Tentang Satinah: Kekonyolan Negeri Kita…

Satu lagi keanehan yang saya temukan di negeri ini. Akhir-akhir ini sedang ramai kasus TKI yang divonis hukuman mati di Arab Saudi yaitu Satinah. Tadi sore, saya membaca sebuah artikel yang menyebutkan bahwa Indonesia menyetujui pembayaran uang diyat sebesar 7 juta riyal atau sebesar 21 miliar rupiah! Berdasarkan artikel tersebut, 3 juta riyal diantaranya berasal dari pemerintah. Itu artinya pemerintah mengeluarkan uang sebesar 9 miliar rupiah hanya untuk menyelamatkan seorang kriminal; seorang pembunuh! Ini belum ditambah dengan sumbangan-sumbangan dari orang lain, jadi Satinah akan mendapat banyak sumbangan setibanya di Tanah Air.

Tidak Bijak

Langkah pemerintah ini menurut saya tidak bijak. Jika pemerintah ini benar-benar terdiri dari para pemimpin yang bertujuan untuk memajukan bangsa, seharusnya uang sebanyak itu digunakan untuk meningkatkan infrastruktur beserta sarana dan prasarana masyarakat khususnya di luar Pulau Jawa.

Beberapa minggu yang lalu, banyak beredar berita di televisi nasional tentang tidak lancarnya pasokan listrik di Pulau Sumatera, khususnya di daerah Medan, Sumatera Utara. Beberapa hari yang lalu saya juga sempat membaca curhatan seseorang tentang betapa mahalnya biaya hidup di Kalimantan. Makanan saja paling murah Rp 20.000,-. Di sana juga tidak ada listrik PLN, jadi kalau mau menggunakan listrik harus pakai genset dan untuk pengoperasiannya, seorang harus membayar Rp 200.000,- per bulannya.

Lalu apa tujuan pemerintah menyelamatkan seorang pembunuh? Apakah pembunuh itu memiliki kekuatan untuk membuat Indonesia maju? Apakah pembunuh itu memiliki daya tarik yang mampu menguntungkan Indonesia? Kalau uang negara dipakai untuk menyelamatkan seorang pembunuh, buat apa orang-orang bayar pajak?

Bila uang 21 Miliar itu digunakan untuk memperbaiki masalah-masalah yang ada, bayangkan berapa banyak orang yang tertolong. Sudah hampir 70 tahun kita merdeka tetapi masih banyak yang tidak bisa menikmati nikmatnya hidup di zaman yang semakin canggih ini. Apakah Indonesia benar-benar sudah merdeka? (Kalau di pembukaan UUD sih kita baru diantar ke depan pintu kemerdekaan, hehehe…)

Berpotensi Mengulang Kasus Darsem

Kasus seperti ini bukanlah yang pertama kali terjadi di Indonesia. Beberapa tahun ke belakang, ada juga TKI yang nasibnya mirip dengan Satinah, yaitu Darsem. Pada kala itu, Darsem berhasil lolos dari hukuman mati berkat sumbangan dari para pemirsa TvOne sebesar 1,2 Miliar. Darsem berjanji untuk membagian sebagian sumbangan yang diterimanya ke keluarga Ruyati. Kalau kasus hukuman mati Ruyati tidak diekspos media, tentu Darsem akan bernasib sama dengan Ruyati.

Namun ternyata Darsem hanya memberikan 20 juta saja ke keluarga Ruyati. Sedangkan uang sisanya digunakan untuk foya-foya: beli rumah, beli sawah dan beli toko. Darsem bagaikan kacang lupa akan kulitnya. (Sumber: ini, ini, dan ini.) Melihat kasus Satinah yang mirip dengan kasus Darsem, saya khawatir Satinah akan menjadi seperti Darsem; sudah dibantu diselamatkan dari hukuman mati akibat salahnya sendiri, ditambah dengan sumbangan, eh malah lupa diri.

Standar Ganda

Ini yang paling membuat saya terheran-heran dengan orang Indonesia. Kalau ada orang yang melakukan tindak pidana baik berupa pencurian, korupsi, dan pembunuhan, lalu ternyata hukuman yang diberikan tidak setimpal, pasti banyak masyarakat yang protes. “Wah gak adil nih, masa hukumannya cuma segitu?! Katanya ini negara hukum! Hukum kita lemah! Tumpul di atas, tajam di bawah!”

Tapi semua itu berubah 180 derajat di kasus Satinah ini. Satinah itu kan hidup di negara orang, artinya dia harus menaati hukum di negara tersebut. Kalau hukuman bagi seorang pembunuh di negara itu adalah hukuman mati, ya mau gak mau hukuman itu harus dijalankan dong, kan sudah ada peraturannya. Yang membuat saya heran, reaksi masyarakat malah meminta Satinah untuk dibebaskan!

Ini kan konyol, ada standar ganda di masyarakat Indonesia. Minta hukum di negara sendiri ditegakkan seadil-adilnya, tapi gak mau menerima hukuman di negara orang lain. Munafik! Hypocrites! Ya pantes aja negara kita ini nggak maju-maju, orang-orangnya saja seperti ini.

Gambar Oleh: Rinaldi Abrakadabra.

Ke depannya pasti akan banyak kekonyolan-kekonyolan yang muncul di negeri ini. Apalagi sebentar lagi pemilu akan segera dimulai. Saya pun masih bingung mau milih siapa. Calegnya cuma modal baliho di pinggir jalan. Visi misinya apa, punya program apa ke depannya, mau ngapain nanti ke depannya, semua itu gak pernah disampaikan ke publik. Ya gimana mau milih, calonnya tidak meyakinkan. Sekian dulu, nanti kalau ada yang konyol-konyol akan saya jadikan tulisan 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s