Review 20.000 km: Yamaha X-Ride 2016

Baca juga: Review 10.000 km: Yamaha X-Ride 2016


Tidak terasa si exo (X-Ride Orange) sudah 2 tahun menemani saya. Tidak terasa pula odometernya sudah menunjukkan angka 20.000; artinya saya dan exo sudah berkeliling sepanjang 20.000 kilometer. Tidak lupa saya langsung servis exo di bengkel resmi Yamaha. Banyak juga komponen yang harus diganti. V-Belt, mangkok, rumah mangkok, pulley, oli mesin, oli gardan dan oli fork. Biaya total yang saya habiskan pada servis 20.000 km ini adalah 766.500 rupiah. Saya kaget melihatnya! Tapi saya pikir wajar sih karena exo sudah berjalan sebanyak 20.000 km. Dalam rangka menempuh milestone ini akan saya bahas beberapa hal yang saya alami:

20.000 km!

Sering bunyi berdecit di CVT

Sepertinya ini merupakan penyakit khas CVT skutik Yamaha. Continue Reading

Advertisements

Lamaran: Awal langkah perjalanan menuju pernikahan

Kali ini saya akan berbagi pengalaman saya tentang lamaran. Alhamdulillah saya mendapatkan pasangan yang berdomisili dan berasal dari tempat yang sama dengan saya, Bandung. Jadi pengalaman yang saya bagikan sepenuhnya terjadi di Bandung, mudah-mudahan membantu ya ๐Ÿ™‚

Mempersiapkan lamaran

Ada beberapa hal yang harus dipersiapkan sebelum prosesi lamaran. Yang pertama, tentunya harus cari pasangan dulu dong ๐Ÿ˜‰ carilah pasangan yang sesuai dengan kriteria yang cocok dengan keinginan kita. Ingat, pasangan yang kita pilih akan hidup bersama seumur hidup kita. Selektiflah dalam memilih pasangan, tentukan kriteria apa yang dapat ditolerir dan kriteria apa yang tidak bisa dikompromi. Jangan sampai salah memilih pasangan, karena pernikahan bukanlah hal yang bisa diakhiri begitu saja.

Yang kedua, mulailah berbicara dengan orangtua pasangan. Utarakan niat serius untuk melamar pasangan, lalu bicarakan tanggal lamarannya, setelah itu diskusikan tanggalnya dengan orangtua kita. Setelah tanggalnya cocok, barulah kita persiapkan hal-hal yang perlu disiapkan.

Beberapa hal yang perlu disiapkan diantaranya adalah:

  • Seserahan
  • Cincin
  • Seragam
  • Tempat lamaran
  • Catering
  • MC
  • Dekorasi

Seserahan

Seserahan adalah sesuatu yang diberikan kepada wanita yang dilamar sebagai harga yang harus ditebus untuk meminang wanita tersebut. Perlu diperhatikan, seserahan yang akan diberikan pada lamaran biasanya berbeda dengan seserahan yang akan diberikan pada pernikahan. Dan yang paling penting, seserahan ini sepenuhnya tergantung kepada wanita yang akan dilamar. Jadi, seserahan setiap orang pasti berbeda-beda, tapi secara umum kategorinya sama hehehe. Oh iya, biasanya pihak wanita juga memberikan angsul-angsul, yaitu seserahan yang diberikan kepada pihak pria, sebagai bentuk rasa terima kasih. Biasanya jumlahnya lebih sedikit daripada seserahan sih, hehe.

Seserahan yang saya berikan pada prosesi lamaran diantaranya adalah: bunga, kue tampah, kue tart, awug, parcel buah, wajik ketan, rengginang dan hal yang berkaitan dengan adat, dalam hal ini adat Sunda yaitu kain stagen dan daun sirih. Sedangkan angsul-angsul yang saya terima adalah lapis legit, ayam kodok dan parcel buah.

