Bubur Ayam Gibbas: Bubur Enak di Bandung!

Tidak jarang bubur ayam menemani saya ketika pagi atau malam hari. Saat perut sedang lapar dan saya ingin menyantap makanan yang hangat, lembut dan gurih, saya pasti beli bubur ayam. Pun ketika kondisi badan sedang tidak enak karena sakit, bubur ayam juga menjadi menu andalan saya.

Mencari bubur ayam yang enak di bandung, memang gampang-gampang susah. Ada bubur yang kental, ada bubur yang encer. Ada bubur yang manis, ada bubur yang asin. Ada yang ayamnya banyak, ada yang ayamnya pelit. Ada yang cakuenya banyak, ada yang cakuenya sedikit. Ada yang enak tapi porsinya pelit, ada yang porsinya banyak tapi gak enak.

Setelah sekian lamanya saya berburu bubur ayam, hanya ada dua bubur ayam yang saya rekomendasikan: Bubur ayam depan Telkom Jl. Lembong (nanti akan saya tulis) dan bubur gibbas.

Kali ini, saya akan membahas Bubur Gibbas. Bubur ayam ini terletak di Jl. Kebonjati, dekat Kelenteng – tenang, menu ini halal kok. Bukanya mulai jam 17.00 sampai tengah malam. Tempatnya selalu ramai dikunjungi orang, mulai dari kawula muda sampai kakek-kakek dan nenek-nenek. Ketika pertama kali saya pesan, saya langsung kaget melihat satu mangkok bubur ayam gibbas ini.

Satu porsi bubur ayam biasa. Hampir tumpah!

Ayam dan Cakuenya BANYAK sekali! Potongannya pun besar-besar. Ini yang saya sangat suka.

Begitu juga dengan rasa buburnya. Tekstur buburnya encer, cocok dipadukan dengan potongan ayam dan cakue yang besar sehingga membuat mulut saya tidak kewalahan dalam mengunyah bubur ayam ini. Tanpa ayam dan cakue pun sebenarnya bubur ini sudah gurih kok. Belum lagi jika ditambah sedikit kecap, merica dan bawang goreng. Jangan lupa pakai emping, supaya menambah rasa kriuk di mulut. Hmmm….sedapnyaaa! Bagi anda yang suka telor, ada juga menu spesial bubur ayam lengkap dengan ati ampela dan telor muda. Berhubung saya tidak suka keduanya, saya selalu memesan bubur ayam biasa saja, hehehe.

Bagaimana dengan harganya? Seporsi bubur ayam biasa harganya 13ribu rupiah. Khawatir tidak habis? Tenang, buburnya bisa dipesan setengah porsi kok, hanya beda 2000 rupiah saja. Pertama kali saya pesan ini pun, saya kewalahan untuk menghabiskan seporsi bubur gibbas ini, hahaha.


Bubur Ayam Gibbas

Buka: Senin-Jumat jam 17.00 s/d tengah malam (weekend tutup)

Lokasi: Jl. Kebonjati (dekat Kelenteng), cabang: Jl. Terusan Jakarta, Antapani (pagi buka jam 05.00 s/d 11.00)

Advertisements

Touring: Pantai Cijeruk (Bagian 2 dari 2)

Lanjutan dari bagian pertama


Hari sudah gelap dan tenda-tenda sudah terpasang. Kami-kami yang bermaksud menginap di penginapan, merebahkan diri di teras warung warga. Tak lupa kami menunaikan sholat maghrib di musholla dekat warung. Kami wudhu di tempat mandi, dan di sini airnya harus dipompa dulu dengan pompa manual. Ya, kami harus memompa air sendiri, semacam pompa dragon tapi ini buatan sendiri, hahaha. Airnya bersih dan segar.

Suasana tenda dan teras warung warga. Lelah…

Selesai sholat, kami sadar perut kami sudah lapar. Kami pesan ikan bakar. Ikan tuna sebanyak 4kg, dan ikan kuwe (Giant Trevally, disingkat jadi GT) sebanyak 3kg. Selain itu, kami juga pesan nasi liwet sebanyak 4kg. Saya tidak ingat berapa total biaya yang dikeluarkan untuk makan, tapi yang saya ingat untuk ikan bakar, semuanya 80ribu rupiah.

