150 Juta Rupiah untuk sebuah mobil LCGC; Gila!

Minggu lalu, saya mendapatkan price list mobil pabrikan Toyota sehabis pulang shalat Jumat. Betapa kagetnya saya melihat harga sebuah mobil LCGC yang menyentuh angka 150 juta rupiah. Wow. LCGC: Low Cost Green Car. Low Cost. Low. Cost. Harganya murah. Seratus lima puluh juta rupiah, murahkah angka segitu?

Melanggar Peraturan LCGC?

Menurut Kemenperin, sebuah mobil LCGC harganya maksimal 95 juta rupiah Off The Road; artinya, Continue Reading

Saya tidak mau mengambil beasiswa LPDP, karena…

Saya mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) di Vehicle Engineering Master Programme KTH Royal Institute of Technology melalui sebuah lomba/kompetisi dari Sqore.com. Tapi saya tidak lanjutkan kesempatan itu karena masalah biaya. Teman-teman menyarankan untuk mengambil beasiswa LPDP saja. Teman-teman saya juga banyak yang mengambil beasiswa LPDP, kuliah S2 di luar negeri. Semua biaya kuliah dan akomodasi dibiayai oleh LPDP, tinggal kuliah aja yang bener. Terlihat menyenangkan, seru dan menantang…tapi saya tidak mau. Ada beberapa alasan yang membuat saya tidak mau mengambil beasiswa LPDP.

S2 dan hasilnya

Bagi saya, hasil kuliah S2 haruslah benar-benar worth it, terutama dari sisi pasca kuliah yaitu karir. Apalagi kalau kuliah S2 di luar negeri…I expect a significant career difference bila dibandingkan dengan tanpa kuliah S2 atau S2 di dalam negeri.

Bagi saya, lulusan kuliah S2 luar negeri ya berkarirnya harus di luar negeri juga. Mungkin standar saya terlalu tinggi…tapi buat apa kuliah capek-capek dan mahal-mahal di luar negeri kalau apa yang didapat tidak sebanding dengan perjuangannya?

Saya hanya mau kuliah S2 kalau hal tersebut benar-benar berdampak pada karir saya. Seperti kompetisi KTH Master’s Challenge yang saya ikuti, misalnya. Setelah lulus S2, diberi kesempatan internship di salah satu perusahaan bona fide di Sweden. Kalau sudah jelas begitu, saya rasa hal tersebut sangat layak saya perjuangkan. Sayang, saya cuma jadi runner-up. Runner-up hadiahnya LoA doang. Hahaha.

Sedangkan bila saya mengambil LPDP, tentulah LoA yang saya dapatkan akan ada hasilnya. Tapi alumni LPDP kan harus kembali ke Indonesia. Ilmu-ilmu yang didapat harus digunakan untuk membangun bangsa. Kalau memang itu tujuannya, yaitu harus berkarir di Indonesia, dan membangun Indonesia, saya rasa tidak perlu ijazah S2; bagi saya ijazah S1 dan langsung berkarya untuk membangun negeri ini saja sudah cukup.

Intinya: Bagi saya, buat apa kuliah S2 ke luar negeri kalau ujung-ujungnya harus bekerja di dalam negeri juga. Mending abis lulus S1 langsung cari kerja aja di dalam negeri.

Tanggung jawab

Ini yang paling membuat saya takut. Tanggung jawab. Seorang penerima beasiswa LPDP itu memiliki tanggung jawab yang besar, karena dia dipercaya negara untuk dapat membangun negeri ini menjadi negara yang jauh lebih baik lagi daripada sekarang. Ilmu yang diperoleh selama kuliah S2 harus benar-benar dapat bermanfaat bagi Indonesia.

