Day 6: Belanja baju di Platinum Mall, Bangkok (sekaligus hari terakhir di Bangkok…)

Sabtu, 26 Januari 2019


Tidak terasa kami sudah 5 hari liburan di Bangkok dan hari ini adalah hari terakhir kami di sini. Rasanya kami masih betah di sini dan masih banyak tempat-tempat lain yang ingin kami kunjungi. Kami pun bangun dengan rasa sedikit sedih…tapi ya sudah, nanti kalau ada rejeki kami pasti main lagi ke Thailand, hehehe.

Kaki kami masih terasa pegal karena dari beberapa hari yang lalu kami berkeliling kota Bangkok. Oleh-oleh makanan dan cemilan sudah kami beli di Big C, nah tinggal oleh-oleh baju saja nih yang belum. Setelah kami melihat-lihat di Google, kami memutuskan untuk belanja baju di Platinum Mall. Tadinya kami mau mengunjungi Chatuchak Market, salah satu pasar iconic di Bangkok yang hanya buka pada saat weekend. Tapi, berhubung jadwal dan rute transportasi yang agak sulit, kami putuskan untuk belanja yang dekat saja, dan pilihan pun jatuh pada Platinum Mall. Menurut review sih di sana tempatnya nyaman, harga bajunya murah dan masih bisa tawar menawar harga. Walau sebenarnya kami tidak pandai menawar, tapi kalau harganya bisa ditawar ya lumayan bisa menghemat sedikit, hehehe.

Untuk mencapai Platinum Mall sebenarnya mudah. Kita tinggal jalan menggunakan Skywalk di exit stasiun BTS Siam selama 15 menit. Kalau dari hotel Grand 5 kita tinggal jalan ke stasiun BTS Nana kemudian naik BTS ke Siam lalu jalan deh ke Skywalk. Mudah, kan?

Kami pun bergegas mandi kemudian sarapan. Setelah sarapan kami beres-beres packing baju dan semua perlengkapan kami. Setelah itu kami check out dan kopernya kami titipkan di resepsionis hotel. Kami pun lanjut berjalan ke stasiun BTS Nana, lalu naik BTS dan turun di stasiun Siam, lalu jalan ke Platinum Mall menggunakan Skywalk.

Platinum Mall

Akhirnya kami sampai juga di Platinum Mall. Di sini tempatnya mirip dengan BTC Bandung tapi jarak antar kiosnya lebih besar, sehingga kami bisa berjalan dengan leluasa. Produk-produk yang ditawarkan di sini sangat lengkap, mulai dari topi, mukena, baju, dress, celana, rok, celana panjang, kaos, sepatu, tas, sandal, dan aksesoris. Selain itu di sini juga ada food court dan apotek, pokoknya lengkap deh! Oh iya, kalau kita kehabisan uang Baht, di sini juga ada money changer lho. Praktis!

Saya dan istri mulai berbelanja di Platinum. Kami bingung mau beli apa, soalnya banyak baju bagus di sini hahaha. Akhirnya kami putuskan untuk membeli beberapa kaos bertema Thailand untuk oleh-oleh keluarga kami di Bandung. Sayangnya, uang yang kami bawa dari Bandung mulai menipis. Ditambah lagi koper kami juga sudah penuh…terpaksa deh kami beli tas berukuran besar untuk membawa barang-barang bawaan kami, hahaha. Kami tukar uang di money changer, kemudian membeli tas besar. Uniknya, pada saat kami membeli tas, pedagangnya bisa berbahasa Indonesia. Dia paham banyak suku kata, mungkin di sini banyak pengunjung dari Indonesia ya? Haha.

Setelah puas berbelanja, kami akhirnya kembali ke hotel untuk mengambil koper kami, sekalian makan siang dan sholat lima waktu. Kami pun kembali ke hotel dengan rute yang dibalik, yaitu jalan melewati Skywalk ke stasiun BTS Siam, kemudian naik BTS dan turun di stasiun BTS Nana lalu jalan kaki ke hotel.