Tio pun pesan ikan bakar ke warga lokal. Katanya, ikan harus diambil ke tempat penyeberangan sungai tadi. Kami pun bingung. Siapa yang berani mengambil ikan bakar, melewati jalur yang tricky dan gelap. Jalan di hari yang terang saja, kami kesulitan. Apalagi jalan di malam hari, hahaha. Saya, Tio dan Pak Edi akhirnya memberanikan diri untuk mengambil pesanan.

Sambil menunggu ikan, beberapa dari kami membuat api unggun. Ada yang istirahat di tenda, ada juga yang ngobrol di teras warung. Sudah 2 jam kami menunggu, tapi belum ada kabar dari tukang ikan bakar. Saya sudah lapar dan khawatir maag kambuh. Roti yang saya bawa dari rumah sudah saya habiskan semenjak kami sampai di lokasi ini. Saya makan biskuit marie…tapi tetap saja lapar.

Selagi kami menunggu, hujan turun dengan deras. Perut sudah merengek minta diisi, tak bisa kompromi lagi. Akhirnya saya pesan mie rebus saja ke warung. Saya pun lahap memakan mie rebus. Rupanya suara saya menyeruput mie rebus dan aroma mie rebus yang khas, ditambah suasana hujan, menggoda beberapa dari kami. Akhirnya warung pun kebanjiran order mie rebus, hahaha. Selesai makan mie rebus, mulut terasa asam. Saya pun pesan bajigur. Lagi-lagi suara saya menyeruput dan aroma bajigur menggoda beberapa dari kami. Akhirnya mereka pun pesan berbagai macam minuman, hahaha.

Selesai makan, saya pun berbaring di teras warung warga. Kami masih menunggu ikan bakar, tapi tak kunjung datang. Kami memutuskan untuk membayar seorang warga untuk mengambil ikan bakar pesanan kami jika sudah siap. Lelah menunggu, kami pun terlelap. Beberapa saat kemudian, datanglah seorang warga membawa ikan bakar pesanan kami. Kami semua bangun, dan segera menyantap ikan bakar dan nasi liwet. Semua makan dengan lahap, tidak ada suara obrolan sedikitpun dari kami. Nampaknya semua sudah kelaparan, hahaha.

Kenyang menyantap ikan bakar dan nasi liwet, kami kembali ke tempat istirahat masing-masing. Kami langsung terlelap, kelelahan setelah berjalan jauh.

***


Minggu, 20 Agustus 2017 Continue Reading

Touring: Pantai Cijeruk (Bagian 1 dari 2)

Sabtu, 19 Agustus 2017


Sempat ragu untuk mengikuti touring menuju pantai Cijeruk, saya akhirnya memantapkan diri untuk ikut. Keraguan saya disebabkan karena…faktor motor. Saya sedang kesengsem sama KTM Duke 250 MY 2017. Sempat melihat secara langsung di dealer KTM Bandung (di Ciateul), dan saya langsung terpana. Desainnya, padatnya, posisi duduknya, spesifikasinya…semuanya sukses mengambil hati saya…tapi tidak ketika melihat harganya, hahaha. Saya pun membayangkan, betapa enaknya touring pake Duke 250….pasti enak deh, tenaga dan torsi besar ditambah bobot yang ringan dan posisi duduk nyaman. Apparently, the dream is over and I have to get back to reality. Sekarang saya cuma punya Yamaha X-Ride yang, walau tidak merasakan pegal sama sekali di badan, tidak bersahabat di bokong untuk perjalanan jauh. Apa boleh buat, saya pakai saja deh, itung-itung menambah mileage motor saya juga.

