Touring: Pantai Cijeruk (Bagian 2 dari 2)

Lanjutan dari bagian pertama


Hari sudah gelap dan tenda-tenda sudah terpasang. Kami-kami yang bermaksud menginap di penginapan, merebahkan diri di teras warung warga. Tak lupa kami menunaikan sholat maghrib di musholla dekat warung. Kami wudhu di tempat mandi, dan di sini airnya harus dipompa dulu dengan pompa manual. Ya, kami harus memompa air sendiri, semacam pompa dragon tapi ini buatan sendiri, hahaha. Airnya bersih dan segar.

Suasana tenda dan teras warung warga. Lelah…

Selesai sholat, kami sadar perut kami sudah lapar. Kami pesan ikan bakar. Ikan tuna sebanyak 4kg, dan ikan kuwe (Giant Trevally, disingkat jadi GT) sebanyak 3kg. Selain itu, kami juga pesan nasi liwet sebanyak 4kg. Saya tidak ingat berapa total biaya yang dikeluarkan untuk makan, tapi yang saya ingat untuk ikan bakar, semuanya 80ribu rupiah.

Tio pun pesan ikan bakar ke warga lokal. Katanya, ikan harus diambil ke tempat penyeberangan sungai tadi. Kami pun bingung. Siapa yang berani mengambil ikan bakar, melewati jalur yang tricky dan gelap. Jalan di hari yang terang saja, kami kesulitan. Apalagi jalan di malam hari, hahaha. Saya, Tio dan Pak Edi akhirnya memberanikan diri untuk mengambil pesanan.

Sambil menunggu ikan, beberapa dari kami membuat api unggun. Ada yang istirahat di tenda, ada juga yang ngobrol di teras warung. Sudah 2 jam kami menunggu, tapi belum ada kabar dari tukang ikan bakar. Saya sudah lapar dan khawatir maag kambuh. Roti yang saya bawa dari rumah sudah saya habiskan semenjak kami sampai di lokasi ini. Saya makan biskuit marie…tapi tetap saja lapar.

Selagi kami menunggu, hujan turun dengan deras. Perut sudah merengek minta diisi, tak bisa kompromi lagi. Akhirnya saya pesan mie rebus saja ke warung. Saya pun lahap memakan mie rebus. Rupanya suara saya menyeruput mie rebus dan aroma mie rebus yang khas, ditambah suasana hujan, menggoda beberapa dari kami. Akhirnya warung pun kebanjiran order mie rebus, hahaha. Selesai makan mie rebus, mulut terasa asam. Saya pun pesan bajigur. Lagi-lagi suara saya menyeruput dan aroma bajigur menggoda beberapa dari kami. Akhirnya mereka pun pesan berbagai macam minuman, hahaha.

Selesai makan, saya pun berbaring di teras warung warga. Kami masih menunggu ikan bakar, tapi tak kunjung datang. Kami memutuskan untuk membayar seorang warga untuk mengambil ikan bakar pesanan kami jika sudah siap. Lelah menunggu, kami pun terlelap. Beberapa saat kemudian, datanglah seorang warga membawa ikan bakar pesanan kami. Kami semua bangun, dan segera menyantap ikan bakar dan nasi liwet. Semua makan dengan lahap, tidak ada suara obrolan sedikitpun dari kami. Nampaknya semua sudah kelaparan, hahaha.

Kenyang menyantap ikan bakar dan nasi liwet, kami kembali ke tempat istirahat masing-masing. Kami langsung terlelap, kelelahan setelah berjalan jauh.

***


Minggu, 20 Agustus 2017 Continue Reading

Advertisements

Touring: Pantai Cijeruk (Bagian 1 dari 2)

Sabtu, 19 Agustus 2017


Sempat ragu untuk mengikuti touring menuju pantai Cijeruk, saya akhirnya memantapkan diri untuk ikut. Keraguan saya disebabkan karena…faktor motor. Saya sedang kesengsem sama KTM Duke 250 MY 2017. Sempat melihat secara langsung di dealer KTM Bandung (di Ciateul), dan saya langsung terpana. Desainnya, padatnya, posisi duduknya, spesifikasinya…semuanya sukses mengambil hati saya…tapi tidak ketika melihat harganya, hahaha. Saya pun membayangkan, betapa enaknya touring pake Duke 250….pasti enak deh, tenaga dan torsi besar ditambah bobot yang ringan dan posisi duduk nyaman. Apparently, the dream is over and I have to get back to reality. Sekarang saya cuma punya Yamaha X-Ride yang, walau tidak merasakan pegal sama sekali di badan, tidak bersahabat di bokong untuk perjalanan jauh. Apa boleh buat, saya pakai saja deh, itung-itung menambah mileage motor saya juga.

