Apa itu Rhinitis?

Apakah kamu sering mengalami gejala flu seperti: hidung tersumbat, gatal, banyak lendir atau banyak ingus, sering bersin-bersin tapi kondisi badan sehat saja dan tidak sedang terkena flu? Jika iya, mungkin kamu mengidap penyakit Rhinitis.

Rhinitis adalah sebuah kondisi dimana membran mukosa hidung mengalami iritasi dan pembengkakan. Rhinitis merupakan kondisi yang umum ditemui, sekitar 1 dari 3 orang di dunia ini mengalami rhinitis. Umumnya rhinitis baru dialami setelah seseorang berusia 20 tahun dan lebih rentan terjadi pada wanita.

Pada dasarnya, Rhinitis terbagi menjadi 2 jenis:

  1. Allergic Rhinitis: Rhinitis yang terjadi akibat alergi, seperti: alergi makanan, debu, bulu binatang, dan cuaca.
  2. Non-Allergic Rhinitis: Rhinitis yang terjadi begitu saja, tidak ada alergen yang memicu.

Allergic Rhinitis

Allergic Rhinitis merupakan Rhinitis yang disebabkan alergen. Untuk mengetahui alergen apa saja yang dapat memicu Allergic Rhinitis, kamu bisa melakukan sebuah tes yang dinamakan Skin Prick, silakan baca di sini.

Non-Allergic Rhinitis

Jenis Rhinitis yang satu ini terlihat rumit ya. Rhinitis bisa terjadi kapan saja tanpa adanya penyebab yang jelas. Saya sendiri mengidap Non-Allergic Rhinitis karena saya sudah melakukan tes Skin Prick namun semua hasilnya negatif. Artinya, saya tidak alergi terhadap apapun. Namun Rhinitis tetap saja terjadi pada diri saya.

Rhinitis yang saya idap termasuk kronis. Saya sendiri mengalami Rhinitis semenjak saya kuliah, yang artinya saya baru berumur 20 tahun. Setiap hari hidung saya berlendir, banyak ingus. Jujur saja kondisi hidung banyak ingus itu sangat membuat saya tidak nyaman. Saya harus menyusut ingus yang keluar dari hidung saya setiap saat, sampai perih hidung saya karena terus-terusan bersentuhan dengan tissue atau tangan saya. Ditambah lagi tidak jarang saya bersin-bersin sendiri tanpa sebab yang jelas. Kondisi itu diperparah dengan hidung bagian dalam yang mampet, membuat saya susah bernafas lewat hidung. Sangat mengganggu sekali deh pokoknya!

Bagaimana mengatasi Rhinitis?

Saya pun tidak tahan dengan kondisi ini. Setelah saya mampu mencari rezeki sendiri, akhirnya saya berobat ke dokter spesialis THT.

Menurut dokter, untuk mengatasi Allergic Rhinitis itu mudah, cukup hindari saja alergennya. Rhinitis pun akan berhenti menyerang.

Namun, untuk mengatasi Non-Allergic Rhinitis itu sangat sulit karena kita tidak mengetahui apa penyebabnya. Menurut dokter, hidung saya itu reaksinya sangat sensitif, makanya dia membentuk sistem perlindungan diri atau self-defense yang over reactive alias lebay. Sedihnya lagi, kondisi ini bisa berlangsung seumur hidup, tidak bisa disembuhkan, hanya bisa meringankan kondisinya saja…saya sedih sekali mendengarnya, tapi saya ikhlas saja deh. Saya coba ikuti saran dokter THT dan alhamdulillah, walau ribet dan harus dilakukan setiap hari, saya tidak mengalami gejala hidung mampet, berlendir, banyak ingus, bersin-bersin dan gatal lagi.