Rencananya, touring ini diikuti oleh 26 orang. Kami akan camping di pantai Cijeruk, namun saya tidak ingin camping. Saya ingin menginap di penginapan, supaya nyaman, hehe. Rutenya sama seperti ke pantai puncak guha, namun perjalanan dilanjutkan 1 jam ke arah timur. Saya memutuskan untuk jalan duluan, tidak ikut kumpul dulu di kantor. Malas juga, karena saya lebih dekat ke Pangalengan via Banjaran daripada harus ke Gunungbatu dulu. Saya pun menunggu kabar keberangkatan grup dari teman saya, Tio. Pukul 07.30, Tio memberi kabar, grup sudah berangkat. Saya pun bergegas dan menunggu grup di bundaran Pangalengan. Sampai di Bundaran Pangalengan jam 09.00, saya menunggu kabar yang lain. Tiga puluh menit berlalu, tidak ada tanda-tanda grup touring. Saya cek handphone, ternyata grup baru berangkat dari kantor jam 08.00. Wah, gak bakal bener ini sih. Saya kasih tau saja Tio bahwa saya mau lanjut perjalanan pelan-pelan sambil menikmati pemandangan, supaya yang lain bisa menyusul.

Pangalengan itu memang spesial. Saya sangat menikmati suasana Pangalengan; sejuk, segar dan hening. Belum lagi hamparan kebun teh yang luas, ditambah sinar mentari yang cerah memanjakan mata saya untuk terus melihat pemandangan ini. Jalan yang mulus dan tidak dilalui banyak orang semakin membuat saya betah berlama-lama di sini. Saya sempatkan foto-foto sedikit di sini sambil menghirup udara segar yang sudah tidak dapat dirasakan lagi di Bandung.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan

Saya lanjutkan lagi perjalanan, Continue Reading

Touring ke Ciletuh Geopark, Sukabumi (Bagian 2)

Lanjutan dari postingan sebelumnya

Rasanya baru sebentar mata ini terpejam, namun jam sudah menunjukkan pukul 04.30. Dengan tergesa-gesa karena badan masih lelah, saya memaksakan diri untuk keluar menyusuri puncak darma. Tak lupa saya shalat subuh terlebih dahulu.

Beres shalat subuh, saya dan teman-teman berangkat ke puncak darma menggunakan sepeda motor…lokasinya kurang lebih 3 kilometer dari rumah sewa. Hari masih sangat gelap, penerangan sangat minim, jalanan batu-batu saja dan menanjak curam cenderung terjal. Wah, bahaya, nih. Lebih baik saya parkirkan motornya kemudian lanjutkan perjalanan dengan jalan kaki saja. Saya parkir di sebuah warung makan, Saung Mang Ujang namanya. Tanya-tanya tentang puncak darma dan curug di dekat sini…ternyata puncak darma sangat jauh, 2.5 kilometer dari saung ini. Sedangkan puncak terdekat adalah puncak bunga yang kira-kira hanya 600 meter saja. Curug lebih dekat lagi, tapi kami putuskan untuk ke puncak saja dulu, harapannya sih ingin melihat sunrise.

Oh iya, di saung ini juga ada club Vespa jadul sedang berkemah pada bawa tenda. Salut sama club Vespa ini, mereka terlihat kompak dan solid…dan juga berani touring menggunakan Vespa jadul. Respect!

Lanjut perjalanan jalan kaki menyusuri jalan. Jalanannya batuan lepas tajam-tajam dan menanjak terjal, broo…akhirnya kami menemukan puncak bunga, tiket masuknya 3 ribu rupiah. Namun karena kami ke sana masih subuh, penjaganya belum ada, mungkin masih tidur 😀 Langsung saja saya lihat pemandangannya.

Pemandangan dari puncak bunga.

Pemandangan dari puncak bunga.

Kami pun istirahat sejenak sambil foto-foto, menikmati pemandangan…sayang, sunrise tidak terlihat dari sini. setelah itu, kami pun bergegas menuju Curug Continue Reading

Dangerous Trip: Sanghyang Heuleut

(Bagian 3 dari 3: lanjutan dari postingan sebelumnya)

Sesampainya di pintu masuk Sanghyang Heuleut, kami parkirkan motor di dekat pos penjaga. Kami berempat harus membayar 60 ribu rupiah untuk masuk ke obyek wisata ini. Mungkin rincian per orangnya adalah 10 ribu untuk tiket masuk dan 5 ribu rupiah untuk parkir motor. Penjaga pos juga meminta nomor telepon yang bisa dihubungi. Wah, firasat saya nggak enak, mana cuacanya mulai gelap pula. Sebelum mencapai Sanghyang Heuleut, kami harus menyusuri jalan setapak sekitar ±2 kilometer…setelah bayar administrasi, mulailah kami berjalan. Jalannya 100% tanah, sempit (hanya muat dilalui dua orang kalau saling berpaspasan), kiri atau kanan jurang dipenuhi semak belukar. Extreme, cuy.