Rencananya, touring ini diikuti oleh 26 orang. Kami akan camping di pantai Cijeruk, namun saya tidak ingin camping. Saya ingin menginap di penginapan, supaya nyaman, hehe. Rutenya sama seperti ke pantai puncak guha, namun perjalanan dilanjutkan 1 jam ke arah timur. Saya memutuskan untuk jalan duluan, tidak ikut kumpul dulu di kantor. Malas juga, karena saya lebih dekat ke Pangalengan via Banjaran daripada harus ke Gunungbatu dulu. Saya pun menunggu kabar keberangkatan grup dari teman saya, Tio. Pukul 07.30, Tio memberi kabar, grup sudah berangkat. Saya pun bergegas dan menunggu grup di bundaran Pangalengan. Sampai di Bundaran Pangalengan jam 09.00, saya menunggu kabar yang lain. Tiga puluh menit berlalu, tidak ada tanda-tanda grup touring. Saya cek handphone, ternyata grup baru berangkat dari kantor jam 08.00. Wah, gak bakal bener ini sih. Saya kasih tau saja Tio bahwa saya mau lanjut perjalanan pelan-pelan sambil menikmati pemandangan, supaya yang lain bisa menyusul.

Pangalengan itu memang spesial. Saya sangat menikmati suasana Pangalengan; sejuk, segar dan hening. Belum lagi hamparan kebun teh yang luas, ditambah sinar mentari yang cerah memanjakan mata saya untuk terus melihat pemandangan ini. Jalan yang mulus dan tidak dilalui banyak orang semakin membuat saya betah berlama-lama di sini. Saya sempatkan foto-foto sedikit di sini sambil menghirup udara segar yang sudah tidak dapat dirasakan lagi di Bandung.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan

Saya lanjutkan lagi perjalanan, Continue Reading

Pantai Puncak Guha

Keinginan saya untuk mengunjungi Pantai Puncak Guha akhirnya terlaksana juga. Kemarin, saya dan Fickry melakukan perjalanan ke Puncak Guha menggunakan sepeda motor. Berangkat jam 9 pagi dari kebon binatang, menuju Banjaran via buah batu, dilanjutkan ke Pangalengan, melewati Situ Cileunca dan maju terus sampai Ranca Buaya. Total perjalanan dari Bandung adalah sejauh 140 km dan memakan waktu 3,5 jam. Kalau perginya weekend mungkin tidak akan secepat ini, hehe.

Bandung-Banjaran

Tahap perjalanan pertama yaitu perjalanan dari Bandung ke Banjaran. Untuk mencapai Banjaran, bisa lewat Buah Batu atau lewat Dayeuh Kolot. Kami lebih memilih lewat Buah Batu, karena diasumsikan kalau lewat sana tidak macet…dan terbukti memang tidak macet, perjalanan lancar.

Banjaran-Pangalengan

Sesampainya di Banjaran, perjalanan masih dilanjutkan dengan mengikuti jalan utama Bandung-Banjaran. Setelah melewati pasar, ada papan penunjuk yang menandakan arah jalan ke Pangalengan. Belok kiri, lalu ikuti terus jalan yang ada. Setelah sekian kilometer dari Banjaran, pemandangan yang sebelumnya dipenuhi oleh rumah warga perlahan berubah menjadi gunung dan pohon-pohon tinggi yang terlihat kering…mungkin karena musim kemarau ya. Jalan juga mulai menanjak…lama-lama ditambah tikungan-tikungan tajam…dan semakin pendek saja tikungannya. Cocok banget nih buat yang suka cornering. Jalannya juga mulus.

Setelah melalui banyak belokan tajam yang menanjak, udara perlahan semakin sejuk, pemandangan juga berubah jadi serba hijau. Wah berarti sudah sampai Pangalengan nih. Masih mengikuti jalan utama, kami sampai pada bundaran lalu belok ke arah Situ Cileunca. Jalanan masih didominasi tanjakan dan belokan…sampai akhirnya terlihat hamparan situ dengan pemandangan indah dan airnya yang hijau. Terlihat beberapa perahu di tengah situ sedang bergerak perlahan…bagus deh pemandangannya. Saya gak sempat foto, karena khawatir takut kemaleman pulangnya.

Lanjut lagi perjalanan, semakin menanjak dan semakin sepi. Pemandangan situ berubah menjadi hamparan kebun teh yang indah sekali. Di sisi lain, terlihat pemandangan gunung yang indah. Saking indahnya, kami akhirnya berhenti, balik putar arah, hanya untuk melihat pemandangan itu. Padahal waktu lewat situ, saya gak mau berhenti soalnya saya khawatir takut kemaleman pulangnya, tapi akhirnya berhenti juga, kapan lagi bisa liat pemandangan begitu, hahaha.

Bagus kan?

Bagus kan?

