Touring ke Ciletuh Geopark, Sukabumi (Bagian 2)

Lanjutan dari postingan sebelumnya

Rasanya baru sebentar mata ini terpejam, namun jam sudah menunjukkan pukul 04.30. Dengan tergesa-gesa karena badan masih lelah, saya memaksakan diri untuk keluar menyusuri puncak darma. Tak lupa saya shalat subuh terlebih dahulu.

Beres shalat subuh, saya dan teman-teman berangkat ke puncak darma menggunakan sepeda motor…lokasinya kurang lebih 3 kilometer dari rumah sewa. Hari masih sangat gelap, penerangan sangat minim, jalanan batu-batu saja dan menanjak curam cenderung terjal. Wah, bahaya, nih. Lebih baik saya parkirkan motornya kemudian lanjutkan perjalanan dengan jalan kaki saja. Saya parkir di sebuah warung makan, Saung Mang Ujang namanya. Tanya-tanya tentang puncak darma dan curug di dekat sini…ternyata puncak darma sangat jauh, 2.5 kilometer dari saung ini. Sedangkan puncak terdekat adalah puncak bunga yang kira-kira hanya 600 meter saja. Curug lebih dekat lagi, tapi kami putuskan untuk ke puncak saja dulu, harapannya sih ingin melihat sunrise.

Oh iya, di saung ini juga ada club Vespa jadul sedang berkemah pada bawa tenda. Salut sama club Vespa ini, mereka terlihat kompak dan solid…dan juga berani touring menggunakan Vespa jadul. Respect!

Lanjut perjalanan jalan kaki menyusuri jalan. Jalanannya batuan lepas tajam-tajam dan menanjak terjal, broo…akhirnya kami menemukan puncak bunga, tiket masuknya 3 ribu rupiah. Namun karena kami ke sana masih subuh, penjaganya belum ada, mungkin masih tidur 😀 Langsung saja saya lihat pemandangannya.

Pemandangan dari puncak bunga.

Pemandangan dari puncak bunga.

Kami pun istirahat sejenak sambil foto-foto, menikmati pemandangan…sayang, sunrise tidak terlihat dari sini. setelah itu, kami pun bergegas menuju Curug Continue Reading

Dangerous Trip: Sanghyang Heuleut

(Bagian 3 dari 3: lanjutan dari postingan sebelumnya)

Sesampainya di pintu masuk Sanghyang Heuleut, kami parkirkan motor di dekat pos penjaga. Kami berempat harus membayar 60 ribu rupiah untuk masuk ke obyek wisata ini. Mungkin rincian per orangnya adalah 10 ribu untuk tiket masuk dan 5 ribu rupiah untuk parkir motor. Penjaga pos juga meminta nomor telepon yang bisa dihubungi. Wah, firasat saya nggak enak, mana cuacanya mulai gelap pula. Sebelum mencapai Sanghyang Heuleut, kami harus menyusuri jalan setapak sekitar ±2 kilometer…setelah bayar administrasi, mulailah kami berjalan. Jalannya 100% tanah, sempit (hanya muat dilalui dua orang kalau saling berpaspasan), kiri atau kanan jurang dipenuhi semak belukar. Extreme, cuy.

Lama-lama jalanan cenderung menurun dan semakin curam. Pemandangan semak belukar pun berubah menjadi pemandangan hutan lebat. Hujan pun mulai turun…jalanan yang 100% tanah menjadi very-sangat-licin-sekali-pisan-banget karena diguyur dan dialiri air hujan. Kiri atau kanan jalan langsung jurang. Ada handrail yang terbuat dari potongan kayu di beberapa jalur, tapi handrail tersebut tidak kokoh. Saya pegang malah goyang-goyang, ada pula yang patah…bahkan ada jalan yang membuat kami harus turun tangga layaknya turun dari taraje. Sinyal telepon pun tidak ada sama sekali. Telkomsel si raja sinyal takluk tak berdaya di tempat ini. Beuh…pikiran pun mulai tidak karuan; “Selamat nggak yah sampai di tujuan? Nanti pulang caranya gimana? Terus buat apa dong kita dimintain nomor telepon, sinyal aja nggak ada? Kalau ada apa-apa, menghubungi penjaganya gimana ya? (Poho pisan teu nanyakeun nomor telepon penjaga) (eh tapi euweuh sinyal deng)”

Bahaya death...harus menyusuri jalan begini di tengah hujan sejauh 1 kilometer. Sheer madness!

Bahaya death…harus menyusuri jalan begini di tengah hujan sejauh 1 kilometer. Sheer madness!

