Day 5: Mengunjungi Wat Pho, Grand Palace, Big C dan Night Market Bangkok! dan Sholat Jumat di Bangkok

Jumat, 25 Januari 2019


Jadwal perjalanan kami hari ini sangat padat. Semua jadwal yang sudah kami rencanakan jauh-jauh hari hancur gara-gara insiden hotel Golden Tulip Mandison Suites. Tapi dengan modal tekad yang kuat, kami tetap berencana untuk mengunjungi tempat-tempat yang sudah kami jadwalkan sebelumnya…semangaat!!

Hari ini kami berencana untuk mengunjungi Wat Pho, kemudian, karena hari ini adalah hari jumat, saya harus mencari masjid dulu untuk menunaikan sholat Jumat. Setelah sholat Jumat lanjut mengunjungi Grand Palace, lalu pergi lagi ke Big C untuk membeli oleh-oleh. Malam harinya dilanjutkan untuk pergi ke Ratchada Rot Fai Night Market, di mana kita bisa membeli berbagai macam barang di sana. Kami sih lebih tertarik untuk mencoba street food di sana, jadi kami sangat excited untuk berkunjung ke night market tersebut!

Setelah bangun pagi, kami langsung mandi dan bersiap-siap. Setelah itu turun ke bawah, sarapan dulu di restoran hotel. Makanan di sini mayoritas adalah makanan dengan bumbu timur tengah, jadi rasanya sangat kuat dengan rempah. Saya sempat kalap melihat menu-menu yang disajikan di sini, jadi hampir semua menu saya santap…hehehe. Saya dan istri merasa sangat bersyukur sekali menginap di hotel Grand 5 ini, karena tempatnya nyaman, harganya reasonable, dan sarapannya halal. Ditambah lagi kami semakin bersyukur karena kondisi sarapan hari ini berbeda 180 derajat dengan kondisi sarapan kemarin…di mana kami harus makan mie instan di lantai, hahaha.

Sarapan nikmat!

Setelah kenyang, kami pun pesan GrabTaxi untuk menuju ke tujuan pertama kami, yaitu Wat Pho. Wat Pho ini letaknya di tengah-tengah kota, dan berdekatan dengan Grand Palace. Biasanya, urutan melancong ke tempat wisata di Bangkok adalah Wat Pho-Grand Palace-Wat Arun. Tapi berhubung ada insiden kemarin, ya sudah Wat Arun terpaksa dipisah, sehingga hari ini kami mengunjung Wat Pho terlebih dahulu.

Wat Pho

Untuk mencapai Wat Pho sebenarnya lumayan sulit. Transportasi umum yang dapat digunakan untuk mencapai ke sini hanyalah bus kota saja, tapi kami sebisa mungkin menghindari bus kota karena bus di sini tidak reliable jadwalnya. Wat Pho juga tidak bisa dijangkau dengan mudah menggunakan BTS Skytrain, jadi kami terpaksa menggunakan taxi.

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya GrabTaxi yang kami pesan datang juga. Kami pun naik taxi dan kami membutuhkan waktu sekitar 40 menit untuk mencapai Wat Pho. Anehnya, kami diturunkan jauh dari pintu masuk Wat Pho…kata drivernya sih “I can’t get you there.” Sayangnya dia tidak menjelaskan kenapa…ya sudahlah.

Kami harus berjalan dulu sekitar 15 menit dari drop-off point untuk mencapai pintu masuk Wat Pho. Di jalan, terlihat banyak bus-bus pariwisata berisikan turis-turis mancanegara. Wat Pho dan Grand Palace memang salah satu tempat wisata yang paling populer di Bangkok, sehingga saya tidak heran melihat banyak turis di sana. Sesampainya di pintu masuk Wat Pho, kami membayar tiket masuk lalu masuk ke dalam. Cuaca pagi itu sangat cerah, kami sampai kepanasan dan bercucuran keringat. Sangat penting untuk memakai topi, sunblock dan lotion sebelum berkeliling Wat Pho-Grand Palace-Wat Arun, karena mataharinya sangat terik.

Di dalam Wat Pho, kami disuguhi bangunan-bangunan unik yang motifnya indah dan berukuran besar. Di sini ada berbagai macam patung Buddha, tapi yang paling menarik di sini adalah Reclining Buddha Statue. Ada patung Buddha yang sedang tiduran di sini. Ukuran patungnya sangat besar dan sangat panjang…bahkan saya tidak mampu memfoto patung ini secara utuh. Unik sekali patung ini. Tidak jauh dari patung Buddha tiduran, kita juga bisa memberikan donasi ke puluhan mangkok yang disimpan berderet sepanjang jalur keluar kuil. Caranya, kita harus menukar dulu uang Baht kita dengan ratusan koin, kemudian koin itu tinggal dimasukkan saja ke mangkok-mangkok tersebut. Menyenangkan, lho!