Perut terasa mual akibat melahap banyak tikungan tajam dan menanjak…tapi perjalanan menuju pantai masih jauh, kira-kira 70 km lagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.53, mungkin sampai di tujuan jam 1-an lah. Lanjut lagi perjalanan..kali ini jalanannya turun dan udaranya mulai panas. Kebun teh sudah tidak menghiasi mata, kini berubah menjadi gunung kering yang sedang dikeruk untuk diambil batu-batunya. Sampai akhirnya kami belok ke arah Ranca Buaya.

Pangalengan-Ranca Buaya

Di sinilah medan jalan mulai extreme. Jalan yang dilalui kini semakin random. Tanjakan belokan turunan…kiri kanan atas bawah, semuanya ada. Dan itu pendek-pendek durasinya, ya jalannya semacam benang kusut, lah. Kalau kata Fickry sih, jalannya ‘banyak yang hilang’ (gak kelihatan di mata, padahal sebenarnya jalannya belok extreme dan/atau turun extreme)…menunjukkan betapa pendek dan extreme-nya medan jalan. Saya yang perutnya sudah mual, harus melahap jalanan begini…haduuh. Beruntung, jalan yang dilalui tidak rusak, mulus banget. Bagi pecinta cornering+uphill/downhill, wajib nyobain rute ini, nih!

Setelah sekitar satu jam melahap jalanan edan, durasi jalanan menjadi lebih panjang, alhamdulillah tidak terlalu banyak variasi. Banyak jalanan lurus dengan belokan ringan..masih ada sih tanjakan dan turunannya tapi gak edan seperti tadi. Jujur saja, perut saya udah gak karuan, mual dan lapar. Kapan nyampe nya ya ini…udara juga semakin panas. Tiba-tiba pemandangan berubah, terlihat hamparan pantai yang indah. Saya pun semangat lagi, tandanya bentar lagi mau sampai, nih!

Tapi, masalah perut memang tidak bisa diajak kompromi. Kami istirahat sebentar di warung nasi, lalu lanjut perjalanan. Ternyata dari warung nasi udah deket, cuma 5 menit lah. Sampai juga di Pantai Puncak Guha!

Pantai Puncak Guha

Bayar tiket masuk Rp 5.000, lalu parkir motor di mana saja semaumu, bebas! Kalau orang pergi ke pantai, biasanya bisa jalan-jalan ke pesisirnya, bermain pasir pantai dan air laut…tapi di Pantai Puncak Guha ini, kami berada di sebuah tebing tinggi…gak ada pasir pantai dan tidak bisa merasakan air laut, cuma bisa liat doang. Pemandangannya indah!

IMG_20150826_134403_1

IMG_20150826_134352_1

IMG_20150826_131242_1

IMG_20150826_131211_1

IMG_20150826_132020_1

IMG_20150826_131518_1

IMG_20150826_131510_1

IMG_20150826_131456_1

IMG_20150826_131443_1

IMG_20150826_131418_1

IMG_20150826_131407_1

IMG_20150826_131339_1

IMG_20150826_131326_1

IMG_20150826_131318_1

Sayangnya, tempat indah begini dirusak oleh orang-orang yang membuang sampah sembarangan. Pihak pengelola yang sudah tua cuma bisa membersihkan sampai di bagian atas saja, kalau yang di bagian tebing memang susah sih aksesnya.

Setelah puas menikmati pemandangan sambil beristirahat, kami pun pulang.

Perjalanan Pulang

Berangkat dari Puncak Guha jam 3 sore, kami pun pulang ke Bandung. Sebenarnya saya masih betah di sana, tapi kalau pulangnya terlalu sore, entah sampai jam berapa di Bandung nanti…jadi apa boleh buat. Melahap lagi jalanan tadi..tapi alhamdulillah perut saya tidak bermasalah lagi, hahaha.

Baru jalan satu jam, perjalanan harus terhenti. Rantai motor saya terlepas. Untung ada Fickry yang bisa bantuin. Hatur nuhun pisan Fick, hehe. Terpotong 45 menit, kami lanjut perjalanan. Sesampainya di Pangalengan, jalan sudah gelap dan berkabut tebal…dingin banget. Kalau ada penginapan di sana pasti enak..minum kopi hangat ditemani cemilan hangat semacam kue pukis, pisang goreng, dll…sluurph. Sayang, di sana tidak ada penginapan.

Perjalanan lebih ramai di malam hari, banyak mobil dan motor yang berlalu lalang. Tapi alhamdulillah tidak macet, saya pun sampai di rumah jam 8 malam.

Pantai Puncak Guha
Rute Perjalanan:
Bandung-->Banjaran-->Pangalengan-->Situ Cileunca-->Ranca Buaya
Tiket masuk: Rp 5.000
Total Perjalanan: 140 km