Masa anak-anak yang semakin mengkhawatirkan…

Sore ini, saya menyalakan televisi untuk melihat pertandingan sepak bola antara Indonesia U-19 melawan Australia U-19. Sebelum melihat pertandingan itu, saya melihat sesuatu yang mengkhawatirkan, terutama untuk anak-anak.

Anak kecil sudah cinta-cintaan

Saya secara tidak sengaja melihat dan menyaksikan acara pencarian bakat menyanyi khusus anak-anak yang disiarkan di salah satu stasiun televisi swasta. Anak-anak itu memiliki suara yang bagus, saya kagum dengan mereka. Tapi yang membuat saya sedih adalah lagu yang dibawakan sebagian besar lagu dewasa yang kebanyakan bertema cinta.

Ketika saya masih anak-anak dulu, masih ada tayangan televisi yang menayangkan lagu anak-anak semacam CiLukBa. Banyak anak-anak yang suka menonton acara itu. Bahkan sepupu saya senang sekali sama Maisy, pembawa acara Ciluk Baa, sampai-sampai pengen dipanggil Maisy…kalau dipanggil pake nama aslinya malah jadi ngambek hahaha. Yah kalau sekarang sih lagu anak-anak sangat jarang sekali…sepertinya di televisi sudah tidak ada, paling hanya ada di odong-odong. Penyanyi-penyanyi cilik jaman sekarang lagunya cinta-cintaan, contohnya grup Cowboy Junior. Lihat tingkah laku personilnya, masih anak-anak tapi kelakuannya seperti orang ‘dewasa,’ udah peluk-peluk dan cium-cium lawan jenisnya. Untungnya grup itu sudah bubar.

Saya jadi ingat berbagai macam kasus anak-anak yang belum lama ini terjadi. Saya mau kasih tau ke Anda semua, tapi saya lupa link-nya…Sebagai gantinya, coba ketik ‘Anak SMP’ di google dan lihat hasilnya. Mengkhawatirkan bukan?

Kartun dilarang, sinetron cinta berkembang

Ngomong-ngomong soal anak-anak dan cinta, ada juga nih yang mengganjal di pikiran saya. Film-film kartun semakin hari semakin sedikit. Bahkan belakangan ini ada isu bahwa Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) akan melarang tayangan Spongebob dan Tom&Jerry. Padahal menurut saya, kedua kartun itu aman-aman saja untuk ditonton untuk anak-anak. Bilangnya sih karena ada kekerasan, tapi kok rasanya berlebihan ya…

Di sisi lain, tayangan-tayangan payah semacam sinetron malah dibiarkan oleh KPI. Lihat saja sinetron-sinetron yang tayang di televisi kita; adakah yang berkualitas? Alur cerita nggak jelas, akting payah dan hampir tidak ada pesan baik yang ingin ditayangkan. Apalagi sinetron Genteng Genteng Serigala, duh…itu nggak jelas banget. Cinta-cintaan dan romantisme ora jelas blass. Kalau mau bilang kekerasan, ya justru sinetron GGS itu juga ada kekerasannya; adu pukul, tendang, dsb. Tapi kenapa dibiarkan oleh KPI?

Padahal kartun Spongebob dan Tom&Jerry itu kartun kesukaan saya loh…untungnya Spongebob dan Tom&Jerry tidak jadi dilarang tayang. Semoga saja kartun kesukaan saya yang lainnya tidak dilarang tampil di masa depan (Masha&The Bear dan Curious George (Menurut saya, Curious George ini salah satu kartun yang sangat bagus untuk anak-anak. Saya yang sudah dewasa pun merasa terhibur melihatnya hahaha))

Saya juga jadi ingat tentang postingan teman saya di FB, yaitu:

‘Lagaknya anak smp sekarang beda sama tahun 80s 90s, ini gurunya mana?’ Sumber: Prawiro Sudirjo

Itulah salah satu jebolan anak-anak yang di masa kecilnya sudah tau cinta terlalu dini. Tau dari mana tuh cinta-cintaan? Mungkin salah satu penyebabnya adalah sinetron itu tadi. Yah kalau SMP saja sudah begitu, apalagi kalau sudah dewasa nanti?

Daripada main sama teman, mending main sendirian

Ketika saya masih kecil dulu, lapangan di dekat rumah saya selalu diisi oleh anak-anak ketika hari mulai sore. Saya dan teman-teman selalu bermain setiap hari; kucing-kucingan, main bola, main layangan, berpetualang naik sepeda (ini salah satu favorit saya, berfantasi ke alam lain, padahal cuma main ke komplek sebelah haha), main kelereng, dan lain-lain. Wah senang sekali deh jaman itu, ingin rasanya jadi anak kecil lagi hahaha.

