Jokowi, Inikah Saat Yang Tepat?

Akhir-akhir ini, ramai sekali perbincangan tentang pencapresan Jokowi. Isu-isu awal tahun 2014 yang menyatakan bahwa Jokowi akan maju menjadi capres saya anggap hanya sebuah lelucon belaka. Ditambah lagi dengan beredarnya ‘survey’ yang juga saya anggap lelucon karena saya pikir survey tersebut tidak valid selama survey tersebut tidak menjelaskan bagaimana metode sampling-nya.

Namun itu semua ternyata telah berubah menjadi kenyataan. Jokowi benar-benar maju menjadi calon presiden Republik Indonesia. Saya pun kaget. Begitu juga dengan orang-orang di sekitar saya, mulai dari orang tua, saudara, sampai tetangga dan teman-teman saya. Tetapi kekagetan itu ternyata berbeda-beda. Ada yang kaget karena senang, ada yang kaget karena tidak percaya Jokowi akan meninggalkan jabatannya begitu saja.

Sayangnya, orang yang senang karena Jokowi menjadi calon presiden ternyata banyak juga. Mereka begitu yakin dengan kepemimpinan Jokowi dan dengan yakinnya pula akan memilih beliau pada saat pemilu nanti.

Tidak Menepati Janjinya

Pada bulan Oktober 2012, Joko Widodo (Jokowi) bersama Basuki Tjahja Purnama (Ahok) resmi dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Mereka bersumpah untuk menangani Jakarta dalam waktu 5 tahun. Seperti yang kita ketahui, sebelum seseorang dilantik menjadi pemimpin daerah, tentunya mereka harus berkampanye terlebih dahulu, memberitahukan kepada khalayak siapakah mereka, bagaimana visi dan misi mereka, dan program-program apa saja yang akan mereka lakukan di waktu yang akan datang. Untuk memenangkan jabatan tersebut, para calon pemimpin itu harus memenangkan hati rakyatnya terlebih dahulu, dan hal itu biasanya dilakukan dengan menebar berbagai janji.

Dengan majunya Jokowi menjadi calon presiden di tahun 2014 ini, berarti Jokowi telah melanggar sumpahnya ketika beliau diambil sumpah jabatannya di tahun 2012 lalu. Dengan begitu pula, Jokowi telah mengingkari janji-janji yang telah diucapkannya ketika kampanye dulu.

Ternyata bukan kali ini saja Jokowi menanggalkan jabatannya. Ketika Jokowi dilantik menjadi gubernur DKI, ternyata Jokowi pun tidak menyelesaikan tugasnya menjadi Wali Kota Solo. Dari kedua kenyataan tersebut, dapat saya simpulkan bahwa Jokowi merupakan seseorang yang tidak amanah. Jokowi tidak bertanggung jawab atas kepercayaan yang telah diberikan kepada rakyat Jakarta.

Dengan banyaknya orang yang senang dan yakin akan memilih Jokowi di pemilu nanti, saya jadi heran terhadap cara berpikir dari orang-orang tersebut. Apakah mereka benar-benar akan memilih orang yang tidak amanah? Apakah mereka tidak berpikir, bahwa dengan melihat kedua kenyataan tersebut, terhadap adanya hal-hal buruk yang akan menimpa bangsa kita tercinta jika pemimpinnya merupakan seseorang yang tidak amanah?

Katanya, rakyat Indonesia benci dengan korupsi. Ketika rakyat mempercayakan bangsanya terhadap para pemimpin, maka pemimpin tersebut haruslah bertanggung jawab terhadap rakyatnya. Anggaran negara yang seharusnya dipakai untuk membenahi kondisi negara, malah masuk ke saku sendiri. Berarti koruptor itu tidak amanah kan? Dengan begitu, Jokowi bisa saja dianggap sejajar dengan koruptor.

Belum Terbukti

Banyak rakyat Jakarta yang menilai kinerja gubernur mereka periode ini lebih terlihat daripada kinerja gubernur di periode yang lalu. Saya sendiri pun melihat, walau bukan rakyat Jakarta, langkah-langkah apa saja yang sudah dilakukan Jokowi ketika memimpin Jakarta. Normalisasi waduk, penataan pasar, hiburan warga, dan lain-lain.

Langkah-langkah tersebut memang bagus. Tetapi kita juga harus melihat keputsan-keputusannya yang lain. Bagaimana jika keputusan yang lain itu ternyata malah membuat Jakarta semakin tidak terkendali? Keputusan-keputusan itu tentunya tidak dapat kita nilai karena kepemimpinan Jokowi baru berjalan satu tahun sehingga kita harus menunggu beberapa tahun ke depan.

