Tips menurunkan berat badan

Setelah satu tahun lebih mencoba-coba dan eksperimen ini itu, saya berhasil cara yang tepat untuk menurunkan berat badan. Saya berhasil menurunkan berat badan dari 88 kg menjadi 75 kg. Ada 3 poin penting yang saya temukan:

Atur kalori dan kurangi ngemil!

Ini sangat penting. Semua usaha yang kita lakukan akan sia-sia kalau kalori intake kita tidak diatur.

Perlu kita ketahui, setiap orang memiliki kebutuhan kalori masing-masing. Kalau kita mendapat asupan kalori melebihi kebutuhan, energi yang didapat berubah menjadi lemak. Cari tau kebutuhan kalorimu di sini. Website itu sangat bagus untuk mengetahui jumlah kalori yang dibutuhkan untuk menjaga berat badan dan untuk menurunkan berat badan.

Agar tidak tersiksa Continue Reading

Touring ke Ciletuh Geopark, Sukabumi (Bagian 2)

Lanjutan dari postingan sebelumnya

Rasanya baru sebentar mata ini terpejam, namun jam sudah menunjukkan pukul 04.30. Dengan tergesa-gesa karena badan masih lelah, saya memaksakan diri untuk keluar menyusuri puncak darma. Tak lupa saya shalat subuh terlebih dahulu.

Beres shalat subuh, saya dan teman-teman berangkat ke puncak darma menggunakan sepeda motor…lokasinya kurang lebih 3 kilometer dari rumah sewa. Hari masih sangat gelap, penerangan sangat minim, jalanan batu-batu saja dan menanjak curam cenderung terjal. Wah, bahaya, nih. Lebih baik saya parkirkan motornya kemudian lanjutkan perjalanan dengan jalan kaki saja. Saya parkir di sebuah warung makan, Saung Mang Ujang namanya. Tanya-tanya tentang puncak darma dan curug di dekat sini…ternyata puncak darma sangat jauh, 2.5 kilometer dari saung ini. Sedangkan puncak terdekat adalah puncak bunga yang kira-kira hanya 600 meter saja. Curug lebih dekat lagi, tapi kami putuskan untuk ke puncak saja dulu, harapannya sih ingin melihat sunrise.

Oh iya, di saung ini juga ada club Vespa jadul sedang berkemah pada bawa tenda. Salut sama club Vespa ini, mereka terlihat kompak dan solid…dan juga berani touring menggunakan Vespa jadul. Respect!

Lanjut perjalanan jalan kaki menyusuri jalan. Jalanannya batuan lepas tajam-tajam dan menanjak terjal, broo…akhirnya kami menemukan puncak bunga, tiket masuknya 3 ribu rupiah. Namun karena kami ke sana masih subuh, penjaganya belum ada, mungkin masih tidur 😀 Langsung saja saya lihat pemandangannya.

Pemandangan dari puncak bunga.

Pemandangan dari puncak bunga.

Kami pun istirahat sejenak sambil foto-foto, menikmati pemandangan…sayang, sunrise tidak terlihat dari sini. setelah itu, kami pun bergegas menuju Curug Continue Reading

Touring ke Ciletuh Geopark, Sukabumi (Bagian 1)

Sabtu, 18 Februari 2017

Saya dan teman-teman dari kantor sepakat untuk touring ke Ciletuh Geopark, Sukabumi. Sebelumnya saya nggak tau sama sekali tentang Ciletuh dan rutenya…saya cuma diberi tau oleh teman saya kalau Ciletuh itu tempatnya bagus. Saya sih iya-iya saja, karena saya lebih senang perjalanannya daripada tempat tujuannya 😀

Kumpul di kantor jam 06.30 sesuai rencana awal…eh molor, baru berangkat jam 07.00++ hahaha. Untuk keberangkatan, kami menggunakan rute via Ciwidey…biar bisa merasakan udara segar di pagi hari, hehe. Berhubung ada beberapa rekan saya yang belum sarapan, maka kami berhenti dulu untuk menunggu rekan-rekan yang sarapan lontong sayur. Sebenarnya saya udah sarapan, tapi liat lontong sayur kok jadi laper…ya sudah saya ikut makan juga, ternyata enak juga lontong sayurnya 😀 (lokasinya di depan Indomaret, sebelah tempat rest area yang banyak WC umumnya).