Mencari masjid dan makan siang khas timur tengah

Salah satu keuntungan menginap di Grand 5 Hotel adalah lingkungannya yang kental dengan suasana timur tengah. Tidak sulit untuk kami mencari makanan halal di sini. Menurut saya Grand 5 Hotel ini merupakan hotel yang paling worth it untuk menjadi pilihan ketika berlibur ke Bangkok. Hotelnya bagus, nyaman, bersih, banyak toko di sekitarnya, suasananya enak dan yang paling penting lokasinya strategis. Jadi promosi nih, hehehe..

Sesampainya di hotel, kami titip barang belanjaan di resepsionis. Kebetulan waktu itu sudah siang, jadi kami harus menunaikan sholat lima waktu. Menurut istri saya sih di dekat hotel ada masjid, jadi kami berencana untuk sholat di masjid dekat hotel. Mulailah kami mencari masjid tersebut. Setelah mengikuti Google Maps dan berputar-putar, kok masjidnya tidak ada ya? Akhirnya saya nekat saja bertanya pada orang sekitar, dan ternyata masjidnya itu ada di lantai dua sebuah penginapan timur tengah. Pantas saja nggak ketemu-ketemu, ternyata masjidnya di dalam gedung…hahaha. Kami pun masuk penginapan tersebut kemudian naik ke lantai dua. Ternyata masjidnya kecil, namun tempatnya bersih dan sepi. Di sana hanya ada bapak-bapak dan seorang kakek yang sedang tidur siang. Setelah selesai sholat, kami turun lalu mencari makan siang.

Dari awal kami sampai di Grand 5 Hotel, kami melihat ada restoran timur tengah yang membuat saya penasaran. Saya pun menanyakan ke istri, bagaimana kalau makan siang di sana saja? Ternyata istri juga penasaran dengan restoran tersebut, jadi kami sepakat untuk makan siang di sana. Kami tidak ingat nama restorannya apa, karena tertulis dengan bahasa arab gundul 😀 Kami masuk saja ke restoran tersebut lalu pesan shawarma ayam dengan kentang goreng. Ternyata shawarmanya berukuran besar! Rasanya enak dan bumbunya juga terasa.

Shawarma ayam, asli timur tengah. Enak banget..

Selesai makan, kami tarik nafas dulu…maklum, porsinya berukuran besar jadi harus ngarenghab heula 😉 Setelah itu kami kembali ke hotel untuk merapikan kembali barang-barang bawaan kami sekalian ambil koper dan pesan GrabTaxi. Setelah bersusah payah membereskan barang-barang bawaan, saya pesan GrabTaxi untuk menuju bandara Don Mueang International Airport. Lima belas menit kami menunggu, akhirnya GrabTaxi-nya datang juga.

Don Mueang International Airport

Don Mueang International Airport hanya bisa dicapai menggunakan kendaraan pribadi dan taxi. Sebenarnya pada saat pesan tiket pulang ke Bandung, kami bisa saja membeli tiket pulang dari Suvarnabhumi International Airport, tapi kami pesan dari Don Mueang saja, supaya kami tahu seperti apa sih bandara Don Mueang itu. Ternyata, untuk mencapai Don Mueang bisa menggunakan jalur tol. Driver GrabTaxi menanyakan kepada kami, mau lewat tol atau tidak. Kami pikir lebih cepat sampai di bandara akan lebih baik, jadi ya sudah kami pilih lewat tol saja…tapi ternyata kami harus membayar 2×50 Baht untuk melewati tol ke bandara Don Mueang. Apa boleh buat, yang penting cepat sampai deh, takut ketinggalan pesawat..hehe.

Setelah beberapa lama akhirnya kami sampai di bandara Don Mueang. Ada kekacauan pada saat membayar taxi, karena kami hanya punya uang pecahan 1000 Baht saja. Driver pun bingung, tidak punya kembalian. Akhirnya saya putuskan untuk membeli apa saja di toko dalam bandara, sekedar untuk memecah uang. Eh, ternyata ada mango sticky rice, ya sudah saya beli itu saja deh, hahaha. Setelah itu kami pun memberikan uang ke driver taxi, kemudian dia terburu-buru lari karena ternyata sudah ada penumpang yang naik di mobilnya.

