

Six multiplied by four. Enam dikali empat. Kalau begitu seharusnya ditulis 6 dix 4 dong, bukan 6×4. (x=kali, dix=dikali) Kalau ditelusuri lagi, enam dikali empat tuh berarti enam-nya ada empat. 6+6+6+6. Nah kalo begitu harusnya empat kali enam kan.

Memang kalau lihat hasil sih, 4×6=6×4=24. Tapi kan artinya berbeda. Apakah empatnya ada enam, atau enamnya ada empat?

Berkomunikasi lewat tulisan itu penting loh, baik membaca maupun menulis. Kalau salah tulis, pembaca bisa salah paham. Kalau salah memahami tulisan, pembaca juga jadi salah paham dan tidak mendapatkan pesan yang ingin disampaikan penulis.

Sekian dari saya. Bagaimana pendapat Anda?