Bunga

Bunga yang saya pesan adalah hand bouquet, berisi bunga mawar putih yang diberi warna biru dan kertas khusus sebagai pegangannya. Saya pesan di Flower Shop, di Jalan Trunojoyo. Pemesanan dilakukan dalam 3 hari, dengan biaya 275 ribu.

Bunga dan cincin untuk seserahan.

Kue Tampah

Kue Tampah adalah kue yang terdiri dari beberapa kue basah, dikumpulkan dalam satu wadah besar yaituย nyiru. Kue Tampah ini saya pesan di Zulfa di Komplek Bougenville, Antapani. Satu kue nampah besar harganya 200 ribu.

Kue tampah.

Kue Tart

Kue Tart yang saya pesan adalah Mille Crepes dari First Love Patisserie, di Paris Van Java. Kue ini beda dengan cake lainnya, karena pada dasarnya Mille Crepes ini terdiri dari crepes yang ditumpuk berlapis-lapis dengan krim diantara crepesnya. Ini kue enaaak banget, nggak eneg dan rasanya ringan. Kue ini harganya 300 ribu, dan bisa pesan secara online.

Saya pesan whole cake tapi kalo dipotong kira-kira seperti ini lah bentuknya, hahaha

Awug

Awug adalah kue tradisional yang terbuat dari campuran tepung beras, kelapa, gula merah dan daun pandan. Awug paling enak di Bandung adalah Awug Cibeunying, terletak di Jalan Cicadas. Di Awug Cibeunying kita bisa beli untuk berbagai ukuran, mulai dari kotak kecil seharga 10 ribu sampai awug ukuran besar seharga 300 ribu. Saya pesan Awug ukuran besar, dan untuk pesan Awug besar perlu waktu satu hari.

Kurang lebih seperti ini lah bentuk Awug tuh.

Parcel buah

Parcel buah saya beli di rumah buah (dulu namanya total buah segar), di jalan Trunojoyo. Parcel buah harganya 200 ribu. Isi buahnya bisa macam-macam, tergantung selera.

Parcel buah.

Wajik ketan

Katanya supaya hubungan pasangan tetap lengket, maka pada saat prosesi lamaran harus bawa yang lengket-lengket, makanya saya bawakan wajik ketan. Bisa aja sih bawa lem tikus, tapi kan kalo dimakan nanti masuk IGD hahaha. Wajik ketan saya beli dari temannya calon mertua, hehehe..Tadinya mau beli di Toko Kue Ny Liem, tapi berhubung waktu itu mepet lebaran, jadinya toko Ny Liem belum buka. Untung aja ada temannya camer yang bisa bikinin wajik ketan. Rasanya enak, hahaha. Harganya…lupa :p

Wajik ketan.

Rengginang

Rengginang saya beli di Ciparay, kampung ibu saya. Ini rengginang special, biasanya cuma ada pada saat dekat lebaran. Harganya 200 ribu untuk satu toples besar. FYI ini request khusus tunangan dan camer saya hehehe.

Rengginang

Kain stagen dan daun sirih

Ini merupakan salah dua dari barang yang diperlukan pada saat lamaran adat sunda. Kain stagen ini sama dengan kain yang dipakai oleh ibu-ibu di kampung setelah melahirkan. Kain ini saya dapatkan di pasar baru, seharga 50 ribu. Supaya kainnya agak artsy, saya hias di Grow, Jalan Pagergunung,ย Bandung. Sedangkan daun sirih saya dapatkan di pasar tradisional..tapi saya lupa harganya berapa, murah kok pokoknya ;).

Kain stagen


Nah, itu semua adalah seserahan yang saya serahkan ke tunangan saya. Saya juga dapat angsul-angsul lho, yaitu lapis legit, ayam kodok dan parcel buah.

Lapis legit

Lapis legit yang saya terima dibeli di toko Ny Liem, Jalan Naripan. Sekotak harganya 700 ribu, bisa tahan 1 bulan kalau disimpan di freezer. Rasanya enak banget deh, hmmmm..

Gambar aslinya bukan begini ya, ini sih sekedar ilustrasi aja hahaha.

