Bubur Ayam Gibbas: Bubur Enak di Bandung!

Tidak jarang bubur ayam menemani saya ketika pagi atau malam hari. Saat perut sedang lapar dan saya ingin menyantap makanan yang hangat, lembut dan gurih, saya pasti beli bubur ayam. Pun ketika kondisi badan sedang tidak enak karena sakit, bubur ayam juga menjadi menu andalan saya.

Mencari bubur ayam yang enak di bandung, memang gampang-gampang susah. Ada bubur yang kental, ada bubur yang encer. Ada bubur yang manis, ada bubur yang asin. Ada yang ayamnya banyak, ada yang ayamnya pelit. Ada yang cakuenya banyak, ada yang cakuenya sedikit. Ada yang enak tapi porsinya pelit, ada yang porsinya banyak tapi gak enak.

Setelah sekian lamanya saya berburu bubur ayam, hanya ada dua bubur ayam yang saya rekomendasikan: Bubur ayam depan Telkom Jl. Lembong (nanti akan saya tulis) dan bubur gibbas.

Kali ini, saya akan membahas Bubur Gibbas. Bubur ayam ini terletak di Jl. Kebonjati, dekat Kelenteng – tenang, menu ini halal kok. Bukanya mulai jam 17.00 sampai tengah malam. Tempatnya selalu ramai dikunjungi orang, mulai dari kawula muda sampai kakek-kakek dan nenek-nenek. Ketika pertama kali saya pesan, saya langsung kaget melihat satu mangkok bubur ayam gibbas ini.

Satu porsi bubur ayam biasa. Hampir tumpah!

Ayam dan Cakuenya BANYAK sekali! Potongannya pun besar-besar. Ini yang saya sangat suka.

Begitu juga dengan rasa buburnya. Tekstur buburnya encer, cocok dipadukan dengan potongan ayam dan cakue yang besar sehingga membuat mulut saya tidak kewalahan dalam mengunyah bubur ayam ini. Tanpa ayam dan cakue pun sebenarnya bubur ini sudah gurih kok. Belum lagi jika ditambah sedikit kecap, merica dan bawang goreng. Jangan lupa pakai emping, supaya menambah rasa kriuk di mulut. Hmmm….sedapnyaaa! Bagi anda yang suka telor, ada juga menu spesial bubur ayam lengkap dengan ati ampela dan telor muda. Berhubung saya tidak suka keduanya, saya selalu memesan bubur ayam biasa saja, hehehe.

Bagaimana dengan harganya? Seporsi bubur ayam biasa harganya 13ribu rupiah. Khawatir tidak habis? Tenang, buburnya bisa dipesan setengah porsi kok, hanya beda 2000 rupiah saja. Pertama kali saya pesan ini pun, saya kewalahan untuk menghabiskan seporsi bubur gibbas ini, hahaha.


Bubur Ayam Gibbas

Buka: Senin-Jumat jam 17.00 s/d tengah malam (weekend tutup)

Lokasi: Jl. Kebonjati (dekat Kelenteng), cabang: Jl. Terusan Jakarta, Antapani (pagi buka jam 05.00 s/d 11.00)

Advertisements

Nongkrong Santai di Cups

Masih libur lebaran, bosan makan ketupat, ingin mencari tempat makan yang ringan saja tapi suasananya cozy dan santai. Di mana ya?

Teman saya menyarankan datang ke Cups, letaknya di Jl. Trunojoyo, Bandung. Saya coba saja ke sana.

Baru masuk ke dalam dan duduk, saya langsung merasa betah. Tempatnya spacious, cozy, comfortable dan santai. Musik yang diputar di sini enak banget, cocok untuk santai. Ini tempat yang tepat untuk mengerjakan sesuatu yang membutuhkan ketenangan, seperti belajar, mengerjakan tugas dan baca buku.

Suasana Cups. Cozy and spacious.

Pelayan datang ke meja saya, memberikan menu. Makanan dan minuman di sini jenisnya variatif, tapi didominasi menu western food. Tadinya saya ingin pesan menu utama, tapi karena saya dan teman saya ingin makanan yang ringan saja, jadilah kami pesan Truffle Fries. Saya dan teman saya memesan Truffle Fries, minumnya Virgin Piña colada dan Red Velvet Ice Latte.

