Menjadi Imam

Sumber: haznevi.net

Biasanya, imam shalat berjamaah di masjid dekat tempat saya tinggal adalah bapak saya. Kalau bapak saya berhalangan hadir, biasanya yang menggantikan adalah bapak-bapak lain, siapa saja, yang tingkat pengetahuan agamanya setingkat dengan bapak saya.

Namun, akhir-akhir ini, jika bapak saya berhalangan hadir ke masjid, justru sayalah yang ditunjuk menjadi imam shalat berjamaah.

Saya tau diri, saya ini bukan siapa-siapa dibanding bapak-bapak yang lain. Ilmu agama saya masih payah. Hafalan juga cuma tau beberapa surat saja, itupun hanya Juz Amma dan surat-surat yang pendek saja. Soal usia dan pengalaman dibandingkan dengan bapak-bapak yang lain, tentu mereka jauh lebih baik daripada saya. Oleh karena itulah, saya menolak secara halus ketika saya disuruh menjadi imam shalat berjamaah. Tapi bapak-bapak yang lain tetap saja menunjuk saya menjadi imam. Apa boleh buat, shalat harus dilaksanakan. Dengan berat hati saya menjadi imam.

Ketika saya berdiri sendiri di depan, di dekat mimbar, tiba-tiba saya merasakan beban yang sangat berat di pundak saya. Saya tau betul bagaimana beratnya menjadi imam. Semua gerakan shalat, semua bacaan surat baik dari makhraj-nya, tajwid-nya, haruslah sempurna. Pikiran saya harus fokus, tidak boleh berpikiran apa-apa selain mengingat Allah SWT. Lengah sedikit saja, saya bisa lupa rakaat ke-berapa yang sedang kami jalankan.

Jika saya melakukan kesalahan sedikit saja, maka tercorenglah kualitas shalat saya DAN jamaah di belakang saya. Itulah yang sangat berat. Seorang imam memikul beban tanggung jawab terhadap jamaahnya.

Orang yang lebih berhak menjadi imam

Menurut Hadist Shahih Sunan An-Nasa’i, orang yang diprioritaskan menjadi imam adalah:

  1. Orang yang paling pandai dan hafal membaca Al-Qur’an.
  2. Jika bacaan mereka sama, maka yang jadi imam adalah orang yang lebih dulu hijrah.
  3. Jika dalam hijrah mereka sama, maka yang jadi imam adalah orang yang paling mengetahui tentang Sunnah.
  4. Jika pengetahuan mereka tentang Sunnah sama, maka yang jadi imam adalah orang yang paling tua diantara mereka.
  5. Janganlah seseorang menjadi imam pada kekuasaan (orang lain) dan janganlah duduk di atas tempat kemuliaannya kecuali diizinkan.

Kembalikan ke kasus yang saya alami, dan posisi saya tidaklah berada di kelima poin di atas. Ada orang lain yang lebih berhak menjadi imam shalat. Mengimami 7 orang saja saya sudah merasa berat, apalagi 100 orang. Ya, saya ditunjuk menjadi imam shalat dzuhur sekaligus memberikan kultum di bulan ramadhan nanti di kantor tempat saya bekerja.

Saya tidak mengerti kenapa orang-orang memilih saya untuk menjadi imam. Padahal saya tidak mau, karena saya tau ada banyak orang yang lebih berhak daripada saya untuk menjadi imam.

Sungguh saya merasa berat dan takut untuk menjadi imam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s