Super short review: 2016 KTM Duke 250

Minggu, 5 Maret 2017

Hari ini, KTM mengadakan sebuah acara gathering berjudul KTM Orange Day 2017. Ini merupakan KTM Orange Day kedua yang diselenggarakan oleh KTM dan kali ini KTM mengadakan acaranya di Bandung, tepatnya di Sabuga ITB.

Pada KTM Orange Day kali ini, KTM menyelenggarakan acara yang menarik. Ada acara test ride, stunt rider, female DJ, photo competition, dan ada door prize menarik. Saya datang ke acara ini karena saya penasaran dengan motor KTM Duke series. Desain motornya benar-benar berani dan out of the box. Ditambah lagi dengan spesifikasi motor yang juga tak kalah menarik: high power (26 hp for Duke 200), low weight, suspensi depan Upside down, suspensi belakang WP, rem Bybre, ban super lebar, panel instrumen full digital, ditambah frame trellis dan warna orange yang menjadi ciri khas KTM…wah, Duke series sukses memikat hati saya. Sayang, harga motornya mahal, 34.8 juta rupiah (OTR Bandung).

Sebenarnya saya tertarik beli Duke 200, tapi saya juga pengen tau gimana sih rasanya naik Duke 200. Jangan sampai saya udah keluar uang banyak, eh malah nggak puas pakenya. Makanya saya sangat tertarik untuk mengikuti acara test ride di KTM Orange Day 2017 ini.

Datanglah saya ke Sabuga ITB pada hari minggu pagi. KTM memberikan kesempatan test ride untuk semua lineup motornya: KTM Duke 200 & 250, dan KTM RC 200 & 250. Langsung saja saya registrasi test ride…ternyata banyak juga yang berminat test ride. Bahkan ada rider wanita juga lho, hebat. Berhubung unit test ride Duke 200 cuma satu unit, saya jadinya memilih mencoba Duke 250 saja, supaya antrinya tidak lama. Sebenarnya setiap orang boleh-boleh saja mencoba semua unit motor, dan saya inginnya begitu, namun sayang waktunya tidak cukup.

Isi formulir test ride, kumpulkan ke panitia, lalu nunggu dipanggil. Setelah agak lama menunggu akibat kesemrawutan penyelenggaraan test ride, akhirnya giliran saya tiba juga. Test rider diwajibkan memakai safety gear yang disediakan panitia: helm full face, elbow protector dan knee protector. Setelah saya pakai semua gear, langsung saya coba unit test ride Duke 250 berwarna hitam.

Posisi duduk tegak, tidak menunduk. Joknya yang lebar dan suspensi monoshock yang cenderung soft membuat saya duduk secara nyaman. Sepertinya enak untuk perjalanan jauh. Tapi jok tebengan ukurannya kecil..entah nyaman atau nggak untuk perjalanan jauh. Putar konci kontak ke posisi on…kok speedometernya nggak nyala yah. Ternyata engine stopnya aktif, saya tekan ke posisi run, dan speedometer pun menyala. Hmm..tulisannya kecil-kecil..tapi buat saya sih jelas terlihat. Nyalakan mesin…bunyinya garang, tapi halus. Tidak ada getaran berarti di stang dan kaki. Halus banget.

Pindahkan ke gigi 1, langsung jalan! Baru berjalan sedikit, sudah harus menikung U-turn…tapi yang saya rasakan, membawa Duke 250 ini kok ringan sekali, saya tidak merasa seperti membawa motor 250cc. Oh iya, sebagai informasi, track test ride ini sangat pendek sekali. Track berbentuk elips dan cuma 60 meter doang.

Motor berbelok dengan stabil, berkat ban lebar. Keluar tikungan, saya langsung putar tuas gas…ternyata tenaga baru menyentak di RPM tengah. Baru jalan sedikit, harus menikung lagi…saatnya mencoba pengereman. Unit Duke 250 ini sudah dilengkapi ABS, tidak perlu khawatir ban akan terkunci. Sedangkan Duke 200 belum ABS. Pengereman menurut saya sudah baik, walau di awal acara, pihak KTM mewanti-wanti jangan kaget kalau rem ABS nanti akan terasa kurang pakem…tapi buat saya sih sudah pakem ah.

Pada lap berikutnya, saya coba shifting gear…wah halus sekali pindah giginya. Hampir tidak ada effort berarti pada saat pindah gigi. Beda sekali dengan motor-motor kopling yang pernah saya bawa sebelumnya. Saya sebenernya penasaran dengan top speed dan performa suspensi di jalan yang jelek, tapi berhubung track testnya kecil sekali, ya sudah saya cuma bisa test segitu aja.