Menurut saya itu tanggung jawab yang sangat berat. Saya rasa kita semua tahu bagaimana kondisi bangsa ini. Saya yakin akan sangat sulit mengubah kondisi bangsa ini, apalagi dengan jalur yang seperti ini. Menurut saya, masalah terbesar bangsa ini adalah masalah karakter, bukan kepintaran, sehingga sebaiknya hal yang paling pertama harus kita perbaiki ya perilaku masyarakat. Tekankan tentang karakter, bukan tentang kepintaran. Lihat kurikulum di sekolah saja saya geleng-geleng. Orientasinya selalu pada nilai dan angka. Saya tidak bermaksud menyepelekan tentang kepintaran. Tentu saja ilmu pengetahuan itu penting, tapi bagaimana mungkin ada orang pintar tapi mengantri saja tidak bisa? Bagaimana mungkin ada orang pintar tapi peraturan selalu dilanggar? Banyak orang pintar yang tidak tahu aturan, dan parahnya lagi tidak mau diatur. Kalau sudah begitu ya susah mengelola negeri ini. Apalagi jumlah penduduk Indonesia itu sangat banyak…kalau kebanyakan orangnya susah diatur, ya susah untuk maju. Maka dari itu saya pesimis, ilmu yang diperoleh dari kuliah S2 bisa merubah bangsa ini. Mungkin saja bisa, tapi tidak dalam waktu dekat. Padahal bangsa ini butuh pertolongan secepatnya.

Belum lagi biaya kuliah S2 yang sangat mahal. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana rasanya harus mempertanggungjawabkan sesuatu yang nilainya 500 juta rupiah sendirian. Memegang uang belasan juta saja saya sudah ngeri. Ini nilainya ratusan juta dan ekspektasinya luar biasa besar; mengubah nasib bangsa ini menjadi lebih baik. Saya mengetahui kapasitas dan kemampuan diri saya dan saya tidak mau mengambil tanggung jawab tersebut. Belum lagi pertanggungjawaban di akhirat; kau gunakan untuk apa ilmu mu? kau gunakan untuk apa harta mu? Sungguh berat tanggung jawab tersebut.

— *** —

Mungkin saya terlihat penakut, nggak berani ke luar comfort zone, etc etc…tapi serius deh, saya nggak mampu mengambil tanggung jawab seberat itu.

Tahun Baru

Aku tidak mengerti.

Katanya, merayakan tahun baru masehi itu bukan bagian dari agama kita.

Kulihat, beberapa saudaraku memang tidak merayakan tahun baru masehi dengan acara hura-hura.

Tapi kenapa pula kalian harus membuat acara tandingan? Refleksi diri lah, introspeksi diri lah, evaluasi akhir tahun lah, dsb.

Bukankah dengan begitu, kalian sama saja menganggap bahwa harus ada acara khusus di malam pergantian tahun baru masehi? Yang penting acaranya berbau agama dan tidak mengadakan acara hura-hura seperti mayoritas orang lain.

Aku paham dengan niat kalian. Introspeksi diri itu hal yang baik, kita bisa mengevaluasi diri kita, sehingga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Tapi, bukankah dengan mengadakan acara seperti itu sama saja dengan merayakan pergantian tahun baru masehi?

Sungguh, aku tidak mengerti.

***

Tapi tenang sajalah, saudaraku.

Ini cuma curahan isi kepalaku saja.

Jangan dianggap serius, aku takut kalau di kemudian hari,

ternyata aku yang salah.

Logika orang Indonesia

Sering saya amati, cara berpikir orang Indonesia itu aneh. Lebih percaya sama hati, bukan pikiran.

Kalau ada cerita orang yang kondisinya memprihatinkan lalu melakukan sesuatu yang ajaib, sesuatu yang tidak bisa dibuat dengan mudah oleh orang-orang yang ahli, pasti bakal didukung penuh…meskipun sesuatu itu adalah pada dasarnya merupakan sebuah ketidakmungkinan alias bohong. Kasus Blue Energy, Pembangkit Listrik Tenaga Hampa, dan yang terakhir yang sedang booming dari Bali itu. Walau sudah banyak sanggahannya secara ilmiah, tetap saja tidak percaya bahwa itu bohong. Orang Indonesia lebih mendukung tukang bohong yang kondisinya prihatin daripada orang yang ahli di bidangnya.