Hal lain yang saya suka selain suasananya yang enak adalah pelayannya ramah banget! Membuat saya semakin betah di sini.

Makanan pun akhirnya datang!

Wadah truffle fries nya lucu deh, hahaha

Truffle friesnya enak. Kentangnya besar, bumbunya terasa. Piña coladanya terasa asam sedikit manis, segar deh. Red Velvet Ice Lattenya enak, manis, terasa rasa red velvetnya.

Hmm…saya jadi penasaran sama tempat ini, ingin ke sini lagi deh suatu hari nanti.

Kuliner: Mencicipi Sate Maranggi Cibungur Hj. Yetty

Kamis, 29 Juni 2017


Hari ini saya dan teman saya ingin jalan-jalan yang tidak biasa. “Kalau bisa sih yang agak jauh,” kata teman saya. Saya bingung, jalan-jalan ke mana ya?

Awalnya dia mengingatkan saya untuk mencoba kuliner di Dapur Pasta, lokasinya di Kota Baru Parahyangan, Padalarang. Kami pun meluncur ke sana. Ternyata…tokonya tutup! Masih suasana Idul Fitri sih ya, mungkin para pegawainya belum kembali ke Bandung, hehe.

Kami pun berpikir, apa yang bisa di-explore di Padalarang…tapi kami akhirnya pusing sendiri karena kami juga nggak tau mau mengunjungi apa di Padalarang, hahaha. Di saat yang sama, perut saya sudah minta diisi. Saya pun berpikir cepat dan tercetuslah ide untuk makan sate maranggi di Cibungur. Saya sendiri belum pernah ke sana, hanya pernah dengar ceritanya dan dibelikan saja. Lumayan jauh, tapi memang inginnya jalan-jalan yang agak jauh, jadi ya sudah, berangkat!

Perjalanan

Sebelum berangkat, Continue Reading

Super short review: 2016 KTM Duke 250

Minggu, 5 Maret 2017

Hari ini, KTM mengadakan sebuah acara gathering berjudul KTM Orange Day 2017. Ini merupakan KTM Orange Day kedua yang diselenggarakan oleh KTM dan kali ini KTM mengadakan acaranya di Bandung, tepatnya di Sabuga ITB.

Pada KTM Orange Day kali ini, KTM menyelenggarakan acara yang menarik. Ada acara test ride, stunt rider, female DJ, photo competition, dan ada door prize menarik. Saya datang ke acara ini karena saya penasaran dengan motor KTM Duke series. Desain motornya benar-benar berani dan out of the box. Ditambah lagi dengan spesifikasi motor yang juga tak kalah menarik: high power (26 hp for Duke 200), low weight, suspensi depan Upside down, suspensi belakang WP, rem Bybre, ban super lebar, panel instrumen full digital, ditambah frame trellis dan warna orange yang menjadi ciri khas KTM…wah, Duke series sukses memikat hati saya. Sayang, harga motornya mahal, 34.8 juta rupiah (OTR Bandung).

Sebenarnya saya tertarik beli Duke 200, tapi saya juga pengen tau gimana sih rasanya naik Duke 200. Jangan sampai saya udah keluar uang banyak, eh malah nggak puas pakenya. Makanya saya sangat tertarik untuk mengikuti acara test ride di KTM Orange Day 2017 ini.

Datanglah saya ke Sabuga ITB pada hari minggu pagi. KTM memberikan kesempatan test ride untuk semua lineup motornya: KTM Duke 200 & 250, dan KTM RC 200 & 250. Langsung saja saya registrasi test ride…ternyata banyak juga yang berminat test ride. Bahkan ada rider wanita juga lho, hebat. Berhubung unit test ride Duke 200 cuma satu unit, saya jadinya memilih mencoba Duke 250 saja, supaya antrinya tidak lama. Sebenarnya setiap orang boleh-boleh saja mencoba semua unit motor, dan saya inginnya begitu, namun sayang waktunya tidak cukup.