Kelebihan:

  • Posisi duduk nyaman
  • Suspensi empuk
  • Gear shifting halus sekali
  • Minim getaran
  • Tarikan enteng
  • Desain motor gahar
  • Ringan
  • ABS

Kekurangan:

  • Speedometer kecil
  • Jok tebengan kecil
  • Mahal

Puas test ride, saya kembali ke stand, isi formulir testimoni test ride. Pulangnya dikasih snack, free lunch, dan undian door prize. Sayang saya nggak sempet mencoba Duke 200, RC 200 dan RC 250, karena saya harus pulang secepat mungkin (khawatir kehujanan, karena siang mulai gelap).

Andai uang bukan masalah buat saya, bakal saya beli di tempat itu Duke 250, hahaha.

Dangerous Trip: Sanghyang Heuleut

(Bagian 3 dari 3: lanjutan dari postingan sebelumnya)

Sesampainya di pintu masuk Sanghyang Heuleut, kami parkirkan motor di dekat pos penjaga. Kami berempat harus membayar 60 ribu rupiah untuk masuk ke obyek wisata ini. Mungkin rincian per orangnya adalah 10 ribu untuk tiket masuk dan 5 ribu rupiah untuk parkir motor. Penjaga pos juga meminta nomor telepon yang bisa dihubungi. Wah, firasat saya nggak enak, mana cuacanya mulai gelap pula. Sebelum mencapai Sanghyang Heuleut, kami harus menyusuri jalan setapak sekitar ±2 kilometer…setelah bayar administrasi, mulailah kami berjalan. Jalannya 100% tanah, sempit (hanya muat dilalui dua orang kalau saling berpaspasan), kiri atau kanan jurang dipenuhi semak belukar. Extreme, cuy.

Lama-lama jalanan cenderung menurun dan semakin curam. Pemandangan semak belukar pun berubah menjadi pemandangan hutan lebat. Hujan pun mulai turun…jalanan yang 100% tanah menjadi very-sangat-licin-sekali-pisan-banget karena diguyur dan dialiri air hujan. Kiri atau kanan jalan langsung jurang. Ada handrail yang terbuat dari potongan kayu di beberapa jalur, tapi handrail tersebut tidak kokoh. Saya pegang malah goyang-goyang, ada pula yang patah…bahkan ada jalan yang membuat kami harus turun tangga layaknya turun dari taraje. Sinyal telepon pun tidak ada sama sekali. Telkomsel si raja sinyal takluk tak berdaya di tempat ini. Beuh…pikiran pun mulai tidak karuan; “Selamat nggak yah sampai di tujuan? Nanti pulang caranya gimana? Terus buat apa dong kita dimintain nomor telepon, sinyal aja nggak ada? Kalau ada apa-apa, menghubungi penjaganya gimana ya? (Poho pisan teu nanyakeun nomor telepon penjaga) (eh tapi euweuh sinyal deng)”

Bahaya death...harus menyusuri jalan begini di tengah hujan sejauh 1 kilometer. Sheer madness!

Bahaya death…harus menyusuri jalan begini di tengah hujan sejauh 1 kilometer. Sheer madness!

Lama-lama terdengar suara kerumunan orang Continue Reading

Mengunjungi Bendungan Saguling, Kabupaten Bandung Barat

(Bagian 2 dari 3: lanjutan dari postingan sebelumnya)

Setelah puas berfoto ria di Stone Garden, kami melanjutkan perjalanan ke Sanghyang Tikoro. Menurut teman saya, lokasi Sanghyang Tikoro itu masuknya dari jalan ke Bendungan Saguling, jadi kami tinggal lanjut saja ke arah Cianjur. Ikuti jalan sampai ada papan penunjuk Bendungan Saguling belok kiri. Sesudah itu jalanan mulai melebar, sepi, sejuk, pepohonan di kanan kiri jalan, aspalnya bagus, menanjak meliuk kiri dan kanan…pokoknya asik banget buat yang suka uphill dan cornering!

img_20170215_111135

img_20170215_111130

Enak banget buat ngebut 🙂

Di tengah perjalanan, kami menemukan tempat wisata Sanghyang Heuleut, tapi karena tujuan kami Sanghyang Tikoro, jadi kami abaikan saja. Selain itu, kami juga menemukan Curug Continue Reading

Berkunjung ke Stone Garden, Kabupaten Bandung Barat

Bagian 1 dari 3

Rabu, 15 Februari tiba-tiba menjadi hari libur nasional berkat Pilkada 2017. Saya dan teman-teman merencanakan untuk “jalan-jalan yang dekat saja,” dan hari ini kami memutuskan untuk berkunjung ke Stone Garden, Gua Pawon, dan Sanghyang Tikoro.