Berikut ini cara-cara mengatasi Non-Allergic Rhinitis:

Nasonex

nasonex_60metered_1

Nasonex 60 metered spray

Nasonex merupakan steroid lokal yang disemprotkan ke membran mukosa hidung. Cara pakainya mudah, cukup semprotkan 2 kali ke setiap lubang hidung setiap pagi. Semprotkan setiap bangun pagi, antara jam 5 sampai jam 6 pagi. Jangan gunakan bila sudah lebih dari jam 6 pagi, karena sudah tidak efektif. Harganya Rp 370.000 per botol untuk dosis 140 kali semprot. Pemakaian Nasonex tidak akan maksimal jika kondisi hidung banyak lendirnya, maka harus dibersihkan dulu menggunakan air garam.

Entclear

entclear

Entclear

Entclear ini merupakan air garam, digunakan bila kondisi hidung dipenuhi lendir yang terjebak atau tidak bisa keluar dari hidung. Cara pakainya, bila kondisi hidung sangat parah, maka gunakan 3x sehari. Jika kondisi hidung sudah tidak banyak lendirnya, cukup gunakan 1x sehari. Jika dirasa sudah tidak ada lendirnya, jangan gunakan lagi, cukup gunakan jika hidung terasa sudah berlendir, agar pemakaian nasonex tidak terganggu. Cara pakainya adalah larutkan satu sachet garam Entclear ke dalam 300 ml air hangat matang, lalu masukkan ke dalam botol Entclear. Setelah itu alirkan air garam ke masing-masing lubang hidung. Harga garamnya adalah Rp 136.000 dengan isi 20 sachet garam. Harga botolnya sekitar Rp 350.000, tahan digunakan sampai 8 tahun.

Rhinos SR

rhinos sr

Rhinos SR.

Rhinos SR adalah obat oral yang mengandung anti-histamin untuk meringankan gejala Rhinitis. Obat ini kadang saya gunakan jika saya lupa menggunakan Nasonex dan gejala Rhinitis datang menyerang. Harganya sekitar Rp 55.000 per strip (isi 10).


Sekian penjelasan saya seputar Rhinitis. Mudah-mudahan bermanfaat.

Advertisements

Upgrade kartu SIM Telkomsel ke 4G: Sangat praktis!

Beberapa hari yang lalu, Alhamdulillah saya mengganti handphone saya dengan handphone baru. Pada saat mau saya pasang kartu SIM-nya, eh slotnya ternyata sudah harus menggunakan nano-SIM. Sedangkan kartu SIM yang saya miliki masih kartu SIM Telkomsel jaman dulu; tidak bisa dipotong! Saya akhirnya memutuskan untuk menukar kartu SIM lama saya dengan kartu SIM yang baru, sekalian untuk meng-upgrade kartu SIM saya menjadi 4G.

Saya pun bergegas ke GraPARI Telkomsel Bandung di Dago, dekat McDonald’s Dago. Saya pilih di situ karena gerai GraPARI tersebut beroperasi 24 jam. Saya datang ke GraPARI pada pukul 18.30. Tempatnya nyaman dan banyak tempat parkir. Begitu masuk ke GraPARI, seorang Customer Service langsung membantu saya. Saya bilang saja mau upgrade kartu ke 4G. CS pun memandu saya ke luar. Lho, kok ke luar?

Ternyata saya dibawa ke Vending Machine Telkomsel. Di sini saya bisa request untuk mengganti kartu SIM saya. Syaratnya saya hanya perlu membawa e-KTP saya, handphone dan kartu SIM yang mau diganti dalam keadaan aktif terpasang di handphone. Caranya mudah.

  1. Simpan e-KTP di tempat pemindaian.
  2. Masukkan nomor telefon kartu SIM yang ingin diganti pada vending machine.
  3. Pilih upgrade kartu.
  4. Tunggu nomor verifikasi yang akan masuk ke handphone kita. Lalu masukkan nomor verifikasi tersebut di vending machine.
  5. Kartu 4G pun keluar dari vending machine.

Selesai deh. Tidak ada pemungutan biaya apapun. Semua hanya memakan waktu kurang dari 5 menit!

Vending machine Telkomsel.

