Review: 2016 Yamaha X-Ride

Karena sesuatu dan lain hal, si putih Honda Vario 125 saya ‘hibahkan’ ke bapak saya dan sebagai penggantinya, saya memutuskan untuk meminang Yamaha X-Ride berwarna Titanium Gold. Langsung saja saya review luar dalam.

Desain

Lagi males foto, jadi seadanya aja :D

Lagi males foto, jadi seadanya aja 😀

First things first, masalah desain adalah masalah selera, jadi sudah pasti bersifat subjektif. Menurut saya, desain oke. Sebagian orang berpendapat bentuknya aneh, tapi bagi saya malah terkesan unik.

Saya tekan-tekan bagian body motor…terasa keras dan kaku, tidak ada bunyi apapun dan tidak ada plastik yang ‘mleot-mleot’ (halah, bahasa resminya apa yah, pokoknya tidak ada yang tertekan sampai bentuknya berubah gitu lah 😀 ). Bagus.

Desain speedometernya saya sangat suka! Bentuk membulat, background gelap, dengan tulisan angka yang bentuknya kaku berwarna oranye ditambah garis penunjuk berwarna putih. Simple, tegas dan enak dipandang.

Saya kurang suka sama bentuk behelnya, kenapa sih harus bergelombang begitu. Ditambah lagi desain velg khas matic Yamaha…entah sampai kapan Yamaha akan memakai desain yang sama, dari jaman Mio gen 1 sampai sekarang masih begitu-begitu aja bentuknya. Ban depan rasanya terlihat cungkring, kurang gemuk. Ban belakang tapak lebar, mantep sih…tapi menurut saya kurang tinggi, berdampak juga pada kenyamanan berkendara.

Tampak belakang..

Tampak belakang..

Ergonomi

X-Ride saya coba naiki. Jika pada Vario 125 posisi setang kemudi agak ke bawah yang membuat siku lurus, pada X-Ride posisi tangan tidak terlalu ke bawah, namun melebar ke samping…maklum, setang model baplang. Bagi saya sih nyaman.

X-Ride ini tidak punya kotak kecil di bawah stop kontak. Saya tidak bisa menyimpan barang-barang kecil (semacam karcis dan uang parkir), tapi jarak lutut dengan dek sangat jauh. Kadang-kadang jika saya membonceng orang yang berukuran besar, saya harus menggeser posisi duduk ke depan…dengan tidak adanya kotak tersebut, lutut saya tidak pernah menabrak dek. Entahlah ini mau disebut sebagai kekurangan atau kelebihan, saya sendiri juga bingung.

Jok tidak terlalu empuk, tidak terlalu keras, biasa saja. Namun bentuknya menurut saya oke sih, ada jahitan melintang. Terlihat keren.

Bobot motor yang ringan memudahkan saya untuk memindahkan/menggeser-geserkan motor saya pada saat parkir. Praktis.

Kenyamanan berkendara

Putar kunci kontak ke posisi ‘on‘, lampu senja berbentuk “V” menyala, suara ‘ngiiing’ khas fuel pump terdengar. Tekan tuas rem sambil tekan tombol starter, motor pun menyala. Suara starter biasa saja, tidak terlalu senyap, tidak terlalu berisik. Begitu juga suara mesin ketika idle.

Putar throttle, motor pun melaju…tidak ada bunyi-bunyi aneh. Terasa getaran di setang, namun tidak terlalu kencang dan hanya muncul ketika motor beranjak dari kondisi diam. Saya arahkan ke jalan jelek, tidak ada bunyi aneh juga. Berbeda dengan Vario 125 yang membuat saya risih mulai dari getaran kencang di awal akselerasi sampai bunyi ‘kit-kit-kit’ pada saat berjalan ke jalan jelek, hal tersebut tidak saya temukan pada X-Ride. Saya puas.

