Day 6: Belanja baju di Platinum Mall, Bangkok (sekaligus hari terakhir di Bangkok…)

Sabtu, 26 Januari 2019


Tidak terasa kami sudah 5 hari liburan di Bangkok dan hari ini adalah hari terakhir kami di sini. Rasanya kami masih betah di sini dan masih banyak tempat-tempat lain yang ingin kami kunjungi. Kami pun bangun dengan rasa sedikit sedih…tapi ya sudah, nanti kalau ada rejeki kami pasti main lagi ke Thailand, hehehe.

Kaki kami masih terasa pegal karena dari beberapa hari yang lalu kami berkeliling kota Bangkok. Oleh-oleh makanan dan cemilan sudah kami beli di Big C, nah tinggal oleh-oleh baju saja nih yang belum. Setelah kami melihat-lihat di Google, kami memutuskan untuk belanja baju di Platinum Mall. Tadinya kami mau mengunjungi Chatuchak Market, salah satu pasar iconic di Bangkok yang hanya buka pada saat weekend. Tapi, berhubung jadwal dan rute transportasi yang agak sulit, kami putuskan untuk belanja yang dekat saja, dan pilihan pun jatuh pada Platinum Mall. Menurut review sih di sana tempatnya nyaman, harga bajunya murah dan masih bisa tawar menawar harga. Walau sebenarnya kami tidak pandai menawar, tapi kalau harganya bisa ditawar ya lumayan bisa menghemat sedikit, hehehe.

Untuk mencapai Platinum Mall sebenarnya mudah. Kita tinggal jalan menggunakan Skywalk di exit stasiun BTS Siam selama 15 menit. Kalau dari hotel Grand 5 kita tinggal jalan ke stasiun BTS Nana kemudian naik BTS ke Siam lalu jalan deh ke Skywalk. Mudah, kan?

Kami pun bergegas mandi kemudian sarapan. Setelah sarapan kami beres-beres packing baju dan semua perlengkapan kami. Setelah itu kami check out dan kopernya kami titipkan di resepsionis hotel. Kami pun lanjut berjalan ke stasiun BTS Nana, lalu naik BTS dan turun di stasiun Siam, lalu jalan ke Platinum Mall menggunakan Skywalk.

Platinum Mall

Akhirnya kami sampai juga di Platinum Mall. Di sini tempatnya mirip dengan BTC Bandung tapi jarak antar kiosnya lebih besar, sehingga kami bisa berjalan dengan leluasa. Produk-produk yang ditawarkan di sini sangat lengkap, mulai dari topi, mukena, baju, dress, celana, rok, celana panjang, kaos, sepatu, tas, sandal, dan aksesoris. Selain itu di sini juga ada food court dan apotek, pokoknya lengkap deh! Oh iya, kalau kita kehabisan uang Baht, di sini juga ada money changer lho. Praktis!

Saya dan istri mulai berbelanja di Platinum. Kami bingung mau beli apa, soalnya banyak baju bagus di sini hahaha. Akhirnya kami putuskan untuk membeli beberapa kaos bertema Thailand untuk oleh-oleh keluarga kami di Bandung. Sayangnya, uang yang kami bawa dari Bandung mulai menipis. Ditambah lagi koper kami juga sudah penuh…terpaksa deh kami beli tas berukuran besar untuk membawa barang-barang bawaan kami, hahaha. Kami tukar uang di money changer, kemudian membeli tas besar. Uniknya, pada saat kami membeli tas, pedagangnya bisa berbahasa Indonesia. Dia paham banyak suku kata, mungkin di sini banyak pengunjung dari Indonesia ya? Haha.

Setelah puas berbelanja, kami akhirnya kembali ke hotel untuk mengambil koper kami, sekalian makan siang dan sholat lima waktu. Kami pun kembali ke hotel dengan rute yang dibalik, yaitu jalan melewati Skywalk ke stasiun BTS Siam, kemudian naik BTS dan turun di stasiun BTS Nana lalu jalan kaki ke hotel.

