Touring ke Ciletuh Geopark, Sukabumi (Bagian 2)

Lanjutan dari postingan sebelumnya

Rasanya baru sebentar mata ini terpejam, namun jam sudah menunjukkan pukul 04.30. Dengan tergesa-gesa karena badan masih lelah, saya memaksakan diri untuk keluar menyusuri puncak darma. Tak lupa saya shalat subuh terlebih dahulu.

Beres shalat subuh, saya dan teman-teman berangkat ke puncak darma menggunakan sepeda motor…lokasinya kurang lebih 3 kilometer dari rumah sewa. Hari masih sangat gelap, penerangan sangat minim, jalanan batu-batu saja dan menanjak curam cenderung terjal. Wah, bahaya, nih. Lebih baik saya parkirkan motornya kemudian lanjutkan perjalanan dengan jalan kaki saja. Saya parkir di sebuah warung makan, Saung Mang Ujang namanya. Tanya-tanya tentang puncak darma dan curug di dekat sini…ternyata puncak darma sangat jauh, 2.5 kilometer dari saung ini. Sedangkan puncak terdekat adalah puncak bunga yang kira-kira hanya 600 meter saja. Curug lebih dekat lagi, tapi kami putuskan untuk ke puncak saja dulu, harapannya sih ingin melihat sunrise.

Oh iya, di saung ini juga ada club Vespa jadul sedang berkemah pada bawa tenda. Salut sama club Vespa ini, mereka terlihat kompak dan solid…dan juga berani touring menggunakan Vespa jadul. Respect!

Lanjut perjalanan jalan kaki menyusuri jalan. Jalanannya batuan lepas tajam-tajam dan menanjak terjal, broo…akhirnya kami menemukan puncak bunga, tiket masuknya 3 ribu rupiah. Namun karena kami ke sana masih subuh, penjaganya belum ada, mungkin masih tidur πŸ˜€ Langsung saja saya lihat pemandangannya.

Pemandangan dari puncak bunga.

Pemandangan dari puncak bunga.

Kami pun istirahat sejenak sambil foto-foto, menikmati pemandangan…sayang, sunrise tidak terlihat dari sini. setelah itu, kami pun bergegas menuju Curug Continue Reading

Advertisements

Touring ke Ciletuh Geopark, Sukabumi (Bagian 1)

Sabtu, 18 Februari 2017

Saya dan teman-teman dari kantor sepakat untuk touring ke Ciletuh Geopark, Sukabumi. Sebelumnya saya nggak tau sama sekali tentang Ciletuh dan rutenya…saya cuma diberi tau oleh teman saya kalau Ciletuh itu tempatnya bagus. Saya sih iya-iya saja, karena saya lebih senang perjalanannya daripada tempat tujuannya πŸ˜€

Kumpul di kantor jam 06.30 sesuai rencana awal…eh molor, baru berangkat jam 07.00++ hahaha. Untuk keberangkatan, kami menggunakan rute via Ciwidey…biar bisa merasakan udara segar di pagi hari, hehe. Berhubung ada beberapa rekan saya yang belum sarapan, maka kami berhenti dulu untuk menunggu rekan-rekan yang sarapan lontong sayur. Sebenarnya saya udah sarapan, tapi liat lontong sayur kok jadi laper…ya sudah saya ikut makan juga, ternyata enak juga lontong sayurnya πŸ˜€ (lokasinya di depan Indomaret, sebelah tempat rest area yang banyak WC umumnya).

Perut sudah anteng, kami melanjutkan perjalanan. Jalan raya beraspal mulus, sepi, ditambah lagi segarnya udara pegunungan di daerah Ciwidey dan indahnya cuaca di pagi hari membuat saya merasa betah. Rasanya saya ingin tinggal saja di sini…mengingatkan saya pada kondisi Bandung belasan tahun yang lalu; sejuk, segar dan indah. Sekarang Bandung berubah menjadi panas, macet, dan tidak segar lagi…sungguh sangat disayangkan.

img_20170218_085824

Mulus, sejuk, segar, indah

Jalan berkelok Continue Reading

Dangerous Trip: Sanghyang Heuleut

(Bagian 3 dari 3: lanjutan dari postingan sebelumnya)

Sesampainya di pintu masuk Sanghyang Heuleut, kami parkirkan motor di dekat pos penjaga. Kami berempat harus membayar 60 ribu rupiah untuk masuk ke obyek wisata ini. Mungkin rincian per orangnya adalah 10 ribu untuk tiket masuk dan 5 ribu rupiah untuk parkir motor. Penjaga pos juga meminta nomor telepon yang bisa dihubungi. Wah, firasat saya nggak enak, mana cuacanya mulai gelap pula. Sebelum mencapai Sanghyang Heuleut, kami harus menyusuri jalan setapak sekitar Β±2 kilometer…setelah bayar administrasi, mulailah kami berjalan. Jalannya 100% tanah, sempit (hanya muat dilalui dua orang kalau saling berpaspasan), kiri atau kanan jurang dipenuhi semak belukar. Extreme, cuy.