Lama-lama jalanan cenderung menurun dan semakin curam. Pemandangan semak belukar pun berubah menjadi pemandangan hutan lebat. Hujan pun mulai turun…jalanan yang 100% tanah menjadi very-sangat-licin-sekali-pisan-banget karena diguyur dan dialiri air hujan. Kiri atau kanan jalan langsung jurang. Ada handrail yang terbuat dari potongan kayu di beberapa jalur, tapi handrail tersebut tidak kokoh. Saya pegang malah goyang-goyang, ada pula yang patah…bahkan ada jalan yang membuat kami harus turun tangga layaknya turun dari taraje. Sinyal telepon pun tidak ada sama sekali. Telkomsel si raja sinyal takluk tak berdaya di tempat ini. Beuh…pikiran pun mulai tidak karuan; “Selamat nggak yah sampai di tujuan? Nanti pulang caranya gimana? Terus buat apa dong kita dimintain nomor telepon, sinyal aja nggak ada? Kalau ada apa-apa, menghubungi penjaganya gimana ya? (Poho pisan teu nanyakeun nomor telepon penjaga) (eh tapi euweuh sinyal deng)”

Bahaya death...harus menyusuri jalan begini di tengah hujan sejauh 1 kilometer. Sheer madness!

Bahaya death…harus menyusuri jalan begini di tengah hujan sejauh 1 kilometer. Sheer madness!

Lama-lama terdengar suara kerumunan orang Continue Reading

Mengunjungi Bendungan Saguling, Kabupaten Bandung Barat

(Bagian 2 dari 3: lanjutan dari postingan sebelumnya)

Setelah puas berfoto ria di Stone Garden, kami melanjutkan perjalanan ke Sanghyang Tikoro. Menurut teman saya, lokasi Sanghyang Tikoro itu masuknya dari jalan ke Bendungan Saguling, jadi kami tinggal lanjut saja ke arah Cianjur. Ikuti jalan sampai ada papan penunjuk Bendungan Saguling belok kiri. Sesudah itu jalanan mulai melebar, sepi, sejuk, pepohonan di kanan kiri jalan, aspalnya bagus, menanjak meliuk kiri dan kanan…pokoknya asik banget buat yang suka uphill dan cornering!

img_20170215_111135

img_20170215_111130

Enak banget buat ngebut 🙂

Di tengah perjalanan, kami menemukan tempat wisata Sanghyang Heuleut, tapi karena tujuan kami Sanghyang Tikoro, jadi kami abaikan saja. Selain itu, kami juga menemukan Curug Continue Reading

Berkunjung ke Stone Garden, Kabupaten Bandung Barat

Bagian 1 dari 3

Rabu, 15 Februari tiba-tiba menjadi hari libur nasional berkat Pilkada 2017. Saya dan teman-teman merencanakan untuk “jalan-jalan yang dekat saja,” dan hari ini kami memutuskan untuk berkunjung ke Stone Garden, Gua Pawon, dan Sanghyang Tikoro.


Destinasi pertama adalah Stone Garden yang terletak di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Berangkat jam 06.30 WIB dari Cimahi, kami berkendara menggunakan sepeda motor ke arah Cianjur. Sarapan Lontong Sayur sebentar di dekat gerbang Kota Bali Residence, lalu melanjutkan perjalanan sampai akhirnya ada papan penunjuk “Stone Garden” di sebelah kanan jalan. Jalan pun berubah total yang tadinya jalanan aspal menjadi bebatuan lepas dan lumpur becek. Harus ekstra hati-hati dalam berkendara di sini…saya pun cuma berani ngegas secuil aja, yang penting nggak slip 😀 Sampai di pintu masuk, kami bayar tiket masuk Rp 5.000,- dan parkir motor Rp 3.000,-. Murah!

