Curug Sanghyang Taraje

Rabu, 1 April 2015. Hari ini saya dan teman saya, Fickry, merealisasikan wacana Touring yang sudah lama tertunda. Ngajak teman tapi tidak ada yang berminat, akhirnya saya dan Fickry jebred-kan saja Touring kali ini; 2 orang jalan!

Tujuan yang failed: Candi Cangkuang

Tujuan awal adalah Candi Cangkuang. Candi Cangkuang terletak di Garut, lebih tepatnya di Kecamatan Leles.

Berangkat jam 08.00 WIB dari kampus yang banyak kudanya, kami sampai di lokasi jam 09.15 WIB. Rute perjalanan dimulai dari Tamansari–>Cicaheum–>Bunderan Cibiru–>Cileunyi–>Rancaekek–>Candi Cangkuang. Traffic sebelum Cileunyi ramai lancar, setelah Cileunyi kosong blas. Mantaft. Untuk mencapai Candi Cangkuang caranya mudah, tinggal ikuti jalan utama sampai Leles, nanti ada papan tulisan Candi Cangkuang, belok ke kiri. Dari situ jarak ke lokasi sekitar 3 kilometer.

Jalan ke lokasi agak jelek, tapi bisa dilewati dengan mudah. Sesampainya di tempat, parkir motor, terus masuk ke dalam. Bayar tiket masuk Rp 3000 per orang. Pemandangan Situ Cangkuang langsung terlihat. Airnya sedikit kotor, mungkin gara-gara musim hujan, jadi banyak lumpur dan tanahnya.

Situ Cangkuang. Itu ada Pulau, Candi Cangkuang letaknya di sana.

Situ Cangkuang. Terlihat ada pulau, Candi Cangkuang letaknya di sana.

Keunikan tempat wisata ini adalah pengunjung diharuskan menaiki perahu terlebih dahulu untuk melihat Candi Cangkuang. Maklum, Candi terletak di tengah-tengah pulau yang konon bernama Pulau Panjang. Selain itu, di pulau tersebut juga ada kampung adat, dimana terdapat 6 buah rumah adat yang diperuntukan keturunan Embah Dalem yang terdiri dari 6 pria dan 1 wanita. Jumlah rumah tidak boleh ditambahkan dan 6 rumah yang ada tidak boleh terdiri lebih dari 6 kepala keluarga sehingga ketika ada anggota keluarga yang menikah, orang tersebut harus keluar. Oh iya, Candi Cangkuang ini merupakan satu-satunya candi Hindu di Jawa Barat loh. (sumber)

Nah…di sini nih mulai lawak. Tarif naik perahu itu 4 ribu saja per orang, tapi dengan catatan perahu nya bermuatan penuh yaitu 20 orang. Pilihan lainnya, sewa perahu aja tapi bayarnya jadi 80 ribu. Daripada bayar 80 ribu, mending bayar 4 ribu kan? Tapi harus nunggu orang lain yang pengen nyebrang juga. Kami putuskan nunggu aja sambil ngisi perut dulu.

Setelah ditunggu-tunggu…gak ada pengunjung yang datang. Dari pertama kali kami datang, tempat ini memang sepi pengunjung. Kata orang di sana sih tempat ini ramenya hari sabtu dan minggu. Kami malah datang di hari Rabu, jelas sepi lah. FAILED! haha. Waktu masih menunjukkan pukul 10. ‘Masa pulang sih? Kapan lagi Touring, apalagi udah pada lulus dari kampus’. Jadi saya pengen lanjut nih, setidaknya sampai di suatu tempat wisata. ‘Jigana moal aya pengunjung deui ieu mah Fick, tempat lain weh yu‘ (Ini sih kayaknya gak bakal ada pengunjung lagi Fick, ke tempat lain aja yuk).

Teman saya pun setuju dan akhirnya kami putuskan untuk ke curug yang dia bilang yaitu Curug Sanghyang Taraje. Tapi karena kami gak tahu jalan, saya search dulu tuh lokasinya di mana. Tanya mbah Google, dapet deh lokasinya yaitu di Desa Pamulihan.