Isi formulir test ride, kumpulkan ke panitia, lalu nunggu dipanggil. Setelah agak lama menunggu akibat kesemrawutan penyelenggaraan test ride, akhirnya giliran saya tiba juga. Test rider diwajibkan memakai safety gear yang disediakan panitia: helm full face, elbow protector dan knee protector. Setelah saya pakai semua gear, langsung saya coba unit test ride Duke 250 berwarna hitam.

Posisi duduk tegak, tidak menunduk. Joknya yang lebar dan suspensi monoshock yang cenderung soft membuat saya duduk secara nyaman. Sepertinya enak untuk perjalanan jauh. Tapi jok tebengan ukurannya kecil..entah nyaman atau nggak untuk perjalanan jauh. Putar konci kontak ke posisi on…kok speedometernya nggak nyala yah. Ternyata engine stopnya aktif, saya tekan ke posisi run, dan speedometer pun menyala. Hmm..tulisannya kecil-kecil..tapi buat saya sih jelas terlihat. Nyalakan mesin…bunyinya garang, tapi halus. Tidak ada getaran berarti di stang dan kaki. Halus banget.

Pindahkan ke gigi 1, langsung jalan! Baru berjalan sedikit, sudah harus menikung U-turn…tapi yang saya rasakan, membawa Duke 250 ini kok ringan sekali, saya tidak merasa seperti membawa motor 250cc. Oh iya, sebagai informasi, track test ride ini sangat pendek sekali. Track berbentuk elips dan cuma 60 meter doang.

Motor berbelok dengan stabil, berkat ban lebar. Keluar tikungan, saya langsung putar tuas gas…ternyata tenaga baru menyentak di RPM tengah. Baru jalan sedikit, harus menikung lagi…saatnya mencoba pengereman. Unit Duke 250 ini sudah dilengkapi ABS, tidak perlu khawatir ban akan terkunci. Sedangkan Duke 200 belum ABS. Pengereman menurut saya sudah baik, walau di awal acara, pihak KTM mewanti-wanti jangan kaget kalau rem ABS nanti akan terasa kurang pakem…tapi buat saya sih sudah pakem ah.

Pada lap berikutnya, saya coba shifting gear…wah halus sekali pindah giginya. Hampir tidak ada effort berarti pada saat pindah gigi. Beda sekali dengan motor-motor kopling yang pernah saya bawa sebelumnya. Saya sebenernya penasaran dengan top speed dan performa suspensi di jalan yang jelek, tapi berhubung track testnya kecil sekali, ya sudah saya cuma bisa test segitu aja.

Kelebihan:

  • Posisi duduk nyaman
  • Suspensi empuk
  • Gear shifting halus sekali
  • Minim getaran
  • Tarikan enteng
  • Desain motor gahar
  • Ringan
  • ABS

Kekurangan:

  • Speedometer kecil
  • Jok tebengan kecil
  • Mahal

Puas test ride, saya kembali ke stand, isi formulir testimoni test ride. Pulangnya dikasih snack, free lunch, dan undian door prize. Sayang saya nggak sempet mencoba Duke 200, RC 200 dan RC 250, karena saya harus pulang secepat mungkin (khawatir kehujanan, karena siang mulai gelap).

Andai uang bukan masalah buat saya, bakal saya beli di tempat itu Duke 250, hahaha.

Review: Touring menggunakan Yamaha X-Ride 2016

Saya menggunakan Yamaha X-Ride untuk melakukan touring Bandung-Ciletuh-Bandung selama 2 hari sejauh 500 kilometer. Berikut beberapa poin yang saya ambil.

Si EXO (X-Ride Orange)

Si EXO (X-Ride Orange)

Underpowered

Ya, motor ini sangat underpowered! Saya mengalami kesulitan untuk menyalip kendaraan-kendaraan yang ada di depan saya. Untuk mencapai 60 km/jam saja rasanya lambat sekali. Hampir 80% perjalanan dari Bandung-Ciletuh-Bandung saya mainkan bukaan gas di atas 3/4, artinya saya selalu memuntir grip throttle mendekati maksimal…tapi tetap saja laju X-Ride seakan tertahan sesuatu. Bahkan saya kalah oleh Honda Revo di jalanan lurus maupun jalanan berkelok. Panas hati ini rasanya! Walau begitu, X-Ride ini mampu menanjak dengan baik, lho.