Mencari masjid dan makan siang khas timur tengah

Salah satu keuntungan menginap di Grand 5 Hotel adalah lingkungannya yang kental dengan suasana timur tengah. Tidak sulit untuk kami mencari makanan halal di sini. Menurut saya Grand 5 Hotel ini merupakan hotel yang paling worth it untuk menjadi pilihan ketika berlibur ke Bangkok. Hotelnya bagus, nyaman, bersih, banyak toko di sekitarnya, suasananya enak dan yang paling penting lokasinya strategis. Jadi promosi nih, hehehe..

Sesampainya di hotel, kami titip barang belanjaan di resepsionis. Kebetulan waktu itu sudah siang, jadi kami harus menunaikan sholat lima waktu. Menurut istri saya sih di dekat hotel ada masjid, jadi kami berencana untuk sholat di masjid dekat hotel. Mulailah kami mencari masjid tersebut. Setelah mengikuti Google Maps dan berputar-putar, kok masjidnya tidak ada ya? Akhirnya saya nekat saja bertanya pada orang sekitar, dan ternyata masjidnya itu ada di lantai dua sebuah penginapan timur tengah. Pantas saja nggak ketemu-ketemu, ternyata masjidnya di dalam gedung…hahaha. Kami pun masuk penginapan tersebut kemudian naik ke lantai dua. Ternyata masjidnya kecil, namun tempatnya bersih dan sepi. Di sana hanya ada bapak-bapak dan seorang kakek yang sedang tidur siang. Setelah selesai sholat, kami turun lalu mencari makan siang.

Dari awal kami sampai di Grand 5 Hotel, kami melihat ada restoran timur tengah yang membuat saya penasaran. Saya pun menanyakan ke istri, bagaimana kalau makan siang di sana saja? Ternyata istri juga penasaran dengan restoran tersebut, jadi kami sepakat untuk makan siang di sana. Kami tidak ingat nama restorannya apa, karena tertulis dengan bahasa arab gundul 😀 Kami masuk saja ke restoran tersebut lalu pesan shawarma ayam dengan kentang goreng. Ternyata shawarmanya berukuran besar! Rasanya enak dan bumbunya juga terasa.

Shawarma ayam, asli timur tengah. Enak banget..

Selesai makan, kami tarik nafas dulu…maklum, porsinya berukuran besar jadi harus ngarenghab heula 😉 Setelah itu kami kembali ke hotel untuk merapikan kembali barang-barang bawaan kami sekalian ambil koper dan pesan GrabTaxi. Setelah bersusah payah membereskan barang-barang bawaan, saya pesan GrabTaxi untuk menuju bandara Don Mueang International Airport. Lima belas menit kami menunggu, akhirnya GrabTaxi-nya datang juga.

Don Mueang International Airport

Don Mueang International Airport hanya bisa dicapai menggunakan kendaraan pribadi dan taxi. Sebenarnya pada saat pesan tiket pulang ke Bandung, kami bisa saja membeli tiket pulang dari Suvarnabhumi International Airport, tapi kami pesan dari Don Mueang saja, supaya kami tahu seperti apa sih bandara Don Mueang itu. Ternyata, untuk mencapai Don Mueang bisa menggunakan jalur tol. Driver GrabTaxi menanyakan kepada kami, mau lewat tol atau tidak. Kami pikir lebih cepat sampai di bandara akan lebih baik, jadi ya sudah kami pilih lewat tol saja…tapi ternyata kami harus membayar 2×50 Baht untuk melewati tol ke bandara Don Mueang. Apa boleh buat, yang penting cepat sampai deh, takut ketinggalan pesawat..hehe.

Setelah beberapa lama akhirnya kami sampai di bandara Don Mueang. Ada kekacauan pada saat membayar taxi, karena kami hanya punya uang pecahan 1000 Baht saja. Driver pun bingung, tidak punya kembalian. Akhirnya saya putuskan untuk membeli apa saja di toko dalam bandara, sekedar untuk memecah uang. Eh, ternyata ada mango sticky rice, ya sudah saya beli itu saja deh, hahaha. Setelah itu kami pun memberikan uang ke driver taxi, kemudian dia terburu-buru lari karena ternyata sudah ada penumpang yang naik di mobilnya.

