Iron Man dari Bali: Ini masalah logika dan berpikir kritis (Part 2)

(Lanjutan dari bagian 1)

Argumen netizen

Yang membuat saya lebih gatal lagi adalah respon netizen terhadap berita ini. Begitu berita ini beredar, langsung ada argumen bahwa alat buatan Iron Man dari Bali ini adalah hoax. Argumen tersebut juga sudah dijelaskan dengan detail secara teknis.

Tapi apa yang terjadi? Banyak sekali netizen yang mencaci-maki orang-orang yang telah membuktikan secara teknis. Argumen yang diberikan juga menurut saya absurd:

  • Alah, elo cuma bisa ngomong doang, emangnya lo bisa bikin ginian? Udah bikin apa lo?

Ini adalah argumen yang amat sangat payah. Kalau saya ingin berkomentar tentang lengan robot, apakah saya harus bikin lengan robot dulu? Lalu kenapa anda sendiri komentar tentang lengan robot, terlepas komentar anda pro ataupun kontra?

Kalau saya ingin berkomentar tentang kebijakan negara, apakah saya harus bikin kebijakan negara terlebih dahulu? Kalau saya ingin berkomentar tentang permainan sepak bolanya Lionel Messi, apakah saya harus bermain bola sejago Messi dulu?

  • Yaelah, elo baru liat dari gambar doang udah ngata-ngatain itu barang hoax, kalau belum nyobain barang aslinya mending diem aja deh!

Ini absurd juga. Kalau saya upload foto kaos saya yang berwarna merah, lalu saya bilang ‘kaos saya ini berwarna kuning,’ lalu ada netizen yang menyatakan ‘kaos itu jelas berwarna merah,’ apakah perlu netizen tersebut datang ke tempat saya dan mencoba baju saya, untuk membuktikan bahwa kaos itu berwarna merah?

Tidak perlu, karena bagi netizen tersebut kaos itu sudah sangat jelas berwarna merah, dia punya common sense tentang warna. Common sense inilah yang didapatkan dari pendidikan yang ditempuh oleh para ahli (robotika, pemrograman, neurologi, teknik mesin, elektro, mekatron, dll) yang berargumen lengan robot itu hoax.

Poinnya adalah, bagi seseorang yang ahli di bidangnya, untuk menentukan sesuatu yang obvious, dia tidak perlu melihat langsung barangnya, cukup dengan gambar dan video saja maka dia sudah tahu apakah itu benar atau tidak.

Justru yang berbahaya adalah orang yang dengan mudahnya percaya bahwa kaos itu kuning, padahal dalam kenyataannya kaos itu berwarna merah. Mereka-meraka adalah orang yang mudah diadu domba. Ya, seperti mayoritas orang-orang Indonesia.

  • Elo pada para ahli dan professor bilang aja iri sama Pak Tawan, capek-capek kuliah dikalahin sama orang yang pendidikannya rendah!

Ini ranah science and engineering. Bukan sembarang topik. Apalagi menyangkut brain sensor dan robotika. Ini adalah topik yang sangat rumit.

Maka sudah sewajarnya para saintis dan engineer, yang telah mendapatkan common sense berkat pendidikannya itu, berusaha membuktikan dan meluruskan alat Iron Man dari Bali tersebut. Ini bukan masalah tingkat pendidikan, tapi ini masalah sains dan rekayasa, yang semuanya memiliki data, hukum alam, dan fakta. Maka ketika ada hal-hal yang janggal (jangankan banyak hal, ada satu hal saja pasti merasa ‘gatal’) tentulah mereka bersuara. Mereka bukan sakit hati, mereka hanya ingin membuktikan apakah hal tersebut sesuai dengan science and engineering atau tidak.

Berpikir kritis

Saya heran dengan masyarakat Indonesia. Sangat mudah menelan mentah-mentah berita online. Tidak pernah cross-check terlebih dahulu. Apalagi artikel yang topiknya sensitif semacam SARA.

Manusia memiliki otak bukan cuma sebagai hiasan, tapi digunakan untuk berpikir. Berpikirlah matang-matang. Jangan sampai kemampuan berpikir digadaikan gara-gara hal yang menyentuh hati. Kalau ada seseorang yang kondisi hidupnya memprihatinkan dan kurang mampu, lalu dia membual, tetap saja dia itu pembual. Mengapa banyak sekali orang yang bersimpati pada pembual di Indonesia ini? Dari rakyat kecil sampai wakil rakyat sama saja, banyak pembual, dan banyak simpatisannya! Lalu kenapa orang yang berusaha membongkar bualan malah dihujat dan dicaci-maki? Ya wajar saja Indonesia ini tidak maju-maju, cara berpikirnya saja begitu. Atau mungkin tidak berpikir?

Tidak heran motivator sangat berjaya di Indonesia. Para penjual mimpi itu laku keras di sini, karena mayoritas orang Indonesia lebih senang menggunakan hati, bukan otaknya.

Kesimpulan

Akhir cerita dari Iron Man dari Bali ini adalah pembuat alat mendapat dana 50 juta dari pemimpin daerah setempat, entah untuk mengembangkan alat atau hanya karena pure sympathy, padahal belum sempat dites oleh para pakar yang ahli di bidang lengan robot ini. Begitu alat ini mau dites, pemiliknya berkata alatnya rusak terkena air hujan. Kesimpulannya?

Silakan putuskan sendiri. Ingat, gunakan otak, bukan hati.

Advertisements

2 thoughts on “Iron Man dari Bali: Ini masalah logika dan berpikir kritis (Part 2)

  1. (Kebanyakan atau mungkin sebagian) Orang Indonesia itu “hebat” loh dalam berdebat, apalagi di internet. Mereka banyak menggunakan “Mind games” atau “Psy war”, Walaupun tentu saja sebagian besarnya payah.

    Contohnya pada kalimat lucu ini : “Alah, elo cuma bisa ngomong doang, emangnya lo bisa bikin ginian? Udah bikin apa lo?”

    Kelihatan banget kalau yg nulis kalimat ini berusaha untuk me”look down”kan orang yg dia debat. Ini juga salah satu Psy War yg paling payah dan paling sering saya lihat.

    Begitu juga dengan ini : “Elo pada para ahli dan professor bilang aja iri sama Pak Tawan, capek-capek kuliah dikalahin sama orang yang pendidikannya rendah!”

    Saya ga ngerti bagaimana sebagian besar orang Indonesia begitu gampang melontarkan kata “iri” atau “sirik” sebagai argumen maut mereka.

    Saran saya dalam menanggapi orang seperti ini adalah untuk Tidak membuang buang energi anda untuk menggapai mereka secara point to point. Tapi balas Sarkasme mereka dengan Sarkasme yg lebih kejam lagi, sampai mereka tercekat dan diam.

    • Terima kasih sarannya, mbak.

      Saya sendiri awalnya sedikit kesal membaca komentar/argumen seperti itu, tapi lama kelamaan biasa saja, karena sudah terbiasa…malah sekarang kalau ada yang begitu saya cuma geleng-geleng kepala dan tertawa saja.

      Tetap saja, saya berharap masyarakat Indonesia dapat lebih banyak berpikir, menggunakan argumentasi yang kuat dan meninggalkan cara-cara payah seperti yang mbak sebutkan tadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s