Konsumsi BBM: Boros

Selama touring, saya mengisi BBM 2.5 kali full tank. Kalau saya hitung, konsumsi BBM rata-rata yang saya dapatkan adalah 42 km per liter. Itu pun sudah saya gaspol terus-terusan. Sebagai perbandingan saja, konsumsi BBM yang beda tipis (40 km per liter) didapatkan oleh teman saya yang menggunakan Honda CBR 250R. Teman saya yang lain menggunakan Yamaha NMAX, konsumsi BBM nya juga beda tipis dengan saya (39 km per liter)…konsumsi BBM sebuah motor 115cc nyaris sama dengan motor 155cc bahkan 250cc..saya pikir X-Ride boros ya.

Boncengan empuk

Teman saya ingin mencoba motor saya, ya sudah saya kasih pinjam, saya dibonceng. Jalan yang dilalui batuan lepas besar-besar. Eh, ternyata empuk sekali bantingan untuk boncengers. Saya tidak merasa terguncang sama sekali, padahal jalannya jelek. Sebagai informasi saja, berat badan saya 77 kg, dan teman saya 70 kg. Cocok nih buat membonceng.

Ground clearance tinggi; hajar segala medan!

Ini yang paling nikmat. Di saat teman-teman menghajar jalan rusak secara perlahan, saya dengan pede nya menghajar jalan rusak tersebut dengan cepat. Ground clearance yang tinggi juga sangat membantu; saya tidak perlu khawatir deck motor saya mencium bebatuan atau aspal. Pokoknya hajar, bleh!

Riding position nyaman

Ini lebih nikmat lagi. Selama perjalanan 500 km, saya tidak mengalami pegal-pegal sedikit pun. Setang lebar dan cenderung tegak ke atas membuat posisi berkendara sangat nyaman rileks.


Andai saja Yamaha X-Ride ini memiliki mesin yang lebih bertenaga dan bagasi yang lebih luas, tentulah motor ini akan menjadi motor yang paling cocok untuk memenuhi kebutuhan saya.

Overall, X-Ride layak untuk dipakai touring santai…tapi untuk touring cepat rasanya akan susah mengimbangi motor lain.

Zoho: Email provider gratis selain Gmail dan Yahoo

Saya membutuhkan akun email baru khusus untuk hal-hal yang tidak terlalu penting. Sering saya alami ketika saya ingin mencoba beberapa apps (semacam Grab, Traveloka, Instagram, dll.), saya harus mendaftar via email, dan saya tidak mau email pribadi saya tercampur oleh iklan, promo atau notifikasi tidak penting lainnya.

Di sisi lain, saya juga bosan dengan email provider gratisan yang mainstream semacam Gmail dan Yahoo…jadi saya cari email provider alternatif gratisan, siapa tau ada yang cocok. Teman saya pernah memberitahu saya bahwa ybs. memiliki email dengan domain zoho.com.

WTF is Zoho? Is that even legit?

Kata temen saya sih itu email legit, kok. Ya sudah saya coba daftar di Zoho.com. Ternyata banyak sekali jasa-jasa yang ditawarkan, sepertinya Zoho ini menyasar segmen business and entrepreneur. Tapi karena saya cuma butuh email gratisan doang, ya sudah untuk saat ini saya daftar jasa emailnya saja. Meluncur ke mail.zoho.com dan saya langsung tertawa. Kok bisa bikin email baru via akun Google 😀 Karena saya tidak mau ada koneksi sedikitpun ke akun Google saya, saya daftar via nomor telepon saja.

Akun sudah dibuat, tampilan minimalis dan bersih. Sudah berminggu-minggu pakai, email saya bebas dari spam dan iklan. Ada apps Zoho Mail juga di PlayStore, push notifications berfungsi dengan baik. Saya puas pakai Zoho Mail!

Tampilan Zoho Mail di PC.

Tampilan Zoho Mail di PC.