Coba arahkan ke polisi tidur…suspensi nyaman yang digembor-gemborkan kok menurut saya biasa-biasa saja ya. Mungkinkah karena ban yang dipakai kurang tebal? Atau mungkin nilai standar kenyamanan saya terlalu tinggi, hahaha. Tapi setelah saya coba membonceng teman saya, bantingan motor menjadi lebih nyaman. Enak banget buat boncengan. Kalau dibandingin dengan Vario 125 ya beda lumayan jauh lah kenyamanannya.

Salah satu kekurangan memakai setang baplang adalah agak sulit ketika bermanuver di kemacetan. Ditambah lagi spion yang dipasang lengannya melebihi panjang setang…sudah tiga kali saya menghantam spion pengendara/pengemudi lain. Harus hati-hati nih.

Kekurangan lainnya adalah rem belakang yang tidak mulus. Entah semua X-Ride seperti ini atau tidak, tapi X-Ride punya saya ini rem belakangnya ‘ndut-ndutan.’ Awalnya saya mengira mungkin remnya masih adaptasi…tapi sudah berjalan 1500 km masih terasa saja.

Performa

Motor saya coba gaspol…akselerasinya lama. Tenaga biasa-biasa saja…well, what can you expect from a 115 cc bike? Tenaga 7.75 PS dan torsi 8.5 Nm saya rasa sudah cukup lah untuk berkendara di dalam kota…tapi kalau saja motor ini dibekali 125 cc, tentu saya akan sangat puas mengendarainya. Top speed yang pernah saya raih adalah 90 km/jam (on speedometer) di jalanan datar, pernah 100 km/jam di jalanan turun. Bobot motor yang ringan membuat nyali saya ciut untuk mengebut di kecepatan tinggi…tidak se-stabil Vario 125. Setelah servis pertama dilakukan, tidak banyak perubahan performa yang berarti.

Konsumsi BBM

Konsumsi BBM paling boros yang pernah saya catat adalah 39 km/liter dengan gaya berkendara full-gaspol-whenever-you-can, sedangkan paling irit adalah 42 km/liter dengan memaksimalkan fitur YMJET-FI, alias berkendara santai dengan kecepatan maksimum 60 km/jam. Konsumsi BBM rata-rata selama ini saya bulatkan menjadi 41.2 km/liter…bagi saya sih boros untuk matic 115 cc. Oh iya, perhitungan-perhitungan tersebut saya dapatkan dengan kondisi menggunakan BBM Shell V-Power, oli standar Yamalube dan berkendara sendirian dengan kondisi jalanan ramai lancar.

Fitur

Bagasi kecil. Saya cuma bisa menyimpan jas hujan, kain plas chamois dan sandal jepit yang dipaksa masuk. Oh iya, aki motor terletak di bagasi, letaknya agak mengganggu sebenarnya.

Tidak ada Side Stand Switch, artinya motor tetap menyala walau standar samping turun ke bawah. Buat saya sih bukan suatu masalah, bahkan jadi nilai tambah, karena saya sering pakai standar samping…gak perlu repot-repot nyalain motor lagi.

Tidak ada box kecil di dekat kunci kontak. Sudah saya bahas di poin-poin sebelumnya.

Automatic Headlamp On…penerangan sudah cukup. Tidak ada lagi yang bisa saya bahas di fitur ini.

Kesimpulan

Untuk motor seharga 15,600,000 OTR Bandung, rasanya harga segitu sedikit overprice untuk meminang X-Ride. Kalau saja mesinnya 125 cc dengan bagasi yang lebih besar, harga segitu saya rasa sudah cukup. Tapi harus saya akui, motor ini memang nyaman untuk dikendarai.

Kelebihan:

  • Nyaman untuk boncengan
  • Tidak ada bunyi aneh-aneh saat berkendara di jalan jelek
  • Kualitas cat dan body oke

Kekurangan:

  • Underpowered
  • Bagasi kecil
  • Rem belakang tidak mulus (entah hanya di X-Ride saya saja atau di X-Ride yang lain juga sama)
  • Boros

 

Advertisements

One thought on “Review: 2016 Yamaha X-Ride

  1. […] menggunakan Yamaha X-Ride untuk melakukan touring Bandung-Ciletuh-Bandung selama 2 hari sejauh 500 kilometer. Berikut […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s