Indonesia: terlalu banyak berdoa, kurang banyak usaha

(Ini cuma pemikiran saya aja, mungkin benar dan mungkin salah)

Akhir-akhir ini saya menemukan sesuatu yang mungkin hanya ada di Indonesia, tidak terjadi di negara lain. Sebuah mindset yang, menurut saya, menahan perkembangan Indonesia dan masyarakatnya.

Indonesia itu terlalu banyak berdoa dan kurang banyak berusaha.

Kenapa begitu?

Salah prioritas

Ada karyawan, sedang mengerjakan pekerjaan yang penting dan mendesak. Tiba-tiba dia berhenti sejenak, menunaikan sholat dhuha. “Biar rejeki saya lancar,” katanya. Padahal sholat dhuha itu kan sunnah, bukan wajib. Sedangkan sebagai seorang karyawan, kewajiban dia adalah mengerjakan tugasnya, karena dia sudah dibayar oleh perusahaan untuk mengerjakan tugas yang diberikan perusahaan.

Kalau semua karyawan melakukan kewajibannya dengan baik dan benar, maka performa perusahaan akan meningkat dan keuntungan perusahaan akan meningkat pula. Perusahaan untung, kesejahteraan karyawan meningkat, gaji karyawan juga meningkat. Bandingkan kalau semua karyawan sering sholat dhuha, tapi performa kerja tidak maksimal. Target perusahaan tidak terpenuhi, keuntungan perusahaan tidak maksimal pula. Kesejahteraan karyawan tidak banyak meningkat, gaji karyawan juga tidak meningkat.

Kalau kita ingin merubah keadaan, maka berusahalah semaksimal mungkin, lalu berdoa. Jangan dibalik. Kalau doanya maksimal tapi usahanya tidak maksimal, besar kemungkinan keadaan tidak akan berubah. Sayangnya, orang Indonesia itu lebih mementingkan doa daripada usahanya.

Mudah bersyukur

Ketika kita sudah berusaha dan hasilnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan, seringkali orang Indonesia itu bilang begini: “Yah nggak apa-apa lah cuma segini juga. Disyukuri aja. Daripada nggak dapet sama sekali.”

Saya sebenernya heran dengan mindset seperti itu. Kalau kita gagal lalu dikasih tau untuk “syukuri saja,” bukankah kita malah terlena untuk berhenti di sini saja? Tidak mau lagi berjuang untuk mendapatkan yang lebih baik? “Ah, segini aja udah cukup lah.” Bukankah lebih baik kalau kita evaluasi hal apa saja yang membuat kita gagal, lalu buat rencana ke depan dan berusaha lebih keras lagi untuk mencapai keinginan kita?

Akhirat adalah tujuan utama

Ini juga membuat saya bingung. Seringkali urusan di dunia dilupakan, tapi urusan akhirat diutamakan.

Nggak apa-apa deh saya miskin, yang penting saya rajin sholat dan mengaji.

Nggak apa-apa lah usaha saya segini aja. Usaha segini aja saya udah bisa hidup kok. Kan yang penting nanti masuk surga.

Kalau mentalnya begitu, ya wajar Indonesia nggak maju dan berkembang. Urusan di dunia diabaikan. Nggak mau berusaha lebih keras.

Padahal, kalau semua orang berusaha keras dan bersungguh-sungguh diimbangi dengan ibadah, maka dunia dan akhirat akan didapatkan sekaligus.


Intinya, yang ingin saya sampaikan adalah kalau mau berubah menjadi lebih baik, berusahalah semaksimal mungkin. Setelah itu baru serahkan kepada Tuhan dengan berdoa. Bukan sebaliknya. Selama masyarakat Indonesia tidak berusaha dengan maksimal, maka saya yakin, negara ini akan sulit berkembang dan sulit bersaing dengan negara lain.

Advertisements

Pemanfaatan e-KTP untuk berbagai macam transaksi

Saya membuka dompet saya, dan saya tersadar akan suatu hal: kok banyak sekali kartu di dompet saya?
KTP, SIM A, SIM C, Kartu Indonesia Sehat, BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, BPJS Jaminan Hari Tua, NPWP…dan lain-lain.

