Touring: Pantai Cijeruk (Bagian 2 dari 2)

Lanjutan dari bagian pertama


Hari sudah gelap dan tenda-tenda sudah terpasang. Kami-kami yang bermaksud menginap di penginapan, merebahkan diri di teras warung warga. Tak lupa kami menunaikan sholat maghrib di musholla dekat warung. Kami wudhu di tempat mandi, dan di sini airnya harus dipompa dulu dengan pompa manual. Ya, kami harus memompa air sendiri, semacam pompa dragon tapi ini buatan sendiri, hahaha. Airnya bersih dan segar.

Suasana tenda dan teras warung warga. Lelah…

Selesai sholat, kami sadar perut kami sudah lapar. Kami pesan ikan bakar. Ikan tuna sebanyak 4kg, dan ikan kuwe (Giant Trevally, disingkat jadi GT) sebanyak 3kg. Selain itu, kami juga pesan nasi liwet sebanyak 4kg. Saya tidak ingat berapa total biaya yang dikeluarkan untuk makan, tapi yang saya ingat untuk ikan bakar, semuanya 80ribu rupiah.

Tio pun pesan ikan bakar ke warga lokal. Katanya, ikan harus diambil ke tempat penyeberangan sungai tadi. Kami pun bingung. Siapa yang berani mengambil ikan bakar, melewati jalur yang tricky dan gelap. Jalan di hari yang terang saja, kami kesulitan. Apalagi jalan di malam hari, hahaha. Saya, Tio dan Pak Edi akhirnya memberanikan diri untuk mengambil pesanan.

Sambil menunggu ikan, beberapa dari kami membuat api unggun. Ada yang istirahat di tenda, ada juga yang ngobrol di teras warung. Sudah 2 jam kami menunggu, tapi belum ada kabar dari tukang ikan bakar. Saya sudah lapar dan khawatir maag kambuh. Roti yang saya bawa dari rumah sudah saya habiskan semenjak kami sampai di lokasi ini. Saya makan biskuit marie…tapi tetap saja lapar.

Selagi kami menunggu, hujan turun dengan deras. Perut sudah merengek minta diisi, tak bisa kompromi lagi. Akhirnya saya pesan mie rebus saja ke warung. Saya pun lahap memakan mie rebus. Rupanya suara saya menyeruput mie rebus dan aroma mie rebus yang khas, ditambah suasana hujan, menggoda beberapa dari kami. Akhirnya warung pun kebanjiran order mie rebus, hahaha. Selesai makan mie rebus, mulut terasa asam. Saya pun pesan bajigur. Lagi-lagi suara saya menyeruput dan aroma bajigur menggoda beberapa dari kami. Akhirnya mereka pun pesan berbagai macam minuman, hahaha.

Selesai makan, saya pun berbaring di teras warung warga. Kami masih menunggu ikan bakar, tapi tak kunjung datang. Kami memutuskan untuk membayar seorang warga untuk mengambil ikan bakar pesanan kami jika sudah siap. Lelah menunggu, kami pun terlelap. Beberapa saat kemudian, datanglah seorang warga membawa ikan bakar pesanan kami. Kami semua bangun, dan segera menyantap ikan bakar dan nasi liwet. Semua makan dengan lahap, tidak ada suara obrolan sedikitpun dari kami. Nampaknya semua sudah kelaparan, hahaha.

Kenyang menyantap ikan bakar dan nasi liwet, kami kembali ke tempat istirahat masing-masing. Kami langsung terlelap, kelelahan setelah berjalan jauh.