Kini, lapangan di dekat rumah saya sudah tidak ramai lagi. Walaupun di lingkungan saya populasi anak kecil terbilang banyak, tapi lapangan itu selalu kosong. Ternyata, anak-anak di lingkungan saya lebih senang bermain gadget daripada bermain dengan teman sebayanya. Anak-anak jaman sekarang sudah canggih lho. Masih SD tapi udah punya Black Berry dan/atau punya tablet.

Beban sekolah semakin berat

Coba lihat kurikulum jaman sekarang. Anak kecil mau masuk Sekolah Dasar aja harus udah bisa ini itu. Padahal kan seharusnya belajar ini itu-nya di Sekolah Dasar. Kalau gitu nanti di Sekolah Dasar itu belajar apa?

Anak kecil sudah dibebani harus belajar ini itu, harus bawa buku yang berat-berat, pulang sekolah malah dikasih tugas yang banyak…duh, kapan mainnya itu anak-anak?

Yah walaupun jaman sekarang mainnya cuma sama gadget, tapi setidaknya dengan begitu anak-anak bisa menikmati masa kecilnya, dimana masa kecil itu seharusnya diisi oleh sesuatu yang menyenangkan.

Sebenarnya apa akar dari semua permasalahan diatas? Lalu bagaimana solusinya?

Saya khawatir, bila nanti saya punya anak, bagaimana caranya saya bisa melindungi anak saya dari hal-hal seperti diatas…

Advertisements

6 thoughts on “Masa anak-anak yang semakin mengkhawatirkan…

  1. Kalau bicara akar akan banyak sudut pandang. Namun pada hakikatnya, kemerosotan moral – lah kata kuncinya.

  2. Solusinya kita harus kembali pada moral dan saya tidak hanya bicara agama tapi segala sumber yang menyajikan keluruhan moral, adat istiadat, norma sosial, dll.

    • Terima kasih mas Ramadhani sudah mampir dan membaca tulisan saya. Saya sependapat dengan Anda bahwa permasalahan utamanya adalah masalah moral.

      Tapi bagaimana ya caranya agar para orangtua dan calon orangtua peduli terhadap masalah ini? Karena yang sering saya lihat, orangtua jaman sekarang (terutama pasangan muda) sepertinya tidak terlalu memperhatikan anaknya. (Mohon maaf apabila saya menggeneralisir, walaupun tidak semua orangtua seperti itu, tapi itulah yang sering saya lihat sekarang ini.)

      Menurut saya ini merupakan hal yang sangat penting; anak-anak adalah calon penerus bangsa, jika anak-anak dididik dengan baik, maka besar kemungkinan anak tersebut menjadi orang yang baik pula dan kelak bangsa ini menjadi bangsa yang bermoral.

      • Sebenarnya kita semua harus mengerti bahwa pendidikan adalah kegiatan yang dilaksanakan 24 jam setiap hari, dan pendidik yang sebenarnya tentunya orangtua.

        Persoalannya tidak semua orangtua bisa melaksanakan ini. Kita bisa saja mengatakan bahwa orangtua tidak memperhatikan anaknya karena memang tidak faham soal pendidikan, namun kadang mereka ingin memperhatikan tapi tidak punya waktu karena tuntutan hidup zaman sekarang yang sangat tinggi sehingga menuntut kuantitas kerja yang sangat banyak. Kesibukan mencari nafkah, apalagi bagi pasangan muda, kadang menghambat proses pendidikan.

        Di sinilah maka peran sekolah sebagai pengganti orangtua sangat besar. Maka sekolah nampaknya menjadi poros penting proses pendidikan kita sekarang ini.

        Namun begitu, pendidikan pra-nikah penting bagi calon orangtua. karena itulah dalam khutbah nikah dimasukkan oleh para ulama di dalamnya nasihat tentang pentingnya pendidikan. Jadi khutbah nikah adalah pendidikan bagi calon pendidik anak.

      • Ah…saya tersadarkan pada poin ‘tuntutan hidup zaman sekarang.’ Biaya sekolah semakin mahal saja, dan sekolah mahal pun belum tentu menjamin kualitas pendidikan yang diberikan akan sebanding dengan harganya (contoh kasus JIS beberapa waktu yang lalu)…Persoalan ini memang semakin rumit saja ya hahaha.

      • Begitulah. Semua sudah tumpang-tindih, Rifky. Tapi bukan berarti tidak bisa diperbaiki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s