Celakanya, pola pikir seperti itu diterapkan juga pada bagian yang paling krusial bagi kemajuan bangsa, yaitu pada pemilu pemimpin, baik dari tingkat lokal sampai nasional. Orang Indonesia lebih mempercayai calon pemimpin yang tampilannya sederhana daripada calon yang ahli di bidangnya. Tidak peduli calon tersebut punya kemampuan yang mumpuni atau tidak, selama dia orang yang sederhana, pakai yang murah-murah, merakyat, tidak mewah dan tidak foya-foya, pasti didukung penuh, karena mereka merasa iba dan prihatin.

Kenapa Anda milih calon A?

Karena dia itu sederhana dan merakyat.

Kenapa Anda milih calon B?

Karena dia janji ngasih uang ke saya kalau milih dia.

Kenapa Anda milih calon C?

Karena dia yang paling saya kenal, yang lainnya saya gak kenal.

Gawat. Sungguh gawat. Kriteria yang paling penting untuk menjadi seorang pemimpin tentu adalah kemampuannya, bukan tampilannya. Bagaimana jadinya kalau Anda lebih suka dipimpin Jenderal yang sederhana tampilannya tapi tidak mahir dalam taktik dan strategi berperang? Habis sudah pasukan Anda. Habis sudah masa depan Anda. Anda pasti kalah!

Saya merasa pesimis dengan nasib bangsa ini, kalau mayoritas orangnya tidak mau berpikir. Sistem pemilihan langsung seperti sekarang sangat tidak cocok diterapkan saat ini, mengingat masyarakatnya tidak berpikir dan tidak mau berpikir.

Apalagi kalau sudah menyentuh ranah agama. Saya lebih takut dengan orang bodoh yang mempelajari agama daripada orang pintar yang tidak mempelajari agama.

Orang Indonesia itu lebih senang dengan hal yang menyentuh hati, walaupun hal tersebut tidak masuk akal. Lebih menyukai fantasi dan keajaiban. Lebih menerima kebohongan yang manis daripada kenyataan yang pahit.

Iron Man dari Bali: Ini masalah logika dan berpikir kritis (Part 2)

(Lanjutan dari bagian 1)

Argumen netizen

Yang membuat saya lebih gatal lagi adalah respon netizen terhadap berita ini. Begitu berita ini beredar, langsung ada argumen bahwa alat buatan Iron Man dari Bali ini adalah hoax. Argumen tersebut juga sudah dijelaskan dengan detail secara teknis.

Tapi apa yang terjadi? Banyak sekali netizen yang mencaci-maki orang-orang yang telah membuktikan secara teknis. Argumen yang diberikan juga menurut saya absurd:

  • Alah, elo cuma bisa ngomong doang, emangnya lo bisa bikin ginian? Udah bikin apa lo?

Ini adalah argumen yang amat sangat payah. Kalau saya ingin berkomentar tentang lengan robot, apakah saya harus bikin lengan robot dulu? Lalu kenapa anda sendiri komentar tentang lengan robot, terlepas komentar anda pro ataupun kontra?

Kalau saya ingin berkomentar tentang kebijakan negara, apakah saya harus bikin kebijakan negara terlebih dahulu? Kalau saya ingin berkomentar tentang permainan sepak bolanya Lionel Messi, apakah saya harus bermain bola sejago Messi dulu?

  • Yaelah, elo baru liat dari gambar doang udah ngata-ngatain itu barang hoax, kalau belum nyobain barang aslinya mending diem aja deh!

Ini absurd juga. Kalau saya upload foto kaos saya yang berwarna merah, lalu saya bilang ‘kaos saya ini berwarna kuning,’ lalu ada netizen yang menyatakan ‘kaos itu jelas berwarna merah,’ apakah perlu netizen tersebut datang ke tempat saya dan mencoba baju saya, untuk membuktikan bahwa kaos itu berwarna merah?

Tidak perlu, karena bagi netizen tersebut kaos itu sudah sangat jelas berwarna merah, dia punya common sense tentang warna. Common sense inilah yang didapatkan dari pendidikan yang ditempuh oleh para ahli (robotika, pemrograman, neurologi, teknik mesin, elektro, mekatron, dll) yang berargumen lengan robot itu hoax.

