Pemanfaatan e-KTP untuk berbagai macam transaksi

Saya membuka dompet saya, dan saya tersadar akan suatu hal: kok banyak sekali kartu di dompet saya?
KTP, SIM A, SIM C, Kartu Indonesia Sehat, BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, BPJS Jaminan Hari Tua, NPWP…dan lain-lain.

Saya sempat bercanda sama teman-teman saya, bahwa sekarang ini adalah rezim kartu. Dompet saya tersiksa, dijejali berbagai macam kartu yang jarang dipakai.

Dulu, e-KTP digadang-gadang bisa mempermudah berbagai macam transaksi. Tapi kenyataannya, e-KTP tidak ada bedanya dengan KTP biasa. Mau perlu apa-apa juga tetap saja e-KTP itu harus di fotokopi. E-KTP itu payah!

Saya sempat terpikir, kenapa sih e-KTP itu tidak dimanfaatkan saja? Cobalah itu SIM A, SIM C, Kartu Indonesia Sehat, BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, BPJS Jaminan Hari Tua, NPWP disatukan menjadi satu kartu. Satukan saja di e-KTP. Praktis, hanya satu kartu saja yang perlu saya bawa untuk berbagai macam keperluan. Dompet tidak akan tersiksa, dan saku tidak akan sesak ditempati dompet yang gemuk akibat kebanyakan kartu.

Ditambah lagi sekarang semakin banyak transaksi cashless. E-money semakin marak digunakan untuk transaksi tol dan berbelanja. Saya pikir e-KTP bisa dimanfaatkan juga untuk transaksi tersebut. Semakin praktis kan?

Dibalik semua kepraktisannya tentu saja metode seperti ini beresiko. Bayangkan jika e-KTP kita hilang. Semua data juga hilang dan akan membutuhkan banyak tenaga untuk mengembalikan data-data yang telah hilang. Tapi saya pikir, jika keuntungan yang didapat lebih baik daripada kerugiannya, kenapa tidak kita lakukan saja?

Advertisements

150 Juta Rupiah untuk sebuah mobil LCGC; Gila!

Minggu lalu, saya mendapatkan price list mobil pabrikan Toyota sehabis pulang shalat Jumat. Betapa kagetnya saya melihat harga sebuah mobil LCGC yang menyentuh angka 150 juta rupiah. Wow. LCGC: Low Cost Green Car. Low Cost. Low. Cost. Harganya murah. Seratus lima puluh juta rupiah, murahkah angka segitu?

Melanggar Peraturan LCGC?

Menurut Kemenperin, sebuah mobil LCGC harganya maksimal 95 juta rupiah Off The Road; artinya, Continue Reading

Saya tidak mau mengambil beasiswa LPDP, karena…

Saya mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) di Vehicle Engineering Master Programme KTH Royal Institute of Technology melalui sebuah lomba/kompetisi dari Sqore.com. Tapi saya tidak lanjutkan kesempatan itu karena masalah biaya. Teman-teman menyarankan untuk mengambil beasiswa LPDP saja. Teman-teman saya juga banyak yang mengambil beasiswa LPDP, kuliah S2 di luar negeri. Semua biaya kuliah dan akomodasi dibiayai oleh LPDP, tinggal kuliah aja yang bener. Terlihat menyenangkan, seru dan menantang…tapi saya tidak mau. Ada beberapa alasan yang membuat saya tidak mau mengambil beasiswa LPDP.

S2 dan hasilnya

Bagi saya, hasil kuliah S2 haruslah benar-benar worth it, terutama dari sisi pasca kuliah yaitu karir. Apalagi kalau kuliah S2 di luar negeri…I expect a significant career difference bila dibandingkan dengan tanpa kuliah S2 atau S2 di dalam negeri.

Bagi saya, lulusan kuliah S2 luar negeri ya berkarirnya harus di luar negeri juga. Mungkin standar saya terlalu tinggi…tapi buat apa kuliah capek-capek dan mahal-mahal di luar negeri kalau apa yang didapat tidak sebanding dengan perjuangannya?