Bandara Don Mueang SANGAT BERBEDA JAUH dengan Suvarnabhumi. Di sini suasananya lebih mirip terminal kalau saya lihat. Tidak banyak toko-toko besar di sini, hanya ada cafe kecil saja. Fasilitas, sarana dan prasarananya juga tidak sebagus Suvarnabhumi. Ini menjadi pelajaran bagi kami, kalau mau ke Bangkok, pilihlah Suvarnabhumi International Airport sebagai bandara tujuan. Suvarnabhumi tempatnya jauh lebih nyaman, banyak toko dan restoran, dan ada akses shuttle langsung menuju kota Bangkok dengan biaya yang lebih murah dan jadwal yang lebih reliable.

Apa boleh buat, tiket sudah dibeli dan kami juga harus pulang. Kami bingung dengan sistem check-in di Don Mueang, karena banyak sekali Gate dan jalur antrian tapi tidak ada penjelasannya sama sekali. Petugas pun nampak bingung karena setelah kami jelaskan permasalahan yang kami hadapi, jawaban tiap petugas berbeda-beda. Kami dilempar ke sana ke sini, sambil membawa barang bawaan kami yang banyak dan berat…haduh, sungguh pengalaman yang tidak menyenangkan. Akhirnya kami disuruh untuk mengantri di sebuah jalur dan berhasil check-in.

Jadwal keberangkatan sudah dekat. Kami deg-degan, kami sempat terbang tidak ya. Antrian panjang dan petugas imigrasinya lambat. Beruntungnya kami, sesampainya di ruang tunggu, boarding gate baru dibuka. Jadi kami langsung naik ke pesawat menuju Soekarno-Hatta International Airport. Kami terlelap selama di pesawat. Bangun tidur, perut terasa lapar. Saya pun makan mango sticky rice yang sudah saya beli sebelumnya, tapi perut masih tetap terasa lapar. Akhirnya kami terpaksa pesan makanan di pesawat. Biarin deh mahal, daripada lapar…hahaha. Setelah makan, kami terlelap lagi dan akhirnya pesawat pun berhasil mendarat. Setelah itu kami ambil koper, kemudian bergegas menuju travel Citi Trans, pesan travel ke Bandung. Untungnya ada travel yang langsung berangkat, ya sudah kami langsung naik travel tersebut. Sepanjang perjalanan di travel, kami tertidur pulas. Tidak terasa kami sudah sampai di Bandung, waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 WIB. Kami pesan Go-Car untuk pulang ke rumah dan ternyata…drivernya seorang emak-emak! Wow, jam 3 pagi sudah narik, luar biasa semangatnya hahaha. Setelah itu kami pun sampai di rumah, lalu tidur lagi, karena masih terasa capek.


Sekian cerita perjalanan kami selama di Bangkok. Untuk postingan sebelum-sebelumnya, bisa klik:

Pengalaman vaksinasi di Rumah Vaksin, Bandung

Menindaklanjuti hasil MCU pra-nikah yang saya lakukan di RS Borromeus, saya memutuskan untuk melakukan vaksin Hepatitis-B dan Tetanus. Sebenarnya vaksin Tetanus tidak masuk daftar rekomendasi di hasil MCU pra-nikah, tapi saya memutuskan untuk vaksin tetanus saja karena di tempat kerja saya banyak benda tajam dan berkarat, khawatir suatu saat (mudah-mudahan tidak) mengenai saya. Ini sebagai antisipasi saja sih, just in case. Kalau vaksinasi Hepatitis-B ini memang harus saya lakukan, karena merupakan rekomendasi dari dokter.

Saya pun mengunjungi Rumah Vaksin, tempatnya di Jl. Gemi, Bandung. Tempatnya sesuai dengan namanya, berada di rumah. Hahaha. Walaupun tempatnya kecil, tapi pengunjungnya banyak lhoo. Kebanyakan yang divaksin di sini adalah bayi dan balita. Hanya saya dan pasangan saya saja pasien yang sudah dewasa, hahaha. Untuk informasinya, saya cantumkan biaya vaksin di Rumah Vaksin ya.