Analogikan dengan pemain bola, Bojan Krkic. Ketika dia bermain di Barcelona, banyak orang yang menganggap bahwa dia adalah pemain muda dengan prospek yang sangat cerah. Di usianya yang masih muda kala itu, dia mampu meyakinkan para pendukungnya bahwa dia merupakan pemain berbakat. Namun semua itu berubah seiring dengan berjalannya waktu. Ketika Barcelona berganti pelatih, Bojan tidak dapat meyakinkan pelatih barunya untuk memainkannya, sampai-sampai dia harus meninggalkan Barcelona. Ternyata setelah dia pindah, dia tetap tidak dapat meyakinkan pelatihnya untuk memainkannya secara reguler. Lalu dia pindah lagi dan hasilnya pun tetap sama, dia tidak mendapat tempat di klub barunya.

Intinya adalah kita membutuhkan waktu untuk menilai kapasitas dan kemampuan seseorang. Kapasitas dan kemampuan tersebut tidak dapat dinilai kalau waktu yang ditempuh hanya sebentar. Begitu juga dengan Jokowi yang baru satu tahun memimpin Jakarta, saya masih belum yakin dengan kapasitas dan kemampuannya.

Respon Orang-orang

Ini yang paling saya khawatirkan. Banyak orang yang yakin akan memilih Jokowi di pemilu nanti, seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya. Mengapa mereka dengan mudahnya memantapkan hati akan memilih seseorang yang belum terbukti kapasitas dan kemampuannya, ditambah lagi orang tersebut merupakan orang yang tidak amanah?

Saya menemukan sebuah pendapat dari seseorang: “Biarlah Jokowi maju sebagai presiden, kan nanti kalau Jokowi jadi presiden secara tidak langsung memimpin Jakarta juga dong.”

Memang, pendapat tersebut ada benarnya. Namun tentu saja kondisinya akan berbeda. Gubernur DKI bertanggung jawab terhadap wilayahnya yaitu DKI Jakarta, sedangkan seorang pemimpin negara harus memperhatikan semua rakyatnya yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, bukan hanya Jakarta, bukan hanya Pulau Jawa!

Kondisi rakyat Indonesia di luar Pulau Jawa sedang sensitif. Muncul banyak opini untuk memerdekakan diri, hal ini seharusnya menjadi perhatian untuk pemimpin Indonesia selanjutnya, bagaimana caranya agar bangsa ini tetap utuh, tidak terpecah-pecah. Jangan sampai kejadian seperti Timor-Timur terulang kembali.

Lalu, Pilih Siapa?

Jika kita lihat calon-calon pemimpin yang sudah mendeklarasikan diri beberapa waktu yang lalu, saya juga bingung harus memilih siapa. Bahkan ada capres yang belum menentukan pasangannya. Sebaiknya gunakan waktu yang ada untuk menelusuri latar belakang para calon presiden dan calon wakil presiden supaya kita tidak salah pilih di pemilu nanti. Ingat, nasib negara ini bergantung terhadap pemimpinnya, dan yang menentukan pemimpinnya adalah rakyatnya itu sendiri!

Kesimpulan

Poin yang ingin saya sampaikan adalah:

  1. Menurut saya, belum saatnya Jokowi maju menjadi pemimpin negara. Sebaiknya selesaikan dulu tugas dan tanggung jawabnya yaitu memimpin Jakarta sampai 2017. Jika di akhir periode kepengurusannya ternyata kondisi Jakarta membaik, maka dapat kita nilai bahwa Jokowi merupakan seorang pemimpin yang sudah teruji kemampuannya.
  2. Cara berpikir masyarakat yang memprihatinkan, tidak dapat berpikir kritis, langsung mempercayai apa yang mereka lihat dengan sekilas saja. Hal ini menjadi pertanyaan, cocokkah negara ini menganut sistem demokrasi kalau cara berpikir rakyatnya saja seperti ini?

Penutup

Semua hal yang telah saya sebutkan diatas hanya sebatas opini saja. Saya mohon maaf apabila ada pihak-pihak yang tersinggung akibat kesalahan dan/atau pemakaian kata yang kurang cocok. Semoga Indonesia semakin berkembang menjadi negara yang lebih maju lagi. Oh iya, ada artikel yang bagus nih.

Advertisements

One thought on “Jokowi, Inikah Saat Yang Tepat?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s