Candi Cangkuang
Tiket masuk: Rp 3000. Biaya naik perahu: Rp 4000 per orang (harus nunggu 
perahunya penuh (20 orang), kalau nggak mau nunggu sewa perahu sendiri Rp 80000)
Rute perjalanan: Bunderan Cibiru>Cileunyi>Rancaekek>Leles

Perjalanan: Curug Sanghyang Taraje

Kami pun melanjutkan perjalanan. Sempat bingung jalannya ke mana, teman saya nanya-nanya ke warga sekitar. Akhirnya ketemu jalannya yaitu lewat Samarang. Kami lanjutkan lagi sampai akhirnya bingung mau ke mana. Mungkin sudah lelah bertanya terus ke warga sekitar, akhirnya teman saya menggunakan Google Maps saja biar praktis (punten Fick urang hoream euy nanya ka batur hahaha). Ketemu lagi jalannya. Ternyata medan jalannya menantang; jalan bebatuan menanjak curam tanpa aspal. Tanya-tanya orang lagi dan akhirnya sampai di tujuan yaitu Desa Pamulihan. Tapi….

Gak ada curug di sini! Ternyata di Garut ini ada dua daerah yang namanya Desa Pamulihan; satu terletak di Kecamatan Cisurupan, satu lagi terletak di Kecamatan Pakenjeh. Curug yang dituju terletak di Pakenjeh, sedangkan kami ada di Cisurupan. FAILED 2.0!

Untung ada warga lokal yang tau keberadaan curug tersebut, sehingga kami diberitahu arah jalannya. Kami pun melanjutkan perjalanan. Medan jalan memburuk; ukuran dan letak batu semakin tidak beraturan, si kuda besi pun semakin sulit dikuasai. Sempat putus asa juga; Ini jalannya ke mana sih? Bener gak sih jalannya ke sini? Kapan bagusnya ini jalan? Akhirnya kami pun menemukan jalan raya. Jalannya mulus semulus kain sutra, huehuehue.

Fickry nyasar coy!

Nyasar coy!

Istirahat dulu sebentar, lalu jalan lagi, ngikutin jalan gede sampai akhirnya belok ke arah Curug Orok (ada papan info nya). Tak disangka, jalannya mulus juga. Tak lama kemudian, kami masuk daerah komplek militer. Pantesan jalannya bagus. Lanjut terus sampai akhirnya ketemu pintu masuk Curug Orok. Seperti biasa, Fickry, teman saya, tanya-tanya dulu ke warga lokal untuk memastikan arah. Ternyata curug Sanghyang Taraje masih lanjut lagi dari Curug Orok.

Baby's Waterfall (Curug Orok)

Entrance of Baby’s Waterfall (Pintu Masuk Curug Orok)

Lanjut jalan, masuk ke kebun teh milik PTPN. Pemandangannya sungguh indah. Kabut tebal yang menghiasi jalan mulus yang dipagari oleh kebun teh membuat kami takjub, jadi kami berhenti sejenak untuk mengabadikan momen tersebut ke dalam telepon. Puas foto-foto, kami lanjut lagi perjalanan. Medan jalan meliuk-liuk sambil nanjak, cocok buat yang suka cornering, jalannya mulus sih semulus kulit si teteh xxx.

Jalan di perkebunan.

Jalan di perkebunan.

Sang Raja menikmati pemandangan.

Sang Raja menikmati pemandangan.

Kebun teh. Kabut uhuy.

Kebun teh. Kabut uhuy.

PLN Samudra terlewat, hingga akhirnya kami belok kanan yang ditandai oleh sebuah Gapura berwarna merah, sesuai dengan arah yang diberitahukan warlock (warga lo(c)kal). Kualitas jalan perlahan memburuk seperti di Desa Pamulihan yang satunya lagi (bebatuan gak beraturan) (Desa Pamulihan: sama namanya, sama kualitas jalannya), ditambah dengan medan jalan yang menurun curam. Saya pun sempat khawatir: ‘Baliknya gimana nih, harus nanjak terjal pisan, belum lagi kalau hujan, mampus lah aing.’ Di sini minim sarana dan prasarana, coy. Cuma ada warung kecil. Jual bensin gak ada, tukang tambal ban gak ada, bengkel gak ada. Makin khawatir deh.

Setelah sekian lama berjalan dengan penuh konsentrasi ditambah rasa khawatir, akhirnya tampak lah sebuah curug. Tapi kok curugnya payah? Lajunya rendah, airnya juga cuma sedikit. Bukan ini curugnya! FAILED! Kami pun lanjut lagi perjalanan. Tak lama kemudian, terdengar lah bunyi air yang deras. Ternyata ini lah curug yang kami cari! Tak sabar, kami pun segera mencari jalur ke lokasi. Lanjut lagi sampai akhirnya jalannya berlawanan arah menjauhi curug…loh kok tempat parkirnya mana? Jalan ke curugnya mana?