Daftar harga vaksin di Rumah Vaksin. (per 2018)

Kami datang jam 8 pagi, agar prosesnya cepat dan tidak mengantre. Pada saat kami datang, ternyata dokternya belum datang, jadi kami menunggu dulu deh hehe. Baru saja kami duduk, dokternya datang. Setelah itu saya dipanggil ke dalam. Saya pun menunjukkan hasil MCU saya ke dokternya. Dokternya baik dan ramah, mau menjelaskan segala hal yang berkaitan dengan vaksin. Senang deh kalau bertemu dengan dokter yang mau menjelaskan, jadinya saya bisa bertanya dan mengerti hehe. Saya pun meminta untuk divaksin Hepatitis-B dan Tetanus. Dokter pun menyiapkan peralatannya. Setelah itu, tangan kiri saya diberi vaksin Hepatitis-B dan tangan kanan saya diberi vaksin Tetanus. Rasanya seperti dipukul deh, pegal-pegal gimana gitu. Dan rasa itu berlangsung seharian. Bahkan untuk vaksin Tetanus, sudah satu setengah hari masih terasa sedikit pegalnya. Tapi tidak apa-apa, cuma sekali ini saja kok rasa pegalnya hehehe.

Vaksinasi di Rumah Vaksin enak deh. Dokternya ramah, cepat, murah dan berkualitas. Bila teman-teman mencari tempat vaksin yang cepat, murah dan berkualitas, saya sarankan untuk datang ke Rumah Vaksin. Silakan mencoba!

Perbaikan Sepatu di Bandung

Sabtu, 7 Oktober 2017


Hari ini saya berniat untuk memperbaiki dua pasang sepatu saya yang sering saya gunakan untuk acara resmi. Satu pasang berwarna coklat dan satu pasang berwarna hitam. Keduanya memiliki masalah yang sama: mangap, alias sol sepatu yang mulai lepas dari sepatu.

Saya bingung, mencari tukang sol sepatu yang dekat rumah, di mana ya? Tapi saya pun teringat tentang kios-kios kecil tukang sepatu di Jl. Malabar, daerah Kosambi yang dekat dengan palang pintu rel kereta api. Di sana banyak tukang sepatu, mulai dari sepatu boots, pantofel, sepak bola, dan lain-lain. Tapi saya tidak ingat, ada tukang sol sepatu nggak ya? Saya pun bergegas ke sana.

Ternyata sepanjang Jl. Malabar, banyak tukang sol sepatu. Saya pun berhenti di salah satu kios tukang sol sepatu. Saya lihat tukang sepatunya sudah tua, memakai kaos merah, celana hitam dilengkapi dengan topi koboi.

“Pak, bisa benerin sepatu saya? Mangap nih.”

“Mau dilem atau dijahit? Mending dijahit aja, kalo dilem mah nanti lepas lagi lepas lagi.”

“Ya udah dijahit aja pak.”

Tukang sepatu pun mengambil sepatu saya dan mulai mengerjakan perbaikan. Pertama sepatu saya dilem terlebih dahulu. Kemudian pak tua membuat alur jahitan di sekeliling sol sepatu saya dengan cara mengupas sedikit sol sepatu saya. Setelah itu pak tua menancapkan jarum besar dari sol sepatu, menembus bagian dalam sepatu. Entah kenapa saya malah membayangkan kaki saya tertembus jarum itu, hahaha. Ada dua benang yang pak tua siapkan: benang hitam dan benang coklat. Benang hitam digunakan untuk bagian sol sepatu, sedangkan benang coklat untuk bagian dalam sepatu.

Pak tua sedang memperbaiki sepatu saya.

Dengan cekatan pak tua membuat simpul jahit. Terlihat sederhana, tapi sukses membuat saya terkagum. Sesekali pak tua mengoleskan lem ke sol sepatu. Mungkin lem yang diberikan sebelumnya dirasa kurang. Saya pun menunggu sekitar satu jam lamanya untuk dua pasang sepatu.

“Sepatunya udah nih, a.”

“Jadinya berapa pak?”

“60 ribu.”

Saya berikan 60 ribu rupiah. Ternyata jasa untuk menjahit sepatu adalah 30 ribu rupiah per pasang.