Lama-lama jalanan cenderung menurun dan semakin curam. Pemandangan semak belukar pun berubah menjadi pemandangan hutan lebat. Hujan pun mulai turun…jalanan yang 100% tanah menjadi very-sangat-licin-sekali-pisan-banget karena diguyur dan dialiri air hujan. Kiri atau kanan jalan langsung jurang. Ada handrail yang terbuat dari potongan kayu di beberapa jalur, tapi handrail tersebut tidak kokoh. Saya pegang malah goyang-goyang, ada pula yang patah…bahkan ada jalan yang membuat kami harus turun tangga layaknya turun dari taraje.Β Sinyal telepon pun tidak ada sama sekali. Telkomsel si raja sinyal takluk tak berdaya di tempat ini. Beuh…pikiran pun mulai tidak karuan; “Selamat nggak yah sampai di tujuan? Nanti pulang caranya gimana? Terus buat apa dong kita dimintain nomor telepon, sinyal aja nggak ada? Kalau ada apa-apa, menghubungi penjaganya gimana ya? (Poho pisan teu nanyakeun nomor telepon penjaga) (eh tapi euweuh sinyal deng)”

Bahaya death...harus menyusuri jalan begini di tengah hujan sejauh 1 kilometer. Sheer madness!

Bahaya death…harus menyusuri jalan begini di tengah hujan sejauh 1 kilometer. Sheer madness!

Lama-lama terdengar suara kerumunan orang Continue Reading

Mengunjungi Bendungan Saguling, Kabupaten Bandung Barat

(Bagian 2 dari 3: lanjutan dari postingan sebelumnya)

Setelah puas berfoto ria di Stone Garden, kami melanjutkan perjalanan ke Sanghyang Tikoro. Menurut teman saya, lokasi Sanghyang Tikoro itu masuknya dari jalan ke Bendungan Saguling, jadi kami tinggal lanjut saja ke arah Cianjur. Ikuti jalan sampai ada papan penunjuk Bendungan Saguling belok kiri. Sesudah itu jalanan mulai melebar, sepi, sejuk, pepohonan di kanan kiri jalan, aspalnya bagus, menanjak meliuk kiri dan kanan…pokoknya asik banget buat yang suka uphill dan cornering!

img_20170215_111135

img_20170215_111130

Enak banget buat ngebut πŸ™‚

Di tengah perjalanan, kami menemukan tempat wisata Sanghyang Heuleut, tapi karena tujuan kami Sanghyang Tikoro, jadi kami abaikan saja. Selain itu, kami juga menemukan Curug Continue Reading

Berkunjung ke Stone Garden, Kabupaten Bandung Barat

Bagian 1 dari 3

Rabu, 15 Februari tiba-tiba menjadi hari libur nasional berkat Pilkada 2017. Saya dan teman-teman merencanakan untuk “jalan-jalan yang dekat saja,” dan hari ini kami memutuskan untuk berkunjung ke Stone Garden, Gua Pawon, dan Sanghyang Tikoro.


Destinasi pertama adalah Stone Garden yang terletak di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Berangkat jam 06.30 WIB dari Cimahi, kami berkendara menggunakan sepeda motor ke arah Cianjur. Sarapan Lontong Sayur sebentar di dekat gerbang Kota Bali Residence, lalu melanjutkan perjalanan sampai akhirnya ada papan penunjuk “Stone Garden” di sebelah kanan jalan. Jalan pun berubah total yang tadinya jalanan aspal menjadi bebatuan lepas dan lumpur becek. Harus ekstra hati-hati dalam berkendara di sini…saya pun cuma berani ngegas secuil aja, yang penting nggak slip πŸ˜€ Sampai di pintu masuk, kami bayar tiket masuk Rp 5.000,- dan parkir motor Rp 3.000,-. Murah!

Parkir motor, lalu kami Continue Reading

Situs Megalitikum Gunung Padang: Revisited!