***


Minggu, 20 Agustus 2017 Continue Reading

Advertisements

Touring: Pantai Cijeruk (Bagian 1 dari 2)

Sabtu, 19 Agustus 2017


Sempat ragu untuk mengikuti touring menuju pantai Cijeruk, saya akhirnya memantapkan diri untuk ikut. Keraguan saya disebabkan karena…faktor motor. Saya sedang kesengsem sama KTM Duke 250 MY 2017. Sempat melihat secara langsung di dealer KTM Bandung (di Ciateul), dan saya langsung terpana. Desainnya, padatnya, posisi duduknya, spesifikasinya…semuanya sukses mengambil hati saya…tapi tidak ketika melihat harganya, hahaha. Saya pun membayangkan, betapa enaknya touring pake Duke 250….pasti enak deh, tenaga dan torsi besar ditambah bobot yang ringan dan posisi duduk nyaman. Apparently, the dream is over and I have to get back to reality. Sekarang saya cuma punya Yamaha X-Ride yang, walau tidak merasakan pegal sama sekali di badan, tidak bersahabat di bokong untuk perjalanan jauh. Apa boleh buat, saya pakai saja deh, itung-itung menambah mileage motor saya juga.

Rencananya, touring ini diikuti oleh 26 orang. Kami akan camping di pantai Cijeruk, namun saya tidak ingin camping. Saya ingin menginap di penginapan, supaya nyaman, hehe. Rutenya sama seperti ke pantai puncak guha, namun perjalanan dilanjutkan 1 jam ke arah timur. Saya memutuskan untuk jalan duluan, tidak ikut kumpul dulu di kantor. Malas juga, karena saya lebih dekat ke Pangalengan via Banjaran daripada harus ke Gunungbatu dulu. Saya pun menunggu kabar keberangkatan grup dari teman saya, Tio. Pukul 07.30, Tio memberi kabar, grup sudah berangkat. Saya pun bergegas dan menunggu grup di bundaran Pangalengan. Sampai di Bundaran Pangalengan jam 09.00, saya menunggu kabar yang lain. Tiga puluh menit berlalu, tidak ada tanda-tanda grup touring. Saya cek handphone, ternyata grup baru berangkat dari kantor jam 08.00. Wah, gak bakal bener ini sih. Saya kasih tau saja Tio bahwa saya mau lanjut perjalanan pelan-pelan sambil menikmati pemandangan, supaya yang lain bisa menyusul.

Pangalengan itu memang spesial. Saya sangat menikmati suasana Pangalengan; sejuk, segar dan hening. Belum lagi hamparan kebun teh yang luas, ditambah sinar mentari yang cerah memanjakan mata saya untuk terus melihat pemandangan ini. Jalan yang mulus dan tidak dilalui banyak orang semakin membuat saya betah berlama-lama di sini. Saya sempatkan foto-foto sedikit di sini sambil menghirup udara segar yang sudah tidak dapat dirasakan lagi di Bandung.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan

Saya lanjutkan lagi perjalanan, Continue Reading

Review: Touring menggunakan Yamaha X-Ride 2016

Saya menggunakan Yamaha X-Ride untuk melakukan touring Bandung-Ciletuh-Bandung selama 2 hari sejauh 500 kilometer. Berikut beberapa poin yang saya ambil.

Si EXO (X-Ride Orange)

Si EXO (X-Ride Orange)

Underpowered

Ya, motor ini sangat underpowered! Saya mengalami kesulitan untuk menyalip kendaraan-kendaraan yang ada di depan saya. Untuk mencapai 60 km/jam saja rasanya lambat sekali. Hampir 80% perjalanan dari Bandung-Ciletuh-Bandung saya mainkan bukaan gas di atas 3/4, artinya saya selalu memuntir grip throttle mendekati maksimal…tapi tetap saja laju X-Ride seakan tertahan sesuatu. Bahkan saya kalah oleh Honda Revo di jalanan lurus maupun jalanan berkelok. Panas hati ini rasanya! Walau begitu, X-Ride ini mampu menanjak dengan baik, lho.

Konsumsi BBM: Boros

Selama touring, saya mengisi BBM 2.5 kali full tank. Kalau saya hitung, konsumsi BBM rata-rata yang saya dapatkan adalah 42 km per liter. Itu pun sudah saya gaspol terus-terusan. Sebagai perbandingan saja, konsumsi BBM yang beda tipis (40 km per liter) didapatkan oleh teman saya yang menggunakan Honda CBR 250R. Teman saya yang lain menggunakan Yamaha NMAX, konsumsi BBM nya juga beda tipis dengan saya (39 km per liter)…konsumsi BBM sebuah motor 115cc nyaris sama dengan motor 155cc bahkan 250cc..saya pikir X-Ride boros ya.