Hari itu terasa sangat panas. Saya bergegas pulang ke rumah, karena tidak kuat menahan panasnya kota Bandung di siang hari.

—***—

Nongkrong Santai di Cups

Masih libur lebaran, bosan makan ketupat, ingin mencari tempat makan yang ringan saja tapi suasananya cozy dan santai. Di mana ya?

Teman saya menyarankan datang ke Cups, letaknya di Jl. Trunojoyo, Bandung. Saya coba saja ke sana.

Baru masuk ke dalam dan duduk, saya langsung merasa betah. Tempatnya spacious, cozy, comfortable dan santai. Musik yang diputar di sini enak banget, cocok untuk santai. Ini tempat yang tepat untuk mengerjakan sesuatu yang membutuhkan ketenangan, seperti belajar, mengerjakan tugas dan baca buku.

Suasana Cups. Cozy and spacious.

Pelayan datang ke meja saya, memberikan menu. Makanan dan minuman di sini jenisnya variatif, tapi didominasi menu western food. Tadinya saya ingin pesan menu utama, tapi karena saya dan teman saya ingin makanan yang ringan saja, jadilah kami pesan Truffle Fries. Saya dan teman saya memesan Truffle Fries, minumnya Virgin Piña colada dan Red Velvet Ice Latte.

Hal lain yang saya suka selain suasananya yang enak adalah pelayannya ramah banget! Membuat saya semakin betah di sini.

Makanan pun akhirnya datang!

Wadah truffle fries nya lucu deh, hahaha

Truffle friesnya enak. Kentangnya besar, bumbunya terasa. Piña coladanya terasa asam sedikit manis, segar deh. Red Velvet Ice Lattenya enak, manis, terasa rasa red velvetnya.

Hmm…saya jadi penasaran sama tempat ini, ingin ke sini lagi deh suatu hari nanti.

Kuliner: Mencicipi Sate Maranggi Cibungur Hj. Yetty

Kamis, 29 Juni 2017


Hari ini saya dan teman saya ingin jalan-jalan yang tidak biasa. “Kalau bisa sih yang agak jauh,” kata teman saya. Saya bingung, jalan-jalan ke mana ya?

Awalnya dia mengingatkan saya untuk mencoba kuliner di Dapur Pasta, lokasinya di Kota Baru Parahyangan, Padalarang. Kami pun meluncur ke sana. Ternyata…tokonya tutup! Masih suasana Idul Fitri sih ya, mungkin para pegawainya belum kembali ke Bandung, hehe.

Kami pun berpikir, apa yang bisa di-explore di Padalarang…tapi kami akhirnya pusing sendiri karena kami juga nggak tau mau mengunjungi apa di Padalarang, hahaha. Di saat yang sama, perut saya sudah minta diisi. Saya pun berpikir cepat dan tercetuslah ide untuk makan sate maranggi di Cibungur. Saya sendiri belum pernah ke sana, hanya pernah dengar ceritanya dan dibelikan saja. Lumayan jauh, tapi memang inginnya jalan-jalan yang agak jauh, jadi ya sudah, berangkat!

Perjalanan

Sebelum berangkat, Continue Reading

Review: Touring menggunakan Yamaha X-Ride 2016

Januari 2018: Update!  Review 10.000 km Yamaha X-Ride 2016

Saya menggunakan Yamaha X-Ride untuk melakukan touring Bandung-Ciletuh-Bandung selama 2 hari sejauh 500 kilometer. Berikut beberapa poin yang saya ambil.

Si EXO (X-Ride Orange)

Si EXO (X-Ride Orange)

Underpowered

Ya, motor ini sangat underpowered! Saya mengalami kesulitan untuk menyalip kendaraan-kendaraan yang ada di depan saya. Untuk mencapai 60 km/jam saja rasanya lambat sekali. Hampir 80% perjalanan dari Bandung-Ciletuh-Bandung saya mainkan bukaan gas di atas 3/4, artinya saya selalu memuntir grip throttle mendekati maksimal…tapi tetap saja laju X-Ride seakan tertahan sesuatu. Bahkan saya kalah oleh Honda Revo di jalanan lurus maupun jalanan berkelok. Panas hati ini rasanya! Walau begitu, X-Ride ini mampu menanjak dengan baik, lho.