Destinasi pertama adalah Stone Garden yang terletak di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Berangkat jam 06.30 WIB dari Cimahi, kami berkendara menggunakan sepeda motor ke arah Cianjur. Sarapan Lontong Sayur sebentar di dekat gerbang Kota Bali Residence, lalu melanjutkan perjalanan sampai akhirnya ada papan penunjuk “Stone Garden” di sebelah kanan jalan. Jalan pun berubah total yang tadinya jalanan aspal menjadi bebatuan lepas dan lumpur becek. Harus ekstra hati-hati dalam berkendara di sini…saya pun cuma berani ngegas secuil aja, yang penting nggak slip 😀 Sampai di pintu masuk, kami bayar tiket masuk Rp 5.000,- dan parkir motor Rp 3.000,-. Murah!

Parkir motor, lalu kami Continue Reading

Situs Megalitikum Gunung Padang: Revisited!

Sabtu, 21 Januari 2017 yang lalu, setelah 3 tahun saya kembali mengunjungi Situs Megalitikum Gunung Padang di Cianjur. Berangkat dari Cimahi jam 6 pagi, perjalanan ke Gunung Padang seharusnya hanya memakan waktu 3 jam saja, tapi saya dan teman-teman baru sampai jam 10:30…nyasar gara-gara Google Maps! GMaps memberikan rute yang ‘sesat,’ jalur mobil dengan rute lebih cepat, eh nyatanya jalur kecil penuh batu lepas dan tanah, hanya bisa dilalui oleh motor. Parahnya lagi rute tersebut harus menyeberangi jembatan anyaman bambu yang cuma bisa dilalui satu orang saja. Jadilah kami putar balik, mengikuti rute yang normal…kacau deh.

Sebenarnya rute menuju Gunung Padang itu sederhana sekali. Dari Bandung, pergilah ke arah Sukabumi sampai ada papan tulisan ‘Gunung Padang belok kiri.’ Simple sekali kan?

Dibandingkan 3 tahun yang lalu, jalan ke Gunung Padang sudah jauh lebih baik. Kondisi jalan sudah membaik, mulus. Ada beberapa bagian jalan yang belum tersentuh perbaikan, tapi masih dalam taraf aman untuk dilalui.

Infrastruktur situs juga mengalami perbaikan. Tangga dari pintu masuk obyek wisata menuju ke lokasi sekarang diberi handrail. Sangat membantu para wisatawan untuk menanjak gunung. Apalagi jalur original yang sangat terjal…kalau tidak ada handrail, sangat berbahaya sekali.

Biaya masuk obyek wisata tidak mengalami perubahan, hanya Rp 5.000,- saja. Sebelum naik ke atas, pastikan bawa air minum, karena pasti akan capek sekali!

img_20170121_111819

img_20170121_105531

img_20170121_105858

Membuat Paspor Secara Online

Saya akan berbagi pengalaman saya membuat paspor secara online.

Perlu diingat bahwa walaupun julukannya adalah membuat paspor secara online, Anda tetap harus datang ke kantor imigrasi. Anda bisa memilih kantor imigrasi dimana saja, tidak harus sesuai dengan kota kelahiran Anda.

Poin penting lainnya adalah pembuatan paspor ini membutuhkan waktu sekitar 17 hari; 14 hari untuk verifikasi data pribadi, 3 hari untuk pencetakan paspor. Jadi, rencanakanlah kegiatan Anda dengan tepat.

Keuntungan membuat paspor secara online adalah lebih hemat waktu. Kalau Anda membuat paspor secara walk-in, Anda harus datang tiga kali. Dengan membuat paspor secara online, Anda hanya perlu datang dua kali ke kantor imigrasi.

Oke, langsung saja saya bahas langkah-langkah membuat paspor online:

I. Pra Permohonan Personal

Tahap pertama adalah tahap Pra Permohonan Personal. Pada tahap ini, kita akan mengisi data diri kita yang akan dijadikan database pada paspor yang akan dibuat. Continue Reading

Pantai Puncak Guha

Keinginan saya untuk mengunjungi Pantai Puncak Guha akhirnya terlaksana juga. Kemarin, saya dan Fickry melakukan perjalanan ke Puncak Guha menggunakan sepeda motor. Berangkat jam 9 pagi dari kebon binatang, menuju Banjaran via buah batu, dilanjutkan ke Pangalengan, melewati Situ Cileunca dan maju terus sampai Ranca Buaya. Total perjalanan dari Bandung adalah sejauh 140 km dan memakan waktu 3,5 jam. Kalau perginya weekend mungkin tidak akan secepat ini, hehe.