 

Ini dia patung Buddha tiduran..

Setelah puas berkeliling di Wat Pho, kami akhirnya keluar dari tempat tersebut. Hari sudah siang, sekarang sudah saatnya saya mencari masjid untuk melaksanakan sholat Jumat. Untungnya, istri saya menemukan masjid di dekat Wat Arun menggunakan Google Maps, namanya Ton Son Mosque. Untuk mencapai ke sana, kami harus menuju Wat Arun terlebih dahulu dengan berjalan dari Wat Pho sekitar 10 menit ke pelabuhan, lalu membayar 4 Baht per orang untuk menyeberang sungai. Setelah itu jalan sekitar 20 menit menuju masjid.

Sholat Jumat di Ton Son Mosque

Setelah berjalan kaki 20 menit, akhirnya kami sampai di Ton Son Mosque. Masjid ini terletak di dalam komplek kecil, tempatnya tenang dan tidak ramai. Di sini, orang-orangnya ramah dan murah senyum. Saya pun langsung mengambil air wudhu sebelum sholat. Uniknya, di sini para wanita pun ikut melaksanakan sholat Jumat. Akhirnya istri saya pun ikut juga melaksanakan sholat Jumat, hahaha. Begitu masuk ke dalam Ton Son Mosque, saya langsung takjub.

Masjid ini begitu besar dan mewah. Tempatnya bersih, jamaahnya banyak. Di pinggir tembok, ada sederet AC berukuran sangat besar, sehingga masjid ini terasa dingin. Saya sangat betah mengunjungi masjid tersebut, membuat saya ingin berlama-lama di sana, hehe. Di sini juga disediakan banyak kursi bagi para lansia yang ingin menunaikan sholat.

Saya takjub dengan keseriusan para pengelola masjid di Bangkok. Mereka begitu memperhatikan segalanya, mulai dari kebersihan, kenyamanan, sampai fasilitas pendukung. Suatu hal yang jarang saya temukan di Indonesia…padahal, mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. Semoga ke depannya masjid-masjid di Indonesia lebih memerhatikan ini ya.

 

Bagian dalam Ton Son Mosque. Bersih, nyaman dan adem…

Sambil menunggu adzan Dzuhur di masjid, saya disapa oleh seorang Angkatan Laut Thailand. Betapa kagetnya saya, dia bisa berbahasa Melayu dengan fasih. Dia mengira saya berasal dari Malaysia, padahal saya berasal dari Indonesia. Keliatan dari mukanya mungkin ya, hehehe. Ternyata dia sering bertugas di daerah selatan, di sana banyak rekan-rekannya yang merupakan orang Malaysia. Tidak heran dia bisa berbahasa Melayu dengan baik. Saya sangat senang mengobrol dengan dia.

Adzan Dzuhur pun berkumandang. Khotib pun mulai naik mimbar sambil membawa tongkat. Hal seperti ini jarang saya temukan di Bandung, namun pernah saya lihat di Yogyakarta dan Sidoarjo. Khatib pun berceramah menggunakan bahasa Thailand. Saya berusaha memahami isi ceramah, tapi kan saya nggak bisa bahasa Thailand sama sekali ya…hahaha. Karena capek habis jalan-jalan di tengah hari, kemudian duduk di masjid yang udaranya sangat adem, tanpa terasa saya terlelap…untungnya saya terbangun pada saat khatib mulai membacakan doa. Setelah itu sholat Jumat pun dimulai.

Selesai sholat Jumat, saya bergegas keluar masjid, memakai sepatu kemudian menunggu istri saya. Di luar, saya ketemu lagi dengan bapak tentara laut Thailand tadi, sekalian saja saya tanyakan apakah ada warung makan di dekat sini. Ternyata ada di dekat pintu masuk. Saya dan istri pun sepakat untuk melihat makanan-makanan di sana terlebih dahulu.

Makanan di sana ada beberapa macam, tapi saya pesan nasi tumis ayam, sedangkan istri saya pesan bakso bakar ditambah perkedel kentang. Untuk minumnya, kami pesan es thai tea. Semua makanannya enak sekali! Es thai teanya pun rasanya sudah selevel dumdu*, hahaha. Yang menarik, semua makanan dan minuman yang kami pesan harganya tidak lebih dari 40 ribu rupiah! Udah murah, enak, kenyang pula…Alhamdulillah.

