150 Juta Rupiah untuk sebuah mobil LCGC; Gila!

Minggu lalu, saya mendapatkan price list mobil pabrikan Toyota sehabis pulang shalat Jumat. Betapa kagetnya saya melihat harga sebuah mobil LCGC yang menyentuh angka 150 juta rupiah. Wow. LCGC: Low Cost Green Car. Low Cost. Low. Cost. Harganya murah. Seratus lima puluh juta rupiah, murahkah angka segitu?

Melanggar Peraturan LCGC?

Menurut Kemenperin, sebuah mobil LCGC harganya maksimal 95 juta rupiah Off The Road; artinya, Continue Reading

Advertisements

Super short review: 2016 KTM Duke 250

Minggu, 5 Maret 2017

Hari ini, KTM mengadakan sebuah acara gathering berjudul KTM Orange Day 2017. Ini merupakan KTM Orange Day kedua yang diselenggarakan oleh KTM dan kali ini KTM mengadakan acaranya di Bandung, tepatnya di Sabuga ITB.

Pada KTM Orange Day kali ini, KTM menyelenggarakan acara yang menarik. Ada acara test ride, stunt rider, female DJ, photo competition, dan ada door prize menarik. Saya datang ke acara ini karena saya penasaran dengan motor KTM Duke series. Desain motornya benar-benar berani dan out of the box. Ditambah lagi dengan spesifikasi motor yang juga tak kalah menarik: high power (26 hp for Duke 200), low weight, suspensi depan Upside down, suspensi belakang WP, rem Bybre, ban super lebar, panel instrumen full digital, ditambah frame trellis dan warna orange yang menjadi ciri khas KTM…wah, Duke series sukses memikat hati saya. Sayang, harga motornya mahal, 34.8 juta rupiah (OTR Bandung).

Sebenarnya saya tertarik beli Duke 200, tapi saya juga pengen tau gimana sih rasanya naik Duke 200. Jangan sampai saya udah keluar uang banyak, eh malah nggak puas pakenya. Makanya saya sangat tertarik untuk mengikuti acara test ride di KTM Orange Day 2017 ini.

Datanglah saya ke Sabuga ITB pada hari minggu pagi. KTM memberikan kesempatan test ride untuk semua lineup motornya: KTM Duke 200 & 250, dan KTM RC 200 & 250. Langsung saja saya registrasi test ride…ternyata banyak juga yang berminat test ride. Bahkan ada rider wanita juga lho, hebat. Berhubung unit test ride Duke 200 cuma satu unit, saya jadinya memilih mencoba Duke 250 saja, supaya antrinya tidak lama. Sebenarnya setiap orang boleh-boleh saja mencoba semua unit motor, dan saya inginnya begitu, namun sayang waktunya tidak cukup.

Isi formulir test ride, kumpulkan ke panitia, lalu nunggu dipanggil. Setelah agak lama menunggu akibat kesemrawutan penyelenggaraan test ride, akhirnya giliran saya tiba juga. Test rider diwajibkan memakai safety gear yang disediakan panitia: helm full face, elbow protector dan knee protector. Setelah saya pakai semua gear, langsung saya coba unit test ride Duke 250 berwarna hitam.

Posisi duduk tegak, tidak menunduk. Joknya yang lebar dan suspensi monoshock yang cenderung soft membuat saya duduk secara nyaman. Sepertinya enak untuk perjalanan jauh. Tapi jok tebengan ukurannya kecil..entah nyaman atau nggak untuk perjalanan jauh. Putar konci kontak ke posisi on…kok speedometernya nggak nyala yah. Ternyata engine stopnya aktif, saya tekan ke posisi run, dan speedometer pun menyala. Hmm..tulisannya kecil-kecil..tapi buat saya sih jelas terlihat. Nyalakan mesin…bunyinya garang, tapi halus. Tidak ada getaran berarti di stang dan kaki. Halus banget.