Parkir motor, lalu kami Continue Reading

Logika orang Indonesia

Sering saya amati, cara berpikir orang Indonesia itu aneh. Lebih percaya sama hati, bukan pikiran.

Kalau ada cerita orang yang kondisinya memprihatinkan lalu melakukan sesuatu yang ajaib, sesuatu yang tidak bisa dibuat dengan mudah oleh orang-orang yang ahli, pasti bakal didukung penuh…meskipun sesuatu itu adalah pada dasarnya merupakan sebuah ketidakmungkinan alias bohong. Kasus Blue Energy, Pembangkit Listrik Tenaga Hampa, dan yang terakhir yang sedang booming dari Bali itu. Walau sudah banyak sanggahannya secara ilmiah, tetap saja tidak percaya bahwa itu bohong. Orang Indonesia lebih mendukung tukang bohong yang kondisinya prihatin daripada orang yang ahli di bidangnya.

Celakanya, pola pikir seperti itu diterapkan juga pada bagian yang paling krusial bagi kemajuan bangsa, yaitu pada pemilu pemimpin, baik dari tingkat lokal sampai nasional. Orang Indonesia lebih mempercayai calon pemimpin yang tampilannya sederhana daripada calon yang ahli di bidangnya. Tidak peduli calon tersebut punya kemampuan yang mumpuni atau tidak, selama dia orang yang sederhana, pakai yang murah-murah, merakyat, tidak mewah dan tidak foya-foya, pasti didukung penuh, karena mereka merasa iba dan prihatin.

Kenapa Anda milih calon A?

Karena dia itu sederhana dan merakyat.

Kenapa Anda milih calon B?

Karena dia janji ngasih uang ke saya kalau milih dia.

Kenapa Anda milih calon C?

Karena dia yang paling saya kenal, yang lainnya saya gak kenal.

Gawat. Sungguh gawat. Kriteria yang paling penting untuk menjadi seorang pemimpin tentu adalah kemampuannya, bukan tampilannya. Bagaimana jadinya kalau Anda lebih suka dipimpin Jenderal yang sederhana tampilannya tapi tidak mahir dalam taktik dan strategi berperang? Habis sudah pasukan Anda. Habis sudah masa depan Anda. Anda pasti kalah!

Saya merasa pesimis dengan nasib bangsa ini, kalau mayoritas orangnya tidak mau berpikir. Sistem pemilihan langsung seperti sekarang sangat tidak cocok diterapkan saat ini, mengingat masyarakatnya tidak berpikir dan tidak mau berpikir.

Apalagi kalau sudah menyentuh ranah agama. Saya lebih takut dengan orang bodoh yang mempelajari agama daripada orang pintar yang tidak mempelajari agama.

Orang Indonesia itu lebih senang dengan hal yang menyentuh hati, walaupun hal tersebut tidak masuk akal. Lebih menyukai fantasi dan keajaiban. Lebih menerima kebohongan yang manis daripada kenyataan yang pahit.

Pantai Puncak Guha

Keinginan saya untuk mengunjungi Pantai Puncak Guha akhirnya terlaksana juga. Kemarin, saya dan Fickry melakukan perjalanan ke Puncak Guha menggunakan sepeda motor. Berangkat jam 9 pagi dari kebon binatang, menuju Banjaran via buah batu, dilanjutkan ke Pangalengan, melewati Situ Cileunca dan maju terus sampai Ranca Buaya. Total perjalanan dari Bandung adalah sejauh 140 km dan memakan waktu 3,5 jam. Kalau perginya weekend mungkin tidak akan secepat ini, hehe.

Bandung-Banjaran

Tahap perjalanan pertama yaitu perjalanan dari Bandung ke Banjaran. Untuk mencapai Banjaran, bisa lewat Buah Batu atau lewat Dayeuh Kolot. Kami lebih memilih lewat Buah Batu, karena diasumsikan kalau lewat sana tidak macet…dan terbukti memang tidak macet, perjalanan lancar.