Poinnya adalah, bagi seseorang yang ahli di bidangnya, untuk menentukan sesuatu yang obvious, dia tidak perlu melihat langsung barangnya, cukup dengan gambar dan video saja maka dia sudah tahu apakah itu benar atau tidak.

Justru yang berbahaya adalah orang yang dengan mudahnya percaya bahwa kaos itu kuning, padahal dalam kenyataannya kaos itu berwarna merah. Mereka-meraka adalah orang yang mudah diadu domba. Continue Reading

Iron Man dari Bali: Ini masalah logika dan berpikir kritis (Part 1)

Langsung aja, ini masalah ‘Iron Man dari Bali.’ Yang saya sesalkan di sini adalah masalah pola pikir, terutama para netizen.

Masalah lengan robotik buatan Pak Tawan, yang berhasil dibuat hanya dari barang rongsokan, yang diklaim mampu bisa dikendalikan dengan pikiran, menurut saya sendiri sudah jelas itu merupakan sebuah hoax. Ini bisa dibuktikan dari sisi flow process sebuah sistem dan hukum kekekalan energi.

Flow Process

Sebuah alat yang berfungsi tentu memiliki tiga buah variabel: Input, Process, dan Output. Skema lengan robotik Iron Man dari Bali yang saya lihat adalah: Sinyal dari otak sebagai input, circuit board yang berada di punggung sebagai processor-nya, dan gerakan lengan yang super luwes sebagai output-nya. Kira-kira beginilah skemanya:

Skema input-process-output

Skema input-process-output

Input

Dari sisi input, Continue Reading

Keajaiban puasa

Ini hal yang membuat saya bertanya-tanya beberapa hari belakangan.

Pernahkah Anda bandingkan, bagaimana perbedaan kondisi tubuh ketika sedang puasa dan tidak, dengan pola makan yang sama?

Saya pernah mencoba, pagi-pagi makan nasi seperti biasa. Pukul 07.00, makan dengan porsi biasa, tidak lebih, tidak kurang, ditambah minum air mineral secukupnya. Sesudah itu, saya tidak mengonsumsi makanan dan minuman lagi. Tibalah siang hari, pukul 13.00 saya sudah merasa lapar dan haus. Padahal setelah makan, saya cuma browsing internet aja kok, nggak melakukan aktivitas berat apapun.

Saya coba bandingkan dengan kondisi puasa. Sahur makan dengan porsi biasa seperti tidak puasa, minum air mineral juga secukupnya saja. Herannya, sampai maghrib tiba, saya tidak merasa lapar dan haus.

Hmm…kok bisa begini ya? Apakah ada penjelasan ilmiahnya?

Hormati orang yang puasa?

Isu ini lagi seru nih. Penyebab sebenarnya adalah peraturan menteri agama yang memperbolehkan warung makan boleh buka siang hari selama bulan Ramadhan.

Sepertinya peraturan tersebut banyak membuat orang ‘terguncang.’ Tidak sedikit orang yang bereaksi ‘keras’ terhadap peraturan tersebut. Kebanyakan bilang, ‘Warung makan harusnya tutup di siang hari, hormati kami dong yang sedang puasa!‘ Supaya rasa hormat itu terbentuk, mulai muncul tindakan-tindakan yang tidak terhormat…pernah saya baca salah satu berita dimana sebuah warung makan di Sukabumi yang buka di siang hari harus ditutup paksa oleh polisi. Bahkan lebih ekstrim lagi, di Aceh ada pemilik warung yang buka di siang hari terpaksa masuk sel.

Ada beberapa hal yang aneh menurut saya.

