Perbaikan Sepatu di Bandung

Sabtu, 7 Oktober 2017


Hari ini saya berniat untuk memperbaiki dua pasang sepatu saya yang sering saya gunakan untuk acara resmi. Satu pasang berwarna coklat dan satu pasang berwarna hitam. Keduanya memiliki masalah yang sama: mangap, alias sol sepatu yang mulai lepas dari sepatu.

Saya bingung, mencari tukang sol sepatu yang dekat rumah, di mana ya? Tapi saya pun teringat tentang kios-kios kecil tukang sepatu di Jl. Malabar, daerah Kosambi yang dekat dengan palang pintu rel kereta api. Di sana banyak tukang sepatu, mulai dari sepatu boots, pantofel, sepak bola, dan lain-lain. Tapi saya tidak ingat, ada tukang sol sepatu nggak ya? Saya pun bergegas ke sana.

Ternyata sepanjang Jl. Malabar, banyak tukang sol sepatu. Saya pun berhenti di salah satu kios tukang sol sepatu. Saya lihat tukang sepatunya sudah tua, memakai kaos merah, celana hitam dilengkapi dengan topi koboi.

“Pak, bisa benerin sepatu saya? Mangap nih.”

“Mau dilem atau dijahit? Mending dijahit aja, kalo dilem mah nanti lepas lagi lepas lagi.”

“Ya udah dijahit aja pak.”

Tukang sepatu pun mengambil sepatu saya dan mulai mengerjakan perbaikan. Pertama sepatu saya dilem terlebih dahulu. Kemudian pak tua membuat alur jahitan di sekeliling sol sepatu saya dengan cara mengupas sedikit sol sepatu saya. Setelah itu pak tua menancapkan jarum besar dari sol sepatu, menembus bagian dalam sepatu. Entah kenapa saya malah membayangkan kaki saya tertembus jarum itu, hahaha. Ada dua benang yang pak tua siapkan: benang hitam dan benang coklat. Benang hitam digunakan untuk bagian sol sepatu, sedangkan benang coklat untuk bagian dalam sepatu.

Pak tua sedang memperbaiki sepatu saya.

Dengan cekatan pak tua membuat simpul jahit. Terlihat sederhana, tapi sukses membuat saya terkagum. Sesekali pak tua mengoleskan lem ke sol sepatu. Mungkin lem yang diberikan sebelumnya dirasa kurang. Saya pun menunggu sekitar satu jam lamanya untuk dua pasang sepatu.

“Sepatunya udah nih, a.”

“Jadinya berapa pak?”

“60 ribu.”

Saya berikan 60 ribu rupiah. Ternyata jasa untuk menjahit sepatu adalah 30 ribu rupiah per pasang.

Hari itu terasa sangat panas. Saya bergegas pulang ke rumah, karena tidak kuat menahan panasnya kota Bandung di siang hari.

—***—

Advertisements

Nongkrong Santai di Cups

Masih libur lebaran, bosan makan ketupat, ingin mencari tempat makan yang ringan saja tapi suasananya cozy dan santai. Di mana ya?

Teman saya menyarankan datang ke Cups, letaknya di Jl. Trunojoyo, Bandung. Saya coba saja ke sana.

Baru masuk ke dalam dan duduk, saya langsung merasa betah. Tempatnya spacious, cozy, comfortable dan santai. Musik yang diputar di sini enak banget, cocok untuk santai. Ini tempat yang tepat untuk mengerjakan sesuatu yang membutuhkan ketenangan, seperti belajar, mengerjakan tugas dan baca buku.

Suasana Cups. Cozy and spacious.

Pelayan datang ke meja saya, memberikan menu. Makanan dan minuman di sini jenisnya variatif, tapi didominasi menu western food. Tadinya saya ingin pesan menu utama, tapi karena saya dan teman saya ingin makanan yang ringan saja, jadilah kami pesan Truffle Fries. Saya dan teman saya memesan Truffle Fries, minumnya Virgin Piña colada dan Red Velvet Ice Latte.

Hal lain yang saya suka selain suasananya yang enak adalah pelayannya ramah banget! Membuat saya semakin betah di sini.

Makanan pun akhirnya datang!

Wadah truffle fries nya lucu deh, hahaha

Truffle friesnya enak. Kentangnya besar, bumbunya terasa. Piña coladanya terasa asam sedikit manis, segar deh. Red Velvet Ice Lattenya enak, manis, terasa rasa red velvetnya.

Hmm…saya jadi penasaran sama tempat ini, ingin ke sini lagi deh suatu hari nanti.

Kuliner: Mencicipi Sate Maranggi Cibungur Hj. Yetty

Kamis, 29 Juni 2017


Hari ini saya dan teman saya ingin jalan-jalan yang tidak biasa. “Kalau bisa sih yang agak jauh,” kata teman saya. Saya bingung, jalan-jalan ke mana ya?