Perut sudah anteng, kami melanjutkan perjalanan. Jalan raya beraspal mulus, sepi, ditambah lagi segarnya udara pegunungan di daerah Ciwidey dan indahnya cuaca di pagi hari membuat saya merasa betah. Rasanya saya ingin tinggal saja di sini…mengingatkan saya pada kondisi Bandung belasan tahun yang lalu; sejuk, segar dan indah. Sekarang Bandung berubah menjadi panas, macet, dan tidak segar lagi…sungguh sangat disayangkan.

img_20170218_085824

Mulus, sejuk, segar, indah

Jalan berkelok Continue Reading

Dangerous Trip: Sanghyang Heuleut

(Bagian 3 dari 3: lanjutan dari postingan sebelumnya)

Sesampainya di pintu masuk Sanghyang Heuleut, kami parkirkan motor di dekat pos penjaga. Kami berempat harus membayar 60 ribu rupiah untuk masuk ke obyek wisata ini. Mungkin rincian per orangnya adalah 10 ribu untuk tiket masuk dan 5 ribu rupiah untuk parkir motor. Penjaga pos juga meminta nomor telepon yang bisa dihubungi. Wah, firasat saya nggak enak, mana cuacanya mulai gelap pula. Sebelum mencapai Sanghyang Heuleut, kami harus menyusuri jalan setapak sekitar ±2 kilometer…setelah bayar administrasi, mulailah kami berjalan. Jalannya 100% tanah, sempit (hanya muat dilalui dua orang kalau saling berpaspasan), kiri atau kanan jurang dipenuhi semak belukar. Extreme, cuy.

Lama-lama jalanan cenderung menurun dan semakin curam. Pemandangan semak belukar pun berubah menjadi pemandangan hutan lebat. Hujan pun mulai turun…jalanan yang 100% tanah menjadi very-sangat-licin-sekali-pisan-banget karena diguyur dan dialiri air hujan. Kiri atau kanan jalan langsung jurang. Ada handrail yang terbuat dari potongan kayu di beberapa jalur, tapi handrail tersebut tidak kokoh. Saya pegang malah goyang-goyang, ada pula yang patah…bahkan ada jalan yang membuat kami harus turun tangga layaknya turun dari taraje. Sinyal telepon pun tidak ada sama sekali. Telkomsel si raja sinyal takluk tak berdaya di tempat ini. Beuh…pikiran pun mulai tidak karuan; “Selamat nggak yah sampai di tujuan? Nanti pulang caranya gimana? Terus buat apa dong kita dimintain nomor telepon, sinyal aja nggak ada? Kalau ada apa-apa, menghubungi penjaganya gimana ya? (Poho pisan teu nanyakeun nomor telepon penjaga) (eh tapi euweuh sinyal deng)”

Bahaya death...harus menyusuri jalan begini di tengah hujan sejauh 1 kilometer. Sheer madness!

Bahaya death…harus menyusuri jalan begini di tengah hujan sejauh 1 kilometer. Sheer madness!

Lama-lama terdengar suara kerumunan orang Continue Reading

Mengunjungi Bendungan Saguling, Kabupaten Bandung Barat

(Bagian 2 dari 3: lanjutan dari postingan sebelumnya)

Setelah puas berfoto ria di Stone Garden, kami melanjutkan perjalanan ke Sanghyang Tikoro. Menurut teman saya, lokasi Sanghyang Tikoro itu masuknya dari jalan ke Bendungan Saguling, jadi kami tinggal lanjut saja ke arah Cianjur. Ikuti jalan sampai ada papan penunjuk Bendungan Saguling belok kiri. Sesudah itu jalanan mulai melebar, sepi, sejuk, pepohonan di kanan kiri jalan, aspalnya bagus, menanjak meliuk kiri dan kanan…pokoknya asik banget buat yang suka uphill dan cornering!

img_20170215_111135

img_20170215_111130

Enak banget buat ngebut 🙂

Di tengah perjalanan, kami menemukan tempat wisata Sanghyang Heuleut, tapi karena tujuan kami Sanghyang Tikoro, jadi kami abaikan saja. Selain itu, kami juga menemukan Curug Continue Reading

Berkunjung ke Stone Garden, Kabupaten Bandung Barat

Bagian 1 dari 3

Rabu, 15 Februari tiba-tiba menjadi hari libur nasional berkat Pilkada 2017. Saya dan teman-teman merencanakan untuk “jalan-jalan yang dekat saja,” dan hari ini kami memutuskan untuk berkunjung ke Stone Garden, Gua Pawon, dan Sanghyang Tikoro.


Destinasi pertama adalah Stone Garden yang terletak di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Berangkat jam 06.30 WIB dari Cimahi, kami berkendara menggunakan sepeda motor ke arah Cianjur. Sarapan Lontong Sayur sebentar di dekat gerbang Kota Bali Residence, lalu melanjutkan perjalanan sampai akhirnya ada papan penunjuk “Stone Garden” di sebelah kanan jalan. Jalan pun berubah total yang tadinya jalanan aspal menjadi bebatuan lepas dan lumpur becek. Harus ekstra hati-hati dalam berkendara di sini…saya pun cuma berani ngegas secuil aja, yang penting nggak slip 😀 Sampai di pintu masuk, kami bayar tiket masuk Rp 5.000,- dan parkir motor Rp 3.000,-. Murah!