Respect

Ini dulu deh. Rasa hormat. Kalau menurut saya, rasa hormat itu tidak bisa dipaksakan. Respect akan kita dapatkan kalau kita sudah respect terhadap orang lain. Kalau mau dihormati, hormatilah orang lain. Kalau kamu menutup paksa warung makan, bahkan sampai memasukkan pemilik warung ke dalam sel, bagaimana mungkin orang lain akan respect terhadap kamu? Itu artinya kamu memaksakan kehendak. Itu bukanlah tindakan yang terhormat. Tindakan itu juga tidak menghargai orang lain. Lalu bagaimana mungkin orang lain mau menaruh rasa hormat kepada kamu, kalau kamu memaksakan kehendak dan tidak menghargai orang lain?

Berperilaku lah yang baik. Tunjukkan bahwa kita adalah seorang insan yang mampu menjalankan perintah Allah (puasa) dengan benar. Kalau perilaku kita baik, orang lain juga akan segan sama kita, kok.

Niat

Nah, kembali lagi ke akar dari puasa. Sebenarnya, kita ini niat gak sih puasanya? Saya yakin, kalau kita memang benar-benar niat puasanya, dalam artian kita benar-benar ingin menjalankan perintah Allah dan taat kepada-Nya, tentu kita akan berusaha sekuat mungkin untuk mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Kalau sudah begitu, godaan-godaan seperti makan dan minum di saat kita haus dan lapar Insya Allah tidak akan berpengaruh.

Jadi patut dipertanyakan nih, orang-orang yang maksa untuk tidak makan di depan kita itu puasanya niat atau nggak, sih? Yah, mungkin ada beberapa orang yang masih merasa sulit untuk menahan godaan makanan dan minuman di saat haus dan lapar, tapi itulah ujian yang sedang Allah berikan kepada kita. Allah ingin tahu, apakah kita ini termasuk orang yang beriman atau tidak.

Intinya, kalau niat berpuasa kita adalah semata-mata karena Allah, maka godaan apapun Insya Allah tidak akan membuat puasa kita sia-sia.

Kenapa sifat pendiam dianggap jelek?

Kamu harus aktif ya. Sering-sering lah ngobrol sama mereka, supaya cepet berbaurnya. Jangan diem aja.

Begitulah kira-kira kata-kata yang diucapkan kepada saya ketika saya harus beradaptasi dengan lingkungan baru.

Sebagai orang yang lebih senang diam daripada ngomong, saya merasa kesulitan untuk beradaptasi di lingkungan yang dipenuhi orang-orang baru. Jangankan di lingkungan yang baru, di kalangan teman-teman yang sudah saya kenal pun, saya lebih memilih untuk diam. Bukan karena saya anti-sosial, tapi karena memang saya lebih suka diam. Kalau ada hal yang benar-benar perlu dan/atau ingin saya sampaikan, barulah saya ngomong.

Bukan berarti saya pengennya diam terus. Sebagai makhluk sosial, saya juga memiliki kebutuhan untuk bersosialisasi. Namun, kebutuhan itu tidak sebanyak orang yang ‘seneng ngomong.’ Kalau saya lagi kangen atau lagi pengen ngobrol sama temen, ya pasti saya ngobrol. Tapi cuma sebentar doang. Udah gitu pasti pengennya pulang dan menyendiri lagi, hahaha…

Selain itu, saya juga lebih senang dengan kesunyian. Makanya kalau ada kumpul-kumpul, apalagi dalam skala besar, sering kali saya memisahkan diri. Bukan karena saya anti-sosial, tapi karena saya pengen cari suasana yang tenang dan sunyi. Oleh karena itulah kalau ada acara-acara heboh semacam wisuda, pernikahan, dan acara besar lainnya, saya pengen cepat pulang, lebih enak di rumah. Sunyi dan damai 😀

Akibatnya, saya sering dilupakan sama teman-teman. Kalau ada acara, saya sering tidak diajak. Karena waktu awal-awal, saya sering menolak untuk datang. Padahal, kadang-kadang saya pengen datang juga, lho. Pernah juga waktu itu saya ‘diajak’ (karena ada teman yang ngajak teman saya, kebetulan saya ada di situ, jadilah saya diajak) ke suatu tempat, dan saya ikut. Sesampainya di sana, mereka ya asik sendiri, lupa bahwa ada saya. Saya ngomong juga cuma diladenin sebentar, udah gitu asik sendiri lagi. Ya udah saya pulang aja. What a waste of time. Mendingan diem di rumah.