Konsumsi BBM: Boros

Selama touring, saya mengisi BBM 2.5 kali full tank. Kalau saya hitung, konsumsi BBM rata-rata yang saya dapatkan adalah 42 km per liter. Itu pun sudah saya gaspol terus-terusan. Sebagai perbandingan saja, konsumsi BBM yang beda tipis (40 km per liter) didapatkan oleh teman saya yang menggunakan Honda CBR 250R. Teman saya yang lain menggunakan Yamaha NMAX, konsumsi BBM nya juga beda tipis dengan saya (39 km per liter)…konsumsi BBM sebuah motor 115cc nyaris sama dengan motor 155cc bahkan 250cc..saya pikir X-Ride boros ya.

Boncengan empuk

Teman saya ingin mencoba motor saya, ya sudah saya kasih pinjam, saya dibonceng. Jalan yang dilalui batuan lepas besar-besar. Eh, ternyata empuk sekali bantingan untuk boncengers. Saya tidak merasa terguncang sama sekali, padahal jalannya jelek. Sebagai informasi saja, berat badan saya 77 kg, dan teman saya 70 kg. Cocok nih buat membonceng.

Ground clearance tinggi; hajar segala medan!

Ini yang paling nikmat. Di saat teman-teman menghajar jalan rusak secara perlahan, saya dengan pede nya menghajar jalan rusak tersebut dengan cepat. Ground clearance yang tinggi juga sangat membantu; saya tidak perlu khawatir deck motor saya mencium bebatuan atau aspal. Pokoknya hajar, bleh!

Riding position nyaman

Ini lebih nikmat lagi. Selama perjalanan 500 km, saya tidak mengalami pegal-pegal sedikit pun. Setang lebar dan cenderung tegak ke atas membuat posisi berkendara sangat nyaman rileks.


Andai saja Yamaha X-Ride ini memiliki mesin yang lebih bertenaga dan bagasi yang lebih luas, tentulah motor ini akan menjadi motor yang paling cocok untuk memenuhi kebutuhan saya.

Overall, X-Ride layak untuk dipakai touring santai…tapi untuk touring cepat rasanya akan susah mengimbangi motor lain.

Baca juga:

Review: 2016 Yamaha X-Ride
Januari 2018: Update! Review 10.000 km Yamaha X-Ride 2016
Super short review: 2016 KTM Duke 250
Review: Kawasaki W175

Touring ke Ciletuh Geopark, Sukabumi (Bagian 2)

Lanjutan dari postingan sebelumnya

Rasanya baru sebentar mata ini terpejam, namun jam sudah menunjukkan pukul 04.30. Dengan tergesa-gesa karena badan masih lelah, saya memaksakan diri untuk keluar menyusuri puncak darma. Tak lupa saya shalat subuh terlebih dahulu.

Beres shalat subuh, saya dan teman-teman berangkat ke puncak darma menggunakan sepeda motor…lokasinya kurang lebih 3 kilometer dari rumah sewa. Hari masih sangat gelap, penerangan sangat minim, jalanan batu-batu saja dan menanjak curam cenderung terjal. Wah, bahaya, nih. Lebih baik saya parkirkan motornya kemudian lanjutkan perjalanan dengan jalan kaki saja. Saya parkir di sebuah warung makan, Saung Mang Ujang namanya. Tanya-tanya tentang puncak darma dan curug di dekat sini…ternyata puncak darma sangat jauh, 2.5 kilometer dari saung ini. Sedangkan puncak terdekat adalah puncak bunga yang kira-kira hanya 600 meter saja. Curug lebih dekat lagi, tapi kami putuskan untuk ke puncak saja dulu, harapannya sih ingin melihat sunrise.

Oh iya, di saung ini juga ada club Vespa jadul sedang berkemah pada bawa tenda. Salut sama club Vespa ini, mereka terlihat kompak dan solid…dan juga berani touring menggunakan Vespa jadul. Respect!

