Sakit Hati

Ini perkara yang sangat berbahaya. Karena ini masalah hati.

Kalau hati sudah merasa tersakiti, ada dua kemungkinan: memaafkan atau dendam.

Kalau bisa memaafkan, selamat, Anda adalah orang yang hebat. Tapi bagaimana jika rasa sakit yang dialami begitu dalam, sampai rasanya sangat sulit untuk memaafkan?

Anggap lah kita mengatakan sesuatu yang menyakiti hati seseorang, lalu kita minta maaf kepada orang tersebut. Dia bilang dia memaafkan kita.

Pertanyaan saya: Yakinkah Anda bahwa dia sudah benar-benar memaafkan kita?

Terkadang, jika sakit hati yang dialami sangat hebat, walau kalimat ‘iya, saya maafkan‘ sudah terucap, hati kecil tetap tidak bisa memaafkan. Inilah yang berbahaya.

Semuanya bisa berubah total antara kita dan orang yang bersangkutan. Mulai dari omongan, gestur, sampai sikap. Dan yakinlah, tidak ada pihak yang diuntungkan jika hal ini sudah terjadi. Sama-sama merasa tidak enak. Jarak antara kita dan ybs akan menjauh. Hubungan kita tidak akan pernah kembali persis seperti semula, sekeras apapun usaha kita. Layaknya gelas yang sudah pecah, walau kita berusaha bentuk kembali pun, akan terlihat bekas pecahnya.

Pertanyaan saya sebelumnya tidak akan pernah ada yang tau jawabannya, kecuali dia dan Allah saja.

Words can hurt more than a fist can hurt a body.

Ya, luka di tubuh bisa disembuhkan, tapi luka di hati…tidak semuanya bisa disembuhkan, dan bisa saja dibawa sampai ke akhirat, untuk diminta pertanggungjawabannya kelak.

Jagalah lisan dan perbuatan kita, jangan sampai perbuatan kita menyakiti hati orang lain. Bertutur katalah yang baik dan lembut. Berbuat baik lah terhadap sesama. Segeralah minta maaf bila kita melakukan kesalahan.

Advertisements

Makna Ramadhan Sesungguhnya

Bulan Ramadhan telah kita lalui. Sekarang kita memasuki bulan Syawal. Tentu kita semua merasa sedih telah meninggalkan bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Kita pasti merindukan bulan Ramadhan, dan akan terus berdoa agar kita diberi umur untuk dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan di waktu yang akan datang.


Kira-kira begitulah tipikal ceramah atau khotbah shalat ied atau shalat jumat di berbagai tempat yang pernah saya kunjungi. Bulan Ramadhan itu memang bulan yang spesial. Semua orang tiba-tiba menjadi rajin beribadah, karena memang inilah bulan dimana semua amalan yang kita lakukan akan dilipatgandakan pahalanya. Semua orang tiba-tiba menjadi dermawan, berbagi kepada sesama. Semua orang tiba-tiba menjadi santun, menjaga tutur kata dan perilakunya masing-masing. Tiga puluh hari lamanya kita, kaum muslim, berpuasa menahan lapar, haus dan hawa nafsu.

Namun, semua itu berubah setelah bulan Ramadhan selesai. Orang-orang kembali menjadi pribadinya yang seperti dulu sebelum memasuki bulan Ramadhan. Ibadah mulai kendur; shalat berjamaah di masjid dan pengajian kembali sepi. Perilaku konsumtif dan menghambur-hamburkan uang kembali dilakukan. Perilaku kasar dan perkataan yang buruk kembali terucap.

Semua itu terulang kembali, padahal sebelumnya sudah melakukan puasa selama 30 hari. Lalu saya pun berpikir bahwa makna Ramadhan sesungguhnya bukanlah waktu di bulan Ramadhan-nya itu saja, tapi berlaku juga setelah bulan Ramadhan berakhir. Jika perilaku seseorang di bulan Ramadhan mengalami perubahan menjadi lebih baik, namun perilakunya kembali menjadi buruk setelah bulan Ramadhan selesai, maka apa artinya Ramadhan bagi orang tersebut? Apakah Ramadhan itu hanya sebagai momen untuk berlomba-lomba mencari pahala saja?