Saya pasang kartu SIM baru saya ke handphone, Alhamdulillah berjalan normal. Selain itu, saya juga mendapatkan bonus 5GB paket data gratis dari Telkomsel. Tapi setelah saya pakai sebentar, kok kuotanya sudah habis ya…mungkin untuk kuota internetnya cuma sedikit saja ya, sisanya akses ke platform-platform partner Telkomsel seperti HOOQ dan lainnya. Entahlah. Yang penting sih kartu SIM saya sudah bisa digunakan.


PS: Akhirnya saya menemukan juga salah satu kegunaan e-KTP. Andaikan transaksi lainnya menggunakan e-KTP seperti ini, saya akan sangat bahagia. Hahaha.

Pengalaman vaksinasi di Rumah Vaksin, Bandung

Menindaklanjuti hasil MCU pra-nikah yang saya lakukan di RS Borromeus, saya memutuskan untuk melakukan vaksin Hepatitis-B dan Tetanus. Sebenarnya vaksin Tetanus tidak masuk daftar rekomendasi di hasil MCU pra-nikah, tapi saya memutuskan untuk vaksin tetanus saja karena di tempat kerja saya banyak benda tajam dan berkarat, khawatir suatu saat (mudah-mudahan tidak) mengenai saya. Ini sebagai antisipasi saja sih, just in case. Kalau vaksinasi Hepatitis-B ini memang harus saya lakukan, karena merupakan rekomendasi dari dokter.

Saya pun mengunjungi Rumah Vaksin, tempatnya di Jl. Gemi, Bandung. Tempatnya sesuai dengan namanya, berada di rumah. Hahaha. Walaupun tempatnya kecil, tapi pengunjungnya banyak lhoo. Kebanyakan yang divaksin di sini adalah bayi dan balita. Hanya saya dan pasangan saya saja pasien yang sudah dewasa, hahaha. Untuk informasinya, saya cantumkan biaya vaksin di Rumah Vaksin ya.

Daftar harga vaksin di Rumah Vaksin. (per 2018)

Kami datang jam 8 pagi, agar prosesnya cepat dan tidak mengantre. Pada saat kami datang, ternyata dokternya belum datang, jadi kami menunggu dulu deh hehe. Baru saja kami duduk, dokternya datang. Setelah itu saya dipanggil ke dalam. Saya pun menunjukkan hasil MCU saya ke dokternya. Dokternya baik dan ramah, mau menjelaskan segala hal yang berkaitan dengan vaksin. Senang deh kalau bertemu dengan dokter yang mau menjelaskan, jadinya saya bisa bertanya dan mengerti hehe. Saya pun meminta untuk divaksin Hepatitis-B dan Tetanus. Dokter pun menyiapkan peralatannya. Setelah itu, tangan kiri saya diberi vaksin Hepatitis-B dan tangan kanan saya diberi vaksin Tetanus. Rasanya seperti dipukul deh, pegal-pegal gimana gitu. Dan rasa itu berlangsung seharian. Bahkan untuk vaksin Tetanus, sudah satu setengah hari masih terasa sedikit pegalnya. Tapi tidak apa-apa, cuma sekali ini saja kok rasa pegalnya hehehe.

Vaksinasi di Rumah Vaksin enak deh. Dokternya ramah, cepat, murah dan berkualitas. Bila teman-teman mencari tempat vaksin yang cepat, murah dan berkualitas, saya sarankan untuk datang ke Rumah Vaksin. Silakan mencoba!

Medical Check-Up pra-nikah: Pentingkah?

Kali ini saya akan berbagi pengalaman tentang medical check-up pra-nikah. Saya dan pasangan saya sepakat untuk melakukan medical check-up pra-nikah supaya kami mendapatkan gambaran kondisi kesehatan masing-masing dan juga sebagai antisipasi bila salah satu dari kami mengalami kelainan kesehatan.

