Review 20.000 km: Yamaha X-Ride 2016

Baca juga: Review 10.000 km: Yamaha X-Ride 2016


Tidak terasa si exo (X-Ride Orange) sudah 2 tahun menemani saya. Tidak terasa pula odometernya sudah menunjukkan angka 20.000; artinya saya dan exo sudah berkeliling sepanjang 20.000 kilometer. Tidak lupa saya langsung servis exo di bengkel resmi Yamaha. Banyak juga komponen yang harus diganti. V-Belt, mangkok, rumah mangkok, pulley, oli mesin, oli gardan dan oli fork. Biaya total yang saya habiskan pada servis 20.000 km ini adalah 766.500 rupiah. Saya kaget melihatnya! Tapi saya pikir wajar sih karena exo sudah berjalan sebanyak 20.000 km. Dalam rangka menempuh milestone ini akan saya bahas beberapa hal yang saya alami:

20.000 km!

Sering bunyi berdecit di CVT

Sepertinya ini merupakan penyakit khas CVT skutik Yamaha. Continue Reading

Advertisements

Mengendarai Salah Satu Legend: Mitsubishi L-300!

13 Mei 2018


Hari ini saya termasuk orang yang beruntung, mencoba mengendarai salah satu legenda hidup dalam dunia otomotif roda empat: Mitsubishi L-300! Walaupun ini mobil lawas, kolot, jadul, kotak, tapi ini salah satu mobil yang dari saya kecil ingin sekali saya kendarai. Alasannya sederhana: Tuas pindah giginya itu lho…ikonik banget!

Mitsubishi L-300 yang saya kendarai merupakan mobil jenis bak terbuka (pick up) keluaran tahun 1997, berwarna hitam. Sudah 21 tahun mobil ini beroperasi. Mobil ini saya pinjam dari teman saya untuk mengangkut berbagai barang dari salah satu supermarket bangunan di bandung. Saya tidak mungkin membawa mobil biasa untuk mengangkut barang2 tersebut, karena berat total barangnya mencapai hampir 1 ton.

Interior

Interior L-300.

Saya buka pintu mobil ini…ah, saya lupa. Ini kan mobil lawas, tidak ada yang namanya central lock. Saya colok lalu putar kuncinya, lalu buka deh. Interior mobil ini…ya seadanya saja. Apa sih yang diharapkan dari mobil Pick Up keluaran tahun 1997? Jok sobek-sobek, Continue Reading

Review: Kawasaki W175

Sabtu, 20 Januari 2018


Hari ini saya berkunjung ke dealer Kawasaki (PT Citrakarya Pranata) di Jl. Soekarno Hatta, Bandung untuk test ride satu unit motor Kawasaki W175. Sebenarnya untuk test ride motor ini bisa datang kapan saja selama dealer ini buka, namun untuk weekend harus janjian terlebih dahulu dengan sales-nya. Langsung saja saya coba motor Kawasaki W175.

Unit Test Ride Kawasaki W175.

Build Quality: Mantap!

Unit test ride yang diberikan oleh sales adalah Kawasaki W175 SE berwarna hitam. Unit SE ini tidak berbeda jauh dengan unit yang biasa. Perbedaannya hanya ada pada aksen jok, pelindung karet di tangki dan pemberian finishing krom di engine.

Saya lihat build quality W175 Continue Reading

Review 10.000 km Yamaha X-Ride 2016

Baca juga: Review: Touring menggunakan Yamaha X-Ride 2016

Bulan Desember tahun 2017 kemarin, si Exo alias Yamaha X-Ride saya sudah menempuh 10.000 kilometer lebih dan di waktu yang sama sudah berumur 1 tahun lebih sedikit. Langsung saja si Exo saya bawa ke bengkel untuk servis rutin. Bengkel yang saya kunjungi adalah bengkel Yonk Jaya yang berlokasi di Jl. Cicadas Kota Bandung.

10.000 km!