Pindahkan ke gigi 1, langsung jalan! Baru berjalan sedikit, sudah harus menikung U-turn…tapi yang saya rasakan, membawa Duke 250 ini kok ringan sekali, saya tidak merasa seperti membawa motor 250cc. Oh iya, sebagai informasi, track test ride ini sangat pendek sekali. Track berbentuk elips dan cuma 60 meter doang.

Motor berbelok dengan stabil, berkat ban lebar. Keluar tikungan, saya langsung putar tuas gas…ternyata tenaga baru menyentak di RPM tengah. Baru jalan sedikit, harus menikung lagi…saatnya mencoba pengereman. Unit Duke 250 ini sudah dilengkapi ABS, tidak perlu khawatir ban akan terkunci. Sedangkan Duke 200 belum ABS. Pengereman menurut saya sudah baik, walau di awal acara, pihak KTM mewanti-wanti jangan kaget kalau rem ABS nanti akan terasa kurang pakem…tapi buat saya sih sudah pakem ah.

Pada lap berikutnya, saya coba shifting gear…wah halus sekali pindah giginya. Hampir tidak ada effort berarti pada saat pindah gigi. Beda sekali dengan motor-motor kopling yang pernah saya bawa sebelumnya. Saya sebenernya penasaran dengan top speed dan performa suspensi di jalan yang jelek, tapi berhubung track testnya kecil sekali, ya sudah saya cuma bisa test segitu aja.

Kelebihan:

  • Posisi duduk nyaman
  • Suspensi empuk
  • Gear shifting halus sekali
  • Minim getaran
  • Tarikan enteng
  • Desain motor gahar
  • Ringan
  • ABS

Kekurangan:

  • Speedometer kecil
  • Jok tebengan kecil
  • Mahal

Puas test ride, saya kembali ke stand, isi formulir testimoni test ride. Pulangnya dikasih snack, free lunch, dan undian door prize. Sayang saya nggak sempet mencoba Duke 200, RC 200 dan RC 250, karena saya harus pulang secepat mungkin (khawatir kehujanan, karena siang mulai gelap).

Andai uang bukan masalah buat saya, bakal saya beli di tempat itu Duke 250, hahaha.

Review: 2016 Yamaha X-Ride

Karena sesuatu dan lain hal, si putih Honda Vario 125 saya ‘hibahkan’ ke bapak saya dan sebagai penggantinya, saya memutuskan untuk meminang Yamaha X-Ride berwarna Titanium Gold. Langsung saja saya review luar dalam.

Desain

Lagi males foto, jadi seadanya aja :D

Lagi males foto, jadi seadanya aja 😀

First things first, masalah desain adalah masalah selera, jadi sudah pasti bersifat subjektif. Menurut saya, desain oke. Sebagian orang berpendapat bentuknya aneh, tapi bagi saya malah terkesan unik.

Saya tekan-tekan bagian body motor…terasa keras dan kaku, tidak ada bunyi apapun dan tidak ada plastik yang ‘mleot-mleot’ (halah, bahasa resminya apa yah, pokoknya tidak ada yang tertekan sampai bentuknya berubah gitu lah 😀 ). Bagus.

Desain speedometernya saya sangat suka! Bentuk membulat, background gelap, dengan tulisan angka yang bentuknya kaku berwarna oranye ditambah garis penunjuk berwarna putih. Simple, tegas dan enak dipandang.

Saya kurang suka sama bentuk behelnya, kenapa sih harus bergelombang begitu. Ditambah lagi desain velg khas matic Yamaha…entah sampai kapan Yamaha akan memakai desain yang sama, dari jaman Mio gen 1 sampai sekarang masih begitu-begitu aja bentuknya. Ban Continue Reading

No Picture Review: 2016 All New Honda Vario ESP CBS

All New Honda Vario 125 CBS menjadi pilihan pengganti RX-KING yang telah saya jual beberapa waktu yang lalu. Kali ini saya akan mereview skutik ini tapi mohon maaf tidak ada gambar motor saya, karena saya malas foto 😀 Langsung saja saya mulai dari sisi desain terlebih dahulu.