Bandara Don Mueang SANGAT BERBEDA JAUH dengan Suvarnabhumi. Di sini suasananya lebih mirip terminal kalau saya lihat. Tidak banyak toko-toko besar di sini, hanya ada cafe kecil saja. Fasilitas, sarana dan prasarananya juga tidak sebagus Suvarnabhumi. Ini menjadi pelajaran bagi kami, kalau mau ke Bangkok, pilihlah Suvarnabhumi International Airport sebagai bandara tujuan. Suvarnabhumi tempatnya jauh lebih nyaman, banyak toko dan restoran, dan ada akses shuttle langsung menuju kota Bangkok dengan biaya yang lebih murah dan jadwal yang lebih reliable.

Apa boleh buat, tiket sudah dibeli dan kami juga harus pulang. Kami bingung dengan sistem check-in di Don Mueang, karena banyak sekali Gate dan jalur antrian tapi tidak ada penjelasannya sama sekali. Petugas pun nampak bingung karena setelah kami jelaskan permasalahan yang kami hadapi, jawaban tiap petugas berbeda-beda. Kami dilempar ke sana ke sini, sambil membawa barang bawaan kami yang banyak dan berat…haduh, sungguh pengalaman yang tidak menyenangkan. Akhirnya kami disuruh untuk mengantri di sebuah jalur dan berhasil check-in.

Jadwal keberangkatan sudah dekat. Kami deg-degan, kami sempat terbang tidak ya. Antrian panjang dan petugas imigrasinya lambat. Beruntungnya kami, sesampainya di ruang tunggu, boarding gate baru dibuka. Jadi kami langsung naik ke pesawat menuju Soekarno-Hatta International Airport. Kami terlelap selama di pesawat. Bangun tidur, perut terasa lapar. Saya pun makan mango sticky rice yang sudah saya beli sebelumnya, tapi perut masih tetap terasa lapar. Akhirnya kami terpaksa pesan makanan di pesawat. Biarin deh mahal, daripada lapar…hahaha. Setelah makan, kami terlelap lagi dan akhirnya pesawat pun berhasil mendarat. Setelah itu kami ambil koper, kemudian bergegas menuju travel Citi Trans, pesan travel ke Bandung. Untungnya ada travel yang langsung berangkat, ya sudah kami langsung naik travel tersebut. Sepanjang perjalanan di travel, kami tertidur pulas. Tidak terasa kami sudah sampai di Bandung, waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 WIB. Kami pesan Go-Car untuk pulang ke rumah dan ternyata…drivernya seorang emak-emak! Wow, jam 3 pagi sudah narik, luar biasa semangatnya hahaha. Setelah itu kami pun sampai di rumah, lalu tidur lagi, karena masih terasa capek.


Sekian cerita perjalanan kami selama di Bangkok. Untuk postingan sebelum-sebelumnya, bisa klik:

Day 5: Mengunjungi Wat Pho, Grand Palace, Big C dan Night Market Bangkok! dan Sholat Jumat di Bangkok

Jumat, 25 Januari 2019


Jadwal perjalanan kami hari ini sangat padat. Semua jadwal yang sudah kami rencanakan jauh-jauh hari hancur gara-gara insiden hotel Golden Tulip Mandison Suites. Tapi dengan modal tekad yang kuat, kami tetap berencana untuk mengunjungi tempat-tempat yang sudah kami jadwalkan sebelumnya…semangaat!!

Hari ini kami berencana untuk mengunjungi Wat Pho, kemudian, karena hari ini adalah hari jumat, saya harus mencari masjid dulu untuk menunaikan sholat Jumat. Setelah sholat Jumat lanjut mengunjungi Grand Palace, lalu pergi lagi ke Big C untuk membeli oleh-oleh. Malam harinya dilanjutkan untuk pergi ke Ratchada Rot Fai Night Market, di mana kita bisa membeli berbagai macam barang di sana. Kami sih lebih tertarik untuk mencoba street food di sana, jadi kami sangat excited untuk berkunjung ke night market tersebut!

