Review: Kawasaki W175

Sabtu, 20 Januari 2018


Hari ini saya berkunjung ke dealer Kawasaki (PT Citrakarya Pranata) di Jl. Soekarno Hatta, Bandung untuk test ride satu unit motor Kawasaki W175. Sebenarnya untuk test ride motor ini bisa datang kapan saja selama dealer ini buka, namun untuk weekend harus janjian terlebih dahulu dengan sales-nya. Langsung saja saya coba motor Kawasaki W175.

Unit Test Ride Kawasaki W175.

Build Quality: Mantap!

Unit test ride yang diberikan oleh sales adalah Kawasaki W175 SE berwarna hitam. Unit SE ini tidak berbeda jauh dengan unit yang biasa. Perbedaannya hanya ada pada aksen jok, pelindung karet di tangki dan pemberian finishing krom di engine.

Saya lihat build quality W175 ini sangat baik. Cat dan lasannya rapi. Mata jadi enak dan betah untuk berlama-lama melihat W175 ini. Apalagi W175 yang berwarna hijau…aduhai, bagus sekali! Bikin ngiler jadinya. Bentuk knalpot unik dan finishingnya rapi. Bagus deh. Spatbor depan berbahan logam, sedangkan spatbor belakang berbahan plastik. Sayang sekali, kenapa spatbor belakang tidak berbahan logam juga ya?

Tangki berbentuk lonjong dan membulat, nyaman sekali untuk dijepit kaki, hehe. Lampu depan berbentuk bulat. Shock depan diberi pelindung karet untuk mempertegas kesan klasik. Suspensi belakang konvensional. Kawasaki sukses memberikan kesan klasik pada W175 ini.

Nih unit SE yang berwarna hijau..duh, bagus ya?

Minim fitur…

Speedometer terlihat sederhana. Tidak ada indikator bensin. Saya pikir ini merupakan suatu kekurangan. Akan sulit untuk mengecek jumlah bahan bakar di tangki, harus digoyang-goyang dulu motornya, hahaha. Kendati demikian, ada bahan bakar cadangan sebanyak 1 Liter dan dapat diaktifkan dengan memutar kran bensin ke arah reserve di bawah tangki.

Speedometer. Sangat sederhana.

Tampak depan. Klasik! (awas salah fokus sama yang warna hijau 😀 )

Sistem pengabutan bahan bakar masih menggunakan karburator. Jadul banget kan? Sayangnya fitur yang diberikan tampaknya terlampau minim, sampai-sampai Kawasaki memangkas fitur kick starter dan standar tengah. Padahal kick starter memberi kesan jadul menurut saya. Fitur standar tengah juga tak kalah pentingnya. Tak jarang saya harus parkir di tempat yang miring dan di situasi seperti ini, standar tengah sangat membantu. Sangat disayangkan.

Di bawah tangki, terdapat kotak yang berisi baterai dan toolkit kecil. Untuk membukanya, cukup putar menggunakan kunci kontak. Ringkas dan praktis!

Engine start!

Setelah puas lihat fisik motor, saya naiki W175 hitam ini. Posisi duduk nyaman..tapi untuk saya yang tinggi badannya 178 cm, agak menunduk. Sepertinya akan pegal bila dipakai untuk jalan jauh. Saya putar kunci kontak ke posisi on. Lampu netral langsung menyala, dan saya tekan starter-nya. Motor sulit hidup. Saya lupa, ini motor masih pakai karburator, haha. Langsung saja saya aktifkan tuas choke. Tuas choke ditarik tepat di karburator, sepert RX-King. Saya tekan lagi tombol starter-nya dan motor pun hidup. Motor meraung..getarannya lumayan. Saya pun menunggu sekitar 10 detik, lalu saya matikan tuas choke-nya. Motor langsung idle.

Pada saat idle, getarannya rendah. Halus. Suara knalpotnya pun tidak berisik. Saya tekan kopling lalu pindahkan gigi. Putar gas, lalu motor pun melaju. Kopling dan tuas gasnya ringan. Track yang tersedia sangatlah pendek. Saya hanya bisa memacu motor sampai kecepatan 40 km/jam. Saya coba pindah gigi. Perpindahan giginya halus. Jok tebalnya sukses memanjakan saya. Empuk! Suspensi juga mampu meredam kontur tidak rata dengan baik.

Sayang, joknya pendek. Ketika saya coba membonceng teman saya, hanya tersisa sedikit saja jok untuk boncengan. Ngepas banget. Joknya juga tidak lebar, kasihan boncengannya kalau jalan jauh, pasti pegal.

Joknya ramping…

Setelah itu saya coba akselerasi maksimum. Putar tuas gas semaksimal mungkin. Ternyata motor menyentak. Lumayan juga tenaga di putaran bawah. Cocok untuk menebas segala medan. Saya coba gas terus di gigi 1 sampai mendekati 40 km/jam…getarannya besar. Saya pikir W175 ini akan sangat bergetar bila mencapai 80 km/jam. Pengereman pun berfungsi dengan baik, walaupun rem belakang masih berbentuk tromol. Cukup lah untuk memperlambat laju motor.

Setelah puas mencoba W175, saya kembalikan motor tersebut ke sales Kawasaki.

Kesimpulan

Bila saya punya uang 30 juta rupiah dan ingin membeli motor batangan, saya akan ragu untuk memilih W175 ini…karena saya orang yang lebih memilih value for money. Saya tidak yakin akan rela membuang 30 juta rupiah untuk sebuah motor berfitur minim dan jadul. Mungkin saya lebih baik nabung 5 juta rupiah lagi untuk membeli KTM Duke 200 yang menurut saya memiliki value for money yang sangat tinggi.

Tapi jika saya mementingkan lifestyle dan gaya, saya tidak akan ragu untuk meminang W175 ini, karena W175 ini sangat kharismatik. Enak dipandang, desainnya timeless dan nyaman digunakan.

Kelebihan:

  • Desain timeless
  • Jok empuk
  • Tarikan enteng, tenaga putaran bawah mantap
  • Posisi duduk santai
  • Excellent build quality

Kekurangan:

  • Masih karburator
  • Posisi duduk agak menunduk untuk yang berpostur tinggi
  • Tidak ada indikator bensin
  • Tidak ada standar tengah
  • Tidak ada kick starter
  • Getaran tinggi di RPM menengah ke atas
  • Jok pendek dan ramping

Rating: 2.5/5


Baca juga:

Super short review: 2016 KTM Duke 250

Review: 2016 Yamaha X-Ride

Review: Touring menggunakan Yamaha X-Ride 2016

Review 10.000 km Yamaha X-Ride 2016

Advertisements

4 thoughts on “Review: Kawasaki W175

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s