Saya sempat bercanda sama teman-teman saya, bahwa sekarang ini adalah rezim kartu. Dompet saya tersiksa, dijejali berbagai macam kartu yang jarang dipakai.

Dulu, e-KTP digadang-gadang bisa mempermudah berbagai macam transaksi. Tapi kenyataannya, e-KTP tidak ada bedanya dengan KTP biasa. Mau perlu apa-apa juga tetap saja e-KTP itu harus di fotokopi. E-KTP itu payah!

Saya sempat terpikir, kenapa sih e-KTP itu tidak dimanfaatkan saja? Cobalah itu SIM A, SIM C, Kartu Indonesia Sehat, BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, BPJS Jaminan Hari Tua, NPWP disatukan menjadi satu kartu. Satukan saja di e-KTP. Praktis, hanya satu kartu saja yang perlu saya bawa untuk berbagai macam keperluan. Dompet tidak akan tersiksa, dan saku tidak akan sesak ditempati dompet yang gemuk akibat kebanyakan kartu.

Ditambah lagi sekarang semakin banyak transaksi cashless. E-money semakin marak digunakan untuk transaksi tol dan berbelanja. Saya pikir e-KTP bisa dimanfaatkan juga untuk transaksi tersebut. Semakin praktis kan?

Dibalik semua kepraktisannya tentu saja metode seperti ini beresiko. Bayangkan jika e-KTP kita hilang. Semua data juga hilang dan akan membutuhkan banyak tenaga untuk mengembalikan data-data yang telah hilang. Tapi saya pikir, jika keuntungan yang didapat lebih baik daripada kerugiannya, kenapa tidak kita lakukan saja?

Makna Ramadhan Sesungguhnya

Bulan Ramadhan telah kita lalui. Sekarang kita memasuki bulan Syawal. Tentu kita semua merasa sedih telah meninggalkan bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Kita pasti merindukan bulan Ramadhan, dan akan terus berdoa agar kita diberi umur untuk dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan di waktu yang akan datang.


Kira-kira begitulah tipikal ceramah atau khotbah shalat ied atau shalat jumat di berbagai tempat yang pernah saya kunjungi. Bulan Ramadhan itu memang bulan yang spesial. Semua orang tiba-tiba menjadi rajin beribadah, karena memang inilah bulan dimana semua amalan yang kita lakukan akan dilipatgandakan pahalanya. Semua orang tiba-tiba menjadi dermawan, berbagi kepada sesama. Semua orang tiba-tiba menjadi santun, menjaga tutur kata dan perilakunya masing-masing. Tiga puluh hari lamanya kita, kaum muslim, berpuasa menahan lapar, haus dan hawa nafsu.

Namun, semua itu berubah setelah bulan Ramadhan selesai. Orang-orang kembali menjadi pribadinya yang seperti dulu sebelum memasuki bulan Ramadhan. Ibadah mulai kendur; shalat berjamaah di masjid dan pengajian kembali sepi. Perilaku konsumtif dan menghambur-hamburkan uang kembali dilakukan. Perilaku kasar dan perkataan yang buruk kembali terucap.

Semua itu terulang kembali, padahal sebelumnya sudah melakukan puasa selama 30 hari. Lalu saya pun berpikir bahwa makna Ramadhan sesungguhnya bukanlah waktu di bulan Ramadhan-nya itu saja, tapi berlaku juga setelah bulan Ramadhan berakhir. Jika perilaku seseorang di bulan Ramadhan mengalami perubahan menjadi lebih baik, namun perilakunya kembali menjadi buruk setelah bulan Ramadhan selesai, maka apa artinya Ramadhan bagi orang tersebut? Apakah Ramadhan itu hanya sebagai momen untuk berlomba-lomba mencari pahala saja?