Lanjut perjalanan jalan kaki menyusuri jalan. Jalanannya batuan lepas tajam-tajam dan menanjak terjal, broo…akhirnya kami menemukan puncak bunga, tiket masuknya 3 ribu rupiah. Namun karena kami ke sana masih subuh, penjaganya belum ada, mungkin masih tidur 😀 Langsung saja saya lihat pemandangannya.

Pemandangan dari puncak bunga.

Pemandangan dari puncak bunga.

Kami pun istirahat sejenak sambil foto-foto, menikmati pemandangan…sayang, sunrise tidak terlihat dari sini. setelah itu, kami pun bergegas menuju Curug Continue Reading

Touring ke Ciletuh Geopark, Sukabumi (Bagian 1)

Sabtu, 18 Februari 2017

Saya dan teman-teman dari kantor sepakat untuk touring ke Ciletuh Geopark, Sukabumi. Sebelumnya saya nggak tau sama sekali tentang Ciletuh dan rutenya…saya cuma diberi tau oleh teman saya kalau Ciletuh itu tempatnya bagus. Saya sih iya-iya saja, karena saya lebih senang perjalanannya daripada tempat tujuannya 😀

Kumpul di kantor jam 06.30 sesuai rencana awal…eh molor, baru berangkat jam 07.00++ hahaha. Untuk keberangkatan, kami menggunakan rute via Ciwidey…biar bisa merasakan udara segar di pagi hari, hehe. Berhubung ada beberapa rekan saya yang belum sarapan, maka kami berhenti dulu untuk menunggu rekan-rekan yang sarapan lontong sayur. Sebenarnya saya udah sarapan, tapi liat lontong sayur kok jadi laper…ya sudah saya ikut makan juga, ternyata enak juga lontong sayurnya 😀 (lokasinya di depan Indomaret, sebelah tempat rest area yang banyak WC umumnya).

Perut sudah anteng, kami melanjutkan perjalanan. Jalan raya beraspal mulus, sepi, ditambah lagi segarnya udara pegunungan di daerah Ciwidey dan indahnya cuaca di pagi hari membuat saya merasa betah. Rasanya saya ingin tinggal saja di sini…mengingatkan saya pada kondisi Bandung belasan tahun yang lalu; sejuk, segar dan indah. Sekarang Bandung berubah menjadi panas, macet, dan tidak segar lagi…sungguh sangat disayangkan.

img_20170218_085824

Mulus, sejuk, segar, indah

Jalan berkelok Continue Reading

Curug Sanghyang Taraje

Rabu, 1 April 2015. Hari ini saya dan teman saya, Fickry, merealisasikan wacana Touring yang sudah lama tertunda. Ngajak teman tapi tidak ada yang berminat, akhirnya saya dan Fickry jebred-kan saja Touring kali ini; 2 orang jalan!

Tujuan yang failed: Candi Cangkuang

Tujuan awal adalah Candi Cangkuang. Candi Cangkuang terletak di Garut, lebih tepatnya di Kecamatan Leles.

Berangkat jam 08.00 WIB dari kampus yang banyak kudanya, kami sampai di lokasi jam 09.15 WIB. Rute perjalanan dimulai dari Tamansari–>Cicaheum–>Bunderan Cibiru–>Cileunyi–>Rancaekek–>Candi Cangkuang. Traffic sebelum Cileunyi ramai lancar, setelah Cileunyi kosong blas. Mantaft. Untuk mencapai Candi Cangkuang caranya mudah, tinggal ikuti jalan utama sampai Leles, nanti ada papan tulisan Candi Cangkuang, belok ke kiri. Dari situ jarak ke lokasi sekitar 3 kilometer.

Jalan ke lokasi agak jelek, tapi bisa dilewati dengan mudah. Sesampainya di tempat, parkir motor, terus masuk ke dalam. Bayar tiket masuk Rp 3000 per orang. Pemandangan Situ Cangkuang langsung terlihat. Airnya sedikit kotor, mungkin gara-gara musim hujan, jadi banyak lumpur dan tanahnya.

Situ Cangkuang. Itu ada Pulau, Candi Cangkuang letaknya di sana.