Boncengan empuk

Teman saya ingin mencoba motor saya, ya sudah saya kasih pinjam, saya dibonceng. Jalan yang dilalui batuan lepas besar-besar. Eh, ternyata empuk sekali bantingan untuk boncengers. Saya tidak merasa terguncang sama sekali, padahal jalannya jelek. Sebagai informasi saja, berat badan saya 77 kg, dan teman saya 70 kg. Cocok nih buat membonceng.

Ground clearance tinggi; hajar segala medan!

Ini yang paling nikmat. Di saat teman-teman menghajar jalan rusak secara perlahan, saya dengan pede nya menghajar jalan rusak tersebut dengan cepat. Ground clearance yang tinggi juga sangat membantu; saya tidak perlu khawatir deck motor saya mencium bebatuan atau aspal. Pokoknya hajar, bleh!

Riding position nyaman

Ini lebih nikmat lagi. Selama perjalanan 500 km, saya tidak mengalami pegal-pegal sedikit pun. Setang lebar dan cenderung tegak ke atas membuat posisi berkendara sangat nyaman rileks.


Andai saja Yamaha X-Ride ini memiliki mesin yang lebih bertenaga dan bagasi yang lebih luas, tentulah motor ini akan menjadi motor yang paling cocok untuk memenuhi kebutuhan saya.

Overall, X-Ride layak untuk dipakai touring santai…tapi untuk touring cepat rasanya akan susah mengimbangi motor lain.

Touring ke Ciletuh Geopark, Sukabumi (Bagian 2)

Lanjutan dari postingan sebelumnya

Rasanya baru sebentar mata ini terpejam, namun jam sudah menunjukkan pukul 04.30. Dengan tergesa-gesa karena badan masih lelah, saya memaksakan diri untuk keluar menyusuri puncak darma. Tak lupa saya shalat subuh terlebih dahulu.

Beres shalat subuh, saya dan teman-teman berangkat ke puncak darma menggunakan sepeda motor…lokasinya kurang lebih 3 kilometer dari rumah sewa. Hari masih sangat gelap, penerangan sangat minim, jalanan batu-batu saja dan menanjak curam cenderung terjal. Wah, bahaya, nih. Lebih baik saya parkirkan motornya kemudian lanjutkan perjalanan dengan jalan kaki saja. Saya parkir di sebuah warung makan, Saung Mang Ujang namanya. Tanya-tanya tentang puncak darma dan curug di dekat sini…ternyata puncak darma sangat jauh, 2.5 kilometer dari saung ini. Sedangkan puncak terdekat adalah puncak bunga yang kira-kira hanya 600 meter saja. Curug lebih dekat lagi, tapi kami putuskan untuk ke puncak saja dulu, harapannya sih ingin melihat sunrise.

Oh iya, di saung ini juga ada club Vespa jadul sedang berkemah pada bawa tenda. Salut sama club Vespa ini, mereka terlihat kompak dan solid…dan juga berani touring menggunakan Vespa jadul. Respect!

Lanjut perjalanan jalan kaki menyusuri jalan. Jalanannya batuan lepas tajam-tajam dan menanjak terjal, broo…akhirnya kami menemukan puncak bunga, tiket masuknya 3 ribu rupiah. Namun karena kami ke sana masih subuh, penjaganya belum ada, mungkin masih tidur 😀 Langsung saja saya lihat pemandangannya.

Pemandangan dari puncak bunga.

Pemandangan dari puncak bunga.