Bandung-Banjaran

Tahap perjalanan pertama yaitu perjalanan dari Bandung ke Banjaran. Untuk mencapai Banjaran, bisa lewat Buah Batu atau lewat Dayeuh Kolot. Kami lebih memilih lewat Buah Batu, karena diasumsikan kalau lewat sana tidak macet…dan terbukti memang tidak macet, perjalanan lancar.

Banjaran-Pangalengan

Sesampainya di Banjaran, perjalanan masih dilanjutkan dengan mengikuti jalan utama Bandung-Banjaran. Setelah melewati pasar, ada papan penunjuk yang menandakan arah jalan ke Pangalengan. Belok kiri, lalu ikuti terus jalan yang ada. Setelah sekian kilometer dari Banjaran, pemandangan yang sebelumnya dipenuhi oleh rumah warga perlahan berubah menjadi gunung dan pohon-pohon tinggi yang terlihat kering…mungkin karena musim kemarau ya. Jalan juga mulai menanjak…lama-lama ditambah tikungan-tikungan tajam…dan semakin pendek saja tikungannya. Cocok banget nih buat yang suka cornering. Jalannya juga mulus.

Setelah melalui banyak belokan tajam yang menanjak, udara perlahan semakin sejuk, pemandangan juga berubah jadi serba hijau. Wah berarti sudah sampai Pangalengan nih. Masih mengikuti jalan utama, kami sampai pada bundaran lalu belok ke arah Situ Cileunca. Jalanan masih didominasi tanjakan dan belokan…sampai akhirnya terlihat hamparan situ dengan pemandangan indah dan airnya yang hijau. Terlihat beberapa perahu di tengah situ sedang bergerak perlahan…bagus deh pemandangannya. Saya gak sempat foto, karena khawatir takut kemaleman pulangnya.

Lanjut lagi perjalanan, semakin menanjak dan semakin sepi. Pemandangan situ berubah menjadi hamparan kebun teh yang indah sekali. Di sisi lain, terlihat pemandangan gunung yang indah. Saking indahnya, kami akhirnya berhenti, balik putar arah, hanya untuk melihat pemandangan itu. Padahal waktu lewat situ, saya gak mau berhenti soalnya saya khawatir takut kemaleman pulangnya, tapi akhirnya berhenti juga, kapan lagi bisa liat pemandangan begitu, hahaha.

Bagus kan?

Bagus kan?

Perut terasa mual akibat melahap banyak tikungan tajam dan menanjak…tapi perjalanan menuju pantai masih jauh, kira-kira 70 km lagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.53, mungkin sampai di tujuan jam 1-an lah. Lanjut lagi perjalanan..kali ini jalanannya turun dan udaranya mulai panas. Kebun teh sudah tidak menghiasi mata, kini berubah menjadi gunung kering yang sedang dikeruk untuk diambil batu-batunya. Sampai akhirnya kami belok ke arah Ranca Buaya.

Pangalengan-Ranca Buaya

Di sinilah medan jalan mulai extreme. Jalan yang dilalui kini semakin random. Tanjakan belokan turunan…kiri kanan atas bawah, semuanya ada. Dan itu pendek-pendek durasinya, ya jalannya semacam benang kusut, lah. Kalau kata Fickry sih, jalannya ‘banyak yang hilang’ (gak kelihatan di mata, padahal sebenarnya jalannya belok extreme dan/atau turun extreme)…menunjukkan betapa pendek dan extreme-nya medan jalan. Saya yang perutnya sudah mual, harus melahap jalanan begini…haduuh. Beruntung, jalan yang dilalui tidak rusak, mulus banget. Bagi pecinta cornering+uphill/downhill, wajib nyobain rute ini, nih!

Setelah sekitar satu jam melahap jalanan edan, durasi jalanan menjadi lebih panjang, alhamdulillah tidak terlalu banyak variasi. Banyak jalanan lurus dengan belokan ringan..masih ada sih tanjakan dan turunannya tapi gak edan seperti tadi. Jujur saja, perut saya udah gak karuan, mual dan lapar. Kapan nyampe nya ya ini…udara juga semakin panas. Tiba-tiba pemandangan berubah, terlihat hamparan pantai yang indah. Saya pun semangat lagi, tandanya bentar lagi mau sampai, nih!

