Iron Man dari Bali: Ini masalah logika dan berpikir kritis (Part 1)

Langsung aja, ini masalah ‘Iron Man dari Bali.’ Yang saya sesalkan di sini adalah masalah pola pikir, terutama para netizen.

Masalah lengan robotik buatan Pak Tawan, yang berhasil dibuat hanya dari barang rongsokan, yang diklaim mampu bisa dikendalikan dengan pikiran, menurut saya sendiri sudah jelas itu merupakan sebuah hoax. Ini bisa dibuktikan dari sisi flow process sebuah sistem dan hukum kekekalan energi.

Flow Process

Sebuah alat yang berfungsi tentu memiliki tiga buah variabel: Input, Process, dan Output. Skema lengan robotik Iron Man dari Bali yang saya lihat adalah: Sinyal dari otak sebagai input, circuit board yang berada di punggung sebagai processor-nya, dan gerakan lengan yang super luwes sebagai output-nya. Kira-kira beginilah skemanya:

Skema input-process-output

Skema input-process-output

Input

Dari sisi input, Pak Tawan bilang ini adalah lengan robot yang mampu dikendalikan pikiran. Kalau yang saya lihat, headband yang dipakai Pak Tawan itu berarti sumber inputnya, tapi lihat bentuknya, sangat sederhana. Hanya melingkar saja seperti layaknya headband biasa. Berbeda dengan sensor otak yang sudah pernah diteliti oleh para pakar di bidang brain sensor.

Lihat pada gambar kiri, sensornya banyak sekali. Wajar butuh sensor yang banyak, karena otak itu merupakan bagian tubuh manusia yang paling kompleks. Menurut The Independent, otak memiliki 100 milyar sel syaraf dan 100 triliun jaringan sel syaraf. Wajar saja President Obama menumpahkan biaya riset sebesar $US 200 juta kepada Advancing Innovative Neurotechnologies. Wajar pula sensor yang dipakai pada gambar kiri sangat banyak. Maka saya sangsi melihat sensor otak Pak Tawan, kok sangat sederhana sekali, di mana letak receptor-nya? Ditambah lagi, otak itu kan di ubun-ubun, bukan di dahi, jadi seharusnya sensor diperbanyak di bagian ubun-ubun 😀

Process

Dari sisi process, ini juga tak kalah aneh. Setelah dapat input berupa sinyal otak dari sensor di kepala, sinyal tersebut harus diproses menjadi sesuatu yang dapat dimengerti perangkat output agar bisa menghasilkan output. Yang saya lihat di sini sepertinya prosesornya adalah circuit board di punggung Pak Tawan. Mari kita lihat gambarnya.

Circuit Board (sumber: BBC Indonesia)

Circuit Board (sumber: BBC Indonesia)

Hmm…entahlah, saya tidak yakin sama circuit board ini. Penuh karat. Circuit board itu merupakan perangkat yang sangat sensitif, berdebu saja sudah bisa membuat perangkat tidak berfungsi, apalagi karatan. Lihat juga komponen di gambar tersebut. Port audio, kabel USB yang terpasang entah kemana dan entah apa maksudnya, dan lain-lain.

Lalu, tentunya untuk mengubah sinyal menjadi sesuatu yang dimengerti perangkat output, tentunya sinyal tersebut harus diproses menggunakan bahasa pemrograman. Nah, masalahnya bahasa pemrograman apa yang dia pakai? Apa micro-controller yang dia pakai? Diletakkan dimana? Saya lihat sih dari video Kompas nggak ada, tuh.

Output

Terakhir, dari sisi output. Hanya dengan menggunakan barang rongsokan, ditambah sensor otak yang dia kembangkan secara otodidak tanpa ada konsultasi dari pakar neurologis, gerakan lengan yang dihasilkan sangat luwes sekali. Luar biasa.

Padahal, lengan robot yang diciptakan di bidang Research and Development, yang menghabiskan biaya ratusan juta rupiah, melibatkan banyak ahli dari bidang mekatron dan neurologis, dan menggunakan peralatan canggih saja gerakan lengan robot yang dihasilkan tidak mulus, terkesan patah-patah.

Sekarang saya mau membahas poin yang sangat krusial.

Sumber energi: Dari mana?

Inilah yang membuat saya ‘gatal,’ sebenarnya apa sih sumber energi yang dia pakai untuk mengoperasikan lengan robotnya itu? Padahal, energi yang dibutuhkan itu sangat besar, lho: Sensor otak, pemrosesan sinyal, dan yang paling besar adalah gerakan lengan itu sendiri. Lengan manusia itu berat, dan untuk menggerakkannya secara sangat luwes sekali, tentu membutuhkan energi yang besar. Kalau lihat dari circuit board di atas, apakah mungkin semuanya itu berasal dari Baterai Li-Ion sebesar itu? Dilihat dari ukurannya, saya rasa itu cuma kuat untuk menyalakan hand phone saja.

Itulah argumen saya, yang membuat saya lebih ‘gatal’ lagi saya lanjutkan ke bagian 2.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s