Ayam kodok

Ayam kodok ini pada dasarnya adalah daging ayam yang dihaluskan kemudian dibentuk sedemikian rupa menjadi seperti kodok. Entahlah saya juga nggak paham sebenernya gimana cara bikinnya, tapi memang lucu sih ayam kodok itu. Ayam kodok ini dibeli di teman camer juga, hehe.

Ayam kodok.


***


Cincin dan terrarium

Seserahan sudah, sekarang saatnya ngomongin cincin. Untuk cincin saya dan tunangan sepakat membeli cincin yang berbeda untuk lamaran dan nikahan karena pada saat itu waktunya mepet sekali untuk membuat cincin. Jadinya kami beli cincin perak di D’Paris. Sepasang harganya 550 ribu saja.

Sedangkan untuk kotaknya, kami pesan di Kuchiwalang. Tempatnya di Arcamanik, Bandung. Tema yang diusung adalah rustic, dan modelnya bisa macam-macam. Silakan googling saja Kuchiwalang. Harganya 400 ribu dengan pemesanan memakan waktu minimal 2 minggu.

Bagus kaan?

Seragam

Baju saya dan tunangan dibelikan oleh camer di Solo, sambil jalan-jalan katanya hehe. Untuk keluarga, kainnya beli di batik Trusmi, Cirebon.

Seragam, hehe.

Tempat lamaran, catering, MC dan dekorasi

Saya melamar tunangan saya di kediaman tunangan saya. Cateringnya kami pakai Alifa, yang merupakan catering langganan keluarga tunangan saya. MC kami merangkap sebagai pembaca doa sehingga kami pilih dari masjid sekitar kediaman tunangan saya. MC ini juga sudah kenal dengan keluarga, jadi cocok banget lah hehe. Dekorasi…kami tidak melakukan dekorasi khusus, hanya pesan kursi dan beberapa bunga segar, supaya suasananya berbeda.

Suasana rumah.


Sekian cerita saya. Insya Allah akan saya tuliskan cerita-cerita berikutnya. Mudah-mudahan bermanfaat.

PS: semua gambar makanan saya ambil dari Internet, soalnya saya lupa foto hehe. Kalo suasana rumah, cincin dan foto keluarga itu original yaa ๐Ÿ˜€

Indonesia: terlalu banyak berdoa, kurang banyak usaha

(Ini cuma pemikiran saya aja, mungkin benar dan mungkin salah)

Akhir-akhir ini saya menemukan sesuatu yang mungkin hanya ada di Indonesia, tidak terjadi di negara lain. Sebuah mindset yang, menurut saya, menahan perkembangan Indonesia dan masyarakatnya.

Indonesia itu terlalu banyak berdoa dan kurang banyak berusaha.

Kenapa begitu?

Salah prioritas

Ada karyawan, sedang mengerjakan pekerjaan yang penting dan mendesak. Tiba-tiba dia berhenti sejenak, menunaikan sholat dhuha. “Biar rejeki saya lancar,” katanya. Padahal sholat dhuha itu kan sunnah, bukan wajib. Sedangkan sebagai seorang karyawan, kewajiban dia adalah mengerjakan tugasnya, karena dia sudah dibayar oleh perusahaan untuk mengerjakan tugas yang diberikan perusahaan.

Kalau semua karyawan melakukan kewajibannya dengan baik dan benar, maka performa perusahaan akan meningkat dan keuntungan perusahaan akan meningkat pula. Perusahaan untung, kesejahteraan karyawan meningkat, gaji karyawan juga meningkat. Bandingkan kalau semua karyawan sering sholat dhuha, tapi performa kerja tidak maksimal. Target perusahaan tidak terpenuhi, keuntungan perusahaan tidak maksimal pula. Kesejahteraan karyawan tidak banyak meningkat, gaji karyawan juga tidak meningkat.

