Gegara dan Tetiba, geuleuh!

Gegara dan Tetiba. Dua kata yang akhir-akhir ini sering saya lihat di media sosial. Teman-teman saya mulai banyak yang memakai kedua kata itu. Entah apa motifnya; efisiensi penulisan, pengen disebut gaul, pengen disebut intelek, atau cuma ikut-ikutan saja.

Saya merasa geuleuh (jijik) kalau melihat/membaca/mendengar dua kata tersebut.

Saya pun mencari asal-usul penggunaan kedua kata tersebut melalui Google. Dari apa yang saya dapatkan, dua kata tersebut mulai muncul di Twitter. Duh, semakin geuleuh saja sama media sosial yang satu ini haha.

Kata gegara berasal dari kata gara-gara. Sama halnya dengan gegara, kata tetiba juga berasal dari kata tiba-tiba. Mungkin si pencipta gegara dan tetiba ini mau mengikuti metode reduplikasi seperti halnya pada kata lelaki (laki-laki). Tidak cuma gara-gara dan tiba-tiba saja yang menjadi ‘korban’ reduplikasi dwipurna; ada juga kekira. Mungkin maksudnya kira-kira gitu yah? Duh, apa semua kata berulang mau dibuat seperti gegara dan tetiba? Gorong-gorong jadi gegorong? Hati-hati jadi hehati? Cumi-cumi jadi cecumi? Ganteng-ganteng serigala jadi geganteng serigala? Ubur-ubur jadi…duh ubur-ubur jadi apa ya, ueubur?

Makanya saya merasa geuleuh mendengar kata-kata yang diubah secara asal-asalan seperti itu. Yah, mungkin cuma saya saja yang merasa geuleuh sama gegara dan tetiba…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s