Lama-lama terdengar suara kerumunan orang Continue Reading

Mengunjungi Bendungan Saguling, Kabupaten Bandung Barat

(Bagian 2 dari 3: lanjutan dari postingan sebelumnya)

Setelah puas berfoto ria di Stone Garden, kami melanjutkan perjalanan ke Sanghyang Tikoro. Menurut teman saya, lokasi Sanghyang Tikoro itu masuknya dari jalan ke Bendungan Saguling, jadi kami tinggal lanjut saja ke arah Cianjur. Ikuti jalan sampai ada papan penunjuk Bendungan Saguling belok kiri. Sesudah itu jalanan mulai melebar, sepi, sejuk, pepohonan di kanan kiri jalan, aspalnya bagus, menanjak meliuk kiri dan kanan…pokoknya asik banget buat yang suka uphill dan cornering!

img_20170215_111135

img_20170215_111130

Enak banget buat ngebut 🙂

Di tengah perjalanan, kami menemukan tempat wisata Sanghyang Heuleut, tapi karena tujuan kami Sanghyang Tikoro, jadi kami abaikan saja. Selain itu, kami juga menemukan Curug Continue Reading

Berkunjung ke Stone Garden, Kabupaten Bandung Barat

Bagian 1 dari 3

Rabu, 15 Februari tiba-tiba menjadi hari libur nasional berkat Pilkada 2017. Saya dan teman-teman merencanakan untuk “jalan-jalan yang dekat saja,” dan hari ini kami memutuskan untuk berkunjung ke Stone Garden, Gua Pawon, dan Sanghyang Tikoro.


Destinasi pertama adalah Stone Garden yang terletak di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Berangkat jam 06.30 WIB dari Cimahi, kami berkendara menggunakan sepeda motor ke arah Cianjur. Sarapan Lontong Sayur sebentar di dekat gerbang Kota Bali Residence, lalu melanjutkan perjalanan sampai akhirnya ada papan penunjuk “Stone Garden” di sebelah kanan jalan. Jalan pun berubah total yang tadinya jalanan aspal menjadi bebatuan lepas dan lumpur becek. Harus ekstra hati-hati dalam berkendara di sini…saya pun cuma berani ngegas secuil aja, yang penting nggak slip 😀 Sampai di pintu masuk, kami bayar tiket masuk Rp 5.000,- dan parkir motor Rp 3.000,-. Murah!

Parkir motor, lalu kami Continue Reading

Logika orang Indonesia

Sering saya amati, cara berpikir orang Indonesia itu aneh. Lebih percaya sama hati, bukan pikiran.

Kalau ada cerita orang yang kondisinya memprihatinkan lalu melakukan sesuatu yang ajaib, sesuatu yang tidak bisa dibuat dengan mudah oleh orang-orang yang ahli, pasti bakal didukung penuh…meskipun sesuatu itu adalah pada dasarnya merupakan sebuah ketidakmungkinan alias bohong. Kasus Blue Energy, Pembangkit Listrik Tenaga Hampa, dan yang terakhir yang sedang booming dari Bali itu. Walau sudah banyak sanggahannya secara ilmiah, tetap saja tidak percaya bahwa itu bohong. Orang Indonesia lebih mendukung tukang bohong yang kondisinya prihatin daripada orang yang ahli di bidangnya.

Celakanya, pola pikir seperti itu diterapkan juga pada bagian yang paling krusial bagi kemajuan bangsa, yaitu pada pemilu pemimpin, baik dari tingkat lokal sampai nasional. Orang Indonesia lebih mempercayai calon pemimpin yang tampilannya sederhana daripada calon yang ahli di bidangnya. Tidak peduli calon tersebut punya kemampuan yang mumpuni atau tidak, selama dia orang yang sederhana, pakai yang murah-murah, merakyat, tidak mewah dan tidak foya-foya, pasti didukung penuh, karena mereka merasa iba dan prihatin.

Kenapa Anda milih calon A?

Karena dia itu sederhana dan merakyat.

Kenapa Anda milih calon B?

Karena dia janji ngasih uang ke saya kalau milih dia.

Kenapa Anda milih calon C?

Karena dia yang paling saya kenal, yang lainnya saya gak kenal.

Gawat. Sungguh gawat. Kriteria yang paling penting untuk menjadi seorang pemimpin tentu adalah kemampuannya, bukan tampilannya. Bagaimana jadinya kalau Anda lebih suka dipimpin Jenderal yang sederhana tampilannya tapi tidak mahir dalam taktik dan strategi berperang? Habis sudah pasukan Anda. Habis sudah masa depan Anda. Anda pasti kalah!

Saya merasa pesimis dengan nasib bangsa ini, kalau mayoritas orangnya tidak mau berpikir. Sistem pemilihan langsung seperti sekarang sangat tidak cocok diterapkan saat ini, mengingat masyarakatnya tidak berpikir dan tidak mau berpikir.

Apalagi kalau sudah menyentuh ranah agama. Saya lebih takut dengan orang bodoh yang mempelajari agama daripada orang pintar yang tidak mempelajari agama.

Orang Indonesia itu lebih senang dengan hal yang menyentuh hati, walaupun hal tersebut tidak masuk akal. Lebih menyukai fantasi dan keajaiban. Lebih menerima kebohongan yang manis daripada kenyataan yang pahit.

Pantai Puncak Guha

Keinginan saya untuk mengunjungi Pantai Puncak Guha akhirnya terlaksana juga. Kemarin, saya dan Fickry melakukan perjalanan ke Puncak Guha menggunakan sepeda motor. Berangkat jam 9 pagi dari kebon binatang, menuju Banjaran via buah batu, dilanjutkan ke Pangalengan, melewati Situ Cileunca dan maju terus sampai Ranca Buaya. Total perjalanan dari Bandung adalah sejauh 140 km dan memakan waktu 3,5 jam. Kalau perginya weekend mungkin tidak akan secepat ini, hehe.