Awalnya dia mengingatkan saya untuk mencoba kuliner di Dapur Pasta, lokasinya di Kota Baru Parahyangan, Padalarang. Kami pun meluncur ke sana. Ternyata…tokonya tutup! Masih suasana Idul Fitri sih ya, mungkin para pegawainya belum kembali ke Bandung, hehe.

Kami pun berpikir, apa yang bisa di-explore di Padalarang…tapi kami akhirnya pusing sendiri karena kami juga nggak tau mau mengunjungi apa di Padalarang, hahaha. Di saat yang sama, perut saya sudah minta diisi. Saya pun berpikir cepat dan tercetuslah ide untuk makan sate maranggi di Cibungur. Saya sendiri belum pernah ke sana, hanya pernah dengar ceritanya dan dibelikan saja. Lumayan jauh, tapi memang inginnya jalan-jalan yang agak jauh, jadi ya sudah, berangkat!

Perjalanan

Sebelum berangkat, Continue Reading

Review: Touring menggunakan Yamaha X-Ride 2016

Saya menggunakan Yamaha X-Ride untuk melakukan touring Bandung-Ciletuh-Bandung selama 2 hari sejauh 500 kilometer. Berikut beberapa poin yang saya ambil.

Si EXO (X-Ride Orange)

Si EXO (X-Ride Orange)

Underpowered

Ya, motor ini sangat underpowered! Saya mengalami kesulitan untuk menyalip kendaraan-kendaraan yang ada di depan saya. Untuk mencapai 60 km/jam saja rasanya lambat sekali. Hampir 80% perjalanan dari Bandung-Ciletuh-Bandung saya mainkan bukaan gas di atas 3/4, artinya saya selalu memuntir grip throttle mendekati maksimal…tapi tetap saja laju X-Ride seakan tertahan sesuatu. Bahkan saya kalah oleh Honda Revo di jalanan lurus maupun jalanan berkelok. Panas hati ini rasanya! Walau begitu, X-Ride ini mampu menanjak dengan baik, lho.

Konsumsi BBM: Boros

Selama touring, saya mengisi BBM 2.5 kali full tank. Kalau saya hitung, konsumsi BBM rata-rata yang saya dapatkan adalah 42 km per liter. Itu pun sudah saya gaspol terus-terusan. Sebagai perbandingan saja, konsumsi BBM yang beda tipis (40 km per liter) didapatkan oleh teman saya yang menggunakan Honda CBR 250R. Teman saya yang lain menggunakan Yamaha NMAX, konsumsi BBM nya juga beda tipis dengan saya (39 km per liter)…konsumsi BBM sebuah motor 115cc nyaris sama dengan motor 155cc bahkan 250cc..saya pikir X-Ride boros ya.

Boncengan empuk

Teman saya ingin mencoba motor saya, ya sudah saya kasih pinjam, saya dibonceng. Jalan yang dilalui batuan lepas besar-besar. Eh, ternyata empuk sekali bantingan untuk boncengers. Saya tidak merasa terguncang sama sekali, padahal jalannya jelek. Sebagai informasi saja, berat badan saya 77 kg, dan teman saya 70 kg. Cocok nih buat membonceng.

Ground clearance tinggi; hajar segala medan!

Ini yang paling nikmat. Di saat teman-teman menghajar jalan rusak secara perlahan, saya dengan pede nya menghajar jalan rusak tersebut dengan cepat. Ground clearance yang tinggi juga sangat membantu; saya tidak perlu khawatir deck motor saya mencium bebatuan atau aspal. Pokoknya hajar, bleh!

Riding position nyaman

Ini lebih nikmat lagi. Selama perjalanan 500 km, saya tidak mengalami pegal-pegal sedikit pun. Setang lebar dan cenderung tegak ke atas membuat posisi berkendara sangat nyaman rileks.


Andai saja Yamaha X-Ride ini memiliki mesin yang lebih bertenaga dan bagasi yang lebih luas, tentulah motor ini akan menjadi motor yang paling cocok untuk memenuhi kebutuhan saya.

Overall, X-Ride layak untuk dipakai touring santai…tapi untuk touring cepat rasanya akan susah mengimbangi motor lain.

Touring ke Ciletuh Geopark, Sukabumi (Bagian 2)

Lanjutan dari postingan sebelumnya

Rasanya baru sebentar mata ini terpejam, namun jam sudah menunjukkan pukul 04.30. Dengan tergesa-gesa karena badan masih lelah, saya memaksakan diri untuk keluar menyusuri puncak darma. Tak lupa saya shalat subuh terlebih dahulu.