Kalau kita ingin merubah keadaan, maka berusahalah semaksimal mungkin, lalu berdoa. Jangan dibalik. Kalau doanya maksimal tapi usahanya tidak maksimal, besar kemungkinan keadaan tidak akan berubah. Sayangnya, orang Indonesia itu lebih mementingkan doa daripada usahanya.

Mudah bersyukur

Ketika kita sudah berusaha dan hasilnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan, seringkali orang Indonesia itu bilang begini: “Yah nggak apa-apa lah cuma segini juga. Disyukuri aja. Daripada nggak dapet sama sekali.”

Saya sebenernya heran dengan mindset seperti itu. Kalau kita gagal lalu dikasih tau untuk “syukuri saja,” bukankah kita malah terlena untuk berhenti di sini saja? Tidak mau lagi berjuang untuk mendapatkan yang lebih baik? “Ah, segini aja udah cukup lah.” Bukankah lebih baik kalau kita evaluasi hal apa saja yang membuat kita gagal, lalu buat rencana ke depan dan berusaha lebih keras lagi untuk mencapai keinginan kita?

Akhirat adalah tujuan utama

Ini juga membuat saya bingung. Seringkali urusan di dunia dilupakan, tapi urusan akhirat diutamakan.

Nggak apa-apa deh saya miskin, yang penting saya rajin sholat dan mengaji.

Nggak apa-apa lah usaha saya segini aja. Usaha segini aja saya udah bisa hidup kok. Kan yang penting nanti masuk surga.

Kalau mentalnya begitu, ya wajar Indonesia nggak maju dan berkembang. Urusan di dunia diabaikan. Nggak mau berusaha lebih keras.

Padahal, kalau semua orang berusaha keras dan bersungguh-sungguh diimbangi dengan ibadah, maka dunia dan akhirat akan didapatkan sekaligus.


Intinya, yang ingin saya sampaikan adalah kalau mau berubah menjadi lebih baik, berusahalah semaksimal mungkin. Setelah itu baru serahkan kepada Tuhan dengan berdoa. Bukan sebaliknya. Selama masyarakat Indonesia tidak berusaha dengan maksimal, maka saya yakin, negara ini akan sulit berkembang dan sulit bersaing dengan negara lain.

Mengendarai Salah Satu Legend: Mitsubishi L-300!

13 Mei 2018


Hari ini saya termasuk orang yang beruntung, mencoba mengendarai salah satu legenda hidup dalam dunia otomotif roda empat: Mitsubishi L-300! Walaupun ini mobil lawas, kolot, jadul, kotak, tapi ini salah satu mobil yang dari saya kecil ingin sekali saya kendarai. Alasannya sederhana: Tuas pindah giginya itu lho…ikonik banget!

Mitsubishi L-300 yang saya kendarai merupakan mobil jenis bak terbuka (pick up) keluaran tahun 1997, berwarna hitam. Sudah 21 tahun mobil ini beroperasi. Mobil ini saya pinjam dari teman saya untuk mengangkut berbagai barang dari salah satu supermarket bangunan di bandung. Saya tidak mungkin membawa mobil biasa untuk mengangkut barang2 tersebut, karena berat total barangnya mencapai hampir 1 ton.

Interior

Interior L-300.

Saya buka pintu mobil ini…ah, saya lupa. Ini kan mobil lawas, tidak ada yang namanya central lock. Saya colok lalu putar kuncinya, lalu buka deh. Interior mobil ini…ya seadanya saja. Apa sih yang diharapkan dari mobil Pick Up keluaran tahun 1997? Jok sobek-sobek, Continue Reading

Review: Kawasaki W175

Sabtu, 20 Januari 2018


Hari ini saya berkunjung ke dealer Kawasaki (PT Citrakarya Pranata) di Jl. Soekarno Hatta, Bandung untuk test ride satu unit motor Kawasaki W175. Sebenarnya untuk test ride motor ini bisa datang kapan saja selama dealer ini buka, namun untuk weekend harus janjian terlebih dahulu dengan sales-nya. Langsung saja saya coba motor Kawasaki W175.

Unit Test Ride Kawasaki W175.