Bandung-Banjaran

Tahap perjalanan pertama yaitu perjalanan dari Bandung ke Banjaran. Untuk mencapai Banjaran, bisa lewat Buah Batu atau lewat Dayeuh Kolot. Kami lebih memilih lewat Buah Batu, karena diasumsikan kalau lewat sana tidak macet…dan terbukti memang tidak macet, perjalanan lancar.

Banjaran-Pangalengan

Sesampainya di Banjaran, perjalanan masih dilanjutkan dengan mengikuti jalan utama Bandung-Banjaran. Setelah melewati pasar, ada papan penunjuk yang menandakan arah jalan ke Pangalengan. Belok kiri, lalu ikuti terus jalan yang ada. Setelah sekian kilometer dari Banjaran, pemandangan yang sebelumnya dipenuhi oleh rumah warga perlahan berubah menjadi gunung dan pohon-pohon tinggi yang terlihat kering…mungkin karena musim kemarau ya. Jalan juga mulai menanjak…lama-lama ditambah tikungan-tikungan tajam…dan semakin pendek saja tikungannya. Cocok banget nih buat yang suka cornering. Jalannya juga mulus.

Setelah melalui banyak belokan tajam yang menanjak, udara perlahan semakin sejuk, pemandangan juga berubah jadi serba hijau. Wah berarti sudah sampai Pangalengan nih. Masih mengikuti jalan utama, kami sampai pada bundaran lalu belok ke arah Situ Cileunca. Jalanan masih didominasi tanjakan dan belokan…sampai akhirnya terlihat hamparan situ dengan pemandangan indah dan airnya yang hijau. Terlihat beberapa perahu di tengah situ sedang bergerak perlahan…bagus deh pemandangannya. Saya gak sempat foto, karena khawatir takut kemaleman pulangnya.

Lanjut lagi perjalanan, semakin menanjak dan semakin sepi. Pemandangan situ berubah menjadi hamparan kebun teh yang indah sekali. Di sisi lain, terlihat pemandangan gunung yang indah. Saking indahnya, kami akhirnya berhenti, balik putar arah, hanya untuk melihat pemandangan itu. Padahal waktu lewat situ, saya gak mau berhenti soalnya saya khawatir takut kemaleman pulangnya, tapi akhirnya berhenti juga, kapan lagi bisa liat pemandangan begitu, hahaha.

Bagus kan?

Bagus kan?

Perut terasa mual akibat melahap banyak tikungan tajam dan menanjak…tapi perjalanan menuju pantai masih jauh, kira-kira 70 km lagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.53, mungkin sampai di tujuan jam 1-an lah. Lanjut lagi perjalanan..kali ini jalanannya turun dan udaranya mulai panas. Kebun teh sudah tidak menghiasi mata, kini berubah menjadi gunung kering yang sedang dikeruk untuk diambil batu-batunya. Sampai akhirnya kami belok ke arah Ranca Buaya.

Pangalengan-Ranca Buaya

Di sinilah medan jalan mulai extreme. Jalan yang dilalui kini semakin random. Tanjakan belokan turunan…kiri kanan atas bawah, semuanya ada. Dan itu pendek-pendek durasinya, ya jalannya semacam benang kusut, lah. Kalau kata Fickry sih, jalannya ‘banyak yang hilang’ (gak kelihatan di mata, padahal sebenarnya jalannya belok extreme dan/atau turun extreme)…menunjukkan betapa pendek dan extreme-nya medan jalan. Saya yang perutnya sudah mual, harus melahap jalanan begini…haduuh. Beruntung, jalan yang dilalui tidak rusak, mulus banget. Bagi pecinta cornering+uphill/downhill, wajib nyobain rute ini, nih!

Setelah sekitar satu jam melahap jalanan edan, durasi jalanan menjadi lebih panjang, alhamdulillah tidak terlalu banyak variasi. Banyak jalanan lurus dengan belokan ringan..masih ada sih tanjakan dan turunannya tapi gak edan seperti tadi. Jujur saja, perut saya udah gak karuan, mual dan lapar. Kapan nyampe nya ya ini…udara juga semakin panas. Tiba-tiba pemandangan berubah, terlihat hamparan pantai yang indah. Saya pun semangat lagi, tandanya bentar lagi mau sampai, nih!

Tapi, masalah perut memang tidak bisa diajak kompromi. Kami istirahat sebentar di warung nasi, lalu lanjut perjalanan. Ternyata dari warung nasi udah deket, cuma 5 menit lah. Sampai juga di Pantai Puncak Guha!

Pantai Puncak Guha

Bayar tiket masuk Rp 5.000, lalu parkir motor di mana saja semaumu, bebas! Kalau orang pergi ke pantai, biasanya bisa jalan-jalan ke pesisirnya, bermain pasir pantai dan air laut…tapi di Pantai Puncak Guha ini, kami berada di sebuah tebing tinggi…gak ada pasir pantai dan tidak bisa merasakan air laut, cuma bisa liat doang. Pemandangannya indah!