Jika iya, maka saya pikir orang tersebut tidak mendapatkan makna Ramadhan yang sesungguhnya. Bolehlah orang tersebut memanfaatkan bulan Ramadhan untuk beribadah semaksimal mungkin. ‘Memanen’ pahala sebanyak-banyaknya merupakan sesuatu yang baik. Tapi jika dia kembali perilaku yang lama seperti sebelum bulan Ramadhan, maka sia-sialah Ramadhan untuknya. Maksud saya, untuk apa dia ibadah sebanyak-banyaknya kalau perbuatan tetap tidak mengalami perubahan?

Menurut saya, Ramadhan yang bermakna bagi seseorang adalah berubahnya sikap seseorang akibat kebiasaan-kebiasaan yang telah dilakukan selama bulan Ramadhan. Kebiasaan mengaji, kebiasaan shalat berjamaah di masjid, kebiasaan bersedekah, dan kebiasaan menjaga perkataan tetap dilakukan setelah bulan Ramadhan usai. Itulah makna Ramadhan yang sesungguhnya; sebuah momen yang dimaksudkan untuk mengembalikan bagaimana kita melakukan amalan-amalan ke jalan yang seharusnya. Bayangkan jika semua orang melakukan hal tersebut, dunia ini akan menjadi tenteram, aman dan damai.

150 Juta Rupiah untuk sebuah mobil LCGC; Gila!

Minggu lalu, saya mendapatkan price list mobil pabrikan Toyota sehabis pulang shalat Jumat. Betapa kagetnya saya melihat harga sebuah mobil LCGC yang menyentuh angka 150 juta rupiah. Wow. LCGC: Low Cost Green Car. Low Cost. Low. Cost. Harganya murah. Seratus lima puluh juta rupiah, murahkah angka segitu?

Melanggar Peraturan LCGC?

Menurut Kemenperin, sebuah mobil LCGC harganya maksimal 95 juta rupiah Off The Road; artinya, Continue Reading

Saya tidak mau mengambil beasiswa LPDP, karena…

Saya mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) di Vehicle Engineering Master Programme KTH Royal Institute of Technology melalui sebuah lomba/kompetisi dari Sqore.com. Tapi saya tidak lanjutkan kesempatan itu karena masalah biaya. Teman-teman menyarankan untuk mengambil beasiswa LPDP saja. Teman-teman saya juga banyak yang mengambil beasiswa LPDP, kuliah S2 di luar negeri. Semua biaya kuliah dan akomodasi dibiayai oleh LPDP, tinggal kuliah aja yang bener. Terlihat menyenangkan, seru dan menantang…tapi saya tidak mau. Ada beberapa alasan yang membuat saya tidak mau mengambil beasiswa LPDP.

S2 dan hasilnya

Bagi saya, hasil kuliah S2 haruslah benar-benar worth it, terutama dari sisi pasca kuliah yaitu karir. Apalagi kalau kuliah S2 di luar negeri…I expect a significant career difference bila dibandingkan dengan tanpa kuliah S2 atau S2 di dalam negeri.

Bagi saya, lulusan kuliah S2 luar negeri ya berkarirnya harus di luar negeri juga. Mungkin standar saya terlalu tinggi…tapi buat apa kuliah capek-capek dan mahal-mahal di luar negeri kalau apa yang didapat tidak sebanding dengan perjuangannya?

Saya hanya mau kuliah S2 kalau hal tersebut benar-benar berdampak pada karir saya. Seperti kompetisi KTH Master’s Challenge yang saya ikuti, misalnya. Setelah lulus S2, diberi kesempatan internship di salah satu perusahaan bona fide di Sweden. Kalau sudah jelas begitu, saya rasa hal tersebut sangat layak saya perjuangkan. Sayang, saya cuma jadi runner-up. Runner-up hadiahnya LoA doang. Hahaha.

Sedangkan bila saya mengambil LPDP, tentulah LoA yang saya dapatkan akan ada hasilnya. Tapi alumni LPDP kan harus kembali ke Indonesia. Ilmu-ilmu yang didapat harus digunakan untuk membangun bangsa. Kalau memang itu tujuannya, yaitu harus berkarir di Indonesia, dan membangun Indonesia, saya rasa tidak perlu ijazah S2; bagi saya ijazah S1 dan langsung berkarya untuk membangun negeri ini saja sudah cukup.