Kami pun istirahat sejenak sambil foto-foto, menikmati pemandangan…sayang, sunrise tidak terlihat dari sini. setelah itu, kami pun bergegas menuju Curug Continue Reading

Touring ke Ciletuh Geopark, Sukabumi (Bagian 1)

Sabtu, 18 Februari 2017

Saya dan teman-teman dari kantor sepakat untuk touring ke Ciletuh Geopark, Sukabumi. Sebelumnya saya nggak tau sama sekali tentang Ciletuh dan rutenya…saya cuma diberi tau oleh teman saya kalau Ciletuh itu tempatnya bagus. Saya sih iya-iya saja, karena saya lebih senang perjalanannya daripada tempat tujuannya 😀

Kumpul di kantor jam 06.30 sesuai rencana awal…eh molor, baru berangkat jam 07.00++ hahaha. Untuk keberangkatan, kami menggunakan rute via Ciwidey…biar bisa merasakan udara segar di pagi hari, hehe. Berhubung ada beberapa rekan saya yang belum sarapan, maka kami berhenti dulu untuk menunggu rekan-rekan yang sarapan lontong sayur. Sebenarnya saya udah sarapan, tapi liat lontong sayur kok jadi laper…ya sudah saya ikut makan juga, ternyata enak juga lontong sayurnya 😀 (lokasinya di depan Indomaret, sebelah tempat rest area yang banyak WC umumnya).

Perut sudah anteng, kami melanjutkan perjalanan. Jalan raya beraspal mulus, sepi, ditambah lagi segarnya udara pegunungan di daerah Ciwidey dan indahnya cuaca di pagi hari membuat saya merasa betah. Rasanya saya ingin tinggal saja di sini…mengingatkan saya pada kondisi Bandung belasan tahun yang lalu; sejuk, segar dan indah. Sekarang Bandung berubah menjadi panas, macet, dan tidak segar lagi…sungguh sangat disayangkan.

img_20170218_085824

Mulus, sejuk, segar, indah

Jalan berkelok Continue Reading

Dangerous Trip: Sanghyang Heuleut

(Bagian 3 dari 3: lanjutan dari postingan sebelumnya)

Sesampainya di pintu masuk Sanghyang Heuleut, kami parkirkan motor di dekat pos penjaga. Kami berempat harus membayar 60 ribu rupiah untuk masuk ke obyek wisata ini. Mungkin rincian per orangnya adalah 10 ribu untuk tiket masuk dan 5 ribu rupiah untuk parkir motor. Penjaga pos juga meminta nomor telepon yang bisa dihubungi. Wah, firasat saya nggak enak, mana cuacanya mulai gelap pula. Sebelum mencapai Sanghyang Heuleut, kami harus menyusuri jalan setapak sekitar ±2 kilometer…setelah bayar administrasi, mulailah kami berjalan. Jalannya 100% tanah, sempit (hanya muat dilalui dua orang kalau saling berpaspasan), kiri atau kanan jurang dipenuhi semak belukar. Extreme, cuy.

Lama-lama jalanan cenderung menurun dan semakin curam. Pemandangan semak belukar pun berubah menjadi pemandangan hutan lebat. Hujan pun mulai turun…jalanan yang 100% tanah menjadi very-sangat-licin-sekali-pisan-banget karena diguyur dan dialiri air hujan. Kiri atau kanan jalan langsung jurang. Ada handrail yang terbuat dari potongan kayu di beberapa jalur, tapi handrail tersebut tidak kokoh. Saya pegang malah goyang-goyang, ada pula yang patah…bahkan ada jalan yang membuat kami harus turun tangga layaknya turun dari taraje. Sinyal telepon pun tidak ada sama sekali. Telkomsel si raja sinyal takluk tak berdaya di tempat ini. Beuh…pikiran pun mulai tidak karuan; “Selamat nggak yah sampai di tujuan? Nanti pulang caranya gimana? Terus buat apa dong kita dimintain nomor telepon, sinyal aja nggak ada? Kalau ada apa-apa, menghubungi penjaganya gimana ya? (Poho pisan teu nanyakeun nomor telepon penjaga) (eh tapi euweuh sinyal deng)”

Bahaya death...harus menyusuri jalan begini di tengah hujan sejauh 1 kilometer. Sheer madness!

Bahaya death…harus menyusuri jalan begini di tengah hujan sejauh 1 kilometer. Sheer madness!