Intinya: Kalau ingin punya akun email gratisan yang anti-mainstream, Zoho Mail bisa jadi pilihan. Bersih, ringan, minimalis. Ada apps-nya juga!

Review: 2016 Yamaha X-Ride

Karena sesuatu dan lain hal, si putih Honda Vario 125 saya ‘hibahkan’ ke bapak saya dan sebagai penggantinya, saya memutuskan untuk meminang Yamaha X-Ride berwarna Titanium Gold. Langsung saja saya review luar dalam.

Desain

Lagi males foto, jadi seadanya aja :D

Lagi males foto, jadi seadanya aja 😀

First things first, masalah desain adalah masalah selera, jadi sudah pasti bersifat subjektif. Menurut saya, desain oke. Sebagian orang berpendapat bentuknya aneh, tapi bagi saya malah terkesan unik.

Saya tekan-tekan bagian body motor…terasa keras dan kaku, tidak ada bunyi apapun dan tidak ada plastik yang ‘mleot-mleot’ (halah, bahasa resminya apa yah, pokoknya tidak ada yang tertekan sampai bentuknya berubah gitu lah 😀 ). Bagus.

Desain speedometernya saya sangat suka! Bentuk membulat, background gelap, dengan tulisan angka yang bentuknya kaku berwarna oranye ditambah garis penunjuk berwarna putih. Simple, tegas dan enak dipandang.

Saya kurang suka sama bentuk behelnya, kenapa sih harus bergelombang begitu. Ditambah lagi desain velg khas matic Yamaha…entah sampai kapan Yamaha akan memakai desain yang sama, dari jaman Mio gen 1 sampai sekarang masih begitu-begitu aja bentuknya. Ban Continue Reading

No Picture Review: 2016 All New Honda Vario ESP CBS

All New Honda Vario 125 CBS menjadi pilihan pengganti RX-KING yang telah saya jual beberapa waktu yang lalu. Kali ini saya akan mereview skutik ini tapi mohon maaf tidak ada gambar motor saya, karena saya malas foto 😀 Langsung saja saya mulai dari sisi desain terlebih dahulu.

Males upload foto, nyomot dari website AHM aja deh :D

Males upload foto, nyomot dari website AHM aja deh 😀

Desain

Saya sangat suka dengan desain lampu depannya. Tajam.

Lanjut ke desain speedometer…desainnya..yaa begitu deh. Sebenarnya untuk desain speedometer, saya lebih prefer desain yang membulat karena…entah kenapa, saya tidak suka desain speedometer tajam-tajam seperti Vario 125 ESP ini. Di sisi lain, keterbacaan speedometer ini sudah baik, semua terlihat dengan jelas baik siang maupun malam.

Lihat ke sisi samping…bentuknya bagus dengan lekukan-lekukan manis. Lanjut ke bagian belakang, saya sebenernya nggak suka dengan desain stop lamp nya…tajam-tajam nggak jelas gitu lah. Rada tanggung sih bentuknya kalau menurut saya. Bentuk spatbor biasa saja, sedangkan desain pelindung knalpot lumayan bagus.

Saya tekan-tekan bodi di dekat dudukan plat nomor di depan…terdengar bunyi-bunyi mendecit, ‘kriet-kriet.’ Bunyi yang sama muncul ketika saya menekan plastik di bagian pegangan di dekat boncengan. Kecewa, motor baru sudah bunyi begini.

Overall, saya menilai desain All New Vario 125 dari depan sangat bagus, semakin ke belakang semakin biasa saja. Perlu diingat masalah desain adalah masalah selera, dimana setiap orang memiliki selera yang berbeda 😀

Ergonomi

Saya naiki All New Honda Vario 125 CBS ini…posisi duduk nyaman. Dengan tinggi badan 177 cm, alhamdulillah saya tidak mengalami kesulitan yang berarti dalam menaiki motor ini 😀 😀 Posisi tangan lurus ke bawah tidak menekuk, berbeda dengan Vario generasi pertama dimana posisi setang agak ke atas dan siku tangan sedikit menekuk. Agak tanggung, namun kalau sudah terbiasa, nyaman juga. Grip gas oke, nyaman digenggam.