Intinya: Bagi saya, buat apa kuliah S2 ke luar negeri kalau ujung-ujungnya harus bekerja di dalam negeri juga. Mending abis lulus S1 langsung cari kerja aja di dalam negeri.

Tanggung jawab

Ini yang paling membuat saya takut. Tanggung jawab. Seorang penerima beasiswa LPDP itu memiliki tanggung jawab yang besar, karena dia dipercaya negara untuk dapat membangun negeri ini menjadi negara yang jauh lebih baik lagi daripada sekarang. Ilmu yang diperoleh selama kuliah S2 harus benar-benar dapat bermanfaat bagi Indonesia.

Menurut saya itu tanggung jawab yang sangat berat. Saya rasa kita semua tahu bagaimana kondisi bangsa ini. Saya yakin akan sangat sulit mengubah kondisi bangsa ini, apalagi dengan jalur yang seperti ini. Menurut saya, masalah terbesar bangsa ini adalah masalah karakter, bukan kepintaran, sehingga sebaiknya hal yang paling pertama harus kita perbaiki ya perilaku masyarakat. Tekankan tentang karakter, bukan tentang kepintaran. Lihat kurikulum di sekolah saja saya geleng-geleng. Orientasinya selalu pada nilai dan angka. Saya tidak bermaksud menyepelekan tentang kepintaran. Tentu saja ilmu pengetahuan itu penting, tapi bagaimana mungkin ada orang pintar tapi mengantri saja tidak bisa? Bagaimana mungkin ada orang pintar tapi peraturan selalu dilanggar? Banyak orang pintar yang tidak tahu aturan, dan parahnya lagi tidak mau diatur. Kalau sudah begitu ya susah mengelola negeri ini. Apalagi jumlah penduduk Indonesia itu sangat banyak…kalau kebanyakan orangnya susah diatur, ya susah untuk maju. Maka dari itu saya pesimis, ilmu yang diperoleh dari kuliah S2 bisa merubah bangsa ini. Mungkin saja bisa, tapi tidak dalam waktu dekat. Padahal bangsa ini butuh pertolongan secepatnya.

Belum lagi biaya kuliah S2 yang sangat mahal. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana rasanya harus mempertanggungjawabkan sesuatu yang nilainya 500 juta rupiah sendirian. Memegang uang belasan juta saja saya sudah ngeri. Ini nilainya ratusan juta dan ekspektasinya luar biasa besar; mengubah nasib bangsa ini menjadi lebih baik. Saya mengetahui kapasitas dan kemampuan diri saya dan saya tidak mau mengambil tanggung jawab tersebut. Belum lagi pertanggungjawaban di akhirat; kau gunakan untuk apa ilmu mu? kau gunakan untuk apa harta mu? Sungguh berat tanggung jawab tersebut.

— *** —

Mungkin saya terlihat penakut, nggak berani ke luar comfort zone, etc etc…tapi serius deh, saya nggak mampu mengambil tanggung jawab seberat itu.

Tahun Baru

Aku tidak mengerti.

Katanya, merayakan tahun baru masehi itu bukan bagian dari agama kita.

Kulihat, beberapa saudaraku memang tidak merayakan tahun baru masehi dengan acara hura-hura.

Tapi kenapa pula kalian harus membuat acara tandingan? Refleksi diri lah, introspeksi diri lah, evaluasi akhir tahun lah, dsb.

Bukankah dengan begitu, kalian sama saja menganggap bahwa harus ada acara khusus di malam pergantian tahun baru masehi? Yang penting acaranya berbau agama dan tidak mengadakan acara hura-hura seperti mayoritas orang lain.

Aku paham dengan niat kalian. Introspeksi diri itu hal yang baik, kita bisa mengevaluasi diri kita, sehingga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Tapi, bukankah dengan mengadakan acara seperti itu sama saja dengan merayakan pergantian tahun baru masehi?