Setelah bangun pagi, kami langsung mandi dan bersiap-siap. Setelah itu turun ke bawah, sarapan dulu di restoran hotel. Makanan di sini mayoritas adalah makanan dengan bumbu timur tengah, jadi rasanya sangat kuat dengan rempah. Saya sempat kalap melihat menu-menu yang disajikan di sini, jadi hampir semua menu saya santap…hehehe. Saya dan istri merasa sangat bersyukur sekali menginap di hotel Grand 5 ini, karena tempatnya nyaman, harganya reasonable, dan sarapannya halal. Ditambah lagi kami semakin bersyukur karena kondisi sarapan hari ini berbeda 180 derajat dengan kondisi sarapan kemarin…di mana kami harus makan mie instan di lantai, hahaha.

Sarapan nikmat!

Setelah kenyang, kami pun pesan GrabTaxi untuk menuju ke tujuan pertama kami, yaitu Wat Pho. Wat Pho ini letaknya di tengah-tengah kota, dan berdekatan dengan Grand Palace. Biasanya, urutan melancong ke tempat wisata di Bangkok adalah Wat Pho-Grand Palace-Wat Arun. Tapi berhubung ada insiden kemarin, ya sudah Wat Arun terpaksa dipisah, sehingga hari ini kami mengunjung Wat Pho terlebih dahulu.

Wat Pho

Untuk mencapai Wat Pho Continue Reading

Day 4: Mengunjungi Golden Mount dan Wat Arun

Kamis, 24 Januari 2019


Bangun pagi kami merasa masih lelah, sehubungan dengan insiden hotel yang kami pesan sebelumnya. Kami pun menyantap sarapan yang telah kami beli tadi malam, berhubung hotel tempat kami menginap sekarang (Thee hotel) tidak menyediakan sarapan. Rasanya kami seperti sedang menginap di kosan teman deh…sarapan mie instan, duduk di lantai, hahaha. What a great start!

Rasanya seperti diingatkan kembali jaman dulu ngekos deh…

Setelah puas sarapan, kami mulai mencari hotel yang lebih layak daripada ini. Tak lama kemudian istri menemukan info hotel yang menarik. Hotelnya bagus dan tempatnya strategis, dekat dengan BTS. Namanya Grand 5 Hotel. Setelah melihat fotonya di Google, kami pun setuju untuk melihat hotelnya terlebih dahulu. Kalau cocok, ya kami pesan saja, hahaha. Kami pun mandi kemudian packing dan checkout dari hotel Thee lalu pesan Grab untuk menuju Grand 5.

Sesampainya di Grand 5, kami langsung pesan kamar. Kamar yang kami pesan penampilan dan fasilitasnya bagus, namun sayang pemandangannya menghadap bangunan lain…jadi cuma melihat tembok putih, walau sebenarnya bisa sih liat jalan raya. Setelah itu kami minta ke resepsionis untuk dipindahkan ke kamar lain yang pemandangannya lebih oke, dan resepsionis pun mengiyakan. Kami pun membayar biaya hotel, namun baru bisa menyimpan koper di kamar siang hari, berhubung kamar yang kami pesan masih ditempati oleh tamu lain. Ya sudah apa boleh buat, kami menitip koper di resepsionis saja.

Setelah itu Continue Reading

Day 3: Mengunjungi Terminal 21 dan Asiatique Riverfront

Rabu, 23 Januari 2019


Setelah puas bersantai, mengelilingi pulau Bang Kachao dan memulihkan energi di Bangkok Tree House, hari ini kami berencana untuk mulai mengunjungi beberapa tempat wisata di Bangkok. Selesai menyantap sarapan kami langsung mandi dan packing barang, bergegas untuk menuju pusat kota Bangkok. Kami pesan speedboat untuk menyeberang pulau, bayar 30 Baht per orang, sehingga kami bayar 60 Baht. Setelah itu kami pesan Grab untuk menuju stasiun Bang Na, kemudian naik BTS Skytrain menuju stasiun Asok. Bayar tiketnya 22 Baht per orang, sehingga total kami bayar 44 Baht. Tujuan pertama hari ini adalah mengunjungi mall Terminal 21. Sesampainya di Asok, kami langsung berjalan di skywalk lalu masuk ke Terminal 21.