Situ Cangkuang. Terlihat ada pulau, Candi Cangkuang letaknya di sana.

Keunikan tempat wisata ini adalah pengunjung diharuskan menaiki perahu terlebih dahulu untuk melihat Candi Cangkuang. Maklum, Candi terletak di tengah-tengah pulau yang konon bernama Pulau Panjang. Selain itu, di pulau tersebut juga ada kampung adat, dimana terdapat 6 buah rumah adat yang diperuntukan keturunan Embah Dalem yang terdiri dari 6 pria dan 1 wanita. Jumlah rumah tidak boleh ditambahkan dan 6 rumah yang ada tidak boleh terdiri lebih dari 6 kepala keluarga sehingga ketika ada anggota keluarga yang menikah, orang tersebut harus keluar. Oh iya, Candi Cangkuang ini merupakan satu-satunya candi Hindu di Jawa Barat loh. (sumber)

Nah…di sini nih mulai lawak. Tarif naik perahu itu 4 ribu saja per orang, tapi dengan catatan perahu nya bermuatan penuh yaitu 20 orang. Pilihan lainnya, sewa perahu aja tapi bayarnya jadi 80 ribu. Daripada bayar 80 ribu, mending bayar 4 ribu kan? Tapi harus nunggu orang lain yang pengen nyebrang juga. Kami putuskan nunggu aja sambil ngisi perut dulu.

Setelah ditunggu-tunggu…gak ada pengunjung yang datang. Dari pertama kali kami datang, tempat ini memang sepi pengunjung. Kata orang di sana sih tempat ini ramenya hari sabtu dan minggu. Kami malah datang di hari Rabu, jelas sepi lah. FAILED! haha. Waktu masih menunjukkan pukul 10. ‘Masa pulang sih? Kapan lagi Touring, apalagi udah pada lulus dari kampus’. Jadi saya pengen lanjut nih, setidaknya sampai di suatu tempat wisata. ‘Jigana moal aya pengunjung deui ieu mah Fick, tempat lain weh yu‘ (Ini sih kayaknya gak bakal ada pengunjung lagi Fick, ke tempat lain aja yuk).

Teman saya pun setuju dan akhirnya kami putuskan untuk ke curug yang dia bilang yaitu Curug Sanghyang Taraje. Tapi karena kami gak tahu jalan, saya search dulu tuh lokasinya di mana. Tanya mbah Google, dapet deh lokasinya yaitu di Desa Pamulihan.

Candi Cangkuang
Tiket masuk: Rp 3000. Biaya naik perahu: Rp 4000 per orang (harus nunggu 
perahunya penuh (20 orang), kalau nggak mau nunggu sewa perahu sendiri Rp 80000)
Rute perjalanan: Bunderan Cibiru>Cileunyi>Rancaekek>Leles

Perjalanan: Curug Sanghyang Taraje

Kami pun melanjutkan perjalanan. Sempat bingung jalannya ke mana, teman saya nanya-nanya ke warga sekitar. Akhirnya ketemu jalannya yaitu lewat Samarang. Kami lanjutkan lagi sampai akhirnya bingung mau ke mana. Mungkin sudah lelah bertanya terus ke warga sekitar, akhirnya teman saya menggunakan Google Maps saja biar praktis (punten Fick urang hoream euy nanya ka batur hahaha). Ketemu lagi jalannya. Ternyata medan jalannya menantang; jalan bebatuan menanjak curam tanpa aspal. Tanya-tanya orang lagi dan akhirnya sampai di tujuan yaitu Desa Pamulihan. Tapi….

Gak ada curug di sini! Ternyata di Garut ini ada dua daerah yang namanya Desa Pamulihan; satu terletak di Kecamatan Cisurupan, satu lagi terletak di Kecamatan Pakenjeh. Curug yang dituju terletak di Pakenjeh, sedangkan kami ada di Cisurupan. FAILED 2.0!

Untung ada warga lokal yang tau keberadaan curug tersebut, sehingga kami diberitahu arah jalannya. Kami pun melanjutkan perjalanan. Medan jalan memburuk; ukuran dan letak batu semakin tidak beraturan, si kuda besi pun Continue Reading