Saya tidak mau mengambil beasiswa LPDP, karena…

Saya mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) di Vehicle Engineering Master Programme KTH Royal Institute of Technology melalui sebuah lomba/kompetisi dari Sqore.com. Tapi saya tidak lanjutkan kesempatan itu karena masalah biaya. Teman-teman menyarankan untuk mengambil beasiswa LPDP saja. Teman-teman saya juga banyak yang mengambil beasiswa LPDP, kuliah S2 di luar negeri. Semua biaya kuliah dan akomodasi dibiayai oleh LPDP, tinggal kuliah aja yang bener. Terlihat menyenangkan, seru dan menantang…tapi saya tidak mau. Ada beberapa alasan yang membuat saya tidak mau mengambil beasiswa LPDP.

S2 dan hasilnya

Bagi saya, hasil kuliah S2 haruslah benar-benar worth it, terutama dari sisi pasca kuliah yaitu karir. Apalagi kalau kuliah S2 di luar negeri…I expect a significant career difference bila dibandingkan dengan tanpa kuliah S2 atau S2 di dalam negeri.

Bagi saya, lulusan kuliah S2 luar negeri ya berkarirnya harus di luar negeri juga. Mungkin standar saya terlalu tinggi…tapi buat apa kuliah capek-capek dan mahal-mahal di luar negeri kalau apa yang didapat tidak sebanding dengan perjuangannya?

Saya hanya mau kuliah S2 kalau hal tersebut benar-benar berdampak pada karir saya. Seperti kompetisi KTH Master’s Challenge yang saya ikuti, misalnya. Setelah lulus S2, diberi kesempatan internship di salah satu perusahaan bona fide di Sweden. Kalau sudah jelas begitu, saya rasa hal tersebut sangat layak saya perjuangkan. Sayang, saya cuma jadi runner-up. Runner-up hadiahnya LoA doang. Hahaha.

Sedangkan bila saya mengambil LPDP, tentulah LoA yang saya dapatkan akan ada hasilnya. Tapi alumni LPDP kan harus kembali ke Indonesia. Ilmu-ilmu yang didapat harus digunakan untuk membangun bangsa. Kalau memang itu tujuannya, yaitu harus berkarir di Indonesia, dan membangun Indonesia, saya rasa tidak perlu ijazah S2; bagi saya ijazah S1 dan langsung berkarya untuk membangun negeri ini saja sudah cukup.

Intinya: Bagi saya, buat apa kuliah S2 ke luar negeri kalau ujung-ujungnya harus bekerja di dalam negeri juga. Mending abis lulus S1 langsung cari kerja aja di dalam negeri.

Tanggung jawab

Ini yang paling membuat saya takut. Tanggung jawab. Seorang penerima beasiswa LPDP itu memiliki tanggung jawab yang besar, karena dia dipercaya negara untuk dapat membangun negeri ini menjadi negara yang jauh lebih baik lagi daripada sekarang. Ilmu yang diperoleh selama kuliah S2 harus benar-benar dapat bermanfaat bagi Indonesia.

Menurut saya itu tanggung jawab yang sangat berat. Saya rasa kita semua tahu bagaimana kondisi bangsa ini. Saya yakin akan sangat sulit mengubah kondisi bangsa ini, apalagi dengan jalur yang seperti ini. Menurut saya, masalah terbesar bangsa ini adalah masalah karakter, bukan kepintaran, sehingga sebaiknya hal yang paling pertama harus kita perbaiki ya perilaku masyarakat. Tekankan tentang karakter, bukan tentang kepintaran. Lihat kurikulum di sekolah saja saya geleng-geleng. Orientasinya selalu pada nilai dan angka. Saya tidak bermaksud menyepelekan tentang kepintaran. Tentu saja ilmu pengetahuan itu penting, tapi bagaimana mungkin ada orang pintar tapi mengantri saja tidak bisa? Bagaimana mungkin ada orang pintar tapi peraturan selalu dilanggar? Banyak orang pintar yang tidak tahu aturan, dan parahnya lagi tidak mau diatur. Kalau sudah begitu ya susah mengelola negeri ini. Apalagi jumlah penduduk Indonesia itu sangat banyak…kalau kebanyakan orangnya susah diatur, ya susah untuk maju. Maka dari itu saya pesimis, ilmu yang diperoleh dari kuliah S2 bisa merubah bangsa ini. Mungkin saja bisa, tapi tidak dalam waktu dekat. Padahal bangsa ini butuh pertolongan secepatnya.

Belum lagi biaya kuliah S2 yang sangat mahal. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana rasanya harus mempertanggungjawabkan sesuatu yang nilainya 500 juta rupiah sendirian. Memegang uang belasan juta saja saya sudah ngeri. Ini nilainya ratusan juta dan ekspektasinya luar biasa besar; mengubah nasib bangsa ini menjadi lebih baik. Saya mengetahui kapasitas dan kemampuan diri saya dan saya tidak mau mengambil tanggung jawab tersebut. Belum lagi pertanggungjawaban di akhirat; kau gunakan untuk apa ilmu mu? kau gunakan untuk apa harta mu? Sungguh berat tanggung jawab tersebut.

— *** —

Mungkin saya terlihat penakut, nggak berani ke luar comfort zone, etc etc…tapi serius deh, saya nggak mampu mengambil tanggung jawab seberat itu.

Advertisements

One thought on “Saya tidak mau mengambil beasiswa LPDP, karena…

  1. […] Saya sendiri menjadi runner-up di kompetisi ini, dan status saya sudah diterima di KTH Vehicle Engineering Master Programme. Saya pun mendapatkan LoA. Tapi saya tidak ambil kesempatan ini, karena tidak punya uang untuk kuliah di sana…walaupun sebenarnya bisa diakali dengan mendaftar beasiswa lain seperti LPDP misalnya, saya tidak mau. Saya punya alasan tersendiri mengapa saya tidak mau mengambil beasiswa LPDP. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s