Tapi, masalah perut memang tidak bisa diajak kompromi. Kami istirahat sebentar di warung nasi, lalu lanjut perjalanan. Ternyata dari warung nasi udah deket, cuma 5 menit lah. Sampai juga di Pantai Puncak Guha!

Pantai Puncak Guha

Bayar tiket masuk Rp 5.000, lalu parkir motor di mana saja semaumu, bebas! Kalau orang pergi ke pantai, biasanya bisa jalan-jalan ke pesisirnya, bermain pasir pantai dan air laut…tapi di Pantai Puncak Guha ini, kami berada di sebuah tebing tinggi…gak ada pasir pantai dan tidak bisa merasakan air laut, cuma bisa liat doang. Pemandangannya indah!

IMG_20150826_134403_1

IMG_20150826_134352_1

IMG_20150826_131242_1

IMG_20150826_131211_1

IMG_20150826_132020_1

IMG_20150826_131518_1

IMG_20150826_131510_1

IMG_20150826_131456_1

IMG_20150826_131443_1

IMG_20150826_131418_1

IMG_20150826_131407_1

IMG_20150826_131339_1

IMG_20150826_131326_1

IMG_20150826_131318_1

Sayangnya, tempat indah begini dirusak oleh orang-orang yang membuang sampah sembarangan. Pihak pengelola yang sudah tua cuma bisa membersihkan sampai di bagian atas saja, kalau yang di bagian tebing memang susah sih aksesnya.

Setelah puas menikmati pemandangan sambil beristirahat, kami pun pulang.

Perjalanan Pulang

Berangkat dari Puncak Guha jam 3 sore, kami pun pulang ke Bandung. Sebenarnya saya masih betah di sana, tapi kalau pulangnya terlalu sore, entah sampai jam berapa di Bandung nanti…jadi apa boleh buat. Melahap lagi jalanan tadi..tapi alhamdulillah perut saya tidak bermasalah lagi, hahaha.

Baru jalan satu jam, perjalanan harus terhenti. Rantai motor saya terlepas. Untung ada Fickry yang bisa bantuin. Hatur nuhun pisan Fick, hehe. Terpotong 45 menit, kami lanjut perjalanan. Sesampainya di Pangalengan, jalan sudah gelap dan berkabut tebal…dingin banget. Kalau ada penginapan di sana pasti enak..minum kopi hangat ditemani cemilan hangat semacam kue pukis, pisang goreng, dll…sluurph. Sayang, di sana tidak ada penginapan.

Perjalanan lebih ramai di malam hari, banyak mobil dan motor yang berlalu lalang. Tapi alhamdulillah tidak macet, saya pun sampai di rumah jam 8 malam.

Pantai Puncak Guha
Rute Perjalanan:
Bandung-->Banjaran-->Pangalengan-->Situ Cileunca-->Ranca Buaya
Tiket masuk: Rp 5.000
Total Perjalanan: 140 km

Memperpanjang SIM di Outlet SIM BTC Pasteur Bandung

UPDATE 19 JUNI 2017: Saya perpanjang SIM C satu minggu sebelum hari lebaran. Datang jam 10 pagi, antrian sudah panjang. Ternyata formulir hari itu dibatasi hanya untuk 140 pemohon saja. Saya kebagian urutan 139 dari 140 pemohon (beruntung sekali, hehe). Biaya perpanjang SIM C Rp 115.000. Blangko SIM sudah habis, saya hanya diberi resi sebagai pengganti SIM C saya, dan disuruh mencantumkan nomor telepon agar saya dapat dihubungi pihak Outlet SIM untuk pengisian formulir dan pemotretan. Katanya pemotretan dan pencetakan SIM baru bisa dilakukan satu minggu setelah lebaran. Aneh nih, blangko SIM kok sampai habis segala…


Beberapa hari yang lalu, saya memperpanjang masa berlaku Surat Izin Mengemudi A (untuk mobil) saya di Outlet SIM yang terletak di Bandung Trade Center (BTC) Pasteur. Prosesnya cepat, tidak sampai setengah jam kalau sedang sepi. Kebetulan waktu itu sedang ramai, sehingga banyak waktu terbuang karena antre (makan waktu satu jam). Selain itu, kualitas foto pada SIM juga bagus. Berikut prosesnya:

  1. Persiapkan SIM yang ingin diperpanjang masa berlakunya, foto kopi KTP yang masih berlaku, dan pulpen. Kalau foto kopi KTP tidak ada dan tidak ada pulpen, tenang saja, di sana ada layanan foto kopi KTP dan penjualan pulpen.
  2. Datang ke Outlet SIM di lantai bawah. Dari parkiran motor, cari pintu masuk mall yang turun ke bawah (dekat musholla dan toilet umum). Waktu itu Outlet SIM baru buka pukul 09.00 WIB. Outlet SIM ini melayani perpanjangan SIM A dan SIM C.
  3. Isi formulir pendaftaran. Biasanya formulir ditempel di dekat pintu masuk Outlet SIM.
  4. Lakukan pengecekan kesehatan, letaknya di belakang Outlet SIM. Di tempat pengecekan kesehatan ini lah tersedia layanan foto kopi KTP, penjualan pulpen, dan laminating SIM. Biaya cek kesehatan Rp 40.000, harga pulpen Rp 2.000, dan laminating SIM Rp 5.000 (saya gak tau biaya foto kopi KTP berapa bayarnya..hehe).
  5. Kembali lagi ke Outlet SIM dan lakukan administrasi data diri dan permohonan perpanjangan SIM di bagian resepsionis. Untuk SIM A, biayanya Rp 110.000, sedangkan SIM C Rp 100.000.
  6. Isi formulir sesuai dengan data diri. Bila bingung, ada panduan untuk mengisi formulir yang tertempel di dinding. Pastikan data diri terisi dengan benar.
  7. Serahkan formulir ke bagian resepsionis, lalu tunggu sampai nama kita dipanggil.
  8. Setelah nama kita dipanggil, masuk ke ruangan foto. Bubuhkan tanda tangan di kertas yang tersedia. Petugas akan menyebutkan data diri kita, pastikan data diri yang disebutkan petugas sudah benar. Bila ada yang salah, segera beri tahu petugas tersebut. Kemudian ikuti instruksi petugas pada saat sesi pemotretan.
  9. Tunggu sampai ada petugas memanggil nama kita, dan SIM baru pun diperoleh. Bila sebelumnya telah membayar biaya laminating SIM, jangan lupa untuk kembali ke ruangan pengecekan kesehatan untuk proses laminating SIM.

Sekian sharing pengalaman dari saya. Mudah-mudahan bermanfaat 🙂

Pengalaman Perjalanan Bandung – Jakarta Menggunakan Travel

Berhubung akhir-akhir ini saya sering ke Jakarta – Bandung memakai jasa Travel, saya mau sharing pengalaman saya memakai berbagai jenis Travel yang pernah saya pakai:

Cipaganti (MGO)

Salah satu jasa travel yang sering saya pakai. Mulai tanggal 3 Juni 2015, Cipaganti berubah nama jadi MGO. Pool di Bandung letaknya di BTC Pasteur dan MTC Buah Batu. Saya sih biasanya ke Jakarta tujuan Cempaka Putih kalo naik Cipaganti, poolnya di ITC Cempaka Mas. Poolnya sedikit tidak terawat. Mobil menggunakan Hyundai Starex, mobil diesel tapi suaranya senyap karena udah diesel commonrail, mantap. Suspensi juga empuk, jadi nyaman. Tempat duduk 7-seat sebelah supir, nyaman. Tapi kalau duduk di paling belakang, kaki saya masih nabrak kursi di depannya. Supirnya kadang-kadang suka nyetel musik seenaknya, tapi bawa mobilnya jago, jadi cepet sampai. Di dalam mobil ada air minum gelas, gratis. Keberangkatan seringkali tepat waktu. Biasanya berhenti di rest area km 72. Harga Rp 120.000.

+ Mobil nyaman, suspensi empuk, senyap banget

+ Cepat

– Pool sedikit tidak terawat

– Supir kadang-kadang suka nyetel musik seenaknya

Baraya

Inilah travel paling ekonomis. Keunggulan yang ditawarkan Baraya adalah harganya yang terjangkau; hanya Rp 85.000 saja. Bahkan sekarang lagi ada promo, Bandung – Jakarta pulang pergi cuma Rp 110.000 !! Sangat murah kan? Tapi…ada tapinya loh…

Kondisi pool payah, bahkan terkesan seadanya. Sedih lah pokoknya. Pool di Bandung letaknya di Surapati, sebelah pom bensin di belakang Masjid Pusdai. Kalau ke Jakarta, saya biasanya ke arah Kelapa Gading; pool Baraya letaknya di Hypermall, yang ada Hypermartnya, seberang Lotte Mart. Mobil menggunakan Isuzu Elf 10-seat+2-seat sebelah supir. Sempit coy, apalagi yang paling belakang, empat orang sebaris. Nah, kalau mau Bandung – Jakarta pp cuma Rp 110.000, harus duduk di paling belakang. Mobilnya berisik, maklum Isuzu Elf, masih diesel conventional. Supir ramah, tapi bawanya nyantai, jadi lama nyampenya. Gak dikasih minum, jadi bawa sendiri ya dari rumah kalau mau minum, hehe. Keberangkatan suka telat; pernah saya pesan keberangkatan jam 19.00 tapi berangkatnya jam 19.30. Rest area di km 52. Pernah kejadian ada penumpang tambahan, gara-gara kesalahan manajemen Baraya yang mengakibatkan penumpang salah jurusan…bahaya juga nih. Walaupun begitu, peminat travel Baraya tidak sedikit, lho.