Sabtu, 21 Januari 2017 yang lalu, setelah 3 tahun saya kembali mengunjungi Situs Megalitikum Gunung Padang di Cianjur. Berangkat dari Cimahi jam 6 pagi, perjalanan ke Gunung Padang seharusnya hanya memakan waktu 3 jam saja, tapi saya dan teman-teman baru sampai jam 10:30…nyasar gara-gara Google Maps! GMaps memberikan rute yang ‘sesat,’ jalur mobil dengan rute lebih cepat, eh nyatanya jalur kecil penuh batu lepas dan tanah, hanya bisa dilalui oleh motor. Parahnya lagi rute tersebut harus menyeberangi jembatan anyaman bambu yang cuma bisa dilalui satu orang saja. Jadilah kami putar balik, mengikuti rute yang normal…kacau deh.

Sebenarnya rute menuju Gunung Padang itu sederhana sekali. Dari Bandung, pergilah ke arah Sukabumi sampai ada papan tulisan ‘Gunung Padang belok kiri.’ Simple sekali kan?

Dibandingkan 3 tahun yang lalu, jalan ke Gunung Padang sudah jauh lebih baik. Kondisi jalan sudah membaik, mulus. Ada beberapa bagian jalan yang belum tersentuh perbaikan, tapi masih dalam taraf aman untuk dilalui.

Infrastruktur situs juga mengalami perbaikan. Tangga dari pintu masuk obyek wisata menuju ke lokasi sekarang diberi handrail. Sangat membantu para wisatawan untuk menanjak gunung. Apalagi jalur original yang sangat terjal…kalau tidak ada handrail, sangat berbahaya sekali.

Biaya masuk obyek wisata tidak mengalami perubahan, hanya Rp 5.000,- saja. Sebelum naik ke atas, pastikan bawa air minum, karena pasti akan capek sekali!

img_20170121_111819

img_20170121_105531

img_20170121_105858

Pantai Puncak Guha

Keinginan saya untuk mengunjungi Pantai Puncak Guha akhirnya terlaksana juga. Kemarin, saya dan Fickry melakukan perjalanan ke Puncak Guha menggunakan sepeda motor. Berangkat jam 9 pagi dari kebon binatang, menuju Banjaran via buah batu, dilanjutkan ke Pangalengan, melewati Situ Cileunca dan maju terus sampai Ranca Buaya. Total perjalanan dari Bandung adalah sejauh 140 km dan memakan waktu 3,5 jam. Kalau perginya weekend mungkin tidak akan secepat ini, hehe.

Bandung-Banjaran

Tahap perjalanan pertama yaitu perjalanan dari Bandung ke Banjaran. Untuk mencapai Banjaran, bisa lewat Buah Batu atau lewat Dayeuh Kolot. Kami lebih memilih lewat Buah Batu, karena diasumsikan kalau lewat sana tidak macet…dan terbukti memang tidak macet, perjalanan lancar.

Banjaran-Pangalengan

Sesampainya di Banjaran, perjalanan masih dilanjutkan dengan mengikuti jalan utama Bandung-Banjaran. Setelah melewati pasar, ada papan penunjuk yang menandakan arah jalan ke Pangalengan. Belok kiri, lalu ikuti terus jalan yang ada. Setelah sekian kilometer dari Banjaran, pemandangan yang sebelumnya dipenuhi oleh rumah warga perlahan berubah menjadi gunung dan pohon-pohon tinggi yang terlihat kering…mungkin karena musim kemarau ya. Jalan juga mulai menanjak…lama-lama ditambah tikungan-tikungan tajam…dan semakin pendek saja tikungannya. Cocok banget nih buat yang suka cornering. Jalannya juga mulus.

Setelah melalui banyak belokan tajam yang menanjak, udara perlahan semakin sejuk, pemandangan juga berubah jadi serba hijau. Wah berarti sudah sampai Pangalengan nih. Masih mengikuti jalan utama, kami sampai pada bundaran lalu belok ke arah Situ Cileunca. Jalanan masih didominasi tanjakan dan belokan…sampai akhirnya terlihat hamparan situ dengan pemandangan indah dan airnya yang hijau. Terlihat beberapa perahu di tengah situ sedang bergerak perlahan…bagus deh pemandangannya. Saya gak sempat foto, karena khawatir takut kemaleman pulangnya.

Lanjut lagi perjalanan, semakin menanjak dan semakin sepi. Pemandangan situ berubah menjadi hamparan kebun teh yang indah sekali. Di sisi lain, terlihat pemandangan gunung yang indah. Saking indahnya, kami akhirnya berhenti, balik putar arah, hanya untuk melihat pemandangan itu. Padahal waktu lewat situ, saya gak mau berhenti soalnya saya khawatir takut kemaleman pulangnya, tapi akhirnya berhenti juga, kapan lagi bisa liat pemandangan begitu, hahaha.

Bagus kan?

Bagus kan?

