Day 4: Mengunjungi Golden Mount dan Wat Arun

Kamis, 24 Januari 2019


Bangun pagi kami merasa masih lelah, sehubungan dengan insiden hotel yang kami pesan sebelumnya. Kami pun menyantap sarapan yang telah kami beli tadi malam, berhubung hotel tempat kami menginap sekarang (Thee hotel) tidak menyediakan sarapan. Rasanya kami seperti sedang menginap di kosan teman deh…sarapan mie instan, duduk di lantai, hahaha. What a great start!

Rasanya seperti diingatkan kembali jaman dulu ngekos deh…

Setelah puas sarapan, kami mulai mencari hotel yang lebih layak daripada ini. Tak lama kemudian istri menemukan info hotel yang menarik. Hotelnya bagus dan tempatnya strategis, dekat dengan BTS. Namanya Grand 5 Hotel. Setelah melihat fotonya di Google, kami pun setuju untuk melihat hotelnya terlebih dahulu. Kalau cocok, ya kami pesan saja, hahaha. Kami pun mandi kemudian packing dan checkout dari hotel Thee lalu pesan Grab untuk menuju Grand 5.

Sesampainya di Grand 5, kami langsung pesan kamar. Kamar yang kami pesan penampilan dan fasilitasnya bagus, namun sayang pemandangannya menghadap bangunan lain…jadi cuma melihat tembok putih, walau sebenarnya bisa sih liat jalan raya. Setelah itu kami minta ke resepsionis untuk dipindahkan ke kamar lain yang pemandangannya lebih oke, dan resepsionis pun mengiyakan. Kami pun membayar biaya hotel, namun baru bisa menyimpan koper di kamar siang hari, berhubung kamar yang kami pesan masih ditempati oleh tamu lain. Ya sudah apa boleh buat, kami menitip koper di resepsionis saja.

Setelah itu kami berencana untuk pergi mengunjungi Golden Mount Temple. Golden Mount Temple adalah sebuah kuil besar dengan kubah emas di puncaknya yang terletak di tengah kota, namun untuk mencapainya kita harus menapaki ratusan step anak tangga terlebih dahulu. Hari sudah siang, tapi kami tetap bersemangat untuk mendaki Golden Mount Temple. Semangaaaat!! Kapan lagi bisa jalan-jalan ke sini, hehehe. Sayangnya, tempat ini tidak dilewati oleh BTS, sehingga kami harus naik taxi ke sana. Seperti biasa, menggunakan Grab menjadi andalan kami ketika kami tidak bisa menggunakan transportasi umum, karena harganya fixed dan tidak ada tipu-tipu, hahaha. Sayangnya, seperti yang telah saya bahas di sini, pemesanan Grab di sini waktunya lamaaaa sekali. Umumnya mencapai 20-30 menit dari waktu pemesanan sampai kita bisa naik mobil. Tapi tak apalah, daripada kena tipu taksi konvensional, hehe. Untuk menyiasati waktu tunggu yang lama, kami pesan dulu burger di McDonald’s terdekat. Lumayan untuk ganjal perut, hehehe. Setelah menyantap burger, akhirnya Grab yang kami pesan datang juga. Kami pun naik mobil dan meluncur ke Golden Mount Temple.

Golden Mount Temple

Golden Mount Temple.

Lihat, pemandangannya bagus kan? Bangunan di atas itulah kuilnya, jadi kita harus mendaki setinggi itu. Kami pun langsung bergegas membeli tiket, kemudian mulai mendaki. Baru mulai mendaki saja sudah banyak turis yang foto-foto dan ber-selfie ria. Harus saya akui tempat ini memang bagus sekali dan turis yang berkunjung hanya sedikit. Ditambah lagi tangga yang kita lalui tidaklah terlalu curam, sehingga tidak terlalu capek. Selain itu, walau kami berkunjung di tengah hari tapi kami tidak merasakan kepanasan, karena banyak pohon dan banyak angin seliweran di Golden Mount Temple ini. Dari semua tempat yang kami kunjungi ke Bangkok, Golden Mount Temple merupakan tempat paling favorit buat saya. Ini tempat yang wajib dikunjungi bagi Anda sekalian ketika berkunjung ke Bangkok. Highly recommended!