Medical check-up pra-nikah sudah lama ada, namun tidak banyak yang menjalani. Saya tidak tahu alasannya apa, tapi salah satu teman saya pernah bilang ke saya bahwa dia dan pasangannya tidak mau melakukan medical check-up pra-nikah karena mereka takut mendengar hasilnya. Saya pribadi memiliki pandangan berbeda dengan teman saya. Saya dan pasangan merasa perlu untuk mengehathui kondisi kesehatan masing-masing agar kami mengetahui apa-apa yang harus kami lakukan dan hindari di masa yang akan datang agar kondisi kesehatan kami tetap terjaga.

Medical Check-Up (selanjutnya akan saya singkat MCU saja ya, biar tidak repot hehe) di Kota Bandung bisa dilakukan di beberapa tempat, seperti Rumah Sakit Santosa, Borromeus dan Immanuel. Kami memutuskan untuk melakukan MCU di RS Borromeus karena jadwalnya yang dapat dilakukan pada hari Sabtu, kelengkapan MCU yang lebih baik dan juga lokasi yang relatif lebih mudah dikunjungi, walaupun harganya lebih mahal, hehe. Tapi saya pikir itu bukan masalah, masa sih kita rela menghabiskan uang banyak untuk membeli ini itu demi pasangan tapi tidak rela untuk mengeluarkan uang lebih untuk kesehatan? 😀

Apa saja yang dilakukan pada saat MCU?

Pada dasarnya, Continue Reading

Review 20.000 km: Yamaha X-Ride 2016

Baca juga: Review 10.000 km: Yamaha X-Ride 2016


Tidak terasa si exo (X-Ride Orange) sudah 2 tahun menemani saya. Tidak terasa pula odometernya sudah menunjukkan angka 20.000; artinya saya dan exo sudah berkeliling sepanjang 20.000 kilometer. Tidak lupa saya langsung servis exo di bengkel resmi Yamaha. Banyak juga komponen yang harus diganti. V-Belt, mangkok, rumah mangkok, pulley, oli mesin, oli gardan dan oli fork. Biaya total yang saya habiskan pada servis 20.000 km ini adalah 766.500 rupiah. Saya kaget melihatnya! Tapi saya pikir wajar sih karena exo sudah berjalan sebanyak 20.000 km. Dalam rangka menempuh milestone ini akan saya bahas beberapa hal yang saya alami:

20.000 km!

Sering bunyi berdecit di CVT

Sepertinya ini merupakan penyakit khas CVT skutik Yamaha. Continue Reading

Lamaran: Awal langkah perjalanan menuju pernikahan

Kali ini saya akan berbagi pengalaman saya tentang lamaran. Alhamdulillah saya mendapatkan pasangan yang berdomisili dan berasal dari tempat yang sama dengan saya, Bandung. Jadi pengalaman yang saya bagikan sepenuhnya terjadi di Bandung, mudah-mudahan membantu ya 🙂

Mempersiapkan lamaran

Ada beberapa hal yang harus dipersiapkan sebelum prosesi lamaran. Yang pertama, tentunya harus cari pasangan dulu dong 😉 carilah pasangan yang sesuai dengan kriteria yang cocok dengan keinginan kita. Ingat, pasangan yang kita pilih akan hidup bersama seumur hidup kita. Selektiflah dalam memilih pasangan, tentukan kriteria apa yang dapat ditolerir dan kriteria apa yang tidak bisa dikompromi. Jangan sampai salah memilih pasangan, karena pernikahan bukanlah hal yang bisa diakhiri begitu saja.

Yang kedua, mulailah berbicara dengan orangtua pasangan. Utarakan niat serius untuk melamar pasangan, lalu bicarakan tanggal lamarannya, setelah itu diskusikan tanggalnya dengan orangtua kita. Setelah tanggalnya cocok, barulah kita persiapkan hal-hal yang perlu disiapkan.