IMG_20150826_134403_1

IMG_20150826_134352_1

IMG_20150826_131242_1

IMG_20150826_131211_1

IMG_20150826_132020_1

IMG_20150826_131518_1

IMG_20150826_131510_1

IMG_20150826_131456_1

IMG_20150826_131443_1

IMG_20150826_131418_1

IMG_20150826_131407_1

IMG_20150826_131339_1

IMG_20150826_131326_1

IMG_20150826_131318_1

Sayangnya, tempat indah begini dirusak oleh orang-orang yang membuang sampah sembarangan. Pihak pengelola yang sudah tua cuma bisa membersihkan sampai di bagian atas saja, kalau yang di bagian tebing memang susah sih aksesnya.

Setelah puas menikmati pemandangan sambil beristirahat, kami pun pulang.

Perjalanan Pulang

Berangkat dari Puncak Guha jam 3 sore, kami pun pulang ke Bandung. Sebenarnya saya masih betah di sana, tapi kalau pulangnya terlalu sore, entah sampai jam berapa di Bandung nanti…jadi apa boleh buat. Melahap lagi jalanan tadi..tapi alhamdulillah perut saya tidak bermasalah lagi, hahaha.

Baru jalan satu jam, perjalanan harus terhenti. Rantai motor saya terlepas. Untung ada Fickry yang bisa bantuin. Hatur nuhun pisan Fick, hehe. Terpotong 45 menit, kami lanjut perjalanan. Sesampainya di Pangalengan, jalan sudah gelap dan berkabut tebal…dingin banget. Kalau ada penginapan di sana pasti enak..minum kopi hangat ditemani cemilan hangat semacam kue pukis, pisang goreng, dll…sluurph. Sayang, di sana tidak ada penginapan.

Perjalanan lebih ramai di malam hari, banyak mobil dan motor yang berlalu lalang. Tapi alhamdulillah tidak macet, saya pun sampai di rumah jam 8 malam.

Pantai Puncak Guha
Rute Perjalanan:
Bandung-->Banjaran-->Pangalengan-->Situ Cileunca-->Ranca Buaya
Tiket masuk: Rp 5.000
Total Perjalanan: 140 km

Curug Sanghyang Taraje

Rabu, 1 April 2015. Hari ini saya dan teman saya, Fickry, merealisasikan wacana Touring yang sudah lama tertunda. Ngajak teman tapi tidak ada yang berminat, akhirnya saya dan Fickry jebred-kan saja Touring kali ini; 2 orang jalan!

Tujuan yang failed: Candi Cangkuang

Tujuan awal adalah Candi Cangkuang. Candi Cangkuang terletak di Garut, lebih tepatnya di Kecamatan Leles.

Berangkat jam 08.00 WIB dari kampus yang banyak kudanya, kami sampai di lokasi jam 09.15 WIB. Rute perjalanan dimulai dari Tamansari–>Cicaheum–>Bunderan Cibiru–>Cileunyi–>Rancaekek–>Candi Cangkuang. Traffic sebelum Cileunyi ramai lancar, setelah Cileunyi kosong blas. Mantaft. Untuk mencapai Candi Cangkuang caranya mudah, tinggal ikuti jalan utama sampai Leles, nanti ada papan tulisan Candi Cangkuang, belok ke kiri. Dari situ jarak ke lokasi sekitar 3 kilometer.

Jalan ke lokasi agak jelek, tapi bisa dilewati dengan mudah. Sesampainya di tempat, parkir motor, terus masuk ke dalam. Bayar tiket masuk Rp 3000 per orang. Pemandangan Situ Cangkuang langsung terlihat. Airnya sedikit kotor, mungkin gara-gara musim hujan, jadi banyak lumpur dan tanahnya.

Situ Cangkuang. Itu ada Pulau, Candi Cangkuang letaknya di sana.

Situ Cangkuang. Terlihat ada pulau, Candi Cangkuang letaknya di sana.

Keunikan tempat wisata ini adalah pengunjung diharuskan menaiki perahu terlebih dahulu untuk melihat Candi Cangkuang. Maklum, Candi terletak di tengah-tengah pulau yang konon bernama Pulau Panjang. Selain itu, di pulau tersebut juga ada kampung adat, dimana terdapat 6 buah rumah adat yang diperuntukan keturunan Embah Dalem yang terdiri dari 6 pria dan 1 wanita. Jumlah rumah tidak boleh ditambahkan dan 6 rumah yang ada tidak boleh terdiri lebih dari 6 kepala keluarga sehingga ketika ada anggota keluarga yang menikah, orang tersebut harus keluar. Oh iya, Candi Cangkuang ini merupakan satu-satunya candi Hindu di Jawa Barat loh. (sumber)

Nah…di sini nih mulai lawak. Tarif naik perahu itu 4 ribu saja per orang, tapi dengan catatan perahu nya bermuatan penuh yaitu 20 orang. Pilihan lainnya, sewa perahu aja tapi bayarnya jadi 80 ribu. Daripada bayar 80 ribu, mending bayar 4 ribu kan? Tapi harus nunggu orang lain yang pengen nyebrang juga. Kami putuskan nunggu aja sambil ngisi perut dulu.