Gerbang masuk Golden Mount.

Deretan lonceng.

Kami mulai mendaki, kemudian di tengah jalan kami menemukan banyak lonceng. Oh iya, pada saat mendaki juga kami mendengar ada semacam ceramah oleh biksu di kuil ini, dan ceramahnya disebarkan menggunakan speaker. Saya jadi merasa mendengar khutbah Jumat, hahaha. Selain itu di dekat pintu masuk ada gong berukuran besar dan pengunjung diperbolehkan untuk memukul gong tersebut. Saya mencobanya dan suaranya menggelegar…turis lain jadinya pada ngeliatin saya, hehe. Kami terus mendaki sampai akhirnya kami tiba di puncak. Anehnya, walau di sini ada tulisan jangan lepas sepatu, ada saja pengunjung yang melepas sepatunya. Kami jadi bingung…tapi kami jadinya pakai sepatu saja deh.

Bagian dalam Golden Mount Temple.

Di bagian dalam kuil Golden Mount, terdapat beberapa patung Buddha. Di sini juga ada layanan fortune telling, kita tinggal memilih fortune telling-nya secara acak di kotak-kotak yang sudah diberi nomor. Karena bingung, kami ambil saja nomor kotak yang sesuai dengan tanggal lahir kami masing-masing, hehe. Setelah saya baca fortune telling-nya, kok rasanya seperti unfortunate ya…katanya fortune telling, tapi kok unfortunate? Bingung. Hahaha

Fortune telling. Mana coba yang punya saya?

Oh iya, di sini juga kita bisa lihat pemandangan kota Bangkok di siang hari lewat jendela. Bagus deh pemandangannya!

Pemandangan kota Bangkok di siang hari. Indah ya?

Di sini juga ada patung Buddha yang terletak di tengah, namun hanya bisa diakses dengan melewati lorong kecil dari 4 sisi. Saya tidak paham ini patung melambangkan apa, tapi sepertinya diistimewakan.

Untuk melihatnya harus lewat jalan kecil dulu nih..

Ini detailnya, terlihat ada kotak sumbangan di sini.

Setelah puas melihat dan berkeliling, tinggal bagian puncak nih yang belum dikunjungi. Kami pun naik melewati lorong yang sangat sempit, akhirnya sampai juga di atap. Tempatnya ternyata luas juga, dan ada kubah emas di sini.

Kubah Golden Mount Temple.

Kami beristirahat sejenak di sini sambil foto-foto, hehe. Setelah itu kami pun turun ke bawah, tapi ternyata rutenya berbeda dengan rute pendakian. Setelah melewati beberapa anak tangga, ternyata ada persimpangan, mau lurus atau mau belok ke kanan. Kami pilih untuk belok ke kanan. Di sana ada sebuah cerita jaman dulu mengenai kuil ini. Untuk lengkapnya, silakan baca cerita di foto ini saja ya.

Kami pun sampai di bawah. Tujuan berikutnya adalah Wat Arun. Untuk mencapai ke sana kami harus menggunakan BTS ke stasiun Saphan Takshin, kemudian jalan ke Sathorn Pier lalu naik Chao Phraya Express tujuan Wat Arun. Sebenarnya bisa saja sih menggunakan taksi ke sana langsung, tapi kami ingin menggunakan transportasi umum saja, lebih seru, murah dan bebas macet. Hehehe. Okay, kami pun pesan Grab dan beruntungnya, kami tidak perlu menunggu lama untuk pesanan ini. Langsung meluncur deh ke BTS terdekat. Naik BTS, turun di Saphan Taksin…tak terasa, perut sudah mulai protes. Ehh lupa, belum makan siang..hahaha. Kami juga belum melaksanakan sholat Dzuhur, untungnya dekat stasiun BTS Saphan Takshin ada masjid. Ya sudah kami ke sana saja dulu.