Build Quality: Mantap!

Unit test ride yang diberikan oleh sales adalah Kawasaki W175 SE berwarna hitam. Unit SE ini tidak berbeda jauh dengan unit yang biasa. Perbedaannya hanya ada pada aksen jok, pelindung karet di tangki dan pemberian finishing krom di engine.

Saya lihat build quality W175 Continue Reading

Review 10.000 km Yamaha X-Ride 2016

Baca juga: Review: Touring menggunakan Yamaha X-Ride 2016

Bulan Desember tahun 2017 kemarin, si Exo alias Yamaha X-Ride saya sudah menempuh 10.000 kilometer lebih dan di waktu yang sama sudah berumur 1 tahun lebih sedikit. Langsung saja si Exo saya bawa ke bengkel untuk servis rutin. Bengkel yang saya kunjungi adalah bengkel Yonk Jaya yang berlokasi di Jl. Cicadas Kota Bandung.

10.000 km!

Bearing (laher) roda depan minta ganti

Sebenarnya ini sudah saya rasakan di kilometer 9.000-an. Terasa roda depan tidak mantap, sedikit goyah dan ada bunyi khas bearing oblak. Saya pun meminta ganti ke bengkel tapi sayangnya, bengkel tidak memiliki stok laher untuk si Exo. Saya sebenarnya agak heran…masa sih bengkel resmi tidak memiliki stok bearing roda depan? Motor saya ini kan bukan motor yang langka, banyak kok pemakainya. Ya sudah deh nanti saja gantinya (mungkin juga saya sudahi saja servis di bengkel ini, mau coba bengkel lain saja).

Bunyi berdecit di CVT

Bunyi berdecit khas motor matic mulai saya dengar pada saat odometer sudah menyentuh angka 10.000. Bunyi ini sangat jelas terdengar jika mesin motor masih dalam keadaan dingin. Setiap saya berangkat kerja jam 6.15 pagi, motor saya hidupkan lalu saya jalan, dan terdengarlah bunyi “cit,cit,cit” di area CVT. Jika mesin sudah panas atau sudah menempuh jarak yang agak jauh, bunyi berdecit ini berkurang.

Saya tidak tau pasti penyebab bunyi berdecit di CVT ini. Mungkin karena si Exo ini pernah terendam saat menerobos sungai atau gara-gara saya sering betot gas secara extreme, hahaha. Akhirnya saya serahkan ke mamang mekanik untuk menyelesaikan permasalahan ini. Mekaniknya malah menawarkan untuk servis CVT saja sekalian, ya sudah saya setujui saja, toh sudah menyentuh 10.000 kilometer ini, tidak ada salahnya. Setelah dibongkar cover CVT-nya, ternyata filter udara si Exo sudah kotor sekali..ya sudah saya minta ganti saja.

Herannya, setelah diservis CVT bunyi berdecit ini malah makin jelas terdengar. Entah mekaniknya nggak becus atau memang ada part yang harus diganti, saya tidak tahu. Akan saya coba periksa lagi di servis berikutnya di bengkel yang berbeda.

Tidak banyak penggantian komponen

Selama perjalanan saya dari meminang si Exo sampai sekarang, tidak banyak penggantian komponen yang saya lakukan. Komponen-komponen yang pernah saya ganti diantaranya adalah kampas rem depan, stop lamp, filter udara dan bearing (laher) yang seharusnya sudah diganti di servis 10.000 kilometer ini jika bengkel yang saya kunjungi memiliki stok bearing yang saya butuhkan. Komponen lain yang saya ganti adalah ban dalam yang bocor melulu. Entah karena medannya banyak paku tersembunyi, atau karena bobot pengendara yang semakin gendut ๐Ÿ˜› , atau karena saya memakainya extreme, atau memang bannya payah. Yang jelas untuk komponen ban, saya berencana untuk menghabiskan ban standar ini lalu menggantinya dengan ban tubeless, supaya tidak mudah bocor. Sempat mau langsung diganti ban tubeless, tapi sayang, ban standar ini umurnya masih panjang..jadi saya manfaatkan dulu sampai habis deh.