Beberapa hal yang perlu disiapkan diantaranya adalah:

  • Seserahan
  • Cincin
  • Seragam
  • Tempat lamaran
  • Catering
  • MC
  • Dekorasi

Seserahan

Seserahan adalah sesuatu yang diberikan kepada wanita yang dilamar sebagai harga yang harus ditebus untuk meminang wanita tersebut. Perlu diperhatikan, seserahan yang akan diberikan pada lamaran biasanya berbeda dengan seserahan yang akan diberikan pada pernikahan. Dan yang paling penting, seserahan ini sepenuhnya tergantung kepada wanita yang akan dilamar. Jadi, seserahan setiap orang pasti berbeda-beda, tapi secara umum kategorinya sama hehehe. Oh iya, biasanya pihak wanita juga memberikan angsul-angsul, yaitu seserahan yang diberikan kepada pihak pria, sebagai bentuk rasa terima kasih. Biasanya jumlahnya lebih sedikit daripada seserahan sih, hehe.

Seserahan yang saya berikan pada prosesi lamaran diantaranya adalah: Continue Reading

Indonesia: terlalu banyak berdoa, kurang banyak usaha

(Ini cuma pemikiran saya aja, mungkin benar dan mungkin salah)

Akhir-akhir ini saya menemukan sesuatu yang mungkin hanya ada di Indonesia, tidak terjadi di negara lain. Sebuah mindset yang, menurut saya, menahan perkembangan Indonesia dan masyarakatnya.

Indonesia itu terlalu banyak berdoa dan kurang banyak berusaha.

Kenapa begitu?

Salah prioritas

Ada karyawan, sedang mengerjakan pekerjaan yang penting dan mendesak. Tiba-tiba dia berhenti sejenak, menunaikan sholat dhuha. “Biar rejeki saya lancar,” katanya. Padahal sholat dhuha itu kan sunnah, bukan wajib. Sedangkan sebagai seorang karyawan, kewajiban dia adalah mengerjakan tugasnya, karena dia sudah dibayar oleh perusahaan untuk mengerjakan tugas yang diberikan perusahaan.

Kalau semua karyawan melakukan kewajibannya dengan baik dan benar, maka performa perusahaan akan meningkat dan keuntungan perusahaan akan meningkat pula. Perusahaan untung, kesejahteraan karyawan meningkat, gaji karyawan juga meningkat. Bandingkan kalau semua karyawan sering sholat dhuha, tapi performa kerja tidak maksimal. Target perusahaan tidak terpenuhi, keuntungan perusahaan tidak maksimal pula. Kesejahteraan karyawan tidak banyak meningkat, gaji karyawan juga tidak meningkat.

Kalau kita ingin merubah keadaan, maka berusahalah semaksimal mungkin, lalu berdoa. Jangan dibalik. Kalau doanya maksimal tapi usahanya tidak maksimal, besar kemungkinan keadaan tidak akan berubah. Sayangnya, orang Indonesia itu lebih mementingkan doa daripada usahanya.

Mudah bersyukur

Ketika kita sudah berusaha dan hasilnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan, seringkali orang Indonesia itu bilang begini: “Yah nggak apa-apa lah cuma segini juga. Disyukuri aja. Daripada nggak dapet sama sekali.”

Saya sebenernya heran dengan mindset seperti itu. Kalau kita gagal lalu dikasih tau untuk “syukuri saja,” bukankah kita malah terlena untuk berhenti di sini saja? Tidak mau lagi berjuang untuk mendapatkan yang lebih baik? “Ah, segini aja udah cukup lah.” Bukankah lebih baik kalau kita evaluasi hal apa saja yang membuat kita gagal, lalu buat rencana ke depan dan berusaha lebih keras lagi untuk mencapai keinginan kita?

Akhirat adalah tujuan utama

Ini juga membuat saya bingung. Seringkali urusan di dunia dilupakan, tapi urusan akhirat diutamakan.

Nggak apa-apa deh saya miskin, yang penting saya rajin sholat dan mengaji.

Nggak apa-apa lah usaha saya segini aja. Usaha segini aja saya udah bisa hidup kok. Kan yang penting nanti masuk surga.