Tapi mereka itu akhirnya mau juga loh ngajak-ngajak saya, tapi kalau ada perlunya doang. Waktu itu sih saya bantuin aja, siapa tau mereka jadi inget sama saya. Begitu udah saya bantu, eh tetep aja saya dilupakan…sakit hati saya. Aneh juga, padahal di mata orang lain, mereka itu orang yang baik dan mudah bergaul, lho. Gara-gara itu lah, saya memilih menyendiri aja, daripada sakit hati lagi.

Ah, dia sih pendiem. Kalo diajak juga palingan nolak. Udahlah gak usah diajak.

Mungkin begitu di pikiran mereka.

Entah kenapa, sifat pendiam dan lebih memilih menyendiri dianggap jelek sama orang-orang. Seringkali, dalam penilaian sebuah kelompok, salah satu aspek penilaian yang penting adalah keaktifan. Kalau orangnya aktif, nilainya bagus. Kalau orangnya jarang ngomong, nilainya jelek. Dengan sistem penilaian seperti itu, jelas orang-orang seperti saya berada dalam kerugian. Orang yang lebih seneng diem, dipaksa harus aktif ngomong, ya jelas susah, coy. Selain itu, bukankah akan lebih fair kalau sistem penilaiannya diubah menjadi kualitas dari apa yang disampaikan, bukan dari kuantitas? Quality>Quantity, bro.

Akibatnya, saya sering dapat nilai yang tidak memuaskan kalau udah ada aspek penilaian seperti itu. Kurang aktif katanya. Kalah sama tukang bacot yang omongannya jarang berkualitas. Hal yang begini juga bisa menentukan masa depan, lho. Dalam mencari pekerjaan, misalnya. Salah satu penilaian dalam evaluasi atau seleksi calon karyawan baru adalah keaktifan.

Yah, intinya saya (dan mungkin orang lain yang sifatnya seperti saya) sih lebih memilih untuk diam daripada ngoceh. Lebih memilih kesunyian daripada keramaian. Tapi bukan berarti anti-sosial. Harapan saya ke depannya sih sistem penilaian yang menilai keaktifan diubah lah menjadi kualitas materi yang disampaikan, supaya lebih adil. Yang seneng ngoceh tidak masalah mau ngoceh banyak sampai berbusa, yang seneng diem mau diem terus juga gak apa-apa, yang penting apa yang disampaikan keduanya adalah sesuatu yang berkualitas dan berbobot. Quality>Quantity, bro!

Nih, biar lebih jelasnya:

   

Credits to: Luchie

Tentang Proton dan Mobil Nasional

Beberapa hari yang lalu saya membaca artikel berita yang berjudul “Jokowi Tunjuk Proton Kembangkan Mobnas Indonesia.” Padahal, kemarin-kemarin sedang panas-panasnya berita tentang iklan alat penyedot debu kontroversial dari Malaysia yang bernada merendahkan Indonesia (‘Fire your Indonesian maid now!‘).

Perasaan saya campur aduk, antara marah, kecewa, dan geregetan. Di saat KPK sedang berseteru dengan POLRI, Pak Presiden belum memutuskan solusinya bagaimana…eh ditinggal ke Malaysia. Awalnya saya pikir Pak Presiden mau membahas tentang iklan kontroversial itu, eh ternyata malah tandatangan kerjasama mobnas. Kirain sama perusahaan bonafide, eh ternyata malah sama PROTON, yang produknya gak laku di sini, bahkan di negeri asalnya sendiri pun gak laku.

Kenapa PROTON?