Jika iya, maka saya pikir orang tersebut tidak mendapatkan makna Ramadhan yang sesungguhnya. Bolehlah orang tersebut memanfaatkan bulan Ramadhan untuk beribadah semaksimal mungkin. ‘Memanen’ pahala sebanyak-banyaknya merupakan sesuatu yang baik. Tapi jika dia kembali perilaku yang lama seperti sebelum bulan Ramadhan, maka sia-sialah Ramadhan untuknya. Maksud saya, untuk apa dia ibadah sebanyak-banyaknya kalau perbuatan tetap tidak mengalami perubahan?

Menurut saya, Ramadhan yang bermakna bagi seseorang adalah berubahnya sikap seseorang akibat kebiasaan-kebiasaan yang telah dilakukan selama bulan Ramadhan. Kebiasaan mengaji, kebiasaan shalat berjamaah di masjid, kebiasaan bersedekah, dan kebiasaan menjaga perkataan tetap dilakukan setelah bulan Ramadhan usai. Itulah makna Ramadhan yang sesungguhnya; sebuah momen yang dimaksudkan untuk mengembalikan bagaimana kita melakukan amalan-amalan ke jalan yang seharusnya. Bayangkan jika semua orang melakukan hal tersebut, dunia ini akan menjadi tenteram, aman dan damai.

Menjadi Imam

Sumber: haznevi.net

Biasanya, imam shalat berjamaah di masjid dekat tempat saya tinggal adalah bapak saya. Kalau bapak saya berhalangan hadir, biasanya yang menggantikan adalah bapak-bapak lain, siapa saja, yang tingkat pengetahuan agamanya setingkat dengan bapak saya.

Namun, akhir-akhir ini, jika bapak saya berhalangan hadir ke masjid, justru sayalah yang ditunjuk menjadi imam shalat berjamaah.

Saya tau diri, saya ini bukan siapa-siapa dibanding bapak-bapak yang lain. Ilmu agama saya masih payah. Hafalan juga cuma tau beberapa surat saja, itupun hanya Juz Amma dan surat-surat yang pendek saja. Soal usia dan pengalaman dibandingkan dengan bapak-bapak yang lain, tentu mereka jauh lebih baik daripada saya. Oleh karena itulah, saya menolak secara halus ketika saya disuruh menjadi imam shalat berjamaah. Tapi bapak-bapak yang lain tetap saja menunjuk saya menjadi imam. Apa boleh buat, shalat harus dilaksanakan. Dengan berat hati saya menjadi imam.

Ketika saya berdiri sendiri di depan, di dekat mimbar, tiba-tiba saya merasakan beban yang sangat berat di pundak saya. Saya tau betul bagaimana beratnya menjadi imam. Semua gerakan shalat, semua bacaan surat baik dari makhraj-nya, tajwid-nya, haruslah sempurna. Pikiran saya harus fokus, tidak boleh berpikiran apa-apa selain mengingat Allah SWT. Lengah sedikit saja, saya bisa lupa rakaat ke-berapa yang sedang kami jalankan.

Jika saya melakukan kesalahan sedikit saja, maka tercorenglah kualitas shalat saya DAN jamaah di belakang saya. Itulah yang sangat berat. Seorang imam memikul beban tanggung jawab terhadap jamaahnya.

Orang yang lebih berhak menjadi imam

Menurut Hadist Shahih Sunan An-Nasa’i, orang yang diprioritaskan menjadi imam adalah:

  1. Orang yang paling pandai dan hafal membaca Al-Qur’an.
  2. Jika bacaan mereka sama, maka yang jadi imam adalah orang yang lebih dulu hijrah.
  3. Jika dalam hijrah mereka sama, maka yang jadi imam adalah orang yang paling mengetahui tentang Sunnah.
  4. Jika pengetahuan mereka tentang Sunnah sama, maka yang jadi imam adalah orang yang paling tua diantara mereka.
  5. Janganlah seseorang menjadi imam pada kekuasaan (orang lain) dan janganlah duduk di atas tempat kemuliaannya kecuali diizinkan.