Enak banget semuanya! Murah dan halal.

Setelah kenyang santap siang, kami lanjut perjalanan lagi. Kali ini kami akan mengunjungi Grand Palace.

Grand Palace

Dari Ton Son Mosque kami berjalan kembali ke Wat Arun, kemudian menyeberangi sungai menggunakan perahu. Setelah itu kami jalan sekitar 15 menit dari pier menuju Grand Palace. Sesampainya di pintu masuk, kami langsung membeli tiket. Setelah itu kami pun masuk ke dalam Grand Palace.

Grand Palace berisi bangunan-bangunan indah berukuran besar. Tempatnya bagus, tapi sayangnya Grand Palace menurut saya over crowded. Grand Palace saat itu sudah dipadati wisatawan, padahal kami mengunjunginya pada saat weekdays. Saking penuhnya, saya bahkan tidak dapat memfoto sebuah objek tanpa ada orangnya. Setiap foto yang saya ambil pasti ada orangnya. Untuk memfoto sebuah objek pun saya harus menunggu bergiliran karena hampir setiap orang ingin berofoto di sana. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya kondisi Grand Palace pada saat weekend…hiiiy. Saya pribadi jauh lebih senang mengunjungi Golden Mount Temple ketimbang Grand Palace.

 

Grand Palace. Overcrowded!

Saya kecewa dengan kunjungan ke Grand Palace. Daripada tidak bisa menikmati trip, saya dan istri sepakat untuk pulang saja dan bergerak menuju tempat tujuan berikutnya, yaitu Big C yang terletak di Ratchadamri.

Big C: Pusat Oleh-oleh Thailand!

Cara termudah untuk mencapai Big C adalah dengan menggunakan BTS Skytrain, turun di stasiun Siam. Dari situ kita tinggal jalan saja di Skywalk, melewati berbagai macam mall, ikuti petunjuk untuk mencapai Big C. Kalau dari Grand Palace, kita tinggal naik taxi ke stasiun BTS National Stadium, kemudian turun di stasiun Siam.

Okay, kami pun langsung keluar dari Grand Palace dan pesan GrabTaxi. Setelah 20 menit menunggu, akhirnya GrabTaxi datang…tapi GrabTaxinya tidak bisa mendekat ke pintu keluar Grand Palace, sehingga kami harus berjalan dulu sedikit sekitar 3 menit ke tempat GrabTaxi itu datang. Memang di tempat wisata seperti ini, GrabTaxi agak susah untuk berhenti di pintu masuk atau keluar…atau memang dilarang ya? Saya juga nggak tau, hehehe.

Setelah 20 menit perjalanan, kami sampai juga di stasiun National Stadium. Kami naik BTS lalu turun di Chit Lom. Menurut Google Maps sih stasiun BTS terdekat dengan Big C adalah Chit Lom, jadi kami turun di sana kemudian jalan kaki ke Big C sekitar 10 menit. Anehnya, rute jalan kaki menuju Big C jalannya seperti jalan tikus…serasa di Jakarta nih, hahaha. Tapi belakangan kami baru tahu kalau ternyata dari Big C ada skywalk yang menghubungkan stasiun BTS Siam…andai saja tahu dari awal, kami pasti lebih memilih jalan di SkyWalk, hahaha.

Sesampainya di Big C, kami langsung ambil trolley besar untuk belanja oleh-oleh. Big C memang dikenal sebagai pusatnya oleh-oleh Bangkok, dan ternyata memang benar. Banyak sekali jajanan-jajanan khas Thailand di sini. Di Big C juga terdapat produk-produk impor dari Korea dan Jepang, jadi kita bisa membeli macam-macam oleh-oleh untuk kerabat dan keluarga.

Setelah puas berbelanja di Big C, kami pulang ke hotel. Kami jalan lewat Skywalk menuju stasiun Siam, kemudian naik BTS dan turun di stasiun Nana. Setelah itu kami jalan kaki ke hotel, simpan barang belanjaan, kemudian istirahat sebentar.

Sebenarnya kami sudah lelah untuk jalan-jalan lagi, tapi kami masih penasaran dengan night market di Bangkok. Kami juga berpikir, kapan lagi kami jalan-jalan ke Bangkok. Ya sudah deh, kami memutuskan untuk pergi ke Ratchada Rot Fai Night Market.

