Logika orang Indonesia

Sering saya amati, cara berpikir orang Indonesia itu aneh. Lebih percaya sama hati, bukan pikiran.

Kalau ada cerita orang yang kondisinya memprihatinkan lalu melakukan sesuatu yang ajaib, sesuatu yang tidak bisa dibuat dengan mudah oleh orang-orang yang ahli, pasti bakal didukung penuh…meskipun sesuatu itu adalah pada dasarnya merupakan sebuah ketidakmungkinan alias bohong. Kasus Blue Energy, Pembangkit Listrik Tenaga Hampa, dan yang terakhir yang sedang booming dari Bali itu. Walau sudah banyak sanggahannya secara ilmiah, tetap saja tidak percaya bahwa itu bohong. Orang Indonesia lebih mendukung tukang bohong yang kondisinya prihatin daripada orang yang ahli di bidangnya.

Celakanya, pola pikir seperti itu diterapkan juga pada bagian yang paling krusial bagi kemajuan bangsa, yaitu pada pemilu pemimpin, baik dari tingkat lokal sampai nasional. Orang Indonesia lebih mempercayai calon pemimpin yang tampilannya sederhana daripada calon yang ahli di bidangnya. Tidak peduli calon tersebut punya kemampuan yang mumpuni atau tidak, selama dia orang yang sederhana, pakai yang murah-murah, merakyat, tidak mewah dan tidak foya-foya, pasti didukung penuh, karena mereka merasa iba dan prihatin.

Kenapa Anda milih calon A?

Karena dia itu sederhana dan merakyat.

Kenapa Anda milih calon B?

Karena dia janji ngasih uang ke saya kalau milih dia.

Kenapa Anda milih calon C?

Karena dia yang paling saya kenal, yang lainnya saya gak kenal.

Gawat. Sungguh gawat. Kriteria yang paling penting untuk menjadi seorang pemimpin tentu adalah kemampuannya, bukan tampilannya. Bagaimana jadinya kalau Anda lebih suka dipimpin Jenderal yang sederhana tampilannya tapi tidak mahir dalam taktik dan strategi berperang? Habis sudah pasukan Anda. Habis sudah masa depan Anda. Anda pasti kalah!

Saya merasa pesimis dengan nasib bangsa ini, kalau mayoritas orangnya tidak mau berpikir. Sistem pemilihan langsung seperti sekarang sangat tidak cocok diterapkan saat ini, mengingat masyarakatnya tidak berpikir dan tidak mau berpikir.

Apalagi kalau sudah menyentuh ranah agama. Saya lebih takut dengan orang bodoh yang mempelajari agama daripada orang pintar yang tidak mempelajari agama.

Orang Indonesia itu lebih senang dengan hal yang menyentuh hati, walaupun hal tersebut tidak masuk akal. Lebih menyukai fantasi dan keajaiban. Lebih menerima kebohongan yang manis daripada kenyataan yang pahit.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s