Sungguh, aku tidak mengerti.

***

Tapi tenang sajalah, saudaraku.

Ini cuma curahan isi kepalaku saja.

Jangan dianggap serius, aku takut kalau di kemudian hari,

ternyata aku yang salah.

Logika orang Indonesia

Sering saya amati, cara berpikir orang Indonesia itu aneh. Lebih percaya sama hati, bukan pikiran.

Kalau ada cerita orang yang kondisinya memprihatinkan lalu melakukan sesuatu yang ajaib, sesuatu yang tidak bisa dibuat dengan mudah oleh orang-orang yang ahli, pasti bakal didukung penuh…meskipun sesuatu itu adalah pada dasarnya merupakan sebuah ketidakmungkinan alias bohong. Kasus Blue Energy, Pembangkit Listrik Tenaga Hampa, dan yang terakhir yang sedang booming dari Bali itu. Walau sudah banyak sanggahannya secara ilmiah, tetap saja tidak percaya bahwa itu bohong. Orang Indonesia lebih mendukung tukang bohong yang kondisinya prihatin daripada orang yang ahli di bidangnya.

Celakanya, pola pikir seperti itu diterapkan juga pada bagian yang paling krusial bagi kemajuan bangsa, yaitu pada pemilu pemimpin, baik dari tingkat lokal sampai nasional. Orang Indonesia lebih mempercayai calon pemimpin yang tampilannya sederhana daripada calon yang ahli di bidangnya. Tidak peduli calon tersebut punya kemampuan yang mumpuni atau tidak, selama dia orang yang sederhana, pakai yang murah-murah, merakyat, tidak mewah dan tidak foya-foya, pasti didukung penuh, karena mereka merasa iba dan prihatin.

Kenapa Anda milih calon A?

Karena dia itu sederhana dan merakyat.

Kenapa Anda milih calon B?

Karena dia janji ngasih uang ke saya kalau milih dia.

Kenapa Anda milih calon C?

Karena dia yang paling saya kenal, yang lainnya saya gak kenal.

Gawat. Sungguh gawat. Kriteria yang paling penting untuk menjadi seorang pemimpin tentu adalah kemampuannya, bukan tampilannya. Bagaimana jadinya kalau Anda lebih suka dipimpin Jenderal yang sederhana tampilannya tapi tidak mahir dalam taktik dan strategi berperang? Habis sudah pasukan Anda. Habis sudah masa depan Anda. Anda pasti kalah!

Saya merasa pesimis dengan nasib bangsa ini, kalau mayoritas orangnya tidak mau berpikir. Sistem pemilihan langsung seperti sekarang sangat tidak cocok diterapkan saat ini, mengingat masyarakatnya tidak berpikir dan tidak mau berpikir.

Apalagi kalau sudah menyentuh ranah agama. Saya lebih takut dengan orang bodoh yang mempelajari agama daripada orang pintar yang tidak mempelajari agama.

Orang Indonesia itu lebih senang dengan hal yang menyentuh hati, walaupun hal tersebut tidak masuk akal. Lebih menyukai fantasi dan keajaiban. Lebih menerima kebohongan yang manis daripada kenyataan yang pahit.

Iron Man dari Bali: Ini masalah logika dan berpikir kritis (Part 2)

(Lanjutan dari bagian 1)

Argumen netizen

Yang membuat saya lebih gatal lagi adalah respon netizen terhadap berita ini. Begitu berita ini beredar, langsung ada argumen bahwa alat buatan Iron Man dari Bali ini adalah hoax. Argumen tersebut juga sudah dijelaskan dengan detail secara teknis.

Tapi apa yang terjadi? Banyak sekali netizen yang mencaci-maki orang-orang yang telah membuktikan secara teknis. Argumen yang diberikan juga menurut saya absurd:

  • Alah, elo cuma bisa ngomong doang, emangnya lo bisa bikin ginian? Udah bikin apa lo?

