Tentang komik Charlie Hebdo

Sebenernya udah lama pengen nulis tentang ini, tapi baru sempet sekarang (sok sibuk hahaha).

Belakangan ini, isu tentang komik satir Charlie Hebdo sedang memanas. Pembuat komik itu dibunuh di Paris oleh sekumpulan orang yang katanya sih muslim. Alasannya: Charlie Hebdo menggambarkan Nabi Muhammad SAW dengan nama Mahomet. Sebagai gambaran aja, komik Charlie Hebdo ini sering sekali menggambarkan komik-komik satire tentang ras dan agama. Bagi yang penasaran sama gambarnya, silakan cari sendiri di Google. Saya gak mau menampilkan di sini, karena saya gak suka. Ada beberapa poin yang menjadi pendapat saya.

Freedom of Speech?

Begitu kejadian tersebut diliput oleh media massa, sontak isu tersebut menjadi headline di berbagai media, baik koran, TV, atau Internet. Beberapa hari kemudian, penduduk kota Paris pun menunjukkan solidaritasnya terhadap Charlie Hebdo. Mereka beramai-ramai keluar dan menunjukkan support-nya dengan menunjukkan spanduk Je Suis Charlie (I Am Charlie). Katanya, hal tersebut dilakukan sebagai bentuk protes atas dibunuhnya pembuat komik satir tersebut yang merupakan simbol dirampasnya Freedom of Speech. “Masa sih seseorang berpendapat, lalu karena pendapat tersebut tidak sesuai dengan seseorang yang lain, orang tersebut sampai harus merenggang nyawa? Ini namanya melanggar Freedom of Speech! Harusnya tiap orang bebas mau ngomong apa aja! Ini kan cuma komik satir, santai aja kali, reaksinya berlebihan nih sampe ngebunuh orang!,” kira-kira begitulah yang ada dalam pikiran para pendukung Charlie Hebdo itu.

Freedom of Speech…kebebasan berpendapat. Oke, saya juga menghargai kebebasan berpendapat, dan juga saya tidak setuju jika kebebasan berpendapat dikekang oleh suatu pihak. Apa kamu mau hidup di negara dimana kamu gak boleh berpendapat? Pasti gak mau kan…Tapi sebebas-bebasnya berpendapat, tentu harus tau batasnya. Dan dalam hal ini, menurut saya Charlie Hebdo sudah kelewat batas. Kalau sudah melewati batas ya jangan harap gak bakal terjadi apa-apa, harus siap sama konsekuensinya. Kalau begitu tiap orang juga punya kebebasan untuk merasa tersinggung dong. Masa dihina tapi diem-diem aja.

Nabi Muhammad SAW, seseorang yang sangat luar biasa hebatnya, sangat dicintai dan dihormati oleh umatnya, sampai-sampai Allah pun mencintai Beliau. Bagaimana perasaan kamu kalau seseorang yang sangat kamu cintai, sangat kamu hormati, dijadikan lelucon oleh orang lain? Pasti tersinggung kan? Ya bayangin aja orangtua kamu, orang yang sangat kamu cintai dan hormati, dijadiin lelucon, terus dimuat menjadi komik, lalu disebarluaskan ke seluruh penjuru negeri bahkan sampai ke luar negeri, bagaimana mungkin kamu nggak tersinggung?

Sebagai muslim, wajar aja saya tersinggung kalau ada yang menjadikan keyakinan saya sebagai lelucon. Itu tandanya saya cinta, hormat, dan yakin sama keyakinan saya. Kalau saya gak cinta, gak hormat, atau gak yakin sama keyakinan saya sih saya gak marah kalau keyakinan saya dijadikan lelucon. Saya juga terkadang heran, bagaimana mungkin seseorang merasa oke-oke aja ketika keyakinannya menjadi lelucon, itu artinya kan tidak percaya sama keyakinannya.

Poin yang ingin saya sampaikan adalah Freedom of Speech itu perlu, tapi harus tau batasnya!

Tujuan Satire?

Menurut KBBI: sa·ti·re n 1 Sas gaya bahasa yg dipakai dl kesusastraan untuk menyatakan sindiran thd suatu keadaan atau seseorang; 2 sindiran atau ejekan.

Menurut kamus luar: noun 1. the use of irony, sarcasm, ridicule, or the like, in exposing, denouncing, or deriding vice, folly, etc. 2. a literary composition, in verse or prose, in which human folly and vice are held up to scorn, derision, or ridicule. 3. a literary genre comprising such compositions.

Nah ini juga membuat saya terheran-heran. Kenapa sih harus satire?

Menurut para komikus satire sih, tujuannya itu sebenarnya untuk membangun, sebagai kritik gitu lah. Kalau memang menyindir dengan tujuan untuk membangun, kenapa gak pake cara lain aja? Emangnya gak ada cara lain yang lebih baik? Dan juga kata komikus satire, seharusnya pembaca komik tersebut gak boleh tersinggung, kan ini cuma kartun, cuma lelucon. Jadi sebenarnya, tujuannya itu cuma guyon atau nyindir? Atau nyindir sambil guyon? Kalo nyindir sambil guyon tapi gak boleh tersinggung kan kayak anak kecil yang pengen menang terus ya?

Di sisi lain, saya sendiri memang gak pernah suka sama sindir menyindir. Kalau memang ada orang lain yang gak suka sama saya, ya mending langsung bilang aja, gak usah pake sindir-sindiran.

Standar Ganda

double-standard

Seperti yang telah saya sebutkan di awal tulisan, Charlie Hebdo ini tidak jarang menggambarkan komik yang menyinggung agama. Gak cuma agama Islam, agama lain juga sering disinggung.

Tapi, pernah pada tahun 2009, Charlie Hebdo memuat komik yang menyinggung Yahudi, lalu kartunis yang membuatnya itu dipecat. Kalau mau tau lebih lanjut, silakan cari di Google: Maurice Sinet. Itu adalah nama kartunis yang dipecat.

Aneh kan, kalau Charlie Hebdo menyinggung agama islam dan agama lainnya, kartunisnya aman-aman aja. Tapi ketika menyinggung Yahudi, langsung dipecat tuh kartunisnya. Jadi menyinggung agama lain itu boleh, tapi kalau Yahudi gak boleh disinggung? Katanya pembaca komik satire itu gak boleh tersinggung…

Yah begitulah beberapa unek-unek yang ada di pikiran saya. Mohon maaf kalau ada kata-kata yang tidak enak dibaca. (Charlie Hebdo sih mana ada minta maaf, nyindir teruuuusss!)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s