Parkir motor, lalu kami Continue Reading

Beasiswa S2 di luar negeri berbasis kompetisi/quiz melalui Sqore.com

Saya akan berbagi pengalaman saya mengikuti kompetisi/kuis berhadiah beasiswa S2 di luar negeri. Adapun kompetisi/kuis yang dimaksud adalah kompetisi yang bersifat akademik, jadi semua orang memiliki kesempatan yang sama: orang ber-IPK tinggi maupun rendah, aktif berorganisasi maupun tidak, alumni perguruan tinggi terkenal maupun biasa saja, orang kaya maupun kurang mampu, semua dinilai berdasarkan hasil dari kompetisi. The best wins the competition!

Sqore: Opportunities for all.

Kompetisi yang dimaksud adalah kompetisi berbasis online melalui website Sqore.com. Di website ini, kita memiliki kesempatan bersaing dengan orang lain untuk mencari beasiswa S2 baik partial scholarship maupun full scholarship, mendapatkan hadiah uang ribuan sampai ratusan ribu euro, mendapatkan travel grant ke sebuah university atau perusahaan ternama, bahkan mencari kerja di sebuah perusahaan.

KTH Master’s Challenge 2016

Hal yang akan saya ceritakan adalah pengalaman saya mengikuti KTH Master’s Challenge 2016. Kompetisi ini diadakan oleh KTH, salah satu top university di Sweden, bahkan di Europe (untuk bidang Technology). KTH Master’s Challenge dibagi menjadi beberapa bidang, diantaranya adalah Vehicle Engineering, Aerospace Engineering, dan Electric Power Engineering. Kompetisi tersebut juga kebetulan dibagi lagi untuk beberapa negara, yang saya lihat waktu itu untuk India dan Indonesia. Jadi ada India Master’s Challenge dan Indonesia Master’s Challenge.

Hadiahnya sangat menggiurkan: Continue Reading

Kebijakan kantong plastik berbayar: Kurang terasa!

Sejak 21 Februari 2016 lalu, setiap kita berbelanja menggunakan kantong plastik dari pihak toko, akan dikenakan biaya Rp 200,- per kantong plastik. Semenjak kebijakan tersebut diaktifkan, jujur saja saya tidak merasakan efek yang signifikan.

Sumber gambar: http://www.earthtimes.org/politics/american-samoa-first-us-state-ban-plastic-bags/20/

Tujuan adanya kebijakan itu pada dasarnya kan untuk mengurangi penggunaan kantong plastik. Masyarakat diharapkan merasa ‘jera’ pada saat meminta kantong plastik untung membawa barang belanjaannya. Tapi yang saya rasakan, ya biasa saja. Kebijakan tersebut masih belum bisa membuat saya enggan bayar 200 cuma untuk kantong plastik.

Harusnya kalau niat pemerintah benar-benar ingin mengurangi penggunaan kantong plastik, beri saja denda yang besar sekalian, jangan tanggung-tanggung. Misalnya, diberi biaya tambahan Rp 5000,- per kantong plastik. Nah, kalau jumlahnya segitu, saya gak bakal mau deh minta kantong plastik dari tempat belanja. Mending uang lima ribunya saya pakai buat beli es teh manis, misalnya :D.

Yah begitulah, intinya kebijakan kantong plastik berbayar menurut saya nanggung banget.

Membuat Paspor Secara Online

Saya akan berbagi pengalaman saya membuat paspor secara online.

Perlu diingat bahwa walaupun julukannya adalah membuat paspor secara online, Anda tetap harus datang ke kantor imigrasi. Anda bisa memilih kantor imigrasi dimana saja, tidak harus sesuai dengan kota kelahiran Anda.

Poin penting lainnya adalah pembuatan paspor ini membutuhkan waktu sekitar 17 hari; 14 hari untuk verifikasi data pribadi, 3 hari untuk pencetakan paspor. Jadi, rencanakanlah kegiatan Anda dengan tepat.

Keuntungan membuat paspor secara online adalah lebih hemat waktu. Kalau Anda membuat paspor secara walk-in, Anda harus datang tiga kali. Dengan membuat paspor secara online, Anda hanya perlu datang dua kali ke kantor imigrasi.

Oke, langsung saja saya bahas langkah-langkah membuat paspor online:

I. Pra Permohonan Personal

Tahap pertama adalah tahap Pra Permohonan Personal. Pada tahap ini, kita akan mengisi data diri kita yang akan dijadikan database pada paspor yang akan dibuat. Continue Reading