Banjaran-Pangalengan

Sesampainya di Banjaran, perjalanan masih dilanjutkan dengan mengikuti jalan utama Bandung-Banjaran. Setelah melewati pasar, ada papan penunjuk yang menandakan arah jalan ke Pangalengan. Belok kiri, lalu ikuti terus jalan yang ada. Setelah sekian kilometer dari Banjaran, pemandangan yang sebelumnya dipenuhi oleh rumah warga perlahan berubah menjadi gunung dan pohon-pohon tinggi yang terlihat kering…mungkin karena musim kemarau ya. Jalan juga mulai menanjak…lama-lama ditambah tikungan-tikungan tajam…dan semakin pendek saja tikungannya. Cocok banget nih buat yang suka cornering. Jalannya juga mulus.

Setelah melalui banyak belokan tajam yang menanjak, udara perlahan semakin sejuk, pemandangan juga berubah jadi serba hijau. Wah berarti sudah sampai Pangalengan nih. Masih mengikuti jalan utama, kami sampai pada bundaran lalu belok ke arah Situ Cileunca. Jalanan masih didominasi tanjakan dan belokan…sampai akhirnya terlihat hamparan situ dengan pemandangan indah dan airnya yang hijau. Terlihat beberapa perahu di tengah situ sedang bergerak perlahan…bagus deh pemandangannya. Saya gak sempat foto, karena khawatir takut kemaleman pulangnya.

Lanjut lagi perjalanan, semakin menanjak dan semakin sepi. Pemandangan situ berubah menjadi hamparan kebun teh yang indah sekali. Di sisi lain, terlihat pemandangan gunung yang indah. Saking indahnya, kami akhirnya berhenti, balik putar arah, hanya untuk melihat pemandangan itu. Padahal waktu lewat situ, saya gak mau berhenti soalnya saya khawatir takut kemaleman pulangnya, tapi akhirnya berhenti juga, kapan lagi bisa liat pemandangan begitu, hahaha.

Bagus kan?

Bagus kan?

Perut terasa mual akibat melahap banyak tikungan tajam dan menanjak…tapi perjalanan menuju pantai masih jauh, kira-kira 70 km lagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.53, mungkin sampai di tujuan jam 1-an lah. Lanjut lagi perjalanan..kali ini jalanannya turun dan udaranya mulai panas. Kebun teh sudah tidak menghiasi mata, kini berubah menjadi gunung kering yang sedang dikeruk untuk diambil batu-batunya. Sampai akhirnya kami belok ke arah Ranca Buaya.

Pangalengan-Ranca Buaya

Di sinilah medan jalan mulai extreme. Jalan yang dilalui kini semakin random. Tanjakan belokan turunan…kiri kanan atas bawah, semuanya ada. Dan itu pendek-pendek durasinya, ya jalannya semacam benang kusut, lah. Kalau kata Fickry sih, jalannya ‘banyak yang hilang’ (gak kelihatan di mata, padahal sebenarnya jalannya belok extreme dan/atau turun extreme)…menunjukkan betapa pendek dan extreme-nya medan jalan. Saya yang perutnya sudah mual, harus melahap jalanan begini…haduuh. Beruntung, jalan yang dilalui tidak rusak, mulus banget. Bagi pecinta cornering+uphill/downhill, wajib nyobain rute ini, nih!

Setelah sekitar satu jam melahap jalanan edan, durasi jalanan menjadi lebih panjang, alhamdulillah tidak terlalu banyak variasi. Banyak jalanan lurus dengan belokan ringan..masih ada sih tanjakan dan turunannya tapi gak edan seperti tadi. Jujur saja, perut saya udah gak karuan, mual dan lapar. Kapan nyampe nya ya ini…udara juga semakin panas. Tiba-tiba pemandangan berubah, terlihat hamparan pantai yang indah. Saya pun semangat lagi, tandanya bentar lagi mau sampai, nih!

Tapi, masalah perut memang tidak bisa diajak kompromi. Kami istirahat sebentar di warung nasi, lalu lanjut perjalanan. Ternyata dari warung nasi udah deket, cuma 5 menit lah. Sampai juga di Pantai Puncak Guha!

