Supir truk (part 2)

Pendapatan supir truk di luar negeri lumayan juga, bisa sampai beli rumah sendiri. Silakan baca artikel berikut.

Berdasarkan contoh kasus di artikel tersebut, dapat kita lihat bahwa pendapatan supir truk di US bisa mengungguli seorang electrical engineer. Untuk menjadi seorang engineer, tentunya harus kuliah terlebih dahulu di suatu perguruan tinggi dengan waktu kuliah paling cepat 4 tahun. Di US sana, biaya kuliah bisa dibilang mahal dan untuk mencukupi biaya tersebut kebanyakan siswanya berhutang terlebih dahulu. Pada saat seseorang menjadi sarjana, hutang yang dimilikinya sudah menumpuk. Sarjana tersebut akhirnya mendapatkan sebuah pekerjaan dengan gaji yang lumayan per tahunnya, namun tentunya pendapatan tersebut sebagian disisihkan untuk membayar hutangnya pada saat kuliah dulu. Belum lagi berdatangan hutang-hutang yang baru untuk membeli rumah dan kebutuhan sehari-hari. Untungnya orang ini memilih jurusan yang memiliki prospek cerah dengan gaji yang lumayan besar, bagaimana nasibnya kalau dia salah jurusan? (Pendapatan per tahun: $54,600; Hutang kuliah: $68,000 s/d $145,250 (+bunga), belum lagi hutang baru)

Berbeda dengan sebelumnya, untuk menjadi seorang supir truk dibutuhkan sebuah lisensi (Commercial Driver’s License) dan untuk mendapatkannya, yang bersangkutan harus mengikuti kursus mengemudi terlebih dahulu selama minimal 3 bulan saja. Setelah itu, orang tersebut sudah dapat bekerja sebagai supir truk di sebuah perusahaan. Satu tahun kemudian, gajinya naik dan sudah memiliki pendapatan kotor sebesar $45,000 per tahunnya. Karena dia tidak memiliki hutang (kalaupun ada, hutangnya tidak sebesar anak kuliahan di US) dia bisa berinvestasi sehingga sebagian uangnya disisihkan untuk membeli saham, dan sudah memiliki rumah baru. Setiap tahunnya pendapatan orang tersebut naik dan jika maju tiga tahun ke depan (waktu pada saat baru jadi sarjana pada kasus sebelumnya), pendapatannya sudah mencapai $60,000 per tahun. Jika dibandingkan dengan kasus sebelumnya, dalam 5 tahun, terdapat perbedaan keuntungan sebesar $200,000!

Tentunya contoh kasus tersebut memiliki batasan-batasan tertentu. Kasus tersebut hanya berlaku di US, dapet kerjaannya cepat dan kerja di perusahaan top, dan diasumsikan investasi yang dilakukan supir truk tidak mengalami kerugian yang besar per tahunnya (tidak salah dalam berinvestasi).

Kesuksesan karir seorang supir truk sangat berbeda jauh dengan karir supir truk di negeri kita sendiri. Supir truk di sini nasibnya tidak sebaik di US sana. Jelas beda sih, negara kita kan masih berkembang (entah sampai kapan berkembangnya, perasaan ga berubah-berubah jadi negara maju) sedangkan US adalah negara maju.

Supir truk di sini harus bekerja ekstra keras. Medan jalan di sini jauh lebih menantang daripada di US. (menanjak, meliuk-liuk, jalannya sempit, bolong-bolong, rusak, dll.) Muatan truk seringkali dipaksakan overload oleh perusahaan supaya hemat karena bisa ngirim banyak sekali jalan. Padahal, gara-gara overload itu jalanan jadi pada rusak dan akibatnya perjalanan menjadi lebih lama, banyak bahan bakar yang terbuang percuma sehingga terkadang supir truk harus menambah bahan bakar dengan uang sendiri. Belum lagi resiko ban bocor akibat jalan rusak, ya mau gak mau harus ganti pakai uang sendiri. Kalau perjalanannya lama, supir truk akan kelelahan di jalan sedangkan barang harus sampai dalam waktu yang singkat. Bayangin aja, tengah malem masih harus meliuk-liuk di jalanan gunung yang gelap sambil menahan kantuk demi mengejar deadline…Selain itu, pak supir juga jadinya jarang pulang, jarang ketemu dengan istri dan anak (ini yang paling kasian 😦 ). Kalaupun pulang juga uangnya udah abis buat beli bahan bakar, ditambah lagi hutang-hutang di warung makan ketika pak supir membutuhkan asupan makanan. Makanya sering ada tulisan di belakang truk: “Pulang malu, gak pulang rindu.” Walaupun terdengar lawak, tapi saya malah jadi sedih melihatnya. Pendapatan yang diperoleh tidak sebanding dengan kerja keras dan resiko yang dialami mereka selama perjalanan mengantar pesanan.

Sabar ya pak supir truk...

Sabar ya pak supir truk…

Banyak orang yang menganggap pekerjaan menjadi supir truk itu adalah pekerjaan rendahan, tapi saya tidak setuju dengan hal itu. Menurut saya, menjadi supir truk adalah pekerjaan yang luar biasa dan saya rasa tidak semua orang mau dan mampu menjadi supir truk. Saya malah sangat respect sama mereka, dan saya ingin sekali melihat mereka mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik daripada kehidupan mayoritas supir truk sekarang ini.

Untuk para supir truk di manapun Anda berada, mudah-mudahan teman-teman selalu diberikan ketabahan, kekuatan, perlindungan, pertolongan, dan dilapangkan rezekinya oleh Allah SWT., aamiin.

(Supir truk – tamat)

Advertisements

4 thoughts on “Supir truk (part 2)

  1. Betul sekali. Saya bercita – cita ingin mendirikan perusahaan jasa transportasi darat, khususnya truk. Semoga saja perusahaan itu untung dan laku, agar saya bisa memberi gaji yang lebih banyak, dan asuransi kecelakaan. Selain itu, kondisi truk bagus, dengan jam kerja tidak terlalu dipaksakan. Saya juga tidak ingin membawa kargo overload. Justru merugikan saya. Tulisan anda saya dukung. Bagus sekali, benar – benar memotivasi saya.

    • Terima kasih mas Gery sudah meluangkan waktunya untuk membaca tulisan saya.
      Saya doakan semoga cita-cita mas Gery menjadi kenyataan, aamiin!

  2. Artikelnya bikin saya untuk berniat menjadi supir truck di luar negeri tetapi saya juga tidak tahu akses untuk menuju kesana.

    • Halo agan Widji, terima kasih sudah membaca tulisan saya.

      Iya nih saya juga penasaran, apakah mungkin kita sebagai orang Indonesia bisa menjadi supir truck di luar negeri. Mudah-mudahan keinginannya tercapai ya gan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s