Kembalikan ke kasus yang saya alami, dan posisi saya tidaklah berada di kelima poin di atas. Ada orang lain yang lebih berhak menjadi imam shalat. Mengimami 7 orang saja saya sudah merasa berat, apalagi 100 orang. Ya, saya ditunjuk menjadi imam shalat dzuhur sekaligus memberikan kultum di bulan ramadhan nanti di kantor tempat saya bekerja.

Saya tidak mengerti kenapa orang-orang memilih saya untuk menjadi imam. Padahal saya tidak mau, karena saya tau ada banyak orang yang lebih berhak daripada saya untuk menjadi imam.

Sungguh saya merasa berat dan takut untuk menjadi imam.

Ikhlas itu sulit

Sebaik apapun niat kita,

Sebanyak apapun doa kita,

Sekeras apapun usaha kita,

Meskipun kita sudah mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya,

Kalau Allah tidak menghendaki, ya sudah.

Terima saja.

Ikhlaskanlah.

Tapi, ikhlas itu luar biasa sulit.

Kupikir, sabar dan pasrah itu sudah cukup sulit.

Tapi, mengikhlaskan sesuatu sangatlah berbeda.

It’s on a whole different level.

Saya masih belum bisa melepas harapan itu begitu saja.

Walaupun jawabannya sudah jelas, terkadang saya masih saja berdoa, agar keputusan itu berubah.

Mungkin sekarang bukan saat yang tepat.

Mungkin Allah menilai saya belum siap.

Mungkin Allah akan memberikan yang lebih baik dari itu.

Mungkin saya tidak layak mendapatkan hal sebaik itu.

…mungkin saja maut akan menjemput sebelum keinginanku tercapai.

Saya tidak mau mengambil beasiswa LPDP, karena…

Saya mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) di Vehicle Engineering Master Programme KTH Royal Institute of Technology melalui sebuah lomba/kompetisi dari Sqore.com. Tapi saya tidak lanjutkan kesempatan itu karena masalah biaya. Teman-teman menyarankan untuk mengambil beasiswa LPDP saja. Teman-teman saya juga banyak yang mengambil beasiswa LPDP, kuliah S2 di luar negeri. Semua biaya kuliah dan akomodasi dibiayai oleh LPDP, tinggal kuliah aja yang bener. Terlihat menyenangkan, seru dan menantang…tapi saya tidak mau. Ada beberapa alasan yang membuat saya tidak mau mengambil beasiswa LPDP.

S2 dan hasilnya

Bagi saya, hasil kuliah S2 haruslah benar-benar worth it, terutama dari sisi pasca kuliah yaitu karir. Apalagi kalau kuliah S2 di luar negeri…I expect a significant career difference bila dibandingkan dengan tanpa kuliah S2 atau S2 di dalam negeri.

Bagi saya, lulusan kuliah S2 luar negeri ya berkarirnya harus di luar negeri juga. Mungkin standar saya terlalu tinggi…tapi buat apa kuliah capek-capek dan mahal-mahal di luar negeri kalau apa yang didapat tidak sebanding dengan perjuangannya?

Saya hanya mau kuliah S2 kalau hal tersebut benar-benar berdampak pada karir saya. Seperti kompetisi KTH Master’s Challenge yang saya ikuti, misalnya. Setelah lulus S2, diberi kesempatan internship di salah satu perusahaan bona fide di Sweden. Kalau sudah jelas begitu, saya rasa hal tersebut sangat layak saya perjuangkan. Sayang, saya cuma jadi runner-up. Runner-up hadiahnya LoA doang. Hahaha.

Sedangkan bila saya mengambil LPDP, tentulah LoA yang saya dapatkan akan ada hasilnya. Tapi alumni LPDP kan harus kembali ke Indonesia. Ilmu-ilmu yang didapat harus digunakan untuk membangun bangsa. Kalau memang itu tujuannya, yaitu harus berkarir di Indonesia, dan membangun Indonesia, saya rasa tidak perlu ijazah S2; bagi saya ijazah S1 dan langsung berkarya untuk membangun negeri ini saja sudah cukup.