Males upload foto, nyomot dari website AHM aja deh :D

Males upload foto, nyomot dari website AHM aja deh 😀

Desain

Saya sangat suka dengan desain lampu depannya. Tajam.

Lanjut ke desain speedometer…desainnya..yaa begitu deh. Sebenarnya untuk desain speedometer, saya lebih prefer desain yang membulat karena…entah kenapa, saya tidak suka desain speedometer tajam-tajam seperti Vario 125 ESP ini. Di sisi lain, keterbacaan speedometer ini sudah baik, semua terlihat dengan jelas baik siang maupun malam.

Lihat ke sisi samping…bentuknya bagus dengan lekukan-lekukan manis. Lanjut ke bagian belakang, saya sebenernya nggak suka dengan desain stop lamp nya…tajam-tajam nggak jelas gitu lah. Rada tanggung sih bentuknya kalau menurut saya. Bentuk spatbor biasa saja, sedangkan desain pelindung knalpot lumayan bagus.

Saya tekan-tekan bodi di dekat dudukan plat nomor di depan…terdengar bunyi-bunyi mendecit, ‘kriet-kriet.’ Bunyi yang sama muncul ketika saya menekan plastik di bagian pegangan di dekat boncengan. Kecewa, motor baru sudah bunyi begini.

Overall, saya menilai desain All New Vario 125 dari depan sangat bagus, semakin ke belakang semakin biasa saja. Perlu diingat masalah desain adalah masalah selera, dimana setiap orang memiliki selera yang berbeda 😀

Ergonomi

Saya naiki All New Honda Vario 125 CBS ini…posisi duduk nyaman. Dengan tinggi badan 177 cm, alhamdulillah saya tidak mengalami kesulitan yang berarti dalam menaiki motor ini 😀 😀 Posisi tangan lurus ke bawah tidak menekuk, berbeda dengan Vario generasi pertama dimana posisi setang agak ke atas dan siku tangan sedikit menekuk. Agak tanggung, namun kalau sudah terbiasa, nyaman juga. Grip gas oke, nyaman digenggam.

Jarak lutut ke dek masih tersisa cukup banyak. Jok tidak licin, jauh berbeda dengan jok Vario gen 1 yang bisa membuat saya ngesot, hehe..

Kenyamanan berkendara

Putar kunci kontak ke on, jarum berputar, indikator FI menyala ditambah bunyi ‘ngiiing’ khas fuel pump. Tekan tombol starter sambil tekan tuas rem, mesin pun menyala. Suara starter sangat halus, saya sangat suka. Bunyi mesin pada saat idle juga halus.

Langsung saja saya pelintir grip gas nya, motor pun melaju..suara mesin halus. Saya arahkan motor ke jalanan jelek…baik shock depan maupun belakang terasa sangat keras. Sangat jauh berbeda dengan Vario Techno 110, yang Continue Reading

Good bye, RX-KING!

Kiranya kisah kita berdua sampai di sini saja. Jalanan yang semakin macet membuatku harus rela melepaskanmu. Aku sudah tidak kuat menahan hasrat balap yang ada di dalam dirimu, begitu pun dengan dahagamu yang tiada terkira.

*—*

…intinya, berhubung jalanan macet, saya gak kuat nahan kopling (macet tiap hari 6 km PP, sesampainya di rumah tangan kesemutan cuy!), dan dompet juga terkuras beli minuman ijo dan sirup merah (shell super dan oli samping idemitsu). Akhirnya RX-KING saya dilego.

Akselerasi mantap dipadu dengan body yang ringan membuatnya dapat berlari dengan cepat. Ditambah dengan desain body yang simple, suara khas engine 2-tak, dan posisi duduk yang santai…ah, sungguh motor yang sangat bagus. Andai saja perjalanan tiap hari tidak separah sekarang, mungkin saya akan tetap pakai sang raja.

Sekarang, saya beralih pakai matik yang lebih irit dan lebih praktis, cuma gas-rem-gas-rem saja. Sungguh membosankan.

RX-KING Brotherhood

Semenjak saya memakai RX-King, banyak hal menarik yang saya alami.