Kalau mentalnya begitu, ya wajar Indonesia nggak maju dan berkembang. Urusan di dunia diabaikan. Nggak mau berusaha lebih keras.

Padahal, kalau semua orang berusaha keras dan bersungguh-sungguh diimbangi dengan ibadah, maka dunia dan akhirat akan didapatkan sekaligus.


Intinya, yang ingin saya sampaikan adalah kalau mau berubah menjadi lebih baik, berusahalah semaksimal mungkin. Setelah itu baru serahkan kepada Tuhan dengan berdoa. Bukan sebaliknya. Selama masyarakat Indonesia tidak berusaha dengan maksimal, maka saya yakin, negara ini akan sulit berkembang dan sulit bersaing dengan negara lain.

Mengendarai Salah Satu Legend: Mitsubishi L-300!

13 Mei 2018


Hari ini saya termasuk orang yang beruntung, mencoba mengendarai salah satu legenda hidup dalam dunia otomotif roda empat: Mitsubishi L-300! Walaupun ini mobil lawas, kolot, jadul, kotak, tapi ini salah satu mobil yang dari saya kecil ingin sekali saya kendarai. Alasannya sederhana: Tuas pindah giginya itu lho…ikonik banget!

Mitsubishi L-300 yang saya kendarai merupakan mobil jenis bak terbuka (pick up) keluaran tahun 1997, berwarna hitam. Sudah 21 tahun mobil ini beroperasi. Mobil ini saya pinjam dari teman saya untuk mengangkut berbagai barang dari salah satu supermarket bangunan di bandung. Saya tidak mungkin membawa mobil biasa untuk mengangkut barang2 tersebut, karena berat total barangnya mencapai hampir 1 ton.

Interior

Interior L-300.

Saya buka pintu mobil ini…ah, saya lupa. Ini kan mobil lawas, tidak ada yang namanya central lock. Saya colok lalu putar kuncinya, lalu buka deh. Interior mobil ini…ya seadanya saja. Apa sih yang diharapkan dari mobil Pick Up keluaran tahun 1997? Jok sobek-sobek, Continue Reading

Review: Kawasaki W175

Sabtu, 20 Januari 2018


Hari ini saya berkunjung ke dealer Kawasaki (PT Citrakarya Pranata) di Jl. Soekarno Hatta, Bandung untuk test ride satu unit motor Kawasaki W175. Sebenarnya untuk test ride motor ini bisa datang kapan saja selama dealer ini buka, namun untuk weekend harus janjian terlebih dahulu dengan sales-nya. Langsung saja saya coba motor Kawasaki W175.

Unit Test Ride Kawasaki W175.

Build Quality: Mantap!

Unit test ride yang diberikan oleh sales adalah Kawasaki W175 SE berwarna hitam. Unit SE ini tidak berbeda jauh dengan unit yang biasa. Perbedaannya hanya ada pada aksen jok, pelindung karet di tangki dan pemberian finishing krom di engine.

Saya lihat build quality W175 Continue Reading

Review 10.000 km Yamaha X-Ride 2016

Baca juga: Review: Touring menggunakan Yamaha X-Ride 2016

Bulan Desember tahun 2017 kemarin, si Exo alias Yamaha X-Ride saya sudah menempuh 10.000 kilometer lebih dan di waktu yang sama sudah berumur 1 tahun lebih sedikit. Langsung saja si Exo saya bawa ke bengkel untuk servis rutin. Bengkel yang saya kunjungi adalah bengkel Yonk Jaya yang berlokasi di Jl. Cicadas Kota Bandung.

10.000 km!

Bearing (laher) roda depan minta ganti

Sebenarnya ini sudah saya rasakan di kilometer 9.000-an. Terasa roda depan tidak mantap, sedikit goyah dan ada bunyi khas bearing oblak. Saya pun meminta ganti ke bengkel tapi sayangnya, bengkel tidak memiliki stok laher untuk si Exo. Saya sebenarnya agak heran…masa sih bengkel resmi tidak memiliki stok bearing roda depan? Motor saya ini kan bukan motor yang langka, banyak kok pemakainya. Ya sudah deh nanti saja gantinya (mungkin juga saya sudahi saja servis di bengkel ini, mau coba bengkel lain saja).