Bearing (laher) roda depan minta ganti

Sebenarnya ini sudah saya rasakan di kilometer 9.000-an. Terasa roda depan tidak mantap, sedikit goyah dan ada bunyi khas bearing oblak. Saya pun meminta ganti ke bengkel tapi sayangnya, bengkel tidak memiliki stok laher untuk si Exo. Saya sebenarnya agak heran…masa sih bengkel resmi tidak memiliki stok bearing roda depan? Motor saya ini kan bukan motor yang langka, banyak kok pemakainya. Ya sudah deh nanti saja gantinya (mungkin juga saya sudahi saja servis di bengkel ini, mau coba bengkel lain saja).

Bunyi berdecit di CVT

Bunyi berdecit khas motor matic mulai saya dengar pada saat odometer sudah menyentuh angka 10.000. Bunyi ini sangat jelas terdengar jika mesin motor masih dalam keadaan dingin. Setiap saya berangkat kerja jam 6.15 pagi, motor saya hidupkan lalu saya jalan, dan terdengarlah bunyi “cit,cit,cit” di area CVT. Jika mesin sudah panas atau sudah menempuh jarak yang agak jauh, bunyi berdecit ini berkurang.

Saya tidak tau pasti penyebab bunyi berdecit di CVT ini. Mungkin karena si Exo ini pernah terendam saat menerobos sungai atau gara-gara saya sering betot gas secara extreme, hahaha. Akhirnya saya serahkan ke mamang mekanik untuk menyelesaikan permasalahan ini. Mekaniknya malah menawarkan untuk servis CVT saja sekalian, ya sudah saya setujui saja, toh sudah menyentuh 10.000 kilometer ini, tidak ada salahnya. Setelah dibongkar cover CVT-nya, ternyata filter udara si Exo sudah kotor sekali..ya sudah saya minta ganti saja.

Herannya, setelah diservis CVT bunyi berdecit ini malah makin jelas terdengar. Entah mekaniknya nggak becus atau memang ada part yang harus diganti, saya tidak tahu. Akan saya coba periksa lagi di servis berikutnya di bengkel yang berbeda.

Tidak banyak penggantian komponen

Selama perjalanan saya dari meminang si Exo sampai sekarang, tidak banyak penggantian komponen yang saya lakukan. Komponen-komponen yang pernah saya ganti diantaranya adalah kampas rem depan, stop lamp, filter udara dan bearing (laher) yang seharusnya sudah diganti di servis 10.000 kilometer ini jika bengkel yang saya kunjungi memiliki stok bearing yang saya butuhkan. Komponen lain yang saya ganti adalah ban dalam yang bocor melulu. Entah karena medannya banyak paku tersembunyi, atau karena bobot pengendara yang semakin gendut 😛 , atau karena saya memakainya extreme, atau memang bannya payah. Yang jelas untuk komponen ban, saya berencana untuk menghabiskan ban standar ini lalu menggantinya dengan ban tubeless, supaya tidak mudah bocor. Sempat mau langsung diganti ban tubeless, tapi sayang, ban standar ini umurnya masih panjang..jadi saya manfaatkan dulu sampai habis deh.

Si Exo. (EX-ride Orange)

Performa mantap

Saya merasa performa si Exo lebih mantap setelah menempuh 10.000 kilometer bila dibandingkan dengan pada saat si Exo masih dalam kondisi baru. Saya pikir memang wajar sih, karena komponen-komponen mesin sudah membentuk groove tersendiri, sehingga gerakan mesin lebih luwes dan lebih ringan. Tidak ada penurunan performa yang saya rasakan. Tidak ada getaran setang yang mengganggu, saya pakai nyaman-nyaman saja. Velg pun masih OK. Padahal saya termasuk yang extreme memakai si Exo ini. Sering terabas jalan berlubang dan jalan yang nggak rapih dengan kecepatan agak tinggi, hehehe. Disuruh Ride Extreme sih di sticker bodinya X-Ride, ya sudah saya pakai secara Extreme juga 😀 Padahal velg matic Yamaha kan terkenal mudah peyang, tapi alhamdulillah velg si Exo baik-baik saja.


Baca juga: Review: Touring menggunakan Yamaha X-Ride 2016
Super short review: 2016 KTM Duke 250
Review: Kawasaki W175
Review: 2016 Yamaha X-Ride

Bubur Ayam Gibbas: Bubur Enak di Bandung!