Perut terasa mual akibat melahap banyak tikungan tajam dan menanjak…tapi perjalanan menuju pantai masih jauh, kira-kira 70 km lagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.53, mungkin sampai di tujuan jam 1-an lah. Lanjut lagi perjalanan..kali ini jalanannya turun dan udaranya mulai panas. Kebun teh sudah tidak menghiasi mata, kini berubah menjadi gunung kering yang sedang dikeruk untuk diambil batu-batunya. Sampai akhirnya kami belok ke arah Ranca Buaya.

Pangalengan-Ranca Buaya

Di sinilah medan jalan mulai extreme. Jalan yang dilalui kini semakin random. Tanjakan belokan turunan…kiri kanan atas bawah, semuanya ada. Dan itu pendek-pendek durasinya, ya jalannya semacam benang kusut, lah. Kalau kata Fickry sih, jalannya ‘banyak yang hilang’ (gak kelihatan di mata, padahal sebenarnya jalannya belok extreme dan/atau turun extreme)…menunjukkan betapa pendek dan extreme-nya medan jalan. Saya yang perutnya sudah mual, harus melahap jalanan begini…haduuh. Beruntung, jalan yang dilalui tidak rusak, mulus banget. Bagi pecinta cornering+uphill/downhill, wajib nyobain rute ini, nih!

Setelah sekitar satu jam melahap jalanan edan, durasi jalanan menjadi lebih panjang, alhamdulillah tidak terlalu banyak variasi. Banyak jalanan lurus dengan belokan ringan..masih ada sih tanjakan dan turunannya tapi gak edan seperti tadi. Jujur saja, perut saya udah gak karuan, mual dan lapar. Kapan nyampe nya ya ini…udara juga semakin panas. Tiba-tiba pemandangan berubah, terlihat hamparan pantai yang indah. Saya pun semangat lagi, tandanya bentar lagi mau sampai, nih!

Tapi, masalah perut memang tidak bisa diajak kompromi. Kami istirahat sebentar di warung nasi, lalu lanjut perjalanan. Ternyata dari warung nasi udah deket, cuma 5 menit lah. Sampai juga di Pantai Puncak Guha!

Pantai Puncak Guha

Bayar tiket masuk Rp 5.000, lalu parkir motor di mana saja semaumu, bebas! Kalau orang pergi ke pantai, biasanya bisa jalan-jalan ke pesisirnya, bermain pasir pantai dan air laut…tapi di Pantai Puncak Guha ini, kami berada di sebuah tebing tinggi…gak ada pasir pantai dan tidak bisa merasakan air laut, cuma bisa liat doang. Pemandangannya indah!

IMG_20150826_134403_1

IMG_20150826_134352_1

IMG_20150826_131242_1

IMG_20150826_131211_1

IMG_20150826_132020_1

IMG_20150826_131518_1

IMG_20150826_131510_1

IMG_20150826_131456_1

IMG_20150826_131443_1

IMG_20150826_131418_1

IMG_20150826_131407_1

IMG_20150826_131339_1

IMG_20150826_131326_1

IMG_20150826_131318_1

Sayangnya, tempat indah begini dirusak oleh orang-orang yang membuang sampah sembarangan. Pihak pengelola yang sudah tua cuma bisa membersihkan sampai di bagian atas saja, kalau yang di bagian tebing memang susah sih aksesnya.

Setelah puas menikmati pemandangan sambil beristirahat, kami pun pulang.

Perjalanan Pulang

Berangkat dari Puncak Guha jam 3 sore, kami pun pulang ke Bandung. Sebenarnya saya masih betah di sana, tapi kalau pulangnya terlalu sore, entah sampai jam berapa di Bandung nanti…jadi apa boleh buat. Melahap lagi jalanan tadi..tapi alhamdulillah perut saya tidak bermasalah lagi, hahaha.

Baru jalan satu jam, perjalanan harus terhenti. Rantai motor saya terlepas. Untung ada Fickry yang bisa bantuin. Hatur nuhun pisan Fick, hehe. Terpotong 45 menit, kami lanjut perjalanan. Sesampainya di Pangalengan, jalan sudah gelap dan berkabut tebal…dingin banget. Kalau ada penginapan di sana pasti enak..minum kopi hangat ditemani cemilan hangat semacam kue pukis, pisang goreng, dll…sluurph. Sayang, di sana tidak ada penginapan.

Perjalanan lebih ramai di malam hari, banyak mobil dan motor yang berlalu lalang. Tapi alhamdulillah tidak macet, saya pun sampai di rumah jam 8 malam.