Terminal 21 adalah salah satu mall unik karena di setiap lantainya terdapat suasana kota yang berbeda. Ada tema Jepang, Inggris, dan negara-negara lainnya. Selain itu kami memilih Terminal 21 karena di sini ada tempat untuk menitipkan koper. Lumayan menghemat waktu dan tenaga karena bisa dititipkan sampai dengan jam 10 malam, sehingga kami bisa langsung jalan-jalan keliling kota. Biayanya adalah 100 Baht untuk satu nomor penitipan. Murah dan praktis!

Sesampainya di Terminal 21, kami langsung melihat peta, ada toko apa saja sih di sini? Petualangan pun dimulai dari lantai paling bawah. Di lantai paling bawah terdapat beberapa food stall, toko pakaian dan supermarket. Banyak aneka barang yang dijual di sini, tapi yang sukses membuat saya ngiler adalah ice cream cone rasa thai tea! Merknya Cha Tra Mue, di kota banyak stall Cha Tra Mue tapi setelah saya keliling, hanya di sini yang jual versi ice cream conenya. Menurut saya sih rasanya jauh lebih enak daripada minumannya! Sluurph…

THE. BEST.

Kami pun lanjut Continue Reading

Day 2: Menginap di Bangkok Tree House dan mengeliling pulau Bang Kachao

Selasa, 22 Januari 2019


Setelah menempuh perjalanan dari Bandung, akhirnya saya sampai juga di Bangkok. Sekarang saya menginap di hotel unik bernama Bangkok Tree House. Hotel ini terletak di sebuah pulau buatan bernama Bang Kachao, sehingga untuk sampai ke tempat ini kita harus menyeberang sungai menggunakan perahu. Pulau ini dikelilingi rawa dan pohon, membuat udara di tempat ini sejuk dan segar. Selain itu, yang membuat pulau ini unik adalah jalan yang ada di pulau ini hanya cukup untuk pesepeda. Jadi, untuk mengelilingi pulau ini, kita harus menggunakan sepeda dan ini berlaku baik untuk warga lokal maupun turis. Di pulau buatan ini juga terdapat beberapa tempat menarik, seperti floating market, toko aromaterapi, warung kopi, cafe, dan ada rumah warga juga. Warga di pulau ini hidup dengan cara tradisional. Rumahnya bergaya rumah panggung, mirip dengan rumah-rumah tradisional di Indonesia. Pokoknya menyenangkan deh!

Fasilitas hotel

Di malam pada waktu kami check in ke hotel, kami disuguhkan beberapa pilihan menu untuk sarapan. Mulai dari roti bakar, bubur, jus buah, susu, kopi, dan lain-lain. Menu sarapan favorit saya adalah jus buahnya yang benar-benar segar. Sedangkan menu sarapan unik adalah random thailand dessert. Pihak hotel akan memberikan dessert khas thailand yang berbeda setiap harinya, dan kebetulan pada waktu itu saya mencicipi kue basah khas thailand yang enak sekali. Selain itu, untuk sarapan terdapat juga menu buffet yang bisa kita ambil sesuka hati, diantaranya adalah susu, sereal, dan infused water. Oh iya, Continue Reading

Day 1: Perjalanan Bandung-Bangkok

Senin, 21 Januari 2019


Setelah melakukan serangkaian acara akad nikah dan resepsi pernikahan selama dua hari penuh, tibalah saatnya saya dan istri untuk melakukan perjalanan bulan madu yang telah kami rencanakan ke Bangkok, Thailand. Karena tidak ada direct flight dari Bandung ke Bangkok, kami pilih rute Bandung-Kuala Lumpur-Bangkok. Kami bisa berangkat dengan santai dan kalau dihitung-hitung, biaya yang kami keluarkan tidak berbeda jauh kok bila dibandingkan dengan pergi dari Cengkareng, hehehe.

Kami berangkat dari rumah pukul 06.00, sampai di bandara Husein Sastranegara pukul 06.20. Kami langsung pesan makan untuk sarapan dan tak lupa membeli bekal untuk jaga-jaga jika kami merasa lapar di perjalanan. Setelah itu kami check-in dan menunggu di ruang tunggu. Pukul 07.30 kami pun boarding ke pesawat Air Asia tujuan Kuala Lumpur.