Tukang kelapa muda di pinggir trotoar, Masjid Ban-Oou dan food court di sebelahnya

Jalan ke masjid tidaklah jauh dari BTS Saphan Takshin. Di pinggir jalan, kami tergoda oleh segarnya kelapa muda dan jus mangga. Walau sebenarnya dagangnya di pinggir trotoar dan menggunakan gerobak seadanya, tak disangka minuman yang mereka jual sangatlah enak dan segar! Jus mangganya kental dan manis, dan yang paling mantap adalah kelapa mudanya. Rasanya manis dan segar. Yang membuat kami heran, orang sini kalau beli kelapa muda, yang dikonsumsi hanya airnya saja. Padahal kan kelapanya juga enak. Saya minta tolong ke penjual untuk mengeruk kelapanya, ternyata kelapanya juga enak. Lembut dan kenyal, enak banget. Pokoknya kelapanya beda banget sama kelapa yang sering kami beli di Bandung. Hehehe.

Kami pun lanjut berjalan menuju masjid. Beberapa meter dari tukang kelapa, ada semacam food court kaki lima. Sepertinya kami akan makan di situ deh. Untungnya letaknya tidak jauh dari masjid. Baru berjalan beberapa langkah, kami sudah sampai di masjid. Nama masjinya Ban-Oou Mosque. Tempatnya bagus, walaupun tidak besar tapi bersih dan terawat. Saya sempat bingung, di mana sih tempat wudhunya. Ehh tiba-tiba ada ibu-ibu memberi tahu saya di mana tempat wudhunya. Ternyata tempat wudhunya terpisah dengan masjid, harus menyeberang jalan dulu. Uniknya, tempat wudhu di sini menggunakan kursi plastik, hahaha. Setelah itu kami masuk ke masjid dan melaksanakan sholat Dzuhur.

Ban-Oou Mosque. Bersih dan terawat.

Setelah melaksanakan sholat Dzuhur, kami bergegas ke food court. Di sini terdapat beberapa menu makanan, dan tidak perlu khawatir, di sini juga ada menu halalnya juga lhoo. Saya pesan thai chicken curry rice, sedangkan istri saya pesan chicken katsu donburi. Ketika saya mau duduk, kok saya tergoda sama mango sticky rice juga ya…ya sudah saya pesan deh, dimakan berdua sama istri hehe. Chicken curry ricenya enak, bumbunya terasa dan daging ayamnya banyak. Sambalnya juga unik rasanya, enak deh. Chicken katsu donburinya lumayan enak lah untuk harga segitu. Sedangkan mango sticky ricenya enak banget. Mangganya manis dan lembut, kemudian krim dan ketannya juga manis. Semua makanan ini tidak lebih dari 100 ribu kok, murah. Hehe.

Makan siang!

Wat Arun

Selesai makan dan memulihkan tenaga, kami lanjut perjalanan dengan kembali mengunjungi Sathorn Pier, naik Chao Phraya Express menuju Wat Arun. 20 menit berlalu, kami pun sampai di Wat Arun. Saya pun terpana dengan konstruksi bangunan di sini, semuanya begitu indah dan tinggi. Wat Arun pada dasarnya adalah kuil, namun bangunan-bangunan di sini begitu indah.

Pintu masuk Wat Arun.

Tampak kuil dari luar.

Patung seseorang di area luar Wat Arun. Sepertinya ini Raja Thailand terdahulu.

Kuil utama di dalam Wat Arun.

Bagian dalam kuil Wat Arun. Di sini juga ada pemberkatan oleh biksu Buddha, kalau mau minta diberkati boleh kok. Gratis.

Bangunan tinggi yang terlihat dari gerbang. My favorite spot here!

Setelah puas bekeliling, kami ingin ngadem dulu sambil minum. Di bagian pinggir Wat Arun ternyata banyak yang menjual minuman, es krim, kaos dan pernak-pernik khas Thailand. Yang membuat saya terkejut, ternyata penjualnya fasih berbahasa Indonesia! Walau begitu, rayuan pedagang tidak mempan terhadap saya, saya tidak membeli apa-apa di sini hahahaha. Kecuali beli minum..haus banget abis keliling, haha.