Setelah ditunggu-tunggu…gak ada pengunjung yang datang. Dari pertama kali kami datang, tempat ini memang sepi pengunjung. Kata orang di sana sih tempat ini ramenya hari sabtu dan minggu. Kami malah datang di hari Rabu, jelas sepi lah. FAILED! haha. Waktu masih menunjukkan pukul 10. ‘Masa pulang sih? Kapan lagi Touring, apalagi udah pada lulus dari kampus’. Jadi saya pengen lanjut nih, setidaknya sampai di suatu tempat wisata. ‘Jigana moal aya pengunjung deui ieu mah Fick, tempat lain weh yu‘ (Ini sih kayaknya gak bakal ada pengunjung lagi Fick, ke tempat lain aja yuk).

Teman saya pun setuju dan akhirnya kami putuskan untuk ke curug yang dia bilang yaitu Curug Sanghyang Taraje. Tapi karena kami gak tahu jalan, saya search dulu tuh lokasinya di mana. Tanya mbah Google, dapet deh lokasinya yaitu di Desa Pamulihan.

Candi Cangkuang
Tiket masuk: Rp 3000. Biaya naik perahu: Rp 4000 per orang (harus nunggu 
perahunya penuh (20 orang), kalau nggak mau nunggu sewa perahu sendiri Rp 80000)
Rute perjalanan: Bunderan Cibiru>Cileunyi>Rancaekek>Leles

Perjalanan: Curug Sanghyang Taraje

Kami pun melanjutkan perjalanan. Sempat bingung jalannya ke mana, teman saya nanya-nanya ke warga sekitar. Akhirnya ketemu jalannya yaitu lewat Samarang. Kami lanjutkan lagi sampai akhirnya bingung mau ke mana. Mungkin sudah lelah bertanya terus ke warga sekitar, akhirnya teman saya menggunakan Google Maps saja biar praktis (punten Fick urang hoream euy nanya ka batur hahaha). Ketemu lagi jalannya. Ternyata medan jalannya menantang; jalan bebatuan menanjak curam tanpa aspal. Tanya-tanya orang lagi dan akhirnya sampai di tujuan yaitu Desa Pamulihan. Tapi….

Gak ada curug di sini! Ternyata di Garut ini ada dua daerah yang namanya Desa Pamulihan; satu terletak di Kecamatan Cisurupan, satu lagi terletak di Kecamatan Pakenjeh. Curug yang dituju terletak di Pakenjeh, sedangkan kami ada di Cisurupan. FAILED 2.0!

Untung ada warga lokal yang tau keberadaan curug tersebut, sehingga kami diberitahu arah jalannya. Kami pun melanjutkan perjalanan. Medan jalan memburuk; ukuran dan letak batu semakin tidak beraturan, si kuda besi pun Continue Reading

Tentang Proton dan Mobil Nasional

Beberapa hari yang lalu saya membaca artikel berita yang berjudul “Jokowi Tunjuk Proton Kembangkan Mobnas Indonesia.” Padahal, kemarin-kemarin sedang panas-panasnya berita tentang iklan alat penyedot debu kontroversial dari Malaysia yang bernada merendahkan Indonesia (‘Fire your Indonesian maid now!‘).

Perasaan saya campur aduk, antara marah, kecewa, dan geregetan. Di saat KPK sedang berseteru dengan POLRI, Pak Presiden belum memutuskan solusinya bagaimana…eh ditinggal ke Malaysia. Awalnya saya pikir Pak Presiden mau membahas tentang iklan kontroversial itu, eh ternyata malah tandatangan kerjasama mobnas. Kirain sama perusahaan bonafide, eh ternyata malah sama PROTON, yang produknya gak laku di sini, bahkan di negeri asalnya sendiri pun gak laku.

Kenapa PROTON?

Presiden Jokowi dan Chairman Proton Mahathir Mohammad saat berkunjung di pabrik Proton seperti foto yang dimuat di Bernama.com. (sumber: kompas.com)

Presiden Jokowi dan Chairman Proton Mahathir Mohammad saat berkunjung di pabrik Proton seperti foto yang dimuat di Bernama.com. (sumber: kompas.com)

Ini pertanyaan yang paling pertama terlintas di pikiran saya. Kenapa memilih PROTON sebagai pengembang mobil nasional? Saya pikir ada banyak perusahaan yang lebih kompeten daripada PROTON dalam hal kemampuan dan pengalaman memproduksi mobil. Terlebih lagi, Indonesia kan sudah ada ASTRA yang bekerjasama dengan Toyota dan Daihatsu, kenapa gak kerjasama aja sama mereka? Produknya juga sudah teruji laris di pasaran, seperti Avanza/Xenia dan Kijang series.

Ini kok malah kerjasama dengan PROTON? Sepengamatan saya liat di jalanan, mobil PROTON banyaknya cuma jadi mobil taxi. Mobil pribadi yang bermerk PROTON memang pernah saya lihat, tapi cuma sekali, sangat jarang berkeliaran di jalanan.

Selain itu, PROTON kan berasal dari Malaysia. Sedangkan beberapa hari sebelumnya sedang ramai kontroversi iklan penyedot debu kontroversial. Bangsa kita direndahkan, kok beberapa hari setelahnya malah kerjasama dengan Malaysia? Kesannya kan Indonesia seperti negara yang lemah, tidak punya harga diri, sudah diinjak-injak masih saja mau bekerja sama dengan Malaysia.