Kami terlelap selama perjalanan, karena kami pun masih merasa kurang istirahat. Tak terasa pesawat sudah mau landing. Ternyata kami tiba lebih cepat dari yang dijadwalkan. Kami pun mendarat dengan selamat. Ternyata kami turun di Kuala Lumpur International Airport 2 (KLIA2). Kami sempat bingung, Continue Reading

Jalan-jalan ke Bangkok, Thailand! Apa saja yang harus dipersiapkan?

Setelah menikah, saya dan istri memutuskan untuk pergi ke Bangkok, Thailand untuk pergi berbulan madu. Kami sudah merencanakan destinasi bulan madu jauh-jauh hari. Awalnya kami ingin berbulan madu ke Brunei Darussalam, karena kami pikir itu tempat yang jarang dikunjungi orang lain. Supaya anti-mainstream, gitu..hehehe. Tapi setelah kami lihat-lihat di internet, ternyata transportasi ke sana mahal! Wajar sih, karena Brunei bukan tempat favorit wisata. Sempat juga ingin ke Ha Long Bay, Vietnam..tapi mahal banget, hahaha. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Bangkok, Thailand saja. Kenapa Bangkok? Karena di sana banyak tempat wisata dan harganya relatif murah. Selain itu di sana juga banyak makanan-makanan lezat…hmmm, sangat menarik. Namun, sebelum ke Bangkok ada beberapa hal yang harus dipersiapkan. Apa saja sih?

Pemandangan kota Bangkok. (Taken from my phone)

Tiket pesawat

Ini hal yang paling penting nih. Untuk mencapai Bangkok menggunakan pesawat, ada dua bandara yang dapat dituju: Suvarnabhumi Airport (BKK) dan Don Mueang Airport (DMK). Untuk kemudahan akses dan transportasi baik dari maupun menuju kota Bangkok, saya sarankan

Continue Reading

Touring ke Ciletuh Geopark, Sukabumi (Bagian 2)

Lanjutan dari postingan sebelumnya

Rasanya baru sebentar mata ini terpejam, namun jam sudah menunjukkan pukul 04.30. Dengan tergesa-gesa karena badan masih lelah, saya memaksakan diri untuk keluar menyusuri puncak darma. Tak lupa saya shalat subuh terlebih dahulu.

Beres shalat subuh, saya dan teman-teman berangkat ke puncak darma menggunakan sepeda motor…lokasinya kurang lebih 3 kilometer dari rumah sewa. Hari masih sangat gelap, penerangan sangat minim, jalanan batu-batu saja dan menanjak curam cenderung terjal. Wah, bahaya, nih. Lebih baik saya parkirkan motornya kemudian lanjutkan perjalanan dengan jalan kaki saja. Saya parkir di sebuah warung makan, Saung Mang Ujang namanya. Tanya-tanya tentang puncak darma dan curug di dekat sini…ternyata puncak darma sangat jauh, 2.5 kilometer dari saung ini. Sedangkan puncak terdekat adalah puncak bunga yang kira-kira hanya 600 meter saja. Curug lebih dekat lagi, tapi kami putuskan untuk ke puncak saja dulu, harapannya sih ingin melihat sunrise.

Oh iya, di saung ini juga ada club Vespa jadul sedang berkemah pada bawa tenda. Salut sama club Vespa ini, mereka terlihat kompak dan solid…dan juga berani touring menggunakan Vespa jadul. Respect!

Lanjut perjalanan jalan kaki menyusuri jalan. Jalanannya batuan lepas tajam-tajam dan menanjak terjal, broo…akhirnya kami menemukan puncak bunga, tiket masuknya 3 ribu rupiah. Namun karena kami ke sana masih subuh, penjaganya belum ada, mungkin masih tidur 😀 Langsung saja saya lihat pemandangannya.

Pemandangan dari puncak bunga.

Pemandangan dari puncak bunga.