Si Exo. (EX-ride Orange)

Performa mantap

Saya merasa performa si Exo lebih mantap setelah menempuh 10.000 kilometer bila dibandingkan dengan pada saat si Exo masih dalam kondisi baru. Saya pikir memang wajar sih, karena komponen-komponen mesin sudah membentuk groove tersendiri, sehingga gerakan mesin lebih luwes dan lebih ringan. Tidak ada penurunan performa yang saya rasakan. Tidak ada getaran setang yang mengganggu, saya pakai nyaman-nyaman saja. Velg pun masih OK. Padahal saya termasuk yang extreme memakai si Exo ini. Sering terabas jalan berlubang dan jalan yang nggak rapih dengan kecepatan agak tinggi, hehehe. Disuruh Ride Extreme sih di sticker bodinya X-Ride, ya sudah saya pakai secara Extreme juga ๐Ÿ˜€ Padahal velg matic Yamaha kan terkenal mudah peyang, tapi alhamdulillah velg si Exo baik-baik saja.


Baca juga: Review: Touring menggunakan Yamaha X-Ride 2016
Super short review: 2016 KTM Duke 250
Review: Kawasaki W175
Review: 2016 Yamaha X-Ride

Bubur Ayam Gibbas: Bubur Enak di Bandung!

Tidak jarang bubur ayam menemani saya ketika pagi atau malam hari. Saat perut sedang lapar dan saya ingin menyantap makanan yang hangat, lembut dan gurih, saya pasti beli bubur ayam. Pun ketika kondisi badan sedang tidak enak karena sakit, bubur ayam juga menjadi menu andalan saya.

Mencari bubur ayam yang enak di bandung, memang gampang-gampang susah. Ada bubur yang kental, ada bubur yang encer. Ada bubur yang manis, ada bubur yang asin. Ada yang ayamnya banyak, ada yang ayamnya pelit. Ada yang cakuenya banyak, ada yang cakuenya sedikit. Ada yang enak tapi porsinya pelit, ada yang porsinya banyak tapi gak enak.

Setelah sekian lamanya saya berburu bubur ayam, hanya ada dua bubur ayam yang saya rekomendasikan: Bubur ayam depan Telkom Jl. Lembong (nanti akan saya tulis) dan bubur gibbas.

Kali ini, saya akan membahas Bubur Gibbas. Bubur ayam ini terletak di Jl. Kebonjati, dekat Kelenteng – tenang, menu ini halal kok. Bukanya mulai jam 17.00 sampai tengah malam. Tempatnya selalu ramai dikunjungi orang, mulai dari kawula muda sampai kakek-kakek dan nenek-nenek. Ketika pertama kali saya pesan, saya langsung kaget melihat satu mangkok bubur ayam gibbas ini.

Satu porsi bubur ayam biasa. Hampir tumpah!

Ayam dan Cakuenya BANYAK sekali! Potongannya pun besar-besar. Ini yang saya sangat suka.

Begitu juga dengan rasa buburnya. Tekstur buburnya encer, cocok dipadukan dengan potongan ayam dan cakue yang besar sehingga membuat mulut saya tidak kewalahan dalam mengunyah bubur ayam ini. Tanpa ayam dan cakue pun sebenarnya bubur ini sudah gurih kok. Belum lagi jika ditambah sedikit kecap, merica dan bawang goreng. Jangan lupa pakai emping, supaya menambah rasa kriuk di mulut. Hmmm….sedapnyaaa! Bagi anda yang suka telor, ada juga menu spesial bubur ayam lengkap dengan ati ampela dan telor muda. Berhubung saya tidak suka keduanya, saya selalu memesan bubur ayam biasa saja, hehehe.

Bagaimana dengan harganya? Seporsi bubur ayam biasa harganya 13ribu rupiah. Khawatir tidak habis? Tenang, buburnya bisa dipesan setengah porsi kok, hanya beda 2000 rupiah saja. Pertama kali saya pesan ini pun, saya kewalahan untuk menghabiskan seporsi bubur gibbas ini, hahaha.