Pantai Puncak Guha

Bayar tiket masuk Rp 5.000, lalu parkir motor di mana saja semaumu, bebas! Kalau orang pergi ke pantai, biasanya bisa jalan-jalan ke pesisirnya, bermain pasir pantai dan air laut…tapi di Pantai Puncak Guha ini, kami berada di sebuah tebing tinggi…gak ada pasir pantai dan tidak bisa merasakan air laut, cuma bisa liat doang. Pemandangannya indah!

IMG_20150826_134403_1

IMG_20150826_134352_1

IMG_20150826_131242_1

IMG_20150826_131211_1

IMG_20150826_132020_1

IMG_20150826_131518_1

IMG_20150826_131510_1

IMG_20150826_131456_1

IMG_20150826_131443_1

IMG_20150826_131418_1

IMG_20150826_131407_1

IMG_20150826_131339_1

IMG_20150826_131326_1

IMG_20150826_131318_1

Sayangnya, tempat indah begini dirusak oleh orang-orang yang membuang sampah sembarangan. Pihak pengelola yang sudah tua cuma bisa membersihkan sampai di bagian atas saja, kalau yang di bagian tebing memang susah sih aksesnya.

Setelah puas menikmati pemandangan sambil beristirahat, kami pun pulang.

Perjalanan Pulang

Berangkat dari Puncak Guha jam 3 sore, kami pun pulang ke Bandung. Sebenarnya saya masih betah di sana, tapi kalau pulangnya terlalu sore, entah sampai jam berapa di Bandung nanti…jadi apa boleh buat. Melahap lagi jalanan tadi..tapi alhamdulillah perut saya tidak bermasalah lagi, hahaha.

Baru jalan satu jam, perjalanan harus terhenti. Rantai motor saya terlepas. Untung ada Fickry yang bisa bantuin. Hatur nuhun pisan Fick, hehe. Terpotong 45 menit, kami lanjut perjalanan. Sesampainya di Pangalengan, jalan sudah gelap dan berkabut tebal…dingin banget. Kalau ada penginapan di sana pasti enak..minum kopi hangat ditemani cemilan hangat semacam kue pukis, pisang goreng, dll…sluurph. Sayang, di sana tidak ada penginapan.

Perjalanan lebih ramai di malam hari, banyak mobil dan motor yang berlalu lalang. Tapi alhamdulillah tidak macet, saya pun sampai di rumah jam 8 malam.

Pantai Puncak Guha
Rute Perjalanan:
Bandung-->Banjaran-->Pangalengan-->Situ Cileunca-->Ranca Buaya
Tiket masuk: Rp 5.000
Total Perjalanan: 140 km

Curug Sanghyang Taraje

Rabu, 1 April 2015. Hari ini saya dan teman saya, Fickry, merealisasikan wacana Touring yang sudah lama tertunda. Ngajak teman tapi tidak ada yang berminat, akhirnya saya dan Fickry jebred-kan saja Touring kali ini; 2 orang jalan!

Tujuan yang failed: Candi Cangkuang

Tujuan awal adalah Candi Cangkuang. Candi Cangkuang terletak di Garut, lebih tepatnya di Kecamatan Leles.

Berangkat jam 08.00 WIB dari kampus yang banyak kudanya, kami sampai di lokasi jam 09.15 WIB. Rute perjalanan dimulai dari Tamansari–>Cicaheum–>Bunderan Cibiru–>Cileunyi–>Rancaekek–>Candi Cangkuang. Traffic sebelum Cileunyi ramai lancar, setelah Cileunyi kosong blas. Mantaft. Untuk mencapai Candi Cangkuang caranya mudah, tinggal ikuti jalan utama sampai Leles, nanti ada papan tulisan Candi Cangkuang, belok ke kiri. Dari situ jarak ke lokasi sekitar 3 kilometer.

Jalan ke lokasi agak jelek, tapi bisa dilewati dengan mudah. Sesampainya di tempat, parkir motor, terus masuk ke dalam. Bayar tiket masuk Rp 3000 per orang. Pemandangan Situ Cangkuang langsung terlihat. Airnya sedikit kotor, mungkin gara-gara musim hujan, jadi banyak lumpur dan tanahnya.

Situ Cangkuang. Itu ada Pulau, Candi Cangkuang letaknya di sana.