Jarak lutut ke dek masih tersisa cukup banyak. Jok tidak licin, jauh berbeda dengan jok Vario gen 1 yang bisa membuat saya ngesot, hehe..

Kenyamanan berkendara

Putar kunci kontak ke on, jarum berputar, indikator FI menyala ditambah bunyi ‘ngiiing’ khas fuel pump. Tekan tombol starter sambil tekan tuas rem, mesin pun menyala. Suara starter sangat halus, saya sangat suka. Bunyi mesin pada saat idle juga halus.

Langsung saja saya pelintir grip gas nya, motor pun melaju..suara mesin halus. Saya arahkan motor ke jalanan jelek…baik shock depan maupun belakang terasa sangat keras. Sangat jauh berbeda dengan Vario Techno 110, yang Continue Reading

Pengalaman Perjalanan Bandung – Jakarta Menggunakan Travel

Berhubung akhir-akhir ini saya sering ke Jakarta – Bandung memakai jasa Travel, saya mau sharing pengalaman saya memakai berbagai jenis Travel yang pernah saya pakai:

Cipaganti (MGO)

Salah satu jasa travel yang sering saya pakai. Mulai tanggal 3 Juni 2015, Cipaganti berubah nama jadi MGO. Pool di Bandung letaknya di BTC Pasteur dan MTC Buah Batu. Saya sih biasanya ke Jakarta tujuan Cempaka Putih kalo naik Cipaganti, poolnya di ITC Cempaka Mas. Poolnya sedikit tidak terawat. Mobil menggunakan Hyundai Starex, mobil diesel tapi suaranya senyap karena udah diesel commonrail, mantap. Suspensi juga empuk, jadi nyaman. Tempat duduk 7-seat sebelah supir, nyaman. Tapi kalau duduk di paling belakang, kaki saya masih nabrak kursi di depannya. Supirnya kadang-kadang suka nyetel musik seenaknya, tapi bawa mobilnya jago, jadi cepet sampai. Di dalam mobil ada air minum gelas, gratis. Keberangkatan seringkali tepat waktu. Biasanya berhenti di rest area km 72. Harga Rp 120.000.

+ Mobil nyaman, suspensi empuk, senyap banget

+ Cepat

– Pool sedikit tidak terawat

– Supir kadang-kadang suka nyetel musik seenaknya

Baraya

Inilah travel paling ekonomis. Keunggulan yang ditawarkan Baraya adalah harganya yang terjangkau; hanya Rp 85.000 saja. Bahkan sekarang lagi ada promo, Bandung – Jakarta pulang pergi cuma Rp 110.000 !! Sangat murah kan? Tapi…ada tapinya loh…

Kondisi pool payah, bahkan terkesan seadanya. Sedih lah pokoknya. Pool di Bandung letaknya di Surapati, sebelah pom bensin di belakang Masjid Pusdai. Kalau ke Jakarta, saya biasanya ke arah Kelapa Gading; pool Baraya letaknya di Hypermall, yang ada Hypermartnya, seberang Lotte Mart. Mobil menggunakan Isuzu Elf 10-seat+2-seat sebelah supir. Sempit coy, apalagi yang paling belakang, empat orang sebaris. Nah, kalau mau Bandung – Jakarta pp cuma Rp 110.000, harus duduk di paling belakang. Mobilnya berisik, maklum Isuzu Elf, masih diesel conventional. Supir ramah, tapi bawanya nyantai, jadi lama nyampenya. Gak dikasih minum, jadi bawa sendiri ya dari rumah kalau mau minum, hehe. Keberangkatan suka telat; pernah saya pesan keberangkatan jam 19.00 tapi berangkatnya jam 19.30. Rest area di km 52. Pernah kejadian ada penumpang tambahan, gara-gara kesalahan manajemen Baraya yang mengakibatkan penumpang salah jurusan…bahaya juga nih. Walaupun begitu, peminat travel Baraya tidak sedikit, lho.

+ Murah

– Pool tidak terawat

– Lambat

– Manajemen masih kacau

– Mobil tidak senyaman Cipaganti (MGO) & CitiTrans. Kabin sempit dan kurang senyap.