Presiden Jokowi dan Chairman Proton Mahathir Mohammad saat berkunjung di pabrik Proton seperti foto yang dimuat di Bernama.com. (sumber: kompas.com)

Presiden Jokowi dan Chairman Proton Mahathir Mohammad saat berkunjung di pabrik Proton seperti foto yang dimuat di Bernama.com. (sumber: kompas.com)

Ini pertanyaan yang paling pertama terlintas di pikiran saya. Kenapa memilih PROTON sebagai pengembang mobil nasional? Saya pikir ada banyak perusahaan yang lebih kompeten daripada PROTON dalam hal kemampuan dan pengalaman memproduksi mobil. Terlebih lagi, Indonesia kan sudah ada ASTRA yang bekerjasama dengan Toyota dan Daihatsu, kenapa gak kerjasama aja sama mereka? Produknya juga sudah teruji laris di pasaran, seperti Avanza/Xenia dan Kijang series.

Ini kok malah kerjasama dengan PROTON? Sepengamatan saya liat di jalanan, mobil PROTON banyaknya cuma jadi mobil taxi. Mobil pribadi yang bermerk PROTON memang pernah saya lihat, tapi cuma sekali, sangat jarang berkeliaran di jalanan.

Selain itu, PROTON kan berasal dari Malaysia. Sedangkan beberapa hari sebelumnya sedang ramai kontroversi iklan penyedot debu kontroversial. Bangsa kita direndahkan, kok beberapa hari setelahnya malah kerjasama dengan Malaysia? Kesannya kan Indonesia seperti negara yang lemah, tidak punya harga diri, sudah diinjak-injak masih saja mau bekerja sama dengan Malaysia.

Tidak Jelas dan Terkesan Bermuatan Politis

Kerjasama PROTON untuk mengembangkan mobnas juga terkesan aneh. Proton Holdings Bhd menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan PT Adiperkasa Citra Lestari (Adiperkasa) untuk membantu Indonesia belajar membangun, mengembangkan, dan memproduksi mobil nasional (mobnas). Nah, di sinilah keanehannya.

PT Adiperkasa Citra Lestari itu merupakan perusahaan milik mantan kepala Badan Intelijen Negara (BIN) A.M. Hendropriyono. Menurut Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia), nama perusahaan tersebut tidak pernah terdengar sebelumnya. Bahkan para anggota Gaikindo pun saling bertanya, karena memang tidak ada yang tahu tentang perusahaan tersebut. Mereka juga tidak tahu bahwa AM Hendropriyono memiliki perusahaan otomotif.

Selain itu, PT Adiperkasa juga tidak jelas. Menurut database Sistem Administrasi Badan Hukum (Sisminbakum) Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum Kemenkumham, hanya ada satu perusahaan bernama Adiperkasa Citra Lestari. Perusahaan tersebut terletak di Komplek Rukan Tendean Square 26, Jl. Woltermonginsidi 122 – 124 Jakarta Selatan, tapi sudah berubah menjadi Kantor Notaris Muhammad Hanafi. (sumber)

Ruko di Kompleks Rukan Tendean Square, Jakarta Selatan, yang disebut di data Sisminbakum sebagai kantor PT Adiperkasa Citra Lestari, perusahaan A.M. Hendropriyono. Foto: Frederik Tarigan/Pawa Pos (sumber: jpnn.com)

Aneh kan, perusahaan yang menangani proyek berskala nasional kok tidak jelas begitu. Saya juga sudah berusaha mencari di Google, tapi website resmi perusahaan tersebut tidak saya temukan. Bagaimana mau mencari alamat perusahaan kalau website resminya saja tidak ada.

Walaupun proton di mata saya bukan perusahaan top dalam hal industri otomotif, tapi setidaknya proton sudah mampu memproduksi mobil sendiri dan merupakan perusahaan yang jelas. Tapi kok perusahaan sekelas Proton mau kerjasama dan menandatangani dengan perusahaan tidak jelas seperti PT Adiperkasa?

Bukan Untuk Mobnas (???)

Menurut menteri perindustrian, Pak Saleh Husin, kerja sama dengan Proton bukanlah untuk Mobil Nasional. Katanya, itu hanya sekedar kesepakatan antara private to private (B to B) saja, jadi bukan keputusan pemerintah. Benarkah? Lihat foto di bawah ini:

Terlihat jelas kan tulisan ‘INDONESIA NATIONAL CAR’ ? (Sumber: detik.com)

Ini dari website Proton sendiri: (sumbernya)

PROTON Holdings Berhad (“PROTON”) today announced the signing of a Memorandum of Understanding (MoU) with PT. Adiperkasa Citra Lestari (“PT ACL”) to establish cooperation ties between Malaysia and Indonesia (“Parties”) in relation to the development and manufacturing of Indonesia National Car.