Bubur Ayam Gibbas

Buka: Senin-Jumat jam 17.00 s/d tengah malam (weekend tutup)

Lokasi: Jl. Kebonjati (dekat Kelenteng), cabang: Jl. Terusan Jakarta, Antapani (pagi buka jam 05.00 s/d 11.00)

Perbaikan Sepatu di Bandung

Sabtu, 7 Oktober 2017


Hari ini saya berniat untuk memperbaiki dua pasang sepatu saya yang sering saya gunakan untuk acara resmi. Satu pasang berwarna coklat dan satu pasang berwarna hitam. Keduanya memiliki masalah yang sama: mangap, alias sol sepatu yang mulai lepas dari sepatu.

Saya bingung, mencari tukang sol sepatu yang dekat rumah, di mana ya? Tapi saya pun teringat tentang kios-kios kecil tukang sepatu di Jl. Malabar, daerah Kosambi yang dekat dengan palang pintu rel kereta api. Di sana banyak tukang sepatu, mulai dari sepatu boots, pantofel, sepak bola, dan lain-lain. Tapi saya tidak ingat, ada tukang sol sepatu nggak ya? Saya pun bergegas ke sana.

Ternyata sepanjang Jl. Malabar, banyak tukang sol sepatu. Saya pun berhenti di salah satu kios tukang sol sepatu. Saya lihat tukang sepatunya sudah tua, memakai kaos merah, celana hitam dilengkapi dengan topi koboi.

“Pak, bisa benerin sepatu saya? Mangap nih.”

“Mau dilem atau dijahit? Mending dijahit aja, kalo dilem mah nanti lepas lagi lepas lagi.”

“Ya udah dijahit aja pak.”

Tukang sepatu pun mengambil sepatu saya dan mulai mengerjakan perbaikan. Pertama sepatu saya dilem terlebih dahulu. Kemudian pak tua membuat alur jahitan di sekeliling sol sepatu saya dengan cara mengupas sedikit sol sepatu saya. Setelah itu pak tua menancapkan jarum besar dari sol sepatu, menembus bagian dalam sepatu. Entah kenapa saya malah membayangkan kaki saya tertembus jarum itu, hahaha. Ada dua benang yang pak tua siapkan: benang hitam dan benang coklat. Benang hitam digunakan untuk bagian sol sepatu, sedangkan benang coklat untuk bagian dalam sepatu.

Pak tua sedang memperbaiki sepatu saya.

Dengan cekatan pak tua membuat simpul jahit. Terlihat sederhana, tapi sukses membuat saya terkagum. Sesekali pak tua mengoleskan lem ke sol sepatu. Mungkin lem yang diberikan sebelumnya dirasa kurang. Saya pun menunggu sekitar satu jam lamanya untuk dua pasang sepatu.

“Sepatunya udah nih, a.”

“Jadinya berapa pak?”

“60 ribu.”

Saya berikan 60 ribu rupiah. Ternyata jasa untuk menjahit sepatu adalah 30 ribu rupiah per pasang.

Hari itu terasa sangat panas. Saya bergegas pulang ke rumah, karena tidak kuat menahan panasnya kota Bandung di siang hari.

—***—

Pengalaman Skin Prick di Rumah Sakit Santosa Bandung

Sabtu, 23 September 2017


Akhir-akhir ini, hidung saya mengalami banyak masalah. Mulai dari hidung gatal, mampet sebelah kiri, mampet sebelah kanan, mampet dua-duanya, meler, bersin-bersin dan ingus yang terus menerus mengucur. Paling parah adalah hilangnya kemampuan hidung saya untuk mencium bau-bauan. Mungkin terlihat sepele, tapi jujur, ini sangat mengganggu saya, terutama dalam hal pekerjaan.