Intinya: Bagi saya, buat apa kuliah S2 ke luar negeri kalau ujung-ujungnya harus bekerja di dalam negeri juga. Mending abis lulus S1 langsung cari kerja aja di dalam negeri.

Tanggung jawab

Ini yang paling membuat saya takut. Tanggung jawab. Seorang penerima beasiswa LPDP itu memiliki tanggung jawab yang besar, karena dia dipercaya negara untuk dapat membangun negeri ini menjadi negara yang jauh lebih baik lagi daripada sekarang. Ilmu yang diperoleh selama kuliah S2 harus benar-benar dapat bermanfaat bagi Indonesia.

Menurut saya itu tanggung jawab yang sangat berat. Saya rasa kita semua tahu bagaimana kondisi bangsa ini. Saya yakin akan sangat sulit mengubah kondisi bangsa ini, apalagi dengan jalur yang seperti ini. Menurut saya, masalah terbesar bangsa ini adalah masalah karakter, bukan kepintaran, sehingga sebaiknya hal yang paling pertama harus kita perbaiki ya perilaku masyarakat. Tekankan tentang karakter, bukan tentang kepintaran. Lihat kurikulum di sekolah saja saya geleng-geleng. Orientasinya selalu pada nilai dan angka. Saya tidak bermaksud menyepelekan tentang kepintaran. Tentu saja ilmu pengetahuan itu penting, tapi bagaimana mungkin ada orang pintar tapi mengantri saja tidak bisa? Bagaimana mungkin ada orang pintar tapi peraturan selalu dilanggar? Banyak orang pintar yang tidak tahu aturan, dan parahnya lagi tidak mau diatur. Kalau sudah begitu ya susah mengelola negeri ini. Apalagi jumlah penduduk Indonesia itu sangat banyak…kalau kebanyakan orangnya susah diatur, ya susah untuk maju. Maka dari itu saya pesimis, ilmu yang diperoleh dari kuliah S2 bisa merubah bangsa ini. Mungkin saja bisa, tapi tidak dalam waktu dekat. Padahal bangsa ini butuh pertolongan secepatnya.

Belum lagi biaya kuliah S2 yang sangat mahal. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana rasanya harus mempertanggungjawabkan sesuatu yang nilainya 500 juta rupiah sendirian. Memegang uang belasan juta saja saya sudah ngeri. Ini nilainya ratusan juta dan ekspektasinya luar biasa besar; mengubah nasib bangsa ini menjadi lebih baik. Saya mengetahui kapasitas dan kemampuan diri saya dan saya tidak mau mengambil tanggung jawab tersebut. Belum lagi pertanggungjawaban di akhirat; kau gunakan untuk apa ilmu mu? kau gunakan untuk apa harta mu? Sungguh berat tanggung jawab tersebut.

— *** —

Mungkin saya terlihat penakut, nggak berani ke luar comfort zone, etc etc…tapi serius deh, saya nggak mampu mengambil tanggung jawab seberat itu.

Tahun Baru

Aku tidak mengerti.

Katanya, merayakan tahun baru masehi itu bukan bagian dari agama kita.

Kulihat, beberapa saudaraku memang tidak merayakan tahun baru masehi dengan acara hura-hura.

Tapi kenapa pula kalian harus membuat acara tandingan? Refleksi diri lah, introspeksi diri lah, evaluasi akhir tahun lah, dsb.

Bukankah dengan begitu, kalian sama saja menganggap bahwa harus ada acara khusus di malam pergantian tahun baru masehi? Yang penting acaranya berbau agama dan tidak mengadakan acara hura-hura seperti mayoritas orang lain.

Aku paham dengan niat kalian. Introspeksi diri itu hal yang baik, kita bisa mengevaluasi diri kita, sehingga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Tapi, bukankah dengan mengadakan acara seperti itu sama saja dengan merayakan pergantian tahun baru masehi?

Sungguh, aku tidak mengerti.

***

Tapi tenang sajalah, saudaraku.

Ini cuma curahan isi kepalaku saja.

Jangan dianggap serius, aku takut kalau di kemudian hari,

ternyata aku yang salah.