Bunyi berdecit di CVT

Bunyi berdecit khas motor matic mulai saya dengar pada saat odometer sudah menyentuh angka 10.000. Bunyi ini sangat jelas terdengar jika mesin motor masih dalam keadaan dingin. Setiap saya berangkat kerja jam 6.15 pagi, motor saya hidupkan lalu saya jalan, dan terdengarlah bunyi “cit,cit,cit” di area CVT. Jika mesin sudah panas atau sudah menempuh jarak yang agak jauh, bunyi berdecit ini berkurang.

Saya tidak tau pasti penyebab bunyi berdecit di CVT ini. Mungkin karena si Exo ini pernah terendam saat menerobos sungai atau gara-gara saya sering betot gas secara extreme, hahaha. Akhirnya saya serahkan ke mamang mekanik untuk menyelesaikan permasalahan ini. Mekaniknya malah menawarkan untuk servis CVT saja sekalian, ya sudah saya setujui saja, toh sudah menyentuh 10.000 kilometer ini, tidak ada salahnya. Setelah dibongkar cover CVT-nya, ternyata filter udara si Exo sudah kotor sekali..ya sudah saya minta ganti saja.

Herannya, setelah diservis CVT bunyi berdecit ini malah makin jelas terdengar. Entah mekaniknya nggak becus atau memang ada part yang harus diganti, saya tidak tahu. Akan saya coba periksa lagi di servis berikutnya di bengkel yang berbeda.

Tidak banyak penggantian komponen

Selama perjalanan saya dari meminang si Exo sampai sekarang, tidak banyak penggantian komponen yang saya lakukan. Komponen-komponen yang pernah saya ganti diantaranya adalah kampas rem depan, stop lamp, filter udara dan bearing (laher) yang seharusnya sudah diganti di servis 10.000 kilometer ini jika bengkel yang saya kunjungi memiliki stok bearing yang saya butuhkan. Komponen lain yang saya ganti adalah ban dalam yang bocor melulu. Entah karena medannya banyak paku tersembunyi, atau karena bobot pengendara yang semakin gendut 😛 , atau karena saya memakainya extreme, atau memang bannya payah. Yang jelas untuk komponen ban, saya berencana untuk menghabiskan ban standar ini lalu menggantinya dengan ban tubeless, supaya tidak mudah bocor. Sempat mau langsung diganti ban tubeless, tapi sayang, ban standar ini umurnya masih panjang..jadi saya manfaatkan dulu sampai habis deh.

Si Exo. (EX-ride Orange)

Performa mantap

Saya merasa performa si Exo lebih mantap setelah menempuh 10.000 kilometer bila dibandingkan dengan pada saat si Exo masih dalam kondisi baru. Saya pikir memang wajar sih, karena komponen-komponen mesin sudah membentuk groove tersendiri, sehingga gerakan mesin lebih luwes dan lebih ringan. Tidak ada penurunan performa yang saya rasakan. Tidak ada getaran setang yang mengganggu, saya pakai nyaman-nyaman saja. Velg pun masih OK. Padahal saya termasuk yang extreme memakai si Exo ini. Sering terabas jalan berlubang dan jalan yang nggak rapih dengan kecepatan agak tinggi, hehehe. Disuruh Ride Extreme sih di sticker bodinya X-Ride, ya sudah saya pakai secara Extreme juga 😀 Padahal velg matic Yamaha kan terkenal mudah peyang, tapi alhamdulillah velg si Exo baik-baik saja.


Baca juga: Review: Touring menggunakan Yamaha X-Ride 2016
Super short review: 2016 KTM Duke 250
Review: Kawasaki W175
Review: 2016 Yamaha X-Ride