Siapa yang tidak bingung dan curiga mendengar pernyataan pak menteri bertolak belakang dengan foto dan isi website Proton tersebut? Katanya B to B saja, tapi kok sampai dihadiri Presiden dan Perdana Menteri segala? Proton sendiri sudah menyebutkan mau mengembangkan dan memproduksi mobil nasional Indonesia kok.

Sejauh ini, terdapat beberapa poin:

  • Pak Presiden Jokowi
  • Proton (Chairman Proton: Mahathir Mohammad, mantan Perdana Menteri Malaysia)
  • PT Adiperkasa Citra Lestari (Pemilik: A.M. Hendropriyono, mantan kepala BIN)

Dari ketiga poin tersebut, dicari hubungan antara ketiganya, dan hasilnya adalah…

Jokowi, A.M. Hendropriyono dan Mahathir Mohammad

Bagi yang belum tau, A.M. Hendropriyono merupakan tim sukses presiden Jokowi pada pilpres 2014 silam. Pak Hendropriyono juga merupakan Kepala Badan Intelijen Negara semasa pemerintahan presiden Megawati, yang diangkat pada tanggal 9 Agustus 2001. Sebagai mantan Kepala BIN, tentunya pak Hendropriyono sudah paham betul tentang pergerakan di balik layar. (sumber)

Lalu bagaimana dengan Mahathir Mohammad? Mahathir Mohammad adalah seorang mantan Perdana Menteri Malaysia yang katanya merupakan sahabat lama dari Megawati Soekarnoputri. Saya sempat menemukan foto antara Megawati, Mahathir Mohammad dan Jokowi:

Megawati, Mahathir Mohammad, dan Jokowi. Sumber: tempo.co

Megawati, Mahathir Mohammad, dan Jokowi. Sumber: tempo.co

Foto tersebut saya peroleh dari website Tempo (http://pemilu.tempo.co/read/news/2014/04/15/269570748/Mahathir-Mohammad-Doakan-Jokowi-Sukses). Menurut sumber, foto tersebut diambil setelah dilakukan pertemuan tertutup antara dirinya dengan Megawati dan Jokowi pada 14 April 2014 silam. Mahathir juga mendoakan agar Jokowi sukses menjadi presiden Indonesia. Bahkan, menurut jpnn.com (http://www.jpnn.com/read/2014/05/02/232063/Sebut-Warga-Malaysia-Heran-Mahathir-Dukung-Jokowi-), Mahathir mendukung Jokowi. Padahal, menurut tokoh oposisi Malaysia Anwar Ibrahim, Mahathir dikenal sebagai antidemokrasi namun tiba-tiba mendukung Jokowi yang dianggap sebagai simbol demokrasi. Apa yang sebenarnya terjadi pada pertemuan tertutup antara Mahathir dengan Megawati?

Nah…dari beberapa artikel yang saya temukan tersebut, muncul hubungan-hubungan antara Megawati, A.M. Hendropriyono, Jokowi, dan Mahathir Mohammad:

  • A.M. Hendropriyono: Kepala BIN pada zaman pemerintahan Megawati, tim sukses Jokowi
  • Mahathir Mohammad: Sahabat lama Megawati, mendukung Jokowi pada pilpres lalu
  • Jokowi: Presiden Indonesia yang juga merupakan petugas partai PDIP. Berarti Jokowi merupakan petugasnya Megawati yang notabene merupakan Ketua Umum PDIP

Jadi….

Silakan disimpulkan :D

Silakan disimpulkan 😀

…semua mengarah kepada Megawati. Kesimpulannya? Silakan disimpulkan sendiri 😀

Sekian opini dari saya. Mohon maaf apabila ada kata yang tidak berkenan.