Ini adalah argumen yang amat sangat payah. Kalau saya ingin berkomentar tentang lengan robot, apakah saya harus bikin lengan robot dulu? Lalu kenapa anda sendiri komentar tentang lengan robot, terlepas komentar anda pro ataupun kontra?

Kalau saya ingin berkomentar tentang kebijakan negara, apakah saya harus bikin kebijakan negara terlebih dahulu? Kalau saya ingin berkomentar tentang permainan sepak bolanya Lionel Messi, apakah saya harus bermain bola sejago Messi dulu?

  • Yaelah, elo baru liat dari gambar doang udah ngata-ngatain itu barang hoax, kalau belum nyobain barang aslinya mending diem aja deh!

Ini absurd juga. Kalau saya upload foto kaos saya yang berwarna merah, lalu saya bilang ‘kaos saya ini berwarna kuning,’ lalu ada netizen yang menyatakan ‘kaos itu jelas berwarna merah,’ apakah perlu netizen tersebut datang ke tempat saya dan mencoba baju saya, untuk membuktikan bahwa kaos itu berwarna merah?

Tidak perlu, karena bagi netizen tersebut kaos itu sudah sangat jelas berwarna merah, dia punya common sense tentang warna. Common sense inilah yang didapatkan dari pendidikan yang ditempuh oleh para ahli (robotika, pemrograman, neurologi, teknik mesin, elektro, mekatron, dll) yang berargumen lengan robot itu hoax.

Poinnya adalah, bagi seseorang yang ahli di bidangnya, untuk menentukan sesuatu yang obvious, dia tidak perlu melihat langsung barangnya, cukup dengan gambar dan video saja maka dia sudah tahu apakah itu benar atau tidak.

Justru yang berbahaya adalah orang yang dengan mudahnya percaya bahwa kaos itu kuning, padahal dalam kenyataannya kaos itu berwarna merah. Mereka-meraka adalah orang yang mudah diadu domba. Continue Reading

Iron Man dari Bali: Ini masalah logika dan berpikir kritis (Part 1)

Langsung aja, ini masalah ‘Iron Man dari Bali.’ Yang saya sesalkan di sini adalah masalah pola pikir, terutama para netizen.

Masalah lengan robotik buatan Pak Tawan, yang berhasil dibuat hanya dari barang rongsokan, yang diklaim mampu bisa dikendalikan dengan pikiran, menurut saya sendiri sudah jelas itu merupakan sebuah hoax. Ini bisa dibuktikan dari sisi flow process sebuah sistem dan hukum kekekalan energi.

Flow Process

Sebuah alat yang berfungsi tentu memiliki tiga buah variabel: Input, Process, dan Output. Skema lengan robotik Iron Man dari Bali yang saya lihat adalah: Sinyal dari otak sebagai input, circuit board yang berada di punggung sebagai processor-nya, dan gerakan lengan yang super luwes sebagai output-nya. Kira-kira beginilah skemanya:

Skema input-process-output

Skema input-process-output

Input

Dari sisi input, Continue Reading

Keajaiban puasa

Ini hal yang membuat saya bertanya-tanya beberapa hari belakangan.

Pernahkah Anda bandingkan, bagaimana perbedaan kondisi tubuh ketika sedang puasa dan tidak, dengan pola makan yang sama?

Saya pernah mencoba, pagi-pagi makan nasi seperti biasa. Pukul 07.00, makan dengan porsi biasa, tidak lebih, tidak kurang, ditambah minum air mineral secukupnya. Sesudah itu, saya tidak mengonsumsi makanan dan minuman lagi. Tibalah siang hari, pukul 13.00 saya sudah merasa lapar dan haus. Padahal setelah makan, saya cuma browsing internet aja kok, nggak melakukan aktivitas berat apapun.

Saya coba bandingkan dengan kondisi puasa. Sahur makan dengan porsi biasa seperti tidak puasa, minum air mineral juga secukupnya saja. Herannya, sampai maghrib tiba, saya tidak merasa lapar dan haus.

Hmm…kok bisa begini ya? Apakah ada penjelasan ilmiahnya?