Sudah sering saya alami, ketika ada penunggang RX-King yang lain bertemu dengan saya, pengendara tersebut tersenyum kepada saya, lalu memberikan ‘salam’: treeeng! (gerung-gerung, hehehe). Saya pun membalasnya dengan hal yang sama, lalu kami pun melanjutkan perjalanan masing-masing.

Saya kaget, ini pengalaman baru bagi saya selama hampir 10 tahun lalu lalang di jalan raya menggunakan sepeda motor. Ada rasa senang dan bangga menunggangi motor ini. Bentuknya yang simple, bobotnya ringan, tarikan enteng, ditambah lagi ada ‘salam’ dengan pengendara lain…mantaft!

Inilah jiwa Brotherhood para penunggang RX-King; walau kami tidak saling kenal, tapi kami saling menyapa!

Tentang Proton dan Mobil Nasional

Beberapa hari yang lalu saya membaca artikel berita yang berjudul “Jokowi Tunjuk Proton Kembangkan Mobnas Indonesia.” Padahal, kemarin-kemarin sedang panas-panasnya berita tentang iklan alat penyedot debu kontroversial dari Malaysia yang bernada merendahkan Indonesia (‘Fire your Indonesian maid now!‘).

Perasaan saya campur aduk, antara marah, kecewa, dan geregetan. Di saat KPK sedang berseteru dengan POLRI, Pak Presiden belum memutuskan solusinya bagaimana…eh ditinggal ke Malaysia. Awalnya saya pikir Pak Presiden mau membahas tentang iklan kontroversial itu, eh ternyata malah tandatangan kerjasama mobnas. Kirain sama perusahaan bonafide, eh ternyata malah sama PROTON, yang produknya gak laku di sini, bahkan di negeri asalnya sendiri pun gak laku.

Kenapa PROTON?

Presiden Jokowi dan Chairman Proton Mahathir Mohammad saat berkunjung di pabrik Proton seperti foto yang dimuat di Bernama.com. (sumber: kompas.com)

Presiden Jokowi dan Chairman Proton Mahathir Mohammad saat berkunjung di pabrik Proton seperti foto yang dimuat di Bernama.com. (sumber: kompas.com)

Ini pertanyaan yang paling pertama terlintas di pikiran saya. Kenapa memilih PROTON sebagai pengembang mobil nasional? Saya pikir ada banyak perusahaan yang lebih kompeten daripada PROTON dalam hal kemampuan dan pengalaman memproduksi mobil. Terlebih lagi, Indonesia kan sudah ada ASTRA yang bekerjasama dengan Toyota dan Daihatsu, kenapa gak kerjasama aja sama mereka? Produknya juga sudah teruji laris di pasaran, seperti Avanza/Xenia dan Kijang series.

Ini kok malah kerjasama dengan PROTON? Sepengamatan saya liat di jalanan, mobil PROTON banyaknya cuma jadi mobil taxi. Mobil pribadi yang bermerk PROTON memang pernah saya lihat, tapi cuma sekali, sangat jarang berkeliaran di jalanan.

Selain itu, PROTON kan berasal dari Malaysia. Sedangkan beberapa hari sebelumnya sedang ramai kontroversi iklan penyedot debu kontroversial. Bangsa kita direndahkan, kok beberapa hari setelahnya malah kerjasama dengan Malaysia? Kesannya kan Indonesia seperti negara yang lemah, tidak punya harga diri, sudah diinjak-injak masih saja mau bekerja sama dengan Malaysia.

Tidak Jelas dan Terkesan Bermuatan Politis

Kerjasama PROTON untuk mengembangkan mobnas juga terkesan aneh. Proton Holdings Bhd menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan PT Adiperkasa Citra Lestari (Adiperkasa) untuk membantu Indonesia belajar membangun, mengembangkan, dan memproduksi mobil nasional (mobnas). Nah, di sinilah keanehannya.