+ Murah

– Pool tidak terawat

– Lambat

– Manajemen masih kacau

– Mobil tidak senyaman Cipaganti (MGO) & CitiTrans. Kabin sempit dan kurang senyap.

Citi Trans

Jawaranya travel mewah. Pool di Bandung letaknya di Dipati Ukur (sebelah pom bensin) dan Pasteur (sebelah pool cipaganti yang di luar BTC). Kalau ke Jakarta, saya biasanya ke Kelapa Gading, poolnya di ruko setelah Lotte Mart. Mobil menggunakan Toyota HiAce 8-seat. Sangat lega, mewah, nyaman, bersih dan senyap. Kaki bisa selonjoran dengan bebas, enak banget deh pokoknya. Supir ramah, selalu mengingatkan untuk menggunakan sabuk pengaman…wah peduli sama keselamatan pelanggannya nih. Bawa mobilnya juga cepat. Tiap penumpang dikasih air minum 600 ml, ada tulisan Citi Trans nya..mewah euy. Keberangkatan sangat tepat waktu. Rest area saya lupa di km berapa, hahaha…tapi berhentinya cuma sebentar, bagus nih jadinya cepet sampe tujuan. Ada rupa, ada harga; Rp 135.000. Mahal sih, tapi sebanding lah sama kualitasnya.

+ Manajemen sangat baik

+ Mobil sangat lega, mewah dan nyaman

+ Cepat

+ Kondisi pool terawat

+ Tepat waktu

– Mahal

Sekian sharing dari saya, semoga bermanfaat 🙂

Setelah hampir 3 tahun mati…akhirnya hidup kembali!

UPDATE: Alamat Don’t Blame Your Ears sepertinya udah pindah ke BEC Extension Lantai 2 no. Y05. (Sumber: website dbe)

Tentunya bukan makhluk hidup yang saya maksud pada judul di atas, hehe…setelah hampir 3 tahun lamanya, headphone saya akhirnya berfungsi kembali!

Headphone ini saya pakai untuk memutar musik-musik favorit di music player Sony WALKMAN seri S616F. Sebenarnya, pake headphone biasa di walkman ini tuh udah oke banget. Dengan teknologi andalan CLEAR Bass, Clear Stereo, dan Dynamic Sound Enhancement Engine, bassnya kerasa banget, suaranya juga jernih. Menurut saya, kalau dibandingin dengan iPod Nano, yang dulu harganya gak beda jauh sama ini (kalau sekarang harga iPod Nano udah menggila haha), untuk urusan suara iPod Nano kalah agak jauh lah sama walkman. Kalau diibaratkan sepakbola, skornya walkman 4-1 iPod…hahaha. Tapi memang dasar manusia, udah dikasih enak tetep aja masih gak puas. Saya pengen denger yang lebih mantep lagi, kalau bisa sampai ada sensasi bergetar di telinga saya hahaha. Jadilah saya beli headphone mewah dengan harga rendah. Dapetnya ya ini, Sennheiser HD202.

Sennheiser HD 202 with Sony WALKMAN NWZ-S616F

Sennheiser HD 202 with Sony WALKMAN NWZ-S616F

Saya beli headphone ini tahun 2010. Saya masih inget belinya jaman saya masih SMA sebelum masuk kuliah di toko Sony, Ciwalk. Ditebus dengan harga 300ribu…sekarang mungkin udah 400 ribuan. Terakhir kali ke Ciwalk, tokonya udah gak ada, hahaha.

Setelah saya beli, langsung aja saya burn di komputer seharian. Keesokan harinya saya setel musik di walkman pake si HD202 ini dan ternyata…manTAFT banget coooyyy!! Untuk low frequency, di sinilah kemampuan paling mantep dari HD202…bassnya nendang banget. Ditambah CLEAR Bass dari walkman, suara bass makin nendang..sampai ada sensasi bergetar, hahaha. Tercapailah tujuan saya beli headphone ini. Selain itu, untuk high freq HD202 juga oke kok, detail-detail dari suara gitar dan alat musik lainnya terdengar dengan jelas. Untuk mid freq seperti suara vokal memang sedikit (dikit banget) tertutup oleh bass, namun hal tersebut bisa diatasi berkat si mungil Sony Walkman. Jadilah duet maut Sennheiser HD202 dan Sony Walkman S616F yang memanjakan telinga setiap kali saya mendengarnya, hehe.