Lama-lama terdengar suara kerumunan orang Continue Reading

Mengunjungi Bendungan Saguling, Kabupaten Bandung Barat

(Bagian 2 dari 3: lanjutan dari postingan sebelumnya)

Setelah puas berfoto ria di Stone Garden, kami melanjutkan perjalanan ke Sanghyang Tikoro. Menurut teman saya, lokasi Sanghyang Tikoro itu masuknya dari jalan ke Bendungan Saguling, jadi kami tinggal lanjut saja ke arah Cianjur. Ikuti jalan sampai ada papan penunjuk Bendungan Saguling belok kiri. Sesudah itu jalanan mulai melebar, sepi, sejuk, pepohonan di kanan kiri jalan, aspalnya bagus, menanjak meliuk kiri dan kanan…pokoknya asik banget buat yang suka uphill dan cornering!

img_20170215_111135

img_20170215_111130

Enak banget buat ngebut 🙂

Di tengah perjalanan, kami menemukan tempat wisata Sanghyang Heuleut, tapi karena tujuan kami Sanghyang Tikoro, jadi kami abaikan saja. Selain itu, kami juga menemukan Curug Continue Reading

Berkunjung ke Stone Garden, Kabupaten Bandung Barat

Bagian 1 dari 3

Rabu, 15 Februari tiba-tiba menjadi hari libur nasional berkat Pilkada 2017. Saya dan teman-teman merencanakan untuk “jalan-jalan yang dekat saja,” dan hari ini kami memutuskan untuk berkunjung ke Stone Garden, Gua Pawon, dan Sanghyang Tikoro.


Destinasi pertama adalah Stone Garden yang terletak di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Berangkat jam 06.30 WIB dari Cimahi, kami berkendara menggunakan sepeda motor ke arah Cianjur. Sarapan Lontong Sayur sebentar di dekat gerbang Kota Bali Residence, lalu melanjutkan perjalanan sampai akhirnya ada papan penunjuk “Stone Garden” di sebelah kanan jalan. Jalan pun berubah total yang tadinya jalanan aspal menjadi bebatuan lepas dan lumpur becek. Harus ekstra hati-hati dalam berkendara di sini…saya pun cuma berani ngegas secuil aja, yang penting nggak slip 😀 Sampai di pintu masuk, kami bayar tiket masuk Rp 5.000,- dan parkir motor Rp 3.000,-. Murah!

Parkir motor, lalu kami Continue Reading

Situs Megalitikum Gunung Padang: Revisited!

Sabtu, 21 Januari 2017 yang lalu, setelah 3 tahun saya kembali mengunjungi Situs Megalitikum Gunung Padang di Cianjur. Berangkat dari Cimahi jam 6 pagi, perjalanan ke Gunung Padang seharusnya hanya memakan waktu 3 jam saja, tapi saya dan teman-teman baru sampai jam 10:30…nyasar gara-gara Google Maps! GMaps memberikan rute yang ‘sesat,’ jalur mobil dengan rute lebih cepat, eh nyatanya jalur kecil penuh batu lepas dan tanah, hanya bisa dilalui oleh motor. Parahnya lagi rute tersebut harus menyeberangi jembatan anyaman bambu yang cuma bisa dilalui satu orang saja. Jadilah kami putar balik, mengikuti rute yang normal…kacau deh.

Sebenarnya rute menuju Gunung Padang itu sederhana sekali. Dari Bandung, pergilah ke arah Sukabumi sampai ada papan tulisan ‘Gunung Padang belok kiri.’ Simple sekali kan?

Dibandingkan 3 tahun yang lalu, jalan ke Gunung Padang sudah jauh lebih baik. Kondisi jalan sudah membaik, mulus. Ada beberapa bagian jalan yang belum tersentuh perbaikan, tapi masih dalam taraf aman untuk dilalui.

Infrastruktur situs juga mengalami perbaikan. Tangga dari pintu masuk obyek wisata menuju ke lokasi sekarang diberi handrail. Sangat membantu para wisatawan untuk menanjak gunung. Apalagi jalur original yang sangat terjal…kalau tidak ada handrail, sangat berbahaya sekali.