Kenapa sifat pendiam dianggap jelek?

Kamu harus aktif ya. Sering-sering lah ngobrol sama mereka, supaya cepet berbaurnya. Jangan diem aja.

Begitulah kira-kira kata-kata yang diucapkan kepada saya ketika saya harus beradaptasi dengan lingkungan baru.

Sebagai orang yang lebih senang diam daripada ngomong, saya merasa kesulitan untuk beradaptasi di lingkungan yang dipenuhi orang-orang baru. Jangankan di lingkungan yang baru, di kalangan teman-teman yang sudah saya kenal pun, saya lebih memilih untuk diam. Bukan karena saya anti-sosial, tapi karena memang saya lebih suka diam. Kalau ada hal yang benar-benar perlu dan/atau ingin saya sampaikan, barulah saya ngomong.

Bukan berarti saya pengennya diam terus. Sebagai makhluk sosial, saya juga memiliki kebutuhan untuk bersosialisasi. Namun, kebutuhan itu tidak sebanyak orang yang ‘seneng ngomong.’ Kalau saya lagi kangen atau lagi pengen ngobrol sama temen, ya pasti saya ngobrol. Tapi cuma sebentar doang. Udah gitu pasti pengennya pulang dan menyendiri lagi, hahaha…

Selain itu, saya juga lebih senang dengan kesunyian. Makanya kalau ada kumpul-kumpul, apalagi dalam skala besar, sering kali saya memisahkan diri. Bukan karena saya anti-sosial, tapi karena saya pengen cari suasana yang tenang dan sunyi. Oleh karena itulah kalau ada acara-acara heboh semacam wisuda, pernikahan, dan acara besar lainnya, saya pengen cepat pulang, lebih enak di rumah. Sunyi dan damai 😀

Akibatnya, saya sering dilupakan sama teman-teman. Kalau ada acara, saya sering tidak diajak. Karena waktu awal-awal, saya sering menolak untuk datang. Padahal, kadang-kadang saya pengen datang juga, lho. Pernah juga waktu itu saya ‘diajak’ (karena ada teman yang ngajak teman saya, kebetulan saya ada di situ, jadilah saya diajak) ke suatu tempat, dan saya ikut. Sesampainya di sana, mereka ya asik sendiri, lupa bahwa ada saya. Saya ngomong juga cuma diladenin sebentar, udah gitu asik sendiri lagi. Ya udah saya pulang aja. What a waste of time. Mendingan diem di rumah.

Tapi mereka itu akhirnya mau juga loh ngajak-ngajak saya, tapi kalau ada perlunya doang. Waktu itu sih saya bantuin aja, siapa tau mereka jadi inget sama saya. Begitu udah saya bantu, eh tetep aja saya dilupakan…sakit hati saya. Aneh juga, padahal di mata orang lain, mereka itu orang yang baik dan mudah bergaul, lho. Gara-gara itu lah, saya memilih menyendiri aja, daripada sakit hati lagi.

Ah, dia sih pendiem. Kalo diajak juga palingan nolak. Udahlah gak usah diajak.

Mungkin begitu di pikiran mereka.

Entah kenapa, sifat pendiam dan lebih memilih menyendiri dianggap jelek sama orang-orang. Seringkali, dalam penilaian sebuah kelompok, salah satu aspek penilaian yang penting adalah keaktifan. Kalau orangnya aktif, nilainya bagus. Kalau orangnya jarang ngomong, nilainya jelek. Dengan sistem penilaian seperti itu, jelas orang-orang seperti saya berada dalam kerugian. Orang yang lebih seneng diem, dipaksa harus aktif ngomong, ya jelas susah, coy. Selain itu, bukankah akan lebih fair kalau sistem penilaiannya diubah menjadi kualitas dari apa yang disampaikan, bukan dari kuantitas? Quality>Quantity, bro.

Akibatnya, saya sering dapat nilai yang tidak memuaskan kalau udah ada aspek penilaian seperti itu. Kurang aktif katanya. Kalah sama tukang bacot yang omongannya jarang berkualitas. Hal yang begini juga bisa menentukan masa depan, lho. Dalam mencari pekerjaan, misalnya. Salah satu penilaian dalam evaluasi atau seleksi calon karyawan baru adalah keaktifan.