Situ Cangkuang. Terlihat ada pulau, Candi Cangkuang letaknya di sana.

Keunikan tempat wisata ini adalah pengunjung diharuskan menaiki perahu terlebih dahulu untuk melihat Candi Cangkuang. Maklum, Candi terletak di tengah-tengah pulau yang konon bernama Pulau Panjang. Selain itu, di pulau tersebut juga ada kampung adat, dimana terdapat 6 buah rumah adat yang diperuntukan keturunan Embah Dalem yang terdiri dari 6 pria dan 1 wanita. Jumlah rumah tidak boleh ditambahkan dan 6 rumah yang ada tidak boleh terdiri lebih dari 6 kepala keluarga sehingga ketika ada anggota keluarga yang menikah, orang tersebut harus keluar. Oh iya, Candi Cangkuang ini merupakan satu-satunya candi Hindu di Jawa Barat loh. (sumber)

Nah…di sini nih mulai lawak. Tarif naik perahu itu 4 ribu saja per orang, tapi dengan catatan perahu nya bermuatan penuh yaitu 20 orang. Pilihan lainnya, sewa perahu aja tapi bayarnya jadi 80 ribu. Daripada bayar 80 ribu, mending bayar 4 ribu kan? Tapi harus nunggu orang lain yang pengen nyebrang juga. Kami putuskan nunggu aja sambil ngisi perut dulu.

Setelah ditunggu-tunggu…gak ada pengunjung yang datang. Dari pertama kali kami datang, tempat ini memang sepi pengunjung. Kata orang di sana sih tempat ini ramenya hari sabtu dan minggu. Kami malah datang di hari Rabu, jelas sepi lah. FAILED! haha. Waktu masih menunjukkan pukul 10. ‘Masa pulang sih? Kapan lagi Touring, apalagi udah pada lulus dari kampus’. Jadi saya pengen lanjut nih, setidaknya sampai di suatu tempat wisata. ‘Jigana moal aya pengunjung deui ieu mah Fick, tempat lain weh yu‘ (Ini sih kayaknya gak bakal ada pengunjung lagi Fick, ke tempat lain aja yuk).

Teman saya pun setuju dan akhirnya kami putuskan untuk ke curug yang dia bilang yaitu Curug Sanghyang Taraje. Tapi karena kami gak tahu jalan, saya search dulu tuh lokasinya di mana. Tanya mbah Google, dapet deh lokasinya yaitu di Desa Pamulihan.

Candi Cangkuang
Tiket masuk: Rp 3000. Biaya naik perahu: Rp 4000 per orang (harus nunggu 
perahunya penuh (20 orang), kalau nggak mau nunggu sewa perahu sendiri Rp 80000)
Rute perjalanan: Bunderan Cibiru>Cileunyi>Rancaekek>Leles

Perjalanan: Curug Sanghyang Taraje

Kami pun melanjutkan perjalanan. Sempat bingung jalannya ke mana, teman saya nanya-nanya ke warga sekitar. Akhirnya ketemu jalannya yaitu lewat Samarang. Kami lanjutkan lagi sampai akhirnya bingung mau ke mana. Mungkin sudah lelah bertanya terus ke warga sekitar, akhirnya teman saya menggunakan Google Maps saja biar praktis (punten Fick urang hoream euy nanya ka batur hahaha). Ketemu lagi jalannya. Ternyata medan jalannya menantang; jalan bebatuan menanjak curam tanpa aspal. Tanya-tanya orang lagi dan akhirnya sampai di tujuan yaitu Desa Pamulihan. Tapi….

Gak ada curug di sini! Ternyata di Garut ini ada dua daerah yang namanya Desa Pamulihan; satu terletak di Kecamatan Cisurupan, satu lagi terletak di Kecamatan Pakenjeh. Curug yang dituju terletak di Pakenjeh, sedangkan kami ada di Cisurupan. FAILED 2.0!

Untung ada warga lokal yang tau keberadaan curug tersebut, sehingga kami diberitahu arah jalannya. Kami pun melanjutkan perjalanan. Medan jalan memburuk; ukuran dan letak batu semakin tidak beraturan, si kuda besi pun Continue Reading