Tidak Jelas dan Terkesan Bermuatan Politis

Kerjasama PROTON untuk mengembangkan mobnas juga terkesan aneh. Proton Holdings Bhd menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan PT Adiperkasa Citra Lestari (Adiperkasa) untuk membantu Indonesia belajar membangun, mengembangkan, dan memproduksi mobil nasional (mobnas). Nah, di sinilah keanehannya.

PT Adiperkasa Citra Lestari itu merupakan perusahaan milik mantan kepala Badan Intelijen Negara (BIN) A.M. Hendropriyono. Menurut Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia), nama perusahaan tersebut tidak pernah terdengar sebelumnya. Bahkan para anggota Gaikindo pun saling bertanya, karena memang tidak ada yang tahu tentang perusahaan tersebut. Mereka juga tidak tahu bahwa AM Hendropriyono memiliki perusahaan otomotif.

Selain itu, PT Adiperkasa juga tidak jelas. Menurut database Sistem Administrasi Badan Hukum (Sisminbakum) Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum Kemenkumham, hanya ada satu perusahaan bernama Adiperkasa Citra Lestari. Perusahaan tersebut terletak di Komplek Rukan Tendean Square 26, Jl. Woltermonginsidi 122 – 124 Jakarta Selatan, tapi sudah berubah menjadi Kantor Notaris Muhammad Hanafi. (sumber)

Ruko di Kompleks Rukan Tendean Square, Jakarta Selatan, yang disebut di data Sisminbakum sebagai kantor PT Adiperkasa Citra Lestari, perusahaan A.M. Hendropriyono. Foto: Frederik Tarigan/Pawa Pos (sumber: jpnn.com)

Aneh kan, perusahaan yang menangani proyek berskala nasional kok tidak jelas begitu. Saya juga sudah berusaha mencari di Google, tapi website resmi perusahaan tersebut tidak saya temukan. Bagaimana mau mencari alamat perusahaan kalau website resminya saja tidak ada.

Walaupun proton di mata saya bukan perusahaan top dalam hal industri otomotif, tapi setidaknya proton sudah mampu memproduksi mobil sendiri dan merupakan perusahaan yang jelas. Tapi kok perusahaan sekelas Proton mau kerjasama dan menandatangani dengan perusahaan tidak jelas seperti PT Adiperkasa?

Bukan Untuk Mobnas (???)

Menurut menteri perindustrian, Pak Saleh Husin, kerja sama dengan Proton bukanlah untuk Mobil Nasional. Katanya, itu hanya sekedar kesepakatan antara private to private (B to B) saja, jadi bukan keputusan pemerintah. Benarkah? Lihat foto di bawah ini:

Terlihat jelas kan tulisan ‘INDONESIA NATIONAL CAR’ ? (Sumber: detik.com)

Ini dari website Proton sendiri: (sumbernya)

PROTON Holdings Berhad (“PROTON”) today announced the signing of a Memorandum of Understanding (MoU) with PT. Adiperkasa Citra Lestari (“PT ACL”) to establish cooperation ties between Malaysia and Indonesia (“Parties”) in relation to the development and manufacturing of Indonesia National Car.

Siapa yang tidak bingung dan curiga mendengar pernyataan pak menteri bertolak belakang dengan foto dan isi website Proton tersebut? Katanya B to B saja, tapi kok sampai dihadiri Presiden dan Perdana Menteri segala? Proton sendiri sudah menyebutkan mau mengembangkan dan memproduksi mobil nasional Indonesia kok.

Sejauh ini, terdapat beberapa poin:

  • Pak Presiden Jokowi
  • Proton (Chairman Proton: Mahathir Mohammad, mantan Perdana Menteri Malaysia)
  • PT Adiperkasa Citra Lestari (Pemilik: A.M. Hendropriyono, mantan kepala BIN)

Dari ketiga poin tersebut, dicari hubungan antara ketiganya, dan hasilnya adalah…

Jokowi, A.M. Hendropriyono dan Mahathir Mohammad

Bagi yang belum tau, A.M. Hendropriyono merupakan tim sukses presiden Jokowi pada pilpres 2014 silam. Pak Hendropriyono juga merupakan Kepala Badan Intelijen Negara semasa pemerintahan presiden Megawati, yang diangkat pada tanggal 9 Agustus 2001. Sebagai mantan Kepala BIN, tentunya pak Hendropriyono sudah paham betul tentang pergerakan di balik layar. (sumber)

Lalu bagaimana dengan Mahathir Mohammad? Mahathir Mohammad adalah seorang mantan Perdana Menteri Malaysia yang katanya merupakan sahabat lama dari Megawati Soekarnoputri. Saya sempat menemukan foto antara Megawati, Mahathir Mohammad dan Jokowi:

Megawati, Mahathir Mohammad, dan Jokowi. Sumber: tempo.co

Megawati, Mahathir Mohammad, dan Jokowi. Sumber: tempo.co

Foto tersebut saya peroleh dari website Tempo (http://pemilu.tempo.co/read/news/2014/04/15/269570748/Mahathir-Mohammad-Doakan-Jokowi-Sukses). Menurut sumber, foto tersebut diambil setelah dilakukan pertemuan tertutup antara dirinya dengan Megawati dan Jokowi pada 14 April 2014 silam. Mahathir juga mendoakan agar Jokowi sukses menjadi presiden Indonesia. Bahkan, menurut jpnn.com (http://www.jpnn.com/read/2014/05/02/232063/Sebut-Warga-Malaysia-Heran-Mahathir-Dukung-Jokowi-), Mahathir mendukung Jokowi. Padahal, menurut tokoh oposisi Malaysia Anwar Ibrahim, Mahathir dikenal sebagai antidemokrasi namun tiba-tiba mendukung Jokowi yang dianggap sebagai simbol demokrasi. Apa yang sebenarnya terjadi pada pertemuan tertutup antara Mahathir dengan Megawati?

Nah…dari beberapa artikel yang saya temukan tersebut, muncul hubungan-hubungan antara Megawati, A.M. Hendropriyono, Jokowi, dan Mahathir Mohammad:

  • A.M. Hendropriyono: Kepala BIN pada zaman pemerintahan Megawati, tim sukses Jokowi
  • Mahathir Mohammad: Sahabat lama Megawati, mendukung Jokowi pada pilpres lalu
  • Jokowi: Presiden Indonesia yang juga merupakan petugas partai PDIP. Berarti Jokowi merupakan petugasnya Megawati yang notabene merupakan Ketua Umum PDIP

Jadi….

Silakan disimpulkan :D

Silakan disimpulkan 😀

…semua mengarah kepada Megawati. Kesimpulannya? Silakan disimpulkan sendiri 😀

Sekian opini dari saya. Mohon maaf apabila ada kata yang tidak berkenan.

Setelah hampir 3 tahun mati…akhirnya hidup kembali!

UPDATE: Alamat Don’t Blame Your Ears sepertinya udah pindah ke BEC Extension Lantai 2 no. Y05. (Sumber: website dbe)

Tentunya bukan makhluk hidup yang saya maksud pada judul di atas, hehe…setelah hampir 3 tahun lamanya, headphone saya akhirnya berfungsi kembali!

Headphone ini saya pakai untuk memutar musik-musik favorit di music player Sony WALKMAN seri S616F. Sebenarnya, pake headphone biasa di walkman ini tuh udah oke banget. Dengan teknologi andalan CLEAR Bass, Clear Stereo, dan Dynamic Sound Enhancement Engine, bassnya kerasa banget, suaranya juga jernih. Menurut saya, kalau dibandingin dengan iPod Nano, yang dulu harganya gak beda jauh sama ini (kalau sekarang harga iPod Nano udah menggila haha), untuk urusan suara iPod Nano kalah agak jauh lah sama walkman. Kalau diibaratkan sepakbola, skornya walkman 4-1 iPod…hahaha. Tapi memang dasar manusia, udah dikasih enak tetep aja masih gak puas. Saya pengen denger yang lebih mantep lagi, kalau bisa sampai ada sensasi bergetar di telinga saya hahaha. Jadilah saya beli headphone mewah dengan harga rendah. Dapetnya ya ini, Sennheiser HD202.

Sennheiser HD 202 with Sony WALKMAN NWZ-S616F

Sennheiser HD 202 with Sony WALKMAN NWZ-S616F

Saya beli headphone ini tahun 2010. Saya masih inget belinya jaman saya masih SMA sebelum masuk kuliah di toko Sony, Ciwalk. Ditebus dengan harga 300ribu…sekarang mungkin udah 400 ribuan. Terakhir kali ke Ciwalk, tokonya udah gak ada, hahaha.

Setelah saya beli, langsung aja saya burn di komputer seharian. Keesokan harinya saya setel musik di walkman pake si HD202 ini dan ternyata…manTAFT banget coooyyy!! Untuk low frequency, di sinilah kemampuan paling mantep dari HD202…bassnya nendang banget. Ditambah CLEAR Bass dari walkman, suara bass makin nendang..sampai ada sensasi bergetar, hahaha. Tercapailah tujuan saya beli headphone ini. Selain itu, untuk high freq HD202 juga oke kok, detail-detail dari suara gitar dan alat musik lainnya terdengar dengan jelas. Untuk mid freq seperti suara vokal memang sedikit (dikit banget) tertutup oleh bass, namun hal tersebut bisa diatasi berkat si mungil Sony Walkman. Jadilah duet maut Sennheiser HD202 dan Sony Walkman S616F yang memanjakan telinga setiap kali saya mendengarnya, hehe.

Dua tahun setelah saya beli headphone itu, suatu hari si HD202 ini mengalami masalah. Suaranya cuma muncul sebelah. Saya bingung waktu itu, apakah headphone ini bisa dibenerin, kalau bisa, dimana? Mahal gak? (garansinya udah habis haha) Atau beli baru aja sekalian nyobain merk lain? Semua opsi itu gak bisa dilakukan karena memang saya lagi gak punya uang, dan kalaupun ada uang saya prioritaskan ke hal yang lain hahaha. Jadi ya udah saya pensiunkan aja si HD202, balikin lagi ke kotaknya terus saya simpen.