Yah, intinya saya (dan mungkin orang lain yang sifatnya seperti saya) sih lebih memilih untuk diam daripada ngoceh. Lebih memilih kesunyian daripada keramaian. Tapi bukan berarti anti-sosial. Harapan saya ke depannya sih sistem penilaian yang menilai keaktifan diubah lah menjadi kualitas materi yang disampaikan, supaya lebih adil. Yang seneng ngoceh tidak masalah mau ngoceh banyak sampai berbusa, yang seneng diem mau diem terus juga gak apa-apa, yang penting apa yang disampaikan keduanya adalah sesuatu yang berkualitas dan berbobot. Quality>Quantity, bro!

Nih, biar lebih jelasnya:

   

Credits to: Luchie

Akankah saya seperti itu?

Kabar itu muncul lagi. Salah satu orang yang sebenarnya gak terlalu kenal-kenal banget sama saya, telah meninggalkan dunia ini.

Kabar semacam ini merupakan yang ke-sekian kalinya dalam dua tahun terakhir. Almarhum-almarhum di kabar tersebut umurnya tidak terpaut jauh dengan saya, tetapi mereka telah meninggalkan dunia ini lebih cepat daripada saya.

Karena dari kesemua kabar tersebut, yang bersangkutan tidak terlalu kenal dengan saya (begitu juga sebaliknya), saya pun cuma bisa melihat suasana duka lewat FB saja. Dari semua FB ybs., tidak sedikit dari teman-teman ybs. menceritakan momen-momen spesial yang membuat ybs. menjadi istimewa, beda daripada teman-teman yang lain. Bahkan ada salah satu almarhum yang FB-nya masih rajin dikunjungi oleh teman-temannya, padahal almarhum sudah 2 tahun lamanya meninggalkan dunia ini. Wah, almarhum pasti merupakan sosok yang spesial bagi teman-temannya ya…

Mengingat saya ini orang yang hidupnya datar-datar saja, tidak menarik dan membosankan bagi orang lain, saya pun jadi bertanya-tanya…jika nanti waktu saya telah tiba, akankah saya dikenang seperti almarhum-almarhum yang telah saya ceritakan sebelumnya? Akankah saya meninggalkan kesan yang baik? Atau mungkin cuma sedikit yang meninggalkan kesan? Atau mungkin cuma sedikit yang ingat dengan saya? Atau mungkin juga, lebih banyak yang merasa lega ketimbang sedih?

Satu hal yang pasti, saya tidak akan pernah tau tentang itu. Tapi bila boleh saya meminta, saya cuma minta satu hal. Tolong urus jasad saya nanti dengan cara-cara yang sesuai dengan agama Islam.

*just a thing in my mind*

Baju lebaran wanita, tiap tahun semakin tipis..

Baju lebaran wanita maksudnya adalah baju yang dipakai para wanita pada saat lebaran. (perlu penjelasan, karena bisa jadi artinya baju yang dipakai pada saat lebaran wanita, haha)

Mungkin cuma perasaan saya aja, tapi menurut pengamatan saya, baju lebaran wanita itu dari tahun ke tahun semakin tipis, berubah dari tahun-tahun sebelumnya yang tiap tahun semakin ketat. Udah makin tipis, harganya makin mahal pula.

Bukannya apa-apa, tapi saya merasa risih aja. Momen lebaran itu kan identik dengan nuansa islami, jadinya orang-orang pakai pakaian yang bernuansa islami juga. Pakaian bernuansa islami tentunya harus mengikuti aturan islami itu sendiri, yakni menutup aurat. Ingat cuy, menutup, bukan membalut, jadi harusnya sih jangan pakai yang ketat-ketat gitu. Kalo sekarang sih bawahnya ketat-ketat, atasnya tembus pandang. Atau ketat-ketat semua. Atau tembus pandang semua.

Saya bukan ahli agama dan juga saya bukannya sok-sokan tentang masalah ini, tapi beneran, saya merasa risih.