Dua tahun setelah saya beli headphone itu, suatu hari si HD202 ini mengalami masalah. Suaranya cuma muncul sebelah. Saya bingung waktu itu, apakah headphone ini bisa dibenerin, kalau bisa, dimana? Mahal gak? (garansinya udah habis haha) Atau beli baru aja sekalian nyobain merk lain? Semua opsi itu gak bisa dilakukan karena memang saya lagi gak punya uang, dan kalaupun ada uang saya prioritaskan ke hal yang lain hahaha. Jadi ya udah saya pensiunkan aja si HD202, balikin lagi ke kotaknya terus saya simpen.

Alhamdulillah, berhubung kemarin saya punya rezeki dan juga saya kangen sensasi si HD202, saya lansung ingat untuk membangkitkan lagi si HD202. Saya pun teringat kata teman saya bahwa ada toko yang bisa mengurus service headphone, tempatnya di Be Mall…tapi teman saya gak tau nama tokonya apa (lawak maneh hahaha). Saya cari di google, dapet deh nama tokonya: Don’t Blame Your Ears. Langsung aja saya telepon si toko itu yang alamatnya di Be Mall…tapi gak tersambung terus. Terus saya coba chat si pemilik tokonya via YM (YM broooooo, udah 2015 masih ada yang bertahan pakai YM, salut gan). Katanya tempat servicenya pindah ke Jl. H. Akbar Gg. Wiriadmadja No. 1. Walah, dimana pula itu. Ternyata deket pabrik kue kartika sari, deket stasiun kereta api di Jl. Kebon Kawung.

Saya pun meluncur ke sana, untung gak sulit nyari tempatnya…dari stasiun kereta api, lurus terus sampai ada papan Kartika Sari, masuk ke Jl. H. Akbar, jalan terus sampai harum kue (hmm…dari baunya aja udah kebayang kuenya nikmat, sluurph) nya hilang, terus belok kiri masuk gang Wiriadmadja, lurus terus sampai rumah kedua terakhir sebelum jalan mentok. Sebelum ke sana, gambaran awal saya tuh tempat servicenya seperti toko gitu, eh taunya rumah biasa, tulisan Don’t Blame Your Ears nya juga cuma di secarik kertas yang ditempel di jendela…jadi ragu nih, pelayanannya bagus atau nggak yah. Saya coba aja deh, udah capek juga papanasan jauh-jauh dari rumah.

Masuk ke ‘toko’…sederhana banget, cuma ada satu meja dan dua kursi. Tapi di sebelahnya, ada sekumpulan headphone mewah sekelas Audio-Technica, Grado, AKG, SHURE, Sennheiser, dll….beuh, ngiler saya liatnya, mantep-mantep euy. Minta satu dong kang, hehehe. Saya tanya kenapa kok gak di Be Mall lagi, katanya: Be Mall nya udah tutup, nanti mau pindah ke BEC. Pantesan ditelpon gak nyambung-nyambung…saya baru tau Be Mall udah tutup, hahaha.

Saya serahkan si HD202 ini ke si akang dbE. Katanya sih kemungkinan penyebabnya ada 3: Kabel, driver, atau jack. Kalau kabelnya bermasalah, nanti kabelnya dibenerin dan jadinya panjang sebelah. Saya sih oke-oke aja kabel panjang sebelah, daripada headphonenya gak bisa dipake hahaha. Dua hari kemudian, saya ditelpon sama dbE, katanya headphone saya udah sembuh dan biayanya 70 ribu. Katanya sih kabelnya ada yang mengelupas, seperti digigit tikus…wah ini sih pasti digigit semut merah, entah kenapa headphone ini disukai semut merah, sampai busanya bolong-bolong nih.

Akhirnya…duet maut is back! Si hitam Sennheiser HD202 + si putih Sony WALKMAN NWZ-S616F. Tinggal download musik-musik yang tipe filenya FLAC nih biar lebih mantep lagi, tapi karena internet di rumah payah, jadi males downloadnya hahaha.

Overall, service di dbE oke. Orangnya ramah dan responnya cepat. Recommended nih buat teman-teman yang mau service headphone di sini. Thanks dbE!