Makna Ramadhan Sesungguhnya

Bulan Ramadhan telah kita lalui. Sekarang kita memasuki bulan Syawal. Tentu kita semua merasa sedih telah meninggalkan bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Kita pasti merindukan bulan Ramadhan, dan akan terus berdoa agar kita diberi umur untuk dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan di waktu yang akan datang.


Kira-kira begitulah tipikal ceramah atau khotbah shalat ied atau shalat jumat di berbagai tempat yang pernah saya kunjungi. Bulan Ramadhan itu memang bulan yang spesial. Semua orang tiba-tiba menjadi rajin beribadah, karena memang inilah bulan dimana semua amalan yang kita lakukan akan dilipatgandakan pahalanya. Semua orang tiba-tiba menjadi dermawan, berbagi kepada sesama. Semua orang tiba-tiba menjadi santun, menjaga tutur kata dan perilakunya masing-masing. Tiga puluh hari lamanya kita, kaum muslim, berpuasa menahan lapar, haus dan hawa nafsu.

Namun, semua itu berubah setelah bulan Ramadhan selesai. Orang-orang kembali menjadi pribadinya yang seperti dulu sebelum memasuki bulan Ramadhan. Ibadah mulai kendur; shalat berjamaah di masjid dan pengajian kembali sepi. Perilaku konsumtif dan menghambur-hamburkan uang kembali dilakukan. Perilaku kasar dan perkataan yang buruk kembali terucap.

Semua itu terulang kembali, padahal sebelumnya sudah melakukan puasa selama 30 hari. Lalu saya pun berpikir bahwa makna Ramadhan sesungguhnya bukanlah waktu di bulan Ramadhan-nya itu saja, tapi berlaku juga setelah bulan Ramadhan berakhir. Jika perilaku seseorang di bulan Ramadhan mengalami perubahan menjadi lebih baik, namun perilakunya kembali menjadi buruk setelah bulan Ramadhan selesai, maka apa artinya Ramadhan bagi orang tersebut? Apakah Ramadhan itu hanya sebagai momen untuk berlomba-lomba mencari pahala saja?

Jika iya, maka saya pikir orang tersebut tidak mendapatkan makna Ramadhan yang sesungguhnya. Bolehlah orang tersebut memanfaatkan bulan Ramadhan untuk beribadah semaksimal mungkin. ‘Memanen’ pahala sebanyak-banyaknya merupakan sesuatu yang baik. Tapi jika dia kembali perilaku yang lama seperti sebelum bulan Ramadhan, maka sia-sialah Ramadhan untuknya. Maksud saya, untuk apa dia ibadah sebanyak-banyaknya kalau perbuatan tetap tidak mengalami perubahan?

Menurut saya, Ramadhan yang bermakna bagi seseorang adalah berubahnya sikap seseorang akibat kebiasaan-kebiasaan yang telah dilakukan selama bulan Ramadhan. Kebiasaan mengaji, kebiasaan shalat berjamaah di masjid, kebiasaan bersedekah, dan kebiasaan menjaga perkataan tetap dilakukan setelah bulan Ramadhan usai. Itulah makna Ramadhan yang sesungguhnya; sebuah momen yang dimaksudkan untuk mengembalikan bagaimana kita melakukan amalan-amalan ke jalan yang seharusnya. Bayangkan jika semua orang melakukan hal tersebut, dunia ini akan menjadi tenteram, aman dan damai.

Advertisements

Hormati orang yang puasa?

Isu ini lagi seru nih. Penyebab sebenarnya adalah peraturan menteri agama yang memperbolehkan warung makan boleh buka siang hari selama bulan Ramadhan.

Sepertinya peraturan tersebut banyak membuat orang ‘terguncang.’ Tidak sedikit orang yang bereaksi ‘keras’ terhadap peraturan tersebut. Kebanyakan bilang, ‘Warung makan harusnya tutup di siang hari, hormati kami dong yang sedang puasa!‘ Supaya rasa hormat itu terbentuk, mulai muncul tindakan-tindakan yang tidak terhormat…pernah saya baca salah satu berita dimana sebuah warung makan di Sukabumi yang buka di siang hari harus ditutup paksa oleh polisi. Bahkan lebih ekstrim lagi, di Aceh ada pemilik warung yang buka di siang hari terpaksa masuk sel.

Ada beberapa hal yang aneh menurut saya.

Respect

Ini dulu deh. Rasa hormat. Kalau menurut saya, rasa hormat itu tidak bisa dipaksakan. Respect akan kita dapatkan kalau kita sudah respect terhadap orang lain. Kalau mau dihormati, hormatilah orang lain. Kalau kamu menutup paksa warung makan, bahkan sampai memasukkan pemilik warung ke dalam sel, bagaimana mungkin orang lain akan respect terhadap kamu? Itu artinya kamu memaksakan kehendak. Itu bukanlah tindakan yang terhormat. Tindakan itu juga tidak menghargai orang lain. Lalu bagaimana mungkin orang lain mau menaruh rasa hormat kepada kamu, kalau kamu memaksakan kehendak dan tidak menghargai orang lain?

Berperilaku lah yang baik. Tunjukkan bahwa kita adalah seorang insan yang mampu menjalankan perintah Allah (puasa) dengan benar. Kalau perilaku kita baik, orang lain juga akan segan sama kita, kok.

Niat

Nah, kembali lagi ke akar dari puasa. Sebenarnya, kita ini niat gak sih puasanya? Saya yakin, kalau kita memang benar-benar niat puasanya, dalam artian kita benar-benar ingin menjalankan perintah Allah dan taat kepada-Nya, tentu kita akan berusaha sekuat mungkin untuk mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Kalau sudah begitu, godaan-godaan seperti makan dan minum di saat kita haus dan lapar Insya Allah tidak akan berpengaruh.

Jadi patut dipertanyakan nih, orang-orang yang maksa untuk tidak makan di depan kita itu puasanya niat atau nggak, sih? Yah, mungkin ada beberapa orang yang masih merasa sulit untuk menahan godaan makanan dan minuman di saat haus dan lapar, tapi itulah ujian yang sedang Allah berikan kepada kita. Allah ingin tahu, apakah kita ini termasuk orang yang beriman atau tidak.

Intinya, kalau niat berpuasa kita adalah semata-mata karena Allah, maka godaan apapun Insya Allah tidak akan membuat puasa kita sia-sia.