Nostalgia naik angkot

Ceritanya, hari ini saya habis pergi dari Jakarta, terus pulang ke Bandung naik travel, turun di Dipati Ukur. Karena motor ditinggal di rumah, jadi saya harus naik angkutan umum untuk pulang ke rumah. Setelah hampir 7 tahun tidak pernah naik angkot, akhirnya saya naik angkot lagi!

Naik angkot Kalapa-Dago, turun di BIP, terus naik Antapani-Ciroyom, terus nyampe di rumah deh. Sebenarnya naik angkot jaman dulu lebih enak, jarang ngetem. Kalau sekarang sih sering banget berhenti. Maklum, berhubung sekarang banyak kredit sepeda motor murah, maka orang-orang semakin banyak yang lebih memilih naik kendaraan pribadi sebagai alat transportasi utamanya, jadinya angkot sepi penumpang deh.

Kasihan juga liat mang supir angkot, suka marah-marah sendiri gara-gara gak ada penumpang, susah kejar setoran. Akibatnya, cara bawa angkotnya pun berubah menjadi agresif menjurus kasar, serobot sini, serobot situ…

Sebenarnya, saya enjoy-enjoy aja naik angkot. Enak; tinggal duduk, tunggu (bisa tidur, liat penumpang, liat ke luar, dsb.), terus nyampe (biasanya sebagian besar rute gak bisa 1x naik angkot langsung sampai tujuan, haha) deh. Ngetem juga gak masalah buat saya, kan bisa pergi lebih pagi biar sampai tempat waktu di tujuan.

Permasalahan utama orang-orang tidak lagi memilih angkot sebagai alat transportasi mungkin ya gara-gara itu. Harus naik lebih dari satu kali. Solusinya gimana yah…Memang mengatur transportasi umum itu bukan hal yang mudah. Bahkan menurut saya sangat sulit.

Masalah lainnya adalah ngetem. Nah kalo yang ini, saya sempet mikir gimana kalau supir-supir angkot ini dibebaskan dari target setoran per hari. Dengan demikian, mang supir bisa maju terus di jalan, gak perlu khawatir gak ada penumpang, yang penting angkot nggak ngetem. Tapi muncul lagi masalah lain; siapa yang bisa menjamin setoran angkot per harinya? Pemerintah? Nanti anggarannya kesedot sama angkot…lumayan gede loh, angkot di bandung kan ratusan..

Solusi lain yang sebenarnya jauh lebih simpel dan mudah adalah semua orang harus naik angkot! Walaupun harus turun dan jalan dulu untuk naik rute angkot selanjutnya, semua orang harus mau naik angkot! Angkot penuh terus, jadi gak bakal sering ngetem. Jalanan jadi lebih lowong, karena semua orang naik angkot. Kalau gak ngetem dan gak macet, kita bisa sampai tepat waktu. Simpel kan? Kita cuma harus rela berkorban sedikit lebih banyak dari yang biasanya untuk menyelesaikan masalah yang sangat rumit.

Jadi, ayo naik angkot! (padahal mah besoknya pergi naik motor lagi)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s