Beres shalat subuh, saya dan teman-teman berangkat ke puncak darma menggunakan sepeda motor…lokasinya kurang lebih 3 kilometer dari rumah sewa. Hari masih sangat gelap, penerangan sangat minim, jalanan batu-batu saja dan menanjak curam cenderung terjal. Wah, bahaya, nih. Lebih baik saya parkirkan motornya kemudian lanjutkan perjalanan dengan jalan kaki saja. Saya parkir di sebuah warung makan, Saung Mang Ujang namanya. Tanya-tanya tentang puncak darma dan curug di dekat sini…ternyata puncak darma sangat jauh, 2.5 kilometer dari saung ini. Sedangkan puncak terdekat adalah puncak bunga yang kira-kira hanya 600 meter saja. Curug lebih dekat lagi, tapi kami putuskan untuk ke puncak saja dulu, harapannya sih ingin melihat sunrise.

Oh iya, di saung ini juga ada club Vespa jadul sedang berkemah pada bawa tenda. Salut sama club Vespa ini, mereka terlihat kompak dan solid…dan juga berani touring menggunakan Vespa jadul. Respect!

Lanjut perjalanan jalan kaki menyusuri jalan. Jalanannya batuan lepas tajam-tajam dan menanjak terjal, broo…akhirnya kami menemukan puncak bunga, tiket masuknya 3 ribu rupiah. Namun karena kami ke sana masih subuh, penjaganya belum ada, mungkin masih tidur 😀 Langsung saja saya lihat pemandangannya.

Pemandangan dari puncak bunga.

Pemandangan dari puncak bunga.

Kami pun istirahat sejenak sambil foto-foto, menikmati pemandangan…sayang, sunrise tidak terlihat dari sini. setelah itu, kami pun bergegas menuju Curug Continue Reading

Touring ke Ciletuh Geopark, Sukabumi (Bagian 1)

Sabtu, 18 Februari 2017

Saya dan teman-teman dari kantor sepakat untuk touring ke Ciletuh Geopark, Sukabumi. Sebelumnya saya nggak tau sama sekali tentang Ciletuh dan rutenya…saya cuma diberi tau oleh teman saya kalau Ciletuh itu tempatnya bagus. Saya sih iya-iya saja, karena saya lebih senang perjalanannya daripada tempat tujuannya 😀

Kumpul di kantor jam 06.30 sesuai rencana awal…eh molor, baru berangkat jam 07.00++ hahaha. Untuk keberangkatan, kami menggunakan rute via Ciwidey…biar bisa merasakan udara segar di pagi hari, hehe. Berhubung ada beberapa rekan saya yang belum sarapan, maka kami berhenti dulu untuk menunggu rekan-rekan yang sarapan lontong sayur. Sebenarnya saya udah sarapan, tapi liat lontong sayur kok jadi laper…ya sudah saya ikut makan juga, ternyata enak juga lontong sayurnya 😀 (lokasinya di depan Indomaret, sebelah tempat rest area yang banyak WC umumnya).

Perut sudah anteng, kami melanjutkan perjalanan. Jalan raya beraspal mulus, sepi, ditambah lagi segarnya udara pegunungan di daerah Ciwidey dan indahnya cuaca di pagi hari membuat saya merasa betah. Rasanya saya ingin tinggal saja di sini…mengingatkan saya pada kondisi Bandung belasan tahun yang lalu; sejuk, segar dan indah. Sekarang Bandung berubah menjadi panas, macet, dan tidak segar lagi…sungguh sangat disayangkan.

img_20170218_085824

Mulus, sejuk, segar, indah

Jalan berkelok Continue Reading

Curug Sanghyang Taraje

Rabu, 1 April 2015. Hari ini saya dan teman saya, Fickry, merealisasikan wacana Touring yang sudah lama tertunda. Ngajak teman tapi tidak ada yang berminat, akhirnya saya dan Fickry jebred-kan saja Touring kali ini; 2 orang jalan!

Tujuan yang failed: Candi Cangkuang

Tujuan awal adalah Candi Cangkuang. Candi Cangkuang terletak di Garut, lebih tepatnya di Kecamatan Leles.

Berangkat jam 08.00 WIB dari kampus yang banyak kudanya, kami sampai di lokasi jam 09.15 WIB. Rute perjalanan dimulai dari Tamansari–>Cicaheum–>Bunderan Cibiru–>Cileunyi–>Rancaekek–>Candi Cangkuang. Traffic sebelum Cileunyi ramai lancar, setelah Cileunyi kosong blas. Mantaft. Untuk mencapai Candi Cangkuang caranya mudah, tinggal ikuti jalan utama sampai Leles, nanti ada papan tulisan Candi Cangkuang, belok ke kiri. Dari situ jarak ke lokasi sekitar 3 kilometer.