Citi Trans

Jawaranya travel mewah. Pool di Bandung letaknya di Dipati Ukur (sebelah pom bensin) dan Pasteur (sebelah pool cipaganti yang di luar BTC). Kalau ke Jakarta, saya biasanya ke Kelapa Gading, poolnya di ruko setelah Lotte Mart. Mobil menggunakan Toyota HiAce 8-seat. Sangat lega, mewah, nyaman, bersih dan senyap. Kaki bisa selonjoran dengan bebas, enak banget deh pokoknya. Supir ramah, selalu mengingatkan untuk menggunakan sabuk pengaman…wah peduli sama keselamatan pelanggannya nih. Bawa mobilnya juga cepat. Tiap penumpang dikasih air minum 600 ml, ada tulisan Citi Trans nya..mewah euy. Keberangkatan sangat tepat waktu. Rest area saya lupa di km berapa, hahaha…tapi berhentinya cuma sebentar, bagus nih jadinya cepet sampe tujuan. Ada rupa, ada harga; Rp 135.000. Mahal sih, tapi sebanding lah sama kualitasnya.

+ Manajemen sangat baik

+ Mobil sangat lega, mewah dan nyaman

+ Cepat

+ Kondisi pool terawat

+ Tepat waktu

– Mahal

Sekian sharing dari saya, semoga bermanfaat 🙂

Setelah hampir 3 tahun mati…akhirnya hidup kembali!

UPDATE: Alamat Don’t Blame Your Ears sepertinya udah pindah ke BEC Extension Lantai 2 no. Y05. (Sumber: website dbe)

Tentunya bukan makhluk hidup yang saya maksud pada judul di atas, hehe…setelah hampir 3 tahun lamanya, headphone saya akhirnya berfungsi kembali!

Headphone ini saya pakai untuk memutar musik-musik favorit di music player Sony WALKMAN seri S616F. Sebenarnya, pake headphone biasa di walkman ini tuh udah oke banget. Dengan teknologi andalan CLEAR Bass, Clear Stereo, dan Dynamic Sound Enhancement Engine, bassnya kerasa banget, suaranya juga jernih. Menurut saya, kalau dibandingin dengan iPod Nano, yang dulu harganya gak beda jauh sama ini (kalau sekarang harga iPod Nano udah menggila haha), untuk urusan suara iPod Nano kalah agak jauh lah sama walkman. Kalau diibaratkan sepakbola, skornya walkman 4-1 iPod…hahaha. Tapi memang dasar manusia, udah dikasih enak tetep aja masih gak puas. Saya pengen denger yang lebih mantep lagi, kalau bisa sampai ada sensasi bergetar di telinga saya hahaha. Jadilah saya beli headphone mewah dengan harga rendah. Dapetnya ya ini, Sennheiser HD202.

Sennheiser HD 202 with Sony WALKMAN NWZ-S616F

Sennheiser HD 202 with Sony WALKMAN NWZ-S616F

Saya beli headphone ini tahun 2010. Saya masih inget belinya jaman saya masih SMA sebelum masuk kuliah di toko Sony, Ciwalk. Ditebus dengan harga 300ribu…sekarang mungkin udah 400 ribuan. Terakhir kali ke Ciwalk, tokonya udah gak ada, hahaha.

Setelah saya beli, langsung aja saya burn di komputer seharian. Keesokan harinya saya setel musik di walkman pake si HD202 ini dan ternyata…manTAFT banget coooyyy!! Untuk low frequency, di sinilah kemampuan paling mantep dari HD202…bassnya nendang banget. Ditambah CLEAR Bass dari walkman, suara bass makin nendang..sampai ada sensasi bergetar, hahaha. Tercapailah tujuan saya beli headphone ini. Selain itu, untuk high freq HD202 juga oke kok, detail-detail dari suara gitar dan alat musik lainnya terdengar dengan jelas. Untuk mid freq seperti suara vokal memang sedikit (dikit banget) tertutup oleh bass, namun hal tersebut bisa diatasi berkat si mungil Sony Walkman. Jadilah duet maut Sennheiser HD202 dan Sony Walkman S616F yang memanjakan telinga setiap kali saya mendengarnya, hehe.

Dua tahun setelah saya beli headphone itu, suatu hari si HD202 ini mengalami masalah. Suaranya cuma muncul sebelah. Saya bingung waktu itu, apakah headphone ini bisa dibenerin, kalau bisa, dimana? Mahal gak? (garansinya udah habis haha) Atau beli baru aja sekalian nyobain merk lain? Semua opsi itu gak bisa dilakukan karena memang saya lagi gak punya uang, dan kalaupun ada uang saya prioritaskan ke hal yang lain hahaha. Jadi ya udah saya pensiunkan aja si HD202, balikin lagi ke kotaknya terus saya simpen.

Alhamdulillah, berhubung kemarin saya punya rezeki dan juga saya kangen sensasi si HD202, saya lansung ingat untuk membangkitkan lagi si HD202. Saya pun teringat kata teman saya bahwa ada toko yang bisa mengurus service headphone, tempatnya di Be Mall…tapi teman saya gak tau nama tokonya apa (lawak maneh hahaha). Saya cari di google, dapet deh nama tokonya: Don’t Blame Your Ears. Langsung aja saya telepon si toko itu yang alamatnya di Be Mall…tapi gak tersambung terus. Terus saya coba chat si pemilik tokonya via YM (YM broooooo, udah 2015 masih ada yang bertahan pakai YM, salut gan). Katanya tempat servicenya pindah ke Jl. H. Akbar Gg. Wiriadmadja No. 1. Walah, dimana pula itu. Ternyata deket pabrik kue kartika sari, deket stasiun kereta api di Jl. Kebon Kawung.

Saya pun meluncur ke sana, untung gak sulit nyari tempatnya…dari stasiun kereta api, lurus terus sampai ada papan Kartika Sari, masuk ke Jl. H. Akbar, jalan terus sampai harum kue (hmm…dari baunya aja udah kebayang kuenya nikmat, sluurph) nya hilang, terus belok kiri masuk gang Wiriadmadja, lurus terus sampai rumah kedua terakhir sebelum jalan mentok. Sebelum ke sana, gambaran awal saya tuh tempat servicenya seperti toko gitu, eh taunya rumah biasa, tulisan Don’t Blame Your Ears nya juga cuma di secarik kertas yang ditempel di jendela…jadi ragu nih, pelayanannya bagus atau nggak yah. Saya coba aja deh, udah capek juga papanasan jauh-jauh dari rumah.

Masuk ke ‘toko’…sederhana banget, cuma ada satu meja dan dua kursi. Tapi di sebelahnya, ada sekumpulan headphone mewah sekelas Audio-Technica, Grado, AKG, SHURE, Sennheiser, dll….beuh, ngiler saya liatnya, mantep-mantep euy. Minta satu dong kang, hehehe. Saya tanya kenapa kok gak di Be Mall lagi, katanya: Be Mall nya udah tutup, nanti mau pindah ke BEC. Pantesan ditelpon gak nyambung-nyambung…saya baru tau Be Mall udah tutup, hahaha.

Saya serahkan si HD202 ini ke si akang dbE. Katanya sih kemungkinan penyebabnya ada 3: Kabel, driver, atau jack. Kalau kabelnya bermasalah, nanti kabelnya dibenerin dan jadinya panjang sebelah. Saya sih oke-oke aja kabel panjang sebelah, daripada headphonenya gak bisa dipake hahaha. Dua hari kemudian, saya ditelpon sama dbE, katanya headphone saya udah sembuh dan biayanya 70 ribu. Katanya sih kabelnya ada yang mengelupas, seperti digigit tikus…wah ini sih pasti digigit semut merah, entah kenapa headphone ini disukai semut merah, sampai busanya bolong-bolong nih.

Akhirnya…duet maut is back! Si hitam Sennheiser HD202 + si putih Sony WALKMAN NWZ-S616F. Tinggal download musik-musik yang tipe filenya FLAC nih biar lebih mantep lagi, tapi karena internet di rumah payah, jadi males downloadnya hahaha.

Overall, service di dbE oke. Orangnya ramah dan responnya cepat. Recommended nih buat teman-teman yang mau service headphone di sini. Thanks dbE!