Saya sudah mengalami hal-hal tersebut mulai dari jaman saya kuliah. Waktu itu, gejalanya hanya bersin-bersin dan ingus yang terakumulasi ketika saya bangun pagi. Namun lama-lama semakin parah. Akhirnya 3 tahun yang lalu, saya periksakan ke dokter THT dan ternyata saya mengidap penyakit Rhinitis, atau nama lainnya adalah Hay Fever.

Rhinitis adalah Continue Reading

Touring: Pantai Cijeruk (Bagian 2 dari 2)

Lanjutan dari bagian pertama


Hari sudah gelap dan tenda-tenda sudah terpasang. Kami-kami yang bermaksud menginap di penginapan, merebahkan diri di teras warung warga. Tak lupa kami menunaikan sholat maghrib di musholla dekat warung. Kami wudhu di tempat mandi, dan di sini airnya harus dipompa dulu dengan pompa manual. Ya, kami harus memompa air sendiri, semacam pompa dragon tapi ini buatan sendiri, hahaha. Airnya bersih dan segar.

Suasana tenda dan teras warung warga. Lelah…

Selesai sholat, kami sadar perut kami sudah lapar. Kami pesan ikan bakar. Ikan tuna sebanyak 4kg, dan ikan kuwe (Giant Trevally, disingkat jadi GT) sebanyak 3kg. Selain itu, kami juga pesan nasi liwet sebanyak 4kg. Saya tidak ingat berapa total biaya yang dikeluarkan untuk makan, tapi yang saya ingat untuk ikan bakar, semuanya 80ribu rupiah.

Tio pun pesan ikan bakar ke warga lokal. Katanya, ikan harus diambil ke tempat penyeberangan sungai tadi. Kami pun bingung. Siapa yang berani mengambil ikan bakar, melewati jalur yang tricky dan gelap. Jalan di hari yang terang saja, kami kesulitan. Apalagi jalan di malam hari, hahaha. Saya, Tio dan Pak Edi akhirnya memberanikan diri untuk mengambil pesanan.

Sambil menunggu ikan, beberapa dari kami membuat api unggun. Ada yang istirahat di tenda, ada juga yang ngobrol di teras warung. Sudah 2 jam kami menunggu, tapi belum ada kabar dari tukang ikan bakar. Saya sudah lapar dan khawatir maag kambuh. Roti yang saya bawa dari rumah sudah saya habiskan semenjak kami sampai di lokasi ini. Saya makan biskuit marie…tapi tetap saja lapar.

Selagi kami menunggu, hujan turun dengan deras. Perut sudah merengek minta diisi, tak bisa kompromi lagi. Akhirnya saya pesan mie rebus saja ke warung. Saya pun lahap memakan mie rebus. Rupanya suara saya menyeruput mie rebus dan aroma mie rebus yang khas, ditambah suasana hujan, menggoda beberapa dari kami. Akhirnya warung pun kebanjiran order mie rebus, hahaha. Selesai makan mie rebus, mulut terasa asam. Saya pun pesan bajigur. Lagi-lagi suara saya menyeruput dan aroma bajigur menggoda beberapa dari kami. Akhirnya mereka pun pesan berbagai macam minuman, hahaha.

Selesai makan, saya pun berbaring di teras warung warga. Kami masih menunggu ikan bakar, tapi tak kunjung datang. Kami memutuskan untuk membayar seorang warga untuk mengambil ikan bakar pesanan kami jika sudah siap. Lelah menunggu, kami pun terlelap. Beberapa saat kemudian, datanglah seorang warga membawa ikan bakar pesanan kami. Kami semua bangun, dan segera menyantap ikan bakar dan nasi liwet. Semua makan dengan lahap, tidak ada suara obrolan sedikitpun dari kami. Nampaknya semua sudah kelaparan, hahaha.

Kenyang menyantap ikan bakar dan nasi liwet, kami kembali ke tempat istirahat masing-masing. Kami langsung terlelap, kelelahan setelah berjalan jauh.

***


Minggu, 20 Agustus 2017 Continue Reading