Saya hanya mau kuliah S2 kalau hal tersebut benar-benar berdampak pada karir saya. Seperti kompetisi KTH Master’s Challenge yang saya ikuti, misalnya. Setelah lulus S2, diberi kesempatan internship di salah satu perusahaan bona fide di Sweden. Kalau sudah jelas begitu, saya rasa hal tersebut sangat layak saya perjuangkan. Sayang, saya cuma jadi runner-up. Runner-up hadiahnya LoA doang. Hahaha.

Sedangkan bila saya mengambil LPDP, tentulah LoA yang saya dapatkan akan ada hasilnya. Tapi alumni LPDP kan harus kembali ke Indonesia. Ilmu-ilmu yang didapat harus digunakan untuk membangun bangsa. Kalau memang itu tujuannya, yaitu harus berkarir di Indonesia, dan membangun Indonesia, saya rasa tidak perlu ijazah S2; bagi saya ijazah S1 dan langsung berkarya untuk membangun negeri ini saja sudah cukup.

Intinya: Bagi saya, buat apa kuliah S2 ke luar negeri kalau ujung-ujungnya harus bekerja di dalam negeri juga. Mending abis lulus S1 langsung cari kerja aja di dalam negeri.

Tanggung jawab

Ini yang paling membuat saya takut. Tanggung jawab. Seorang penerima beasiswa LPDP itu memiliki tanggung jawab yang besar, karena dia dipercaya negara untuk dapat membangun negeri ini menjadi negara yang jauh lebih baik lagi daripada sekarang. Ilmu yang diperoleh selama kuliah S2 harus benar-benar dapat bermanfaat bagi Indonesia.

Menurut saya itu tanggung jawab yang sangat berat. Saya rasa kita semua tahu bagaimana kondisi bangsa ini. Saya yakin akan sangat sulit mengubah kondisi bangsa ini, apalagi dengan jalur yang seperti ini. Menurut saya, masalah terbesar bangsa ini adalah masalah karakter, bukan kepintaran, sehingga sebaiknya hal yang paling pertama harus kita perbaiki ya perilaku masyarakat. Tekankan tentang karakter, bukan tentang kepintaran. Lihat kurikulum di sekolah saja saya geleng-geleng. Orientasinya selalu pada nilai dan angka. Saya tidak bermaksud menyepelekan tentang kepintaran. Tentu saja ilmu pengetahuan itu penting, tapi bagaimana mungkin ada orang pintar tapi mengantri saja tidak bisa? Bagaimana mungkin ada orang pintar tapi peraturan selalu dilanggar? Banyak orang pintar yang tidak tahu aturan, dan parahnya lagi tidak mau diatur. Kalau sudah begitu ya susah mengelola negeri ini. Apalagi jumlah penduduk Indonesia itu sangat banyak…kalau kebanyakan orangnya susah diatur, ya susah untuk maju. Maka dari itu saya pesimis, ilmu yang diperoleh dari kuliah S2 bisa merubah bangsa ini. Mungkin saja bisa, tapi tidak dalam waktu dekat. Padahal bangsa ini butuh pertolongan secepatnya.

Belum lagi biaya kuliah S2 yang sangat mahal. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana rasanya harus mempertanggungjawabkan sesuatu yang nilainya 500 juta rupiah sendirian. Memegang uang belasan juta saja saya sudah ngeri. Ini nilainya ratusan juta dan ekspektasinya luar biasa besar; mengubah nasib bangsa ini menjadi lebih baik. Saya mengetahui kapasitas dan kemampuan diri saya dan saya tidak mau mengambil tanggung jawab tersebut. Belum lagi pertanggungjawaban di akhirat; kau gunakan untuk apa ilmu mu? kau gunakan untuk apa harta mu? Sungguh berat tanggung jawab tersebut.

— *** —

Mungkin saya terlihat penakut, nggak berani ke luar comfort zone, etc etc…tapi serius deh, saya nggak mampu mengambil tanggung jawab seberat itu.

The death of my Seagate

Mumpung libur ‘panjang’ (3 hari, kurang panjang sih sebenernya), Jumat, 1 Mei, saya sempatkan pulang ke Bandung, sekalian bertemu keluarga. Berangkat dari Jakarta pagi hari, ke Bandung butuh waktu 3 jam…Alhamdulillah sampai di rumah jam 09.30 WIB. Ngobrol-ngobrol sama orangtua, tak terasa waktu sudah mendekati dzuhur, yang artinya saya harus bergegas ke Masjid untuk menunaikan ibadah Shalat Jumat.