Jalan ke lokasi agak jelek, tapi bisa dilewati dengan mudah. Sesampainya di tempat, parkir motor, terus masuk ke dalam. Bayar tiket masuk Rp 3000 per orang. Pemandangan Situ Cangkuang langsung terlihat. Airnya sedikit kotor, mungkin gara-gara musim hujan, jadi banyak lumpur dan tanahnya.

Situ Cangkuang. Itu ada Pulau, Candi Cangkuang letaknya di sana.

Situ Cangkuang. Terlihat ada pulau, Candi Cangkuang letaknya di sana.

Keunikan tempat wisata ini adalah pengunjung diharuskan menaiki perahu terlebih dahulu untuk melihat Candi Cangkuang. Maklum, Candi terletak di tengah-tengah pulau yang konon bernama Pulau Panjang. Selain itu, di pulau tersebut juga ada kampung adat, dimana terdapat 6 buah rumah adat yang diperuntukan keturunan Embah Dalem yang terdiri dari 6 pria dan 1 wanita. Jumlah rumah tidak boleh ditambahkan dan 6 rumah yang ada tidak boleh terdiri lebih dari 6 kepala keluarga sehingga ketika ada anggota keluarga yang menikah, orang tersebut harus keluar. Oh iya, Candi Cangkuang ini merupakan satu-satunya candi Hindu di Jawa Barat loh. (sumber)

Nah…di sini nih mulai lawak. Tarif naik perahu itu 4 ribu saja per orang, tapi dengan catatan perahu nya bermuatan penuh yaitu 20 orang. Pilihan lainnya, sewa perahu aja tapi bayarnya jadi 80 ribu. Daripada bayar 80 ribu, mending bayar 4 ribu kan? Tapi harus nunggu orang lain yang pengen nyebrang juga. Kami putuskan nunggu aja sambil ngisi perut dulu.

Setelah ditunggu-tunggu…gak ada pengunjung yang datang. Dari pertama kali kami datang, tempat ini memang sepi pengunjung. Kata orang di sana sih tempat ini ramenya hari sabtu dan minggu. Kami malah datang di hari Rabu, jelas sepi lah. FAILED! haha. Waktu masih menunjukkan pukul 10. ‘Masa pulang sih? Kapan lagi Touring, apalagi udah pada lulus dari kampus’. Jadi saya pengen lanjut nih, setidaknya sampai di suatu tempat wisata. ‘Jigana moal aya pengunjung deui ieu mah Fick, tempat lain weh yu‘ (Ini sih kayaknya gak bakal ada pengunjung lagi Fick, ke tempat lain aja yuk).

Teman saya pun setuju dan akhirnya kami putuskan untuk ke curug yang dia bilang yaitu Curug Sanghyang Taraje. Tapi karena kami gak tahu jalan, saya search dulu tuh lokasinya di mana. Tanya mbah Google, dapet deh lokasinya yaitu di Desa Pamulihan.

Candi Cangkuang
Tiket masuk: Rp 3000. Biaya naik perahu: Rp 4000 per orang (harus nunggu 
perahunya penuh (20 orang), kalau nggak mau nunggu sewa perahu sendiri Rp 80000)
Rute perjalanan: Bunderan Cibiru>Cileunyi>Rancaekek>Leles

Perjalanan: Curug Sanghyang Taraje

Kami pun melanjutkan perjalanan. Sempat bingung jalannya ke mana, teman saya nanya-nanya ke warga sekitar. Akhirnya ketemu jalannya yaitu lewat Samarang. Kami lanjutkan lagi sampai akhirnya bingung mau ke mana. Mungkin sudah lelah bertanya terus ke warga sekitar, akhirnya teman saya menggunakan Google Maps saja biar praktis (punten Fick urang hoream euy nanya ka batur hahaha). Ketemu lagi jalannya. Ternyata medan jalannya menantang; jalan bebatuan menanjak curam tanpa aspal. Tanya-tanya orang lagi dan akhirnya sampai di tujuan yaitu Desa Pamulihan. Tapi….

Gak ada curug di sini! Ternyata di Garut ini ada dua daerah yang namanya Desa Pamulihan; satu terletak di Kecamatan Cisurupan, satu lagi terletak di Kecamatan Pakenjeh. Curug yang dituju terletak di Pakenjeh, sedangkan kami ada di Cisurupan. FAILED 2.0!

Untung ada warga lokal yang tau keberadaan curug tersebut, sehingga kami diberitahu arah jalannya. Kami pun melanjutkan perjalanan. Medan jalan memburuk; ukuran dan letak batu semakin tidak beraturan, si kuda besi pun Continue Reading