Pantai Puncak Guha
Rute Perjalanan:
Bandung-->Banjaran-->Pangalengan-->Situ Cileunca-->Ranca Buaya
Tiket masuk: Rp 5.000
Total Perjalanan: 140 km

Telaga Sarangan – Cemoro Sewu

Dua teman seperjuangan saya dalam program magang di PT INKA meninggalkan Madiun untuk sementara waktu karena ada urusan pribadi. Yang satu pulang ke Klaten, yang satu lagi pergi ke Yogyakarta. Alhasil, saya ditinggal sendirian di Madiun, hiks… 😦

Tapi teman saya yang berasal dari Klaten, Yusuf a.k.a. Ucup, mewariskan sesuatu kepada saya, yaitu sepeda motor kesayangannya Honda Supra X 125 keluaran tahun 2007 berwarna hitam. Ucup berkata: “Daripada diem di kosan, mending jalan-jalan ke Cemoro Sewu. Dingin banget di sana.”

Wah, kebetulan nih, saya suka banget tempat yang dingin-dingin, hehe. Sebelum pergi, saya liat-liat dulu rute perjalanannya lewat Google Maps. Ternyata mudah sekali rutenya, tinggal ngikutin jalan gede saja. Sebelum sampai di Cemoro Sewu, saya lihat di Maps ada Telaga Sarangan. Saya pun teringat kata-kata Pak Lukman, bapak kost saya. Katanya begini: “Udah pernah jalan-jalan di sekitar sini belum? Main tuh sana ke Telaga Sarangan, tempatnya bagus.” Saya putuskan untuk mampir dulu ke Telaga Sarangan sebelum ke Cemoro Sewu.

Saya berangkat pukul 07.45. Saya nyari makan dulu, tapi susah sekali nyari makan di sini (biasanya kalo weekend susah nyari makan hahaha). Setelah muter-muter gak jelas, akhirnya ada juga warung makan yang buka deket rel kereta api. Nasi, brokoli, oseng tempe, dan tahu balado jumbo, cuma Rp 5000 saja. Mantap. Setelah itu, saya mampir ke warung, beli minum dan sedikit penambah energi (baca: beng-beng πŸ˜€ ), lalu saya memulai perjalanan, mengikuti rute yang telah saya tentukan menggunakan Google Maps.

Jalan lurus melewati rel kereta api, lalu belok mengikuti papan petunjuk yang mengarah ke Magetan, melewati Ringroad Barat. Baru sebentar, saya sudah terpana. Jalannya mulus, kosong, bersih dan asri. Hawa panas Madiun jadi tidak terasa! Tidak jauh dari ringroad, saya disuguhi hamparan sawah yang sudah mulai jarang terlihat di kota-kota besar seperti Bandung.

 

Jalan Ringroad Barat.

Jalan Ringroad Barat.

Sawah.

Sawah.

Perjalanan pun berlanjut menuju Magetan. Jalannya kosong dan mulus, pengemudinya juga tertib-tertib semua. Kalau ada lampu merah, mereka berhenti di belakang garis dan tetap berhenti walau jalannya kosong. Suatu hal yang jarang ditemukan di kota-kota besar, yang biasanya suka main terobos walau lampu masih merah. Salut!

Beberapa saat kemudian, Continue Reading

Madiun, kota yang sepi

Mulai bulan Juni ini, saya mengikuti program magang di PT. INKA (Industri Kereta Api) di Madiun, Jawa Timur, selama 4 bulan (mungkin lebih). Program ini merupakan program kerja sama antara pihak prodi dari kampus saya dan PT. INKA. Keuntungannya mengikuti program magang ini banyak loh: dapat SKS, bisa sekaligus mengerjakan TA, dapat pengalaman bekerja di dunia nyata, dapat ilmu tentang software engineering semacam ANSYS, Universal Mechanisms dan VAMPIRE, dan juga digaji! πŸ˜€

Saya pun berangkat dari rumah hari Jumat, 30 Mei jam 20.00 menggunakan kereta Turangga dan sampai di tujuan keesokan harinya jam 05.45. Sesampainya di Madiun, banyak sekali hal yang sangat berbeda dibandingkan dengan tempat asal saya, Bandung.

Panas!

Ya, di sini panasΒ  banget! Sesampainya di Madiun, badan saya mulai ‘nggak betah’. Gampang banget berkeringat, beda banget sama Bandung yang walaupun tidak seperti sama jaman dulu, udaranya boleh dibilang sejuk. Baru beres mandi pagi aja udah keringetan. Pakai kipas angin juga gak mempan, rasanya cuma mendistribusikan panas doang, biar lebih merata….Pokoknya di sini paling enak pakai AC. Continue Reading