Ratchada Rot Fai Train Night Market: Beli apa saja dengan harga murah di sini!

Untuk mencapai ke Ratchada Rot Fai Train Night Market, cara termudah adalah dengan jalan dari stasiun MRT Thailand Cultural Centre. Kalau dari hotel Grand 5, kita tinggal jalan ke BTS Nana, kemudian naik BTS, turun di BTS Asoke lalu turun ke stasiun MRT kemudian naik MRT ke stasiun Thailand Cultural centre. Perjalanan tersebut membutuhkan waktu 40 menit. Dari stasiun MRT Thailand Cultural Centre, kita tinggal berjalan 10 menit ke night market.

Dengan kaki lelah tapi semangat yang tinggi, kami pergi dari hotel menuju night market. Alangkah kagetnya kami, ternyata pengunjung night market sangat banyak! Ada banyak toko dan warung jualan di night market, mulai dari cafe, restoran, bar, toko pernak-pernik, toko kaos, dan lain-lain. Makanannya pun beragam, ada seafood, western food, kue-kue tradisional dan makanan lainnya. Lelah di kaki saya seketika hilang ketika melihat banyak food stall berjejeran, hahaha. Saya pun dengan semangat menyisir tiap aisle food stall, melihat-lihat menu makanan apa saja yang menarik. Ada beberapa makanan yang kami cicipi, dan semuanya enak!

Chicken katsu. Enaakk

Makanan pertama yang kami cicipi adalah chicken katsu. Memang terkesan standar saja, tapi katsunya ini enak sekali. Harganya pun murah.

Khanom Buang. THE BEST!!

Nah, makanan ini namanya Khanom Buang. Ini merupakan jajanan tradisional Thailand, semacam crepes-nya Thailand gitu deh. Kalau di Indonesia sih ini seperti kue lekker tapi ukurannya kecil. Isinya terdiri dari krim manis dan egg yolk…egg yolk nya ini ada yang warnanya kuning, ada yang warnanya merah. Warna kuning itu rasanya manis, sedangkan warna merah itu rasanya asin. Kita tinggal pilih saja sesuai selera. Waktu itu karena saya pengen yang manis, jadinya beli egg yolk warna kuning yang rasanya manis. Begitu digigit…rasanya ENAK BANGET!! Sebenernya kami juga pengen nyobain sih yang rasanya asin, tapi sayangnya kami nggak sempat beli…hiks.

Khanom Tuay

Kalau makanan yang satu ini sebenarnya adalah puding khas thailand yang terbuat dari kelapa dan susu. Teksturnya lembut dan sedikit kenyal. Rasanya juga nggak kalah enak!

Nasi Goreng Nanas. Gokil!

Ini menu makanan yang sudah saya incar dari beberapa hari yang lalu, yaitu nasi goreng nanas! Saya pikir nasi goreng ini hanya piringnya saja yang menggunakan buah nanas, ternyata isi nasi gorengnya juga ada nanasnya! Dicampur dengan udang, ternyata rasanya unik, asin dan manis. Enak deh!

Mango Sticky Rice. Rice nya warna warni lhoo.

Kalau ini sudah pasti tidak asing lagi di mata kita. Ya, ini adalah mango sticky rice. Yang membuat saya tertarik adalah sticky ricenya warna-warni, ada warna ungu, merah, putih dan hijau. Ternyata warna-warni itu rasanya sama saja, tapi overall mango sticky rice ini rasanya enak!

Gac. Alias baby jackfruit.

Minuman yang satu ini sukses membuat saya penasaran. Nama minuman ini adalah gac. Rasanya asam manis gitu, seger deh. Belakangan saya baru tahu kalau gac itu adalah baby jackfruit alias nangka kecil. Ternyata rasanya begitu ya, hahaha.

Setelah puas keliling menyantap kuliner, kami akhirnya kembali lagi ke hotel. Rutenya tinggal mengikuti jalur sebelumnya yaitu jalan ke stasiun MRT Thailand Cultural Centre, kemudian naik MRT ke stasiun Asok, lalu jalan keluar stasiun MRT dan naik stasiun BTS Asok, naik BTS turun di stasiun Nana. Setelah itu tinggal jalan kaki ke hotel. Sesampainya di hotel, waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 waktu setempat. Kami langsung mandi dan berbaring sebentar di tempat tidur. Tanpa terasa kami terlelap begitu saja. Capek sekali rasanya, tapi hari ini sangat menyenangkan!


Kelanjutan ceritanya:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s