Sepulang Jumatan, saya makan siang, lalu seperti biasa melakukan kegiatan rutin (browsing). Tiba-tiba, laptop nge-freeze tapi masih bisa gerakin kursor mouse dan juga indikator hard disk menyala terus.Wah ini sih gejala BSOD (Blue Screen Of Death), udah sering kok, diemin dulu deh,’ kata saya dalam hati.

Lima menit kemudian, Blue Screen pun terjadi. Seperti biasanya, Windows melakukan memory dump, dan biasanya failed. Tapi entah kenapa, kali ini memory dump tak kunjung selesai. Saya matikan saja laptop nya dengan hard reboot, hal ini sudah sering saya lakukan.

Tekan lagi tombol power, laptop menyala lagi. Logo DELL muncul seperti biasanya, namun loading bar tak kunjung penuh juga. Hal ini juga sudah pernah terjadi, biasanya ya saya hard reboot lagi. Saya tekan lagi tombol power…tapi begitu lagi, loading bar tak kunjung penuh, hard reboot lagi. Ulangi lagi, lagi, dan lagi…sampai saya akhirnya menyerah, saya diamkan saja laptop-nya, siapa tau loading bar-nya penuh.

EH ternyata bener penuh. Tapi muncul tulisan yang tidak biasa: ‘Operating system not found.’

Wah. File OS itu kan ada di hard disk. File OS gak pernah saya ubah-ubah atau dihapus sebelum terjadi BSOD. Berarti file OS harusnya masih ada di hard disk. Tapi katanya not found. Pasti hard disk-nya nih.

Langsung saja saya cari service center DELL yang katanya ada di Jl. Naripan 90A. Tapi ternyata cuma ruko biasa, gak ada nama DELL nya. Akhirnya saya putuskan ke BEC saja. Teringat ada toko DELL di lantai 1, saya langsung ke toko itu (letaknya dekat escalator). Kata penjualnya, kerusakan seperti ini harus dibawa ke service center nya, yang katanya berada di Jl. Astana Anyar. Sialnya, tanggal merah itu libur, sedangkan besoknya (Sabtu) cuma buka sampai jam 2. Saya harus segera membetulkan laptop saya karena harus balik lagi ke Jakarta.

Jadilah saya ke toko biasa. Saya pergi ke toko ARMY, karena dulu bapak saya pernah service laptop di sana. Dan benar saja, banyak sekali laptop yang sedang direparasi di sana. Melihat hal tersebut, saya jadi yakin mau membenarkan laptop saya di toko itu.

Saya kemukakan saja permasalahannya ke si aa toko. ‘Wah kayaknya hard disk-nya nih, saya cobain dulu ya,’ kata si aa. Baut back cover laptop saya pun dibuka satu per satu…lalu dicabutlah hard disk laptop saya. Si aa pun mencoba booting laptop saya pake flashdisk, untuk ngecek apakah laptop tidak freeze di logo DELL kalau hard disk nya dicabut…ternyata loading bar pun penuh, dan akhirnya proses booting berjalan dengan normal! ‘Tuh kan hard disk nya,’ kata si aa toko.

Saya mulai harap-harap cemas. Apakah data-data di hard disk saya yang mengalami failure itu bisa diselamatkan? Langsung saja saya minta tolong ke si aa buat menyelamatkan data-data tersebut. Ternyata…hard disk-nya tidak terdeteksi, artinya data saya semuanya HILANG! Saya pun harus membeli hard disk baru yang harganya lumayan menguras kantong…duh, sudah kehilangan data, kehilangan uang pula.

Semua software-software penting hilang, dan yang paling bikin sedih…semua file musik hilang! Beruntung, installer software-software sudah saya backup…sedangkan untuk lagu, cuma sedikit yang bisa terselamatkan, berhubung beberapa lagu koleksi saya sudah tertanam di Si Putih Sony Walkman.

RIP :(

RIP 😦

Goodbye Seagate Momentus 7200.4, thanks for everything over the past 5 years.

PS: Entah sejak kapan, di BEC sekarang ada yang jual batu akik. Mungkin extension BEC nanti namanya BAC (Batu Akik Center).