Kami pun istirahat sejenak sambil foto-foto, menikmati pemandangan…sayang, sunrise tidak terlihat dari sini. setelah itu, kami pun bergegas menuju Curug Continue Reading

Touring ke Ciletuh Geopark, Sukabumi (Bagian 1)

Sabtu, 18 Februari 2017

Saya dan teman-teman dari kantor sepakat untuk touring ke Ciletuh Geopark, Sukabumi. Sebelumnya saya nggak tau sama sekali tentang Ciletuh dan rutenya…saya cuma diberi tau oleh teman saya kalau Ciletuh itu tempatnya bagus. Saya sih iya-iya saja, karena saya lebih senang perjalanannya daripada tempat tujuannya 😀

Kumpul di kantor jam 06.30 sesuai rencana awal…eh molor, baru berangkat jam 07.00++ hahaha. Untuk keberangkatan, kami menggunakan rute via Ciwidey…biar bisa merasakan udara segar di pagi hari, hehe. Berhubung ada beberapa rekan saya yang belum sarapan, maka kami berhenti dulu untuk menunggu rekan-rekan yang sarapan lontong sayur. Sebenarnya saya udah sarapan, tapi liat lontong sayur kok jadi laper…ya sudah saya ikut makan juga, ternyata enak juga lontong sayurnya 😀 (lokasinya di depan Indomaret, sebelah tempat rest area yang banyak WC umumnya).

Perut sudah anteng, kami melanjutkan perjalanan. Jalan raya beraspal mulus, sepi, ditambah lagi segarnya udara pegunungan di daerah Ciwidey dan indahnya cuaca di pagi hari membuat saya merasa betah. Rasanya saya ingin tinggal saja di sini…mengingatkan saya pada kondisi Bandung belasan tahun yang lalu; sejuk, segar dan indah. Sekarang Bandung berubah menjadi panas, macet, dan tidak segar lagi…sungguh sangat disayangkan.

img_20170218_085824

Mulus, sejuk, segar, indah

Jalan berkelok Continue Reading

Dangerous Trip: Sanghyang Heuleut

(Bagian 3 dari 3: lanjutan dari postingan sebelumnya)

Sesampainya di pintu masuk Sanghyang Heuleut, kami parkirkan motor di dekat pos penjaga. Kami berempat harus membayar 60 ribu rupiah untuk masuk ke obyek wisata ini. Mungkin rincian per orangnya adalah 10 ribu untuk tiket masuk dan 5 ribu rupiah untuk parkir motor. Penjaga pos juga meminta nomor telepon yang bisa dihubungi. Wah, firasat saya nggak enak, mana cuacanya mulai gelap pula. Sebelum mencapai Sanghyang Heuleut, kami harus menyusuri jalan setapak sekitar ±2 kilometer…setelah bayar administrasi, mulailah kami berjalan. Jalannya 100% tanah, sempit (hanya muat dilalui dua orang kalau saling berpaspasan), kiri atau kanan jurang dipenuhi semak belukar. Extreme, cuy.

Lama-lama jalanan cenderung menurun dan semakin curam. Pemandangan semak belukar pun berubah menjadi pemandangan hutan lebat. Hujan pun mulai turun…jalanan yang 100% tanah menjadi very-sangat-licin-sekali-pisan-banget karena diguyur dan dialiri air hujan. Kiri atau kanan jalan langsung jurang. Ada handrail yang terbuat dari potongan kayu di beberapa jalur, tapi handrail tersebut tidak kokoh. Saya pegang malah goyang-goyang, ada pula yang patah…bahkan ada jalan yang membuat kami harus turun tangga layaknya turun dari taraje. Sinyal telepon pun tidak ada sama sekali. Telkomsel si raja sinyal takluk tak berdaya di tempat ini. Beuh…pikiran pun mulai tidak karuan; “Selamat nggak yah sampai di tujuan? Nanti pulang caranya gimana? Terus buat apa dong kita dimintain nomor telepon, sinyal aja nggak ada? Kalau ada apa-apa, menghubungi penjaganya gimana ya? (Poho pisan teu nanyakeun nomor telepon penjaga) (eh tapi euweuh sinyal deng)”

Bahaya death...harus menyusuri jalan begini di tengah hujan sejauh 1 kilometer. Sheer madness!

Bahaya death…harus menyusuri jalan begini di tengah hujan sejauh 1 kilometer. Sheer madness!

Lama-lama terdengar suara kerumunan orang Continue Reading