Biaya masuk obyek wisata tidak mengalami perubahan, hanya Rp 5.000,- saja. Sebelum naik ke atas, pastikan bawa air minum, karena pasti akan capek sekali!

img_20170121_111819

img_20170121_105531

img_20170121_105858

Pantai Puncak Guha

Keinginan saya untuk mengunjungi Pantai Puncak Guha akhirnya terlaksana juga. Kemarin, saya dan Fickry melakukan perjalanan ke Puncak Guha menggunakan sepeda motor. Berangkat jam 9 pagi dari kebon binatang, menuju Banjaran via buah batu, dilanjutkan ke Pangalengan, melewati Situ Cileunca dan maju terus sampai Ranca Buaya. Total perjalanan dari Bandung adalah sejauh 140 km dan memakan waktu 3,5 jam. Kalau perginya weekend mungkin tidak akan secepat ini, hehe.

Bandung-Banjaran

Tahap perjalanan pertama yaitu perjalanan dari Bandung ke Banjaran. Untuk mencapai Banjaran, bisa lewat Buah Batu atau lewat Dayeuh Kolot. Kami lebih memilih lewat Buah Batu, karena diasumsikan kalau lewat sana tidak macet…dan terbukti memang tidak macet, perjalanan lancar.

Banjaran-Pangalengan

Sesampainya di Banjaran, perjalanan masih dilanjutkan dengan mengikuti jalan utama Bandung-Banjaran. Setelah melewati pasar, ada papan penunjuk yang menandakan arah jalan ke Pangalengan. Belok kiri, lalu ikuti terus jalan yang ada. Setelah sekian kilometer dari Banjaran, pemandangan yang sebelumnya dipenuhi oleh rumah warga perlahan berubah menjadi gunung dan pohon-pohon tinggi yang terlihat kering…mungkin karena musim kemarau ya. Jalan juga mulai menanjak…lama-lama ditambah tikungan-tikungan tajam…dan semakin pendek saja tikungannya. Cocok banget nih buat yang suka cornering. Jalannya juga mulus.

Setelah melalui banyak belokan tajam yang menanjak, udara perlahan semakin sejuk, pemandangan juga berubah jadi serba hijau. Wah berarti sudah sampai Pangalengan nih. Masih mengikuti jalan utama, kami sampai pada bundaran lalu belok ke arah Situ Cileunca. Jalanan masih didominasi tanjakan dan belokan…sampai akhirnya terlihat hamparan situ dengan pemandangan indah dan airnya yang hijau. Terlihat beberapa perahu di tengah situ sedang bergerak perlahan…bagus deh pemandangannya. Saya gak sempat foto, karena khawatir takut kemaleman pulangnya.

Lanjut lagi perjalanan, semakin menanjak dan semakin sepi. Pemandangan situ berubah menjadi hamparan kebun teh yang indah sekali. Di sisi lain, terlihat pemandangan gunung yang indah. Saking indahnya, kami akhirnya berhenti, balik putar arah, hanya untuk melihat pemandangan itu. Padahal waktu lewat situ, saya gak mau berhenti soalnya saya khawatir takut kemaleman pulangnya, tapi akhirnya berhenti juga, kapan lagi bisa liat pemandangan begitu, hahaha.

Bagus kan?

Bagus kan?

Perut terasa mual akibat melahap banyak tikungan tajam dan menanjak…tapi perjalanan menuju pantai masih jauh, kira-kira 70 km lagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.53, mungkin sampai di tujuan jam 1-an lah. Lanjut lagi perjalanan..kali ini jalanannya turun dan udaranya mulai panas. Kebun teh sudah tidak menghiasi mata, kini berubah menjadi gunung kering yang sedang dikeruk untuk diambil batu-batunya. Sampai akhirnya kami belok ke arah Ranca Buaya.