Menurut bapak-bapak yang sedang lewat, jalan buat ke curug udah kelewat. Harusnya belok setelah lihat villa. Villa? Villa apaan, daritadi jalan gak ada apa-apa, cuma ada batu. Tapi mungkin ada yang kelewat, jadi kami putar balik aja. Jalan balik lagi hingga akhirnya jalannya menjauhi curug. Lah gimana sih, katanya ada villa. Yang ada cuma pos payah dipenuhi coretan barudak alay. Tapi memang ada jalan setapak ke bawah sih. Mungkin pos inilah yang dimaksud villa oleh si bapak tadi! Karena gak ada tempat parkir, kami pun asal memarkir motor di pinggir jalan sambil berharap mudah-mudahan gak ada yang hilang.

'Villa' yang dimaksud si bapak. Hidup PERSIB!

‘Villa’ yang dimaksud si bapak. Hidup PERSIB! (Itu ada penampakan satan, jangan dihiraukan)

Jalur masuk ke curug. Tampak suram dan curam.

Jalur masuk ke curug. Tampak curam dan suram.

Sampai di Curug Sanghyang Taraje

Curug ini tidak terkenal. Ketika kami (teman saya) bertanya kepada warlok pun cuma sedikit yang tau. Itu pun mereka cuma tau ada curug, gak tau bahwa nama curugnya adalah Sanghyang Taraje. Yah wajar saja curug ini tidak terkenal, daerah ini bukan tempat wisata! Jalannya jelek banget! Super curam/terjal! Sempit! Pinggir-pinggirnya cuma jurang sama pohon/rumput gak jelas blas! Gak ada tempat parkir! Jalan ke curug nya juga susah banget!

Kami pun mulai menapaki jalan setapak menuju curug. Jalannya curam, beralaskan tanah yang rada becek akibat hujan. Licin coy, salah langkah habislah sudah. Untung ada sedikit bebatuan yang bisa memantapkan pijakan kaki kami.

Curug semakin dekat!

Curug semakin dekat!

Kami pun sampai di ujung jalan setapak. Suara air terjun semakin jelas terdengar, dan benar saja; tampak sebuah air terjun megah di depan kami! Kami pun menyusuri saluran irigasi yang merupakan satu-satunya jalan yang layak untuk menuju ke sana. Semakin dekat, jalannya semakin licin; jalan semen ditambah air, lumpur, dan sedikit lumut. Kami harus melangkah ekstra hati-hati, one step at a time, bro. Peribahasa biar lambat asal selamat sangat sesuai dengan kondisi di sini.

The only way. Masih kering.

The only way. Masih kering.

Closer, trickier, DANGER!

Closer, trickier, DANGER!

Setelah berjam-jam nyasar gak jelas, ditambah jalan yang juga gak jelas, akhirnya kami sampai juga di lokasi: Curug Sanghyang Taraje!

Finally! Curug Sanghyang Taraje.

Finally! Curug Sanghyang Taraje.

Air terjun yang konon katanya memiliki ketinggian 100 meter ini memang sangat indah. Saya dan Fickry pun mulai foto-foto. Semakin dekat dengan air terjun, jalannya semakin berbahaya; licin, berlumpur dan banyak lumut! Saya sempat tergelincir dan sandal saya nyangkut di lumpur. Angin yang terbentuk dari air terjun lumayan kencang; cukup membuat badan saya bergoyang.

Ini sedikit momen yang berhasil saya abadikan.

IMG_20150401_132733_1 IMG_20150401_132726_1 IMG_20150401_132741_1 IMG_20150401_135104 IMG_20150401_135113 IMG_20150401_134828_1

Setelah puas foto-foto, kami pun memutuskan untuk pulang. Namun, hujan ternyata turun. Kekhawatiran saya mulai terbukti…

~To Be Continued…

(Lanjutan cerita udah ada! Klik)

Curug Sanghyang Taraje
Gak pake bayar karena bukan tempat wisata.
Rute Perjalanan: Bunderan Garut-->Samarang lurus terus sampe mampus nemu 
papan info Curug Orok, ikutin jalannya-->Sesudah lewatin PLN Samudra, 
belok kanan yang jalannya turun (ditandai Gapura merah, seberang bengkel 
motor)-->Turun terus sampe nemu 'villa'-->Ikutin jalan setapak.
Advertisements

2 thoughts on “Curug Sanghyang Taraje

  1. […] Lanjutan dari post sebelumnya […]

  2. […] and Tio!), kalau nggak, mungkin saya udah jatuh ke jurang…saya jadi ingat perjalanan saya ke Curug Sanghyang Taraje, sama-sama bernama Sanghyang, sama-sama berbahaya dan sama-sama hampir merenggut nyawa saya. Ah, […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s