Alhamdulillah, berhubung kemarin saya punya rezeki dan juga saya kangen sensasi si HD202, saya lansung ingat untuk membangkitkan lagi si HD202. Saya pun teringat kata teman saya bahwa ada toko yang bisa mengurus service headphone, tempatnya di Be Mall…tapi teman saya gak tau nama tokonya apa (lawak maneh hahaha). Saya cari di google, dapet deh nama tokonya: Don’t Blame Your Ears. Langsung aja saya telepon si toko itu yang alamatnya di Be Mall…tapi gak tersambung terus. Terus saya coba chat si pemilik tokonya via YM (YM broooooo, udah 2015 masih ada yang bertahan pakai YM, salut gan). Katanya tempat servicenya pindah ke Jl. H. Akbar Gg. Wiriadmadja No. 1. Walah, dimana pula itu. Ternyata deket pabrik kue kartika sari, deket stasiun kereta api di Jl. Kebon Kawung.

Saya pun meluncur ke sana, untung gak sulit nyari tempatnya…dari stasiun kereta api, lurus terus sampai ada papan Kartika Sari, masuk ke Jl. H. Akbar, jalan terus sampai harum kue (hmm…dari baunya aja udah kebayang kuenya nikmat, sluurph) nya hilang, terus belok kiri masuk gang Wiriadmadja, lurus terus sampai rumah kedua terakhir sebelum jalan mentok. Sebelum ke sana, gambaran awal saya tuh tempat servicenya seperti toko gitu, eh taunya rumah biasa, tulisan Don’t Blame Your Ears nya juga cuma di secarik kertas yang ditempel di jendela…jadi ragu nih, pelayanannya bagus atau nggak yah. Saya coba aja deh, udah capek juga papanasan jauh-jauh dari rumah.

Masuk ke ‘toko’…sederhana banget, cuma ada satu meja dan dua kursi. Tapi di sebelahnya, ada sekumpulan headphone mewah sekelas Audio-Technica, Grado, AKG, SHURE, Sennheiser, dll….beuh, ngiler saya liatnya, mantep-mantep euy. Minta satu dong kang, hehehe. Saya tanya kenapa kok gak di Be Mall lagi, katanya: Be Mall nya udah tutup, nanti mau pindah ke BEC. Pantesan ditelpon gak nyambung-nyambung…saya baru tau Be Mall udah tutup, hahaha.

Saya serahkan si HD202 ini ke si akang dbE. Katanya sih kemungkinan penyebabnya ada 3: Kabel, driver, atau jack. Kalau kabelnya bermasalah, nanti kabelnya dibenerin dan jadinya panjang sebelah. Saya sih oke-oke aja kabel panjang sebelah, daripada headphonenya gak bisa dipake hahaha. Dua hari kemudian, saya ditelpon sama dbE, katanya headphone saya udah sembuh dan biayanya 70 ribu. Katanya sih kabelnya ada yang mengelupas, seperti digigit tikus…wah ini sih pasti digigit semut merah, entah kenapa headphone ini disukai semut merah, sampai busanya bolong-bolong nih.

Akhirnya…duet maut is back! Si hitam Sennheiser HD202 + si putih Sony WALKMAN NWZ-S616F. Tinggal download musik-musik yang tipe filenya FLAC nih biar lebih mantep lagi, tapi karena internet di rumah payah, jadi males downloadnya hahaha.

Overall, service di dbE oke. Orangnya ramah dan responnya cepat. Recommended nih buat teman-teman yang mau service headphone di sini. Thanks dbE!

Gegara dan Tetiba, geuleuh!

Gegara dan Tetiba. Dua kata yang akhir-akhir ini sering saya lihat di media sosial. Teman-teman saya mulai banyak yang memakai kedua kata itu. Entah apa motifnya; efisiensi penulisan, pengen disebut gaul, pengen disebut intelek, atau cuma ikut-ikutan saja.

Saya merasa geuleuh (jijik) kalau melihat/membaca/mendengar dua kata tersebut.

Saya pun mencari asal-usul penggunaan kedua kata tersebut melalui Google. Dari apa yang saya dapatkan, dua kata tersebut mulai muncul di Twitter. Duh, semakin geuleuh saja sama media sosial yang satu ini haha.

Kata gegara berasal dari kata gara-gara. Sama halnya dengan gegara, kata tetiba juga berasal dari kata tiba-tiba. Mungkin si pencipta gegara dan tetiba ini mau mengikuti metode reduplikasi seperti halnya pada kata lelaki (laki-laki). Tidak cuma gara-gara dan tiba-tiba saja yang menjadi ‘korban’ reduplikasi dwipurna; ada juga kekira. Mungkin maksudnya kira-kira gitu yah? Duh, apa semua kata berulang mau dibuat seperti gegara dan tetiba? Gorong-gorong jadi gegorong? Hati-hati jadi hehati? Cumi-cumi jadi cecumi? Ganteng-ganteng serigala jadi geganteng serigala? Ubur-ubur jadi…duh ubur-ubur jadi apa ya, ueubur?

Makanya saya merasa geuleuh mendengar kata-kata yang diubah secara asal-asalan seperti itu. Yah, mungkin cuma saya saja yang merasa geuleuh sama gegara dan tetiba…