Pangalengan-Ranca Buaya

Di sinilah medan jalan mulai extreme. Jalan yang dilalui kini semakin random. Tanjakan belokan turunan…kiri kanan atas bawah, semuanya ada. Dan itu pendek-pendek durasinya, ya jalannya semacam benang kusut, lah. Kalau kata Fickry sih, jalannya ‘banyak yang hilang’ (gak kelihatan di mata, padahal sebenarnya jalannya belok extreme dan/atau turun extreme)…menunjukkan betapa pendek dan extreme-nya medan jalan. Saya yang perutnya sudah mual, harus melahap jalanan begini…haduuh. Beruntung, jalan yang dilalui tidak rusak, mulus banget. Bagi pecinta cornering+uphill/downhill, wajib nyobain rute ini, nih!

Setelah sekitar satu jam melahap jalanan edan, durasi jalanan menjadi lebih panjang, alhamdulillah tidak terlalu banyak variasi. Banyak jalanan lurus dengan belokan ringan..masih ada sih tanjakan dan turunannya tapi gak edan seperti tadi. Jujur saja, perut saya udah gak karuan, mual dan lapar. Kapan nyampe nya ya ini…udara juga semakin panas. Tiba-tiba pemandangan berubah, terlihat hamparan pantai yang indah. Saya pun semangat lagi, tandanya bentar lagi mau sampai, nih!

Tapi, masalah perut memang tidak bisa diajak kompromi. Kami istirahat sebentar di warung nasi, lalu lanjut perjalanan. Ternyata dari warung nasi udah deket, cuma 5 menit lah. Sampai juga di Pantai Puncak Guha!

Pantai Puncak Guha

Bayar tiket masuk Rp 5.000, lalu parkir motor di mana saja semaumu, bebas! Kalau orang pergi ke pantai, biasanya bisa jalan-jalan ke pesisirnya, bermain pasir pantai dan air laut…tapi di Pantai Puncak Guha ini, kami berada di sebuah tebing tinggi…gak ada pasir pantai dan tidak bisa merasakan air laut, cuma bisa liat doang. Pemandangannya indah!

IMG_20150826_134403_1

IMG_20150826_134352_1

IMG_20150826_131242_1

IMG_20150826_131211_1

IMG_20150826_132020_1

IMG_20150826_131518_1

IMG_20150826_131510_1

IMG_20150826_131456_1

IMG_20150826_131443_1

IMG_20150826_131418_1

IMG_20150826_131407_1

IMG_20150826_131339_1

IMG_20150826_131326_1

IMG_20150826_131318_1

Sayangnya, tempat indah begini dirusak oleh orang-orang yang membuang sampah sembarangan. Pihak pengelola yang sudah tua cuma bisa membersihkan sampai di bagian atas saja, kalau yang di bagian tebing memang susah sih aksesnya.

Setelah puas menikmati pemandangan sambil beristirahat, kami pun pulang.

Perjalanan Pulang

Berangkat dari Puncak Guha jam 3 sore, kami pun pulang ke Bandung. Sebenarnya saya masih betah di sana, tapi kalau pulangnya terlalu sore, entah sampai jam berapa di Bandung nanti…jadi apa boleh buat. Melahap lagi jalanan tadi..tapi alhamdulillah perut saya tidak bermasalah lagi, hahaha.

Baru jalan satu jam, perjalanan harus terhenti. Rantai motor saya terlepas. Untung ada Fickry yang bisa bantuin. Hatur nuhun pisan Fick, hehe. Terpotong 45 menit, kami lanjut perjalanan. Sesampainya di Pangalengan, jalan sudah gelap dan berkabut tebal…dingin banget. Kalau ada penginapan di sana pasti enak..minum kopi hangat ditemani cemilan hangat semacam kue pukis, pisang goreng, dll…sluurph. Sayang, di sana tidak ada penginapan.

Perjalanan lebih ramai di malam hari, banyak mobil dan motor yang berlalu lalang. Tapi alhamdulillah tidak macet, saya pun sampai di rumah jam 8 malam.

Pantai Puncak Guha
Rute Perjalanan:
Bandung-->Banjaran-->Pangalengan-->Situ Cileunca-->Ranca Buaya
Tiket masuk: Rp 5.000
Total Perjalanan: 140 km