Tidak terasa hari sudah sore, kami juga merasa capek karena kemarin jalan-jalan sampai larut malam. Ya sudah deh lebih baik istirahat saja, supaya masih punya energi untuk keliling besok harinya. Kami kembali menggunakan Chao Phraya Express, kemudian turun di Sathorn Pier, lalu naik BTS dari Saphan Takshin menuju BTS Nana, kemudian jalan ke Grand 5 hotel.

Grand 5 Hotel: Hotel dengan lingkungan timur tengah

Sepanjang jalan menuju Grand 5 Hotel, kami tersadar kalau sebenarnya di lingkungan dekat hotel Grand 5 itu bernuansa timur tengah. Banyak orang timur tengah di sini, sehingga dagangannya pun tidak jauh dari makanan timur tengah. Kami pun penasaran untuk mencoba makanan timur tengah, tapi setelah melihat menunya…mahal juga ya. Hahaha. Untungnya ada SubWay dan Sunrise Tacos di sini. Tapi kali ini kami pesan SubWay saja deh, kalau pesan Sunrise Tacos takutnya kekenyangan seperti di Terminal 21 hehehe. Kemudian yang membuat bahagia adalah di sini terdapat Seven Eleven! Kami senang berbelanja di convenience store, karena terdapat banyak jajanan yang bisa kami beli. Pokoknya kalau belanja di situ suka kalap melihat ragam jajanan yang ditawarkan, hahaha.

Sampai di Grand 5, kami check-in. Beruntungnya kami, sehubungan dengan penuhnya kamr yang kami pesan, kami dipindahkan ke hotel yang kelasnya lebih tinggi secara gratis!! Ditambah lagi menu sarapan di hotel ini bernuansa timur tengah, wah saya rasanya senang sekali dan tidak sabar untuk segera sarapan..hahahaha. Kami dapat kamar di lantai 3, setelah masuk kamar, kami rasanya gembira sekali. Kamarnya bagus, bersih, pemandangannya indah dan luas.

Pemandangan kamar langsung menuju jalan raya.

Kami langsung menyimpan barang, duduk-duduk sebentar lalu pergi lagi ke luar untuk makan malam di SubWay. Setelah makan malam, kami melihat banyak pedagang kaki lima yang menjual berbagai macam produk, seperti kaos dan celana. Yang uniknya, di sini banyak yang menjual obat kuat, dildo, dan sex toys. Selain itu di sini juga ada ladyboy yang menjajakan diri untuk jasa pijat. Ada juga supir tuktuk yang menyajikan brosur untuk menyewa ladyboy…padahal nuansanya timur tengah, tapi ya ada aja sih yang pesan jasa tersebut, ada juga yang beli sex toys dan obat kuat, hahaha. Tapi tenang saja, cara menjual mereka tidak agresif kok. Kalau kita memang tidak tertarik, mereka juga tidak akan memaksa, jadi jalan di sana pun tenang dan nyaman saja.

Kami pun menyempatkan diri untuk mengunjungi Seven Eleven untuk membeli berbagai macam jajanan. Wah ternyata di sini banyak sekali makanan-makanan ringan yang dijual, saya kalap mata di sini hahaha. Saya membeli berbagai macam makanan ringan, mulai dari snack, pudding, kue, dan minuman ringan. Minuman yang saya beli adalah minuman Thai Tea dalam kemasan botol, dan minuman strawberry susu dari dispenser. Minuman strawberry susu ini rasanya SANGAT ENAK, BENERAN DEH! Sayangnya saya tidak mengisi gelasnya sampai penuh, karena memang sudah kenyang juga. Kalau tahu rasanya enak begini sih saya pasti isi penuh gelas saya, hahaha.

Puas berbelanja di Seven Eleven, kami kembali ke hotel untuk beristirahat. Setelah mandi dan sholat, kami berbaring di kasur yang empuk dan tanpa terasa mata kami sudah berat sekali. Kami pun tidur dengan lelap malam itu.


Kelanjutan ceritanya:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s