PT Adiperkasa Citra Lestari itu merupakan perusahaan milik mantan kepala Badan Intelijen Negara (BIN) A.M. Hendropriyono. Menurut Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia), nama perusahaan tersebut tidak pernah terdengar sebelumnya. Bahkan para anggota Gaikindo pun saling bertanya, karena memang tidak ada yang tahu tentang perusahaan tersebut. Mereka juga tidak tahu bahwa AM Hendropriyono memiliki perusahaan otomotif.

Selain itu, PT Adiperkasa juga tidak jelas. Menurut database Sistem Administrasi Badan Hukum (Sisminbakum) Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum Kemenkumham, hanya ada satu perusahaan bernama Adiperkasa Citra Lestari. Perusahaan tersebut terletak di Komplek Rukan Tendean Square 26, Jl. Woltermonginsidi 122 – 124 Jakarta Selatan, tapi sudah berubah menjadi Kantor Notaris Muhammad Hanafi. (sumber)

Ruko di Kompleks Rukan Tendean Square, Jakarta Selatan, yang disebut di data Sisminbakum sebagai kantor PT Adiperkasa Citra Lestari, perusahaan A.M. Hendropriyono. Foto: Frederik Tarigan/Pawa Pos (sumber: jpnn.com)

Aneh kan, perusahaan yang menangani proyek berskala nasional kok tidak jelas begitu. Saya juga sudah berusaha mencari di Google, tapi website resmi perusahaan tersebut tidak saya temukan. Bagaimana mau mencari alamat perusahaan kalau website resminya saja tidak ada.

Walaupun proton di mata saya bukan perusahaan top dalam hal industri otomotif, tapi setidaknya proton sudah mampu memproduksi mobil sendiri dan merupakan perusahaan yang jelas. Tapi kok perusahaan sekelas Proton mau kerjasama dan menandatangani dengan perusahaan tidak jelas seperti PT Adiperkasa?

Bukan Untuk Mobnas (???)

Menurut menteri perindustrian, Pak Saleh Husin, kerja sama dengan Proton bukanlah untuk Mobil Nasional. Katanya, itu hanya sekedar kesepakatan antara private to private (B to B) saja, jadi bukan keputusan pemerintah. Benarkah? Lihat foto di bawah ini:

Terlihat jelas kan tulisan ‘INDONESIA NATIONAL CAR’ ? (Sumber: detik.com)

Ini dari website Proton sendiri: (sumbernya)

PROTON Holdings Berhad (“PROTON”) today announced the signing of a Memorandum of Understanding (MoU) with PT. Adiperkasa Citra Lestari (“PT ACL”) to establish cooperation ties between Malaysia and Indonesia (“Parties”) in relation to the development and manufacturing of Indonesia National Car.

Siapa yang tidak bingung dan curiga mendengar pernyataan pak menteri bertolak belakang dengan foto dan isi website Proton tersebut? Katanya B to B saja, tapi kok sampai dihadiri Presiden dan Perdana Menteri segala? Proton sendiri sudah menyebutkan mau mengembangkan dan memproduksi mobil nasional Indonesia kok.

Sejauh ini, terdapat beberapa poin:

  • Pak Presiden Jokowi
  • Proton (Chairman Proton: Mahathir Mohammad, mantan Perdana Menteri Malaysia)
  • PT Adiperkasa Citra Lestari (Pemilik: A.M. Hendropriyono, mantan kepala BIN)

Dari ketiga poin tersebut, dicari hubungan antara ketiganya, dan hasilnya adalah…

Jokowi, A.M. Hendropriyono dan Mahathir Mohammad

Bagi yang belum tau, A.M. Hendropriyono merupakan tim sukses presiden Jokowi pada pilpres 2014 silam. Pak Hendropriyono juga merupakan Kepala Badan Intelijen Negara semasa pemerintahan presiden Megawati, yang diangkat pada tanggal 9 Agustus 2001. Sebagai mantan Kepala BIN, tentunya pak Hendropriyono sudah paham betul tentang pergerakan di balik layar. (sumber)

Lalu bagaimana dengan Mahathir Mohammad? Mahathir Mohammad adalah seorang mantan Perdana Menteri Malaysia yang katanya merupakan sahabat lama dari Megawati Soekarnoputri. Saya sempat menemukan foto antara Megawati, Mahathir Mohammad dan Jokowi:

Megawati, Mahathir Mohammad, dan Jokowi. Sumber: tempo.co

Megawati, Mahathir Mohammad, dan Jokowi. Sumber: tempo.co

Foto tersebut saya peroleh dari website Tempo (http://pemilu.tempo.co/read/news/2014/04/15/269570748/Mahathir-Mohammad-Doakan-Jokowi-Sukses). Menurut sumber, foto tersebut diambil setelah dilakukan pertemuan tertutup antara dirinya dengan Megawati dan Jokowi pada 14 April 2014 silam. Mahathir juga mendoakan agar Jokowi sukses menjadi presiden Indonesia. Bahkan, menurut jpnn.com (http://www.jpnn.com/read/2014/05/02/232063/Sebut-Warga-Malaysia-Heran-Mahathir-Dukung-Jokowi-), Mahathir mendukung Jokowi. Padahal, menurut tokoh oposisi Malaysia Anwar Ibrahim, Mahathir dikenal sebagai antidemokrasi namun tiba-tiba mendukung Jokowi yang dianggap sebagai simbol demokrasi. Apa yang sebenarnya terjadi pada pertemuan tertutup antara Mahathir dengan Megawati?

Nah…dari beberapa artikel yang saya temukan tersebut, muncul hubungan-hubungan antara Megawati, A.M. Hendropriyono, Jokowi, dan Mahathir Mohammad:

  • A.M. Hendropriyono: Kepala BIN pada zaman pemerintahan Megawati, tim sukses Jokowi
  • Mahathir Mohammad: Sahabat lama Megawati, mendukung Jokowi pada pilpres lalu
  • Jokowi: Presiden Indonesia yang juga merupakan petugas partai PDIP. Berarti Jokowi merupakan petugasnya Megawati yang notabene merupakan Ketua Umum PDIP

Jadi….

Silakan disimpulkan :D

Silakan disimpulkan 😀

…semua mengarah kepada Megawati. Kesimpulannya? Silakan disimpulkan sendiri 😀

Sekian opini dari saya. Mohon maaf apabila ada kata yang tidak berkenan.

Tingkah Laku Pengendara Yang Menyebalkan (dan Membahayakan)

Seiring bertambahnya pengguna kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat, semakin banyak saya temui tingkah laku pengendara yang membuat saya (dan mungkin pengguna jalan yang lain) kesal. Kesal ini bukan tanpa sebab. Masalahnya, perilaku tersebut dapat membahayakan tidak hanya pelakunya itu sendiri namun para pengguna jalan lainnya. Gara-gara itu, saya udah dua kali mencium aspal…untungnya ada helm yang melindungi kepala saya (saya lebih sering pakai motor daripada mobil hehe).

Ketika berkendara, keselamatan adalah nomor satu. Gak apa-apa motor/mobil mogok, rusak, ringsek asal pengemudinya selamat. Saya pernah menjadi korban perilaku-perilaku bodoh yang akan saya sebutkan di bawah ini. Akibatnya, selain motornya rusak, badan saya juga rusak. Lutut kiri luka dalam, sampai kelihatan daging bagian dalamnya, kalau dilihat dari samping, lutut saya ini udah seperti kawah bentuknya, udah seperti mangkok. Sakitnya bukan main, gak diapa-apain juga udah sakit, apalagi kalau digerakin. Ditambah lagi luka-luka lainnya, duh gak enak banget deh pokoknya. Yang paling parah, tulang tangan kiri mengalami dislokasi. Yang ini nih sembuhnya lama banget, bahkan setelah hampir 2 tahun, masih terasa sakitnya. Kalau ke undangan dan makannya terpaksa berdiri, mau gak mau tangan kiri harus nahan piring kan…ya saya paling kuat cuma nahan 2 menitan. Pokoknya, tangan kiri ini jadi lemah, rasanya gak sekuat yang dulu.

Nih contoh beberapa tingkah laku pengendara yang membahayakan: Continue Reading