Kenapa sifat pendiam dianggap jelek?

Kamu harus aktif ya. Sering-sering lah ngobrol sama mereka, supaya cepet berbaurnya. Jangan diem aja.

Begitulah kira-kira kata-kata yang diucapkan kepada saya ketika saya harus beradaptasi dengan lingkungan baru.

Sebagai orang yang lebih senang diam daripada ngomong, saya merasa kesulitan untuk beradaptasi di lingkungan yang dipenuhi orang-orang baru. Jangankan di lingkungan yang baru, di kalangan teman-teman yang sudah saya kenal pun, saya lebih memilih untuk diam. Bukan karena saya anti-sosial, tapi karena memang saya lebih suka diam. Kalau ada hal yang benar-benar perlu dan/atau ingin saya sampaikan, barulah saya ngomong.

Bukan berarti saya pengennya diam terus. Sebagai makhluk sosial, saya juga memiliki kebutuhan untuk bersosialisasi. Namun, kebutuhan itu tidak sebanyak orang yang ‘seneng ngomong.’ Kalau saya lagi kangen atau lagi pengen ngobrol sama temen, ya pasti saya ngobrol. Tapi cuma sebentar doang. Udah gitu pasti pengennya pulang dan menyendiri lagi, hahaha…

Selain itu, saya juga lebih senang dengan kesunyian. Makanya kalau ada kumpul-kumpul, apalagi dalam skala besar, sering kali saya memisahkan diri. Bukan karena saya anti-sosial, tapi karena saya pengen cari suasana yang tenang dan sunyi. Oleh karena itulah kalau ada acara-acara heboh semacam wisuda, pernikahan, dan acara besar lainnya, saya pengen cepat pulang, lebih enak di rumah. Sunyi dan damai 😀

Akibatnya, saya sering dilupakan sama teman-teman. Kalau ada acara, saya sering tidak diajak. Karena waktu awal-awal, saya sering menolak untuk datang. Padahal, kadang-kadang saya pengen datang juga, lho. Pernah juga waktu itu saya ‘diajak’ (karena ada teman yang ngajak teman saya, kebetulan saya ada di situ, jadilah saya diajak) ke suatu tempat, dan saya ikut. Sesampainya di sana, mereka ya asik sendiri, lupa bahwa ada saya. Saya ngomong juga cuma diladenin sebentar, udah gitu asik sendiri lagi. Ya udah saya pulang aja. What a waste of time. Mendingan diem di rumah.

Tapi mereka itu akhirnya mau juga loh ngajak-ngajak saya, tapi kalau ada perlunya doang. Waktu itu sih saya bantuin aja, siapa tau mereka jadi inget sama saya. Begitu udah saya bantu, eh tetep aja saya dilupakan…sakit hati saya. Aneh juga, padahal di mata orang lain, mereka itu orang yang baik dan mudah bergaul, lho. Gara-gara itu lah, saya memilih menyendiri aja, daripada sakit hati lagi.

Ah, dia sih pendiem. Kalo diajak juga palingan nolak. Udahlah gak usah diajak.

Mungkin begitu di pikiran mereka.

Entah kenapa, sifat pendiam dan lebih memilih menyendiri dianggap jelek sama orang-orang. Seringkali, dalam penilaian sebuah kelompok, salah satu aspek penilaian yang penting adalah keaktifan. Kalau orangnya aktif, nilainya bagus. Kalau orangnya jarang ngomong, nilainya jelek. Dengan sistem penilaian seperti itu, jelas orang-orang seperti saya berada dalam kerugian. Orang yang lebih seneng diem, dipaksa harus aktif ngomong, ya jelas susah, coy. Selain itu, bukankah akan lebih fair kalau sistem penilaiannya diubah menjadi kualitas dari apa yang disampaikan, bukan dari kuantitas? Quality>Quantity, bro.

Akibatnya, saya sering dapat nilai yang tidak memuaskan kalau udah ada aspek penilaian seperti itu. Kurang aktif katanya. Kalah sama tukang bacot yang omongannya jarang berkualitas. Hal yang begini juga bisa menentukan masa depan, lho. Dalam mencari pekerjaan, misalnya. Salah satu penilaian dalam evaluasi atau seleksi calon karyawan baru adalah keaktifan.

Yah, intinya saya (dan mungkin orang lain yang sifatnya seperti saya) sih lebih memilih untuk diam daripada ngoceh. Lebih memilih kesunyian daripada keramaian. Tapi bukan berarti anti-sosial. Harapan saya ke depannya sih sistem penilaian yang menilai keaktifan diubah lah menjadi kualitas materi yang disampaikan, supaya lebih adil. Yang seneng ngoceh tidak masalah mau ngoceh banyak sampai berbusa, yang seneng diem mau diem terus juga gak apa-apa, yang penting apa yang disampaikan keduanya adalah sesuatu yang berkualitas dan berbobot. Quality>Quantity, bro!

Nih, biar lebih jelasnya:

   

Credits to: Luchie

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s