Tidak jarang bubur ayam menemani saya ketika pagi atau malam hari. Saat perut sedang lapar dan saya ingin menyantap makanan yang hangat, lembut dan gurih, saya pasti beli bubur ayam. Pun ketika kondisi badan sedang tidak enak karena sakit, bubur ayam juga menjadi menu andalan saya.

Mencari bubur ayam yang enak di bandung, memang gampang-gampang susah. Ada bubur yang kental, ada bubur yang encer. Ada bubur yang manis, ada bubur yang asin. Ada yang ayamnya banyak, ada yang ayamnya pelit. Ada yang cakuenya banyak, ada yang cakuenya sedikit. Ada yang enak tapi porsinya pelit, ada yang porsinya banyak tapi gak enak.

Setelah sekian lamanya saya berburu bubur ayam, hanya ada dua bubur ayam yang saya rekomendasikan: Bubur ayam depan Telkom Jl. Lembong (nanti akan saya tulis) dan bubur gibbas.

Kali ini, saya akan membahas Bubur Gibbas. Bubur ayam ini terletak di Jl. Kebonjati, dekat Kelenteng – tenang, menu ini halal kok. Bukanya mulai jam 17.00 sampai tengah malam. Tempatnya selalu ramai dikunjungi orang, mulai dari kawula muda sampai kakek-kakek dan nenek-nenek. Ketika pertama kali saya pesan, saya langsung kaget melihat satu mangkok bubur ayam gibbas ini.

Satu porsi bubur ayam biasa. Hampir tumpah!

Ayam dan Cakuenya BANYAK sekali! Potongannya pun besar-besar. Ini yang saya sangat suka.

Begitu juga dengan rasa buburnya. Tekstur buburnya encer, cocok dipadukan dengan potongan ayam dan cakue yang besar sehingga membuat mulut saya tidak kewalahan dalam mengunyah bubur ayam ini. Tanpa ayam dan cakue pun sebenarnya bubur ini sudah gurih kok. Belum lagi jika ditambah sedikit kecap, merica dan bawang goreng. Jangan lupa pakai emping, supaya menambah rasa kriuk di mulut. Hmmm….sedapnyaaa! Bagi anda yang suka telor, ada juga menu spesial bubur ayam lengkap dengan ati ampela dan telor muda. Berhubung saya tidak suka keduanya, saya selalu memesan bubur ayam biasa saja, hehehe.

Bagaimana dengan harganya? Seporsi bubur ayam biasa harganya 13ribu rupiah. Khawatir tidak habis? Tenang, buburnya bisa dipesan setengah porsi kok, hanya beda 2000 rupiah saja. Pertama kali saya pesan ini pun, saya kewalahan untuk menghabiskan seporsi bubur gibbas ini, hahaha.


Bubur Ayam Gibbas

Buka: Senin-Jumat jam 17.00 s/d tengah malam (weekend tutup)

Lokasi: Jl. Kebonjati (dekat Kelenteng), cabang: Jl. Terusan Jakarta, Antapani (pagi buka jam 05.00 s/d 11.00)

Nongkrong Santai di Cups

Masih libur lebaran, bosan makan ketupat, ingin mencari tempat makan yang ringan saja tapi suasananya cozy dan santai. Di mana ya?

Teman saya menyarankan datang ke Cups, letaknya di Jl. Trunojoyo, Bandung. Saya coba saja ke sana.

Baru masuk ke dalam dan duduk, saya langsung merasa betah. Tempatnya spacious, cozy, comfortable dan santai. Musik yang diputar di sini enak banget, cocok untuk santai. Ini tempat yang tepat untuk mengerjakan sesuatu yang membutuhkan ketenangan, seperti belajar, mengerjakan tugas dan baca buku.

Suasana Cups. Cozy and spacious.

Pelayan datang ke meja saya, memberikan menu. Makanan dan minuman di sini jenisnya variatif, tapi didominasi menu western food. Tadinya saya ingin pesan menu utama, tapi karena saya dan teman saya ingin makanan yang ringan saja, jadilah kami pesan Truffle Fries. Saya dan teman saya memesan Truffle Fries, minumnya Virgin Piña colada dan Red Velvet Ice Latte.

Hal lain yang saya suka selain suasananya yang enak adalah pelayannya ramah banget! Membuat saya semakin betah di sini.

Makanan pun akhirnya datang!

Wadah truffle fries nya lucu deh, hahaha

Truffle friesnya enak. Kentangnya besar, bumbunya terasa. Piña coladanya terasa asam sedikit manis, segar deh. Red Velvet Ice Lattenya enak, manis, terasa rasa red velvetnya.

Hmm…saya jadi penasaran sama tempat ini, ingin ke sini lagi deh suatu hari nanti.

Kuliner: Mencicipi Sate Maranggi Cibungur Hj. Yetty

Kamis, 29 Juni 2017


Hari ini saya dan teman saya ingin jalan-jalan yang tidak biasa. “Kalau bisa sih yang agak jauh,” kata teman saya. Saya bingung, jalan-jalan ke mana ya?

Awalnya dia mengingatkan saya untuk mencoba kuliner di Dapur Pasta, lokasinya di Kota Baru Parahyangan, Padalarang. Kami pun meluncur ke sana. Ternyata…tokonya tutup! Masih suasana Idul Fitri sih ya, mungkin para pegawainya belum kembali ke Bandung, hehe.

Kami pun berpikir, apa yang bisa di-explore di Padalarang…tapi kami akhirnya pusing sendiri karena kami juga nggak tau mau mengunjungi apa di Padalarang, hahaha. Di saat yang sama, perut saya sudah minta diisi. Saya pun berpikir cepat dan tercetuslah ide untuk makan sate maranggi di Cibungur. Saya sendiri belum pernah ke sana, hanya pernah dengar ceritanya dan dibelikan saja. Lumayan jauh, tapi memang inginnya jalan-jalan yang agak jauh, jadi ya sudah, berangkat!

Perjalanan

Sebelum berangkat, Continue Reading

Super short review: 2016 KTM Duke 250

Minggu, 5 Maret 2017

Hari ini, KTM mengadakan sebuah acara gathering berjudul KTM Orange Day 2017. Ini merupakan KTM Orange Day kedua yang diselenggarakan oleh KTM dan kali ini KTM mengadakan acaranya di Bandung, tepatnya di Sabuga ITB.

Pada KTM Orange Day kali ini, KTM menyelenggarakan acara yang menarik. Ada acara test ride, stunt rider, female DJ, photo competition, dan ada door prize menarik. Saya datang ke acara ini karena saya penasaran dengan motor KTM Duke series. Desain motornya benar-benar berani dan out of the box. Ditambah lagi dengan spesifikasi motor yang juga tak kalah menarik: high power (26 hp for Duke 200), low weight, suspensi depan Upside down, suspensi belakang WP, rem Bybre, ban super lebar, panel instrumen full digital, ditambah frame trellis dan warna orange yang menjadi ciri khas KTM…wah, Duke series sukses memikat hati saya. Sayang, harga motornya mahal, 34.8 juta rupiah (OTR Bandung).

Sebenarnya saya tertarik beli Duke 200, tapi saya juga pengen tau gimana sih rasanya naik Duke 200. Jangan sampai saya udah keluar uang banyak, eh malah nggak puas pakenya. Makanya saya sangat tertarik untuk mengikuti acara test ride di KTM Orange Day 2017 ini.

Datanglah saya ke Sabuga ITB pada hari minggu pagi. KTM memberikan kesempatan test ride untuk semua lineup motornya: KTM Duke 200 & 250, dan KTM RC 200 & 250. Langsung saja saya registrasi test ride…ternyata banyak juga yang berminat test ride. Bahkan ada rider wanita juga lho, hebat. Berhubung unit test ride Duke 200 cuma satu unit, saya jadinya memilih mencoba Duke 250 saja, supaya antrinya tidak lama. Sebenarnya setiap orang boleh-boleh saja mencoba semua unit motor, dan saya inginnya begitu, namun sayang waktunya tidak cukup.

Isi formulir test ride, kumpulkan ke panitia, lalu nunggu dipanggil. Setelah agak lama menunggu akibat kesemrawutan penyelenggaraan test ride, akhirnya giliran saya tiba juga. Test rider diwajibkan memakai safety gear yang disediakan panitia: helm full face, elbow protector dan knee protector. Setelah saya pakai semua gear, langsung saya coba unit test ride Duke 250 berwarna hitam.

Posisi duduk tegak, tidak menunduk. Joknya yang lebar dan suspensi monoshock yang cenderung soft membuat saya duduk secara nyaman. Sepertinya enak untuk perjalanan jauh. Tapi jok tebengan ukurannya kecil..entah nyaman atau nggak untuk perjalanan jauh. Putar konci kontak ke posisi on…kok speedometernya nggak nyala yah. Ternyata engine stopnya aktif, saya tekan ke posisi run, dan speedometer pun menyala. Hmm..tulisannya kecil-kecil..tapi buat saya sih jelas terlihat. Nyalakan mesin…bunyinya garang, tapi halus. Tidak ada getaran berarti di stang dan kaki. Halus banget.

Pindahkan ke gigi 1, langsung jalan! Baru berjalan sedikit, sudah harus menikung U-turn…tapi yang saya rasakan, membawa Duke 250 ini kok ringan sekali, saya tidak merasa seperti membawa motor 250cc. Oh iya, sebagai informasi, track test ride ini sangat pendek sekali. Track berbentuk elips dan cuma 60 meter doang.

Motor berbelok dengan stabil, berkat ban lebar. Keluar tikungan, saya langsung putar tuas gas…ternyata tenaga baru menyentak di RPM tengah. Baru jalan sedikit, harus menikung lagi…saatnya mencoba pengereman. Unit Duke 250 ini sudah dilengkapi ABS, tidak perlu khawatir ban akan terkunci. Sedangkan Duke 200 belum ABS. Pengereman menurut saya sudah baik, walau di awal acara, pihak KTM mewanti-wanti jangan kaget kalau rem ABS nanti akan terasa kurang pakem…tapi buat saya sih sudah pakem ah.

Pada lap berikutnya, saya coba shifting gear…wah halus sekali pindah giginya. Hampir tidak ada effort berarti pada saat pindah gigi. Beda sekali dengan motor-motor kopling yang pernah saya bawa sebelumnya. Saya sebenernya penasaran dengan top speed dan performa suspensi di jalan yang jelek, tapi berhubung track testnya kecil sekali, ya sudah saya cuma bisa test segitu aja.

Kelebihan:

  • Posisi duduk nyaman
  • Suspensi empuk
  • Gear shifting halus sekali
  • Minim getaran
  • Tarikan enteng
  • Desain motor gahar
  • Ringan
  • ABS

Kekurangan:

  • Speedometer kecil
  • Jok tebengan kecil
  • Mahal

Puas test ride, saya kembali ke stand, isi formulir testimoni test ride. Pulangnya dikasih snack, free lunch, dan undian door prize. Sayang saya nggak sempet mencoba Duke 200, RC 200 dan RC 250, karena saya harus pulang secepat mungkin (khawatir kehujanan, karena siang mulai gelap).

Andai uang bukan masalah buat saya, bakal saya beli di tempat itu Duke 250, hahaha.

Baca juga:
Review: 2016 Yamaha X-Ride
Review: Touring menggunakan Yamaha X-Ride 2016
Review 10.000 km Yamaha X-Ride 2016
Review: Kawasaki W175

Review: Touring menggunakan Yamaha X-Ride 2016

Januari 2018: Update!  Review 10.000 km Yamaha X-Ride 2016

Saya menggunakan Yamaha X-Ride untuk melakukan touring Bandung-Ciletuh-Bandung selama 2 hari sejauh 500 kilometer. Berikut beberapa poin yang saya ambil.

Si EXO (X-Ride Orange)

Si EXO (X-Ride Orange)

Underpowered

Ya, motor ini sangat underpowered! Saya mengalami kesulitan untuk menyalip kendaraan-kendaraan yang ada di depan saya. Untuk mencapai 60 km/jam saja rasanya lambat sekali. Hampir 80% perjalanan dari Bandung-Ciletuh-Bandung saya mainkan bukaan gas di atas 3/4, artinya saya selalu memuntir grip throttle mendekati maksimal…tapi tetap saja laju X-Ride seakan tertahan sesuatu. Bahkan saya kalah oleh Honda Revo di jalanan lurus maupun jalanan berkelok. Panas hati ini rasanya! Walau begitu, X-Ride ini mampu menanjak dengan baik, lho.

Konsumsi BBM: Boros

Selama touring, saya mengisi BBM 2.5 kali full tank. Kalau saya hitung, konsumsi BBM rata-rata yang saya dapatkan adalah 42 km per liter. Itu pun sudah saya gaspol terus-terusan. Sebagai perbandingan saja, konsumsi BBM yang beda tipis (40 km per liter) didapatkan oleh teman saya yang menggunakan Honda CBR 250R. Teman saya yang lain menggunakan Yamaha NMAX, konsumsi BBM nya juga beda tipis dengan saya (39 km per liter)…konsumsi BBM sebuah motor 115cc nyaris sama dengan motor 155cc bahkan 250cc..saya pikir X-Ride boros ya.

Boncengan empuk

Teman saya ingin mencoba motor saya, ya sudah saya kasih pinjam, saya dibonceng. Jalan yang dilalui batuan lepas besar-besar. Eh, ternyata empuk sekali bantingan untuk boncengers. Saya tidak merasa terguncang sama sekali, padahal jalannya jelek. Sebagai informasi saja, berat badan saya 77 kg, dan teman saya 70 kg. Cocok nih buat membonceng.

Ground clearance tinggi; hajar segala medan!

Ini yang paling nikmat. Di saat teman-teman menghajar jalan rusak secara perlahan, saya dengan pede nya menghajar jalan rusak tersebut dengan cepat. Ground clearance yang tinggi juga sangat membantu; saya tidak perlu khawatir deck motor saya mencium bebatuan atau aspal. Pokoknya hajar, bleh!

Riding position nyaman

Ini lebih nikmat lagi. Selama perjalanan 500 km, saya tidak mengalami pegal-pegal sedikit pun. Setang lebar dan cenderung tegak ke atas membuat posisi berkendara sangat nyaman rileks.


Andai saja Yamaha X-Ride ini memiliki mesin yang lebih bertenaga dan bagasi yang lebih luas, tentulah motor ini akan menjadi motor yang paling cocok untuk memenuhi kebutuhan saya.

Overall, X-Ride layak untuk dipakai touring santai…tapi untuk touring cepat rasanya akan susah mengimbangi motor lain.

Baca juga:

Review: 2016 Yamaha X-Ride
Januari 2018: Update! Review 10.000 km Yamaha X-Ride 2016
Super short review: 2016 KTM Duke 250
Review: Kawasaki W175

Zoho: Email provider gratis selain Gmail dan Yahoo

Saya membutuhkan akun email baru khusus untuk hal-hal yang tidak terlalu penting. Sering saya alami ketika saya ingin mencoba beberapa apps (semacam Grab, Traveloka, Instagram, dll.), saya harus mendaftar via email, dan saya tidak mau email pribadi saya tercampur oleh iklan, promo atau notifikasi tidak penting lainnya.

Di sisi lain, saya juga bosan dengan email provider gratisan yang mainstream semacam Gmail dan Yahoo…jadi saya cari email provider alternatif gratisan, siapa tau ada yang cocok. Teman saya pernah memberitahu saya bahwa ybs. memiliki email dengan domain zoho.com.

WTF is Zoho? Is that even legit?

Kata temen saya sih itu email legit, kok. Ya sudah saya coba daftar di Zoho.com. Ternyata banyak sekali jasa-jasa yang ditawarkan, sepertinya Zoho ini menyasar segmen business and entrepreneur. Tapi karena saya cuma butuh email gratisan doang, ya sudah untuk saat ini saya daftar jasa emailnya saja. Meluncur ke mail.zoho.com dan saya langsung tertawa. Kok bisa bikin email baru via akun Google 😀 Karena saya tidak mau ada koneksi sedikitpun ke akun Google saya, saya daftar via nomor telepon saja.

Akun sudah dibuat, tampilan minimalis dan bersih. Sudah berminggu-minggu pakai, email saya bebas dari spam dan iklan. Ada apps Zoho Mail juga di PlayStore, push notifications berfungsi dengan baik. Saya puas pakai Zoho Mail!

Tampilan Zoho Mail di PC.

Tampilan Zoho Mail di PC.

Intinya: Kalau ingin punya akun email gratisan yang anti-mainstream, Zoho Mail bisa jadi